LOGINSophie memandangi dokumen yang berada di tangannya secara berulang-ulang. Setelah pria yang diperkenalkan oleh dokter tadi sebagai suaminya pergi, seorang pria bernama Kevin, asisten pribadi Lucas, datang dan menunjukkan dokumen pernikahan Sophie dan Lucas pada dirinya.
Lucas Campbell, nama yang sebenarnya tidak asing bagi Sophie yang sudah lama ikut terlibat dalam bisnis kedua orang tuanya. Tapi bahkan pria itu tidak mau repot-repot memperkenalkan dirinya secara lengkap dan membiarkan Sophie mengetahui nama lengkapnya dari secarik kertas.
“Nona dan tuan Campbell menikah dua tahun yang lalu, dengan persetujuan keluarga anda.”
Ucapan Kevin tadi sebelum meninggalkan Sophie kembali berputar di kepalanya. Tangan Sophie masih menggenggam dokumen di tangannya dengan terguncang. Matanya bergerak liar, seolah tulisan di sana bisa berubah jika ia membacanya lagi.
Bagaimana mungkin keluarganya membiarkan Sophie menikah dalam keadaan koma? Orang tuanya tidak mungkin tega melakukan hal seperti itu padanya!
Sophie menurunkan dokumen di tangannya, menatap perawat yang sedang sibuk menyusun sesuatu di atas meja yang terletak tidak jauh dari tempat tidurnya.
“Apa kalian benar-benar sudah menghubungi keluargaku?”
Sophie kembali bertanya untuk kesekian kalinya. Ia sudah begitu lelah menunggu, ada begitu banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan, tapi bahkan setelah hampir enam jam berlalu, orang tuanya masih belum juga terlihat.
Ada keheningan yang cukup lama setelahnya, kedua perawat yang berada di kamarnya saling bertatapan untuk sesaat, sebelum senyuman tipis yang terasa mencurigakan muncul di wajah mereka.
“Ah… iya.” salah satu diantara mereka akhirnya membuka suaranya. “Mereka bilang mereka akan tiba sebentar lagi.”
Belum sempat Sophie membuka mulutnya untuk kembali bertanya, kedua perawat itu sudah bergerak untuk meninggalkan kamarnya.
“Apa orang keluarganya benar berkata begitu?”
Walau samar-samar, Sophie masih bisa mendengar obrolan kedua perawat yang masih berada di depan pintu kamarnya. Sophie melirik ke arah pintu, berusaha mendengar lebih lanjut obrolan kedua perawat itu.
“Tidak mungkin, kan?” suara jawaban membuat kening Sophie mengernyit karena kaget. “Mana mungkin mereka sudi menjenguknya, aku hanya memberikannya sedikit hiburan.”
Tawa mereka berdua mendadak terdengar begitu nyaring di telinga Sophie, dengan jelas menertawakan ketidaktahuannya.
=
Saat akhirnya kedua orang tuanya datang menjenguknya, Sophie menghela nafas lega. Perkataan dua orang perawat sebelumnya telah membuat Sophie melewati jam demi jam dengan perasaan gelisah.
“Ayah… Ibu…” Sophie mengulurkan tangannya, berusaha meraih kedua orang tuanya dalam pelukannya.
Tapi nihil. Tidak ada satupun dari kedua orang tuanya yang berjalan menyambutnya. Mereka hanya berdiri di tempatnya, cukup jauh untuk dijangkau oleh Sophie yang masih belum mampu berjalan sendiri.
Saat Sophie melihat senyuman yang muncul di wajah kedua orang tuanya, dia bisa merasakan dadanya berdetak dengan kencang. Sophie sangat mengenal senyuman itu.
Itu adalah senyuman kaku yang biasa ditunjukkan di ruang rapat dengan para kolega maupun di makan malam bisnis. Bukan sesuatu yang akan ditunjukkan oleh orang tua yang lega karena anaknya baru saja bangun dari koma yang panjang.
“Kelihatannya kamu baik-baik saja,” ujar ibunya, suaranya terdengar datar.
“Ya, sepertinya kita khawatir terlalu berlebihan. Kalau hanya seperti ini, harusnya kamu bisa melewatinya sendiri kan, Sophie?” kata ayahnya sambil meletakkan tangannya di bahu Sophie, tapi tak ada kehangatan dalam gesturnya.
Sophie mengangguk pelan, mencoba menenangkan diri, tapi hatinya masih dipenuhi pertanyaan yang terus menekan. Ia ingin bertanya soal Lucas dan pernikahannya yang terdengar begitu absurd dan tak masuk akal.
Tapi belum sempat Sophie membuka mulutnya, orang tuanya sudah hendak beranjak.
“Kami harus segera pergi. Kami sudah berjanji untuk menemui Matthew,” kata ibunya tiba-tiba, menyebut nama sepupu yang sudah lama tidak ia dengar.
“Matthew…?” ulang Sophie.
“Dia sedang dirawat karena tubuhnya drop, terlalu lelah bekerja,” jelas ayahnya, ada rasa bangga yang terasa salah tempat di sana.
“Dia ditunjuk secara terburu-buru, tapi tetap berusaha memberikan yang terbaik, bukankah dia sangat mengesankan?” Ibunya tersenyum, senyuman yang jauh lebih tulus dari yang ia berikan pada Sophie sebelumnya.
Sophie menelan ludah. “Apa…” ia bertanya, tapi tak sanggup melanjutkan.
Ayahnya mengangguk, masih dengan sorot bangga. “Ya, dia sudah menjadi CEO Elman Corp, perusahaan kita.”
Jantung Sophie seolah berhenti berdetak.
Posisi sebagai CEO Elman Corp. itu, bukankah seharusnya untuknya?
Lucas terpaku. Matanya membelalak lebar, seolah tidak mempercayai pendengarannya sendiri. Namun perlahan, keterkejutan di wajahnya meluruh, digantikan oleh tatapan yang begitu lembut."Ulangi sekali lagi," pintanya dengan suara serak.Wajah Sophie memanas, semburat merah menjalar hingga ke telinganya. Ia menunduk malu, menghindari tatapan intens suaminya. "Aku sudah mengatakannya dua kali, Lucas."Lucas menangkup wajah Sophie, memaksanya untuk kembali menatapnya. "Sekali lagi saja. Aku ingin mendengarnya."Sophie menarik napas panjang, memberanikan diri. "Aku... men…"Belum sempat kalimat itu selesai, Lucas menunduk dan menyambar bibir Sophie. Ciuman itu dalam, seolah Lucas mencoba menumpahkan segala perasaan yang selama ini tertahan di antara mereka.Saat tautan bibir mereka terlepas, Lucas menempelkan keningnya pada kening Sophie, napas mereka beradu."Sophie, aku juga mencintaimu," bisiknya parau.Lucas memundurkan wajahnya sedikit, memberi jarak agar ia bisa menatap manik mata ist
Tubuh Sophie melayang di udara, matanya terpejam rapat, pasrah pada hantaman yang tak terelakkan.Namun, apa yang ia harapkan tidak terjadi. Alih-alih rasa sakit dari benturan beton yang dingin, Sophie merasakan sepasang lengan menangkap tubuhnya di udara dengan sentakan keras. Napas hangat menerpa wajahnya, diikuti oleh aroma yang sangat ia kenali.Lucas.Pria itu berhasil melompat menaiki beberapa anak tangga terbawah dan menangkap Sophie tepat sebelum tubuh istrinya menghantam beton. Keduanya terhuyung hebat, tapi Lucas berhasil mehan tubuhnya sendiri untuk tetap berdiri sambil tetap menahan Sophie.“Lucas…?” bisik Sophie, suaranya gemetar hebat. Ia mencengkeram kemeja Lucas sekuat tenaga, belum berani membuka mata sepenuhnya.“Aku di sini.” jawab Lucas parau. Napasnya memburu, jantungnya berdegup kencang seolah ingin meledak di dalam dada. Ia mendekap kepala Sophie ke dadanya.Ketika Lucas mendongak, tatapannya yang terarah pada Maya dan Elena begitu mematikan.Di sana, Maya berdi
Malam telah larut ketika Sophie akhirnya mematikan lampu di ruang kerja barunya. Keheningan menyelimuti ruangan besar yang kini sepenuhnya menjadi miliknya itu.Sophie meregangkan tubuhnya, tumpukan dokumen perusahaan yang menggunung seharian ini akhirnya selesai ia periksa. Meski lelah, ada kepuasan tersendiri yang menjalar di dadanya.Ia melirik ponselnya yang bergetar di atas meja mahoni. Sebuah pesan singkat dari Lucas baru saja masuk.[Aku sudah dekat.]Senyum kecil terukir di bibir Sophie. Lucas, dengan segala sifat protektifnya, seolah tahu bahwa Sophie sedang bersemangat untuk segera pulang. Pria itu benar-benar tidak bisa mengabaikannya sedikit pun bahkan walau ia masih marah.Dengan langkah ringan, Sophie menyambar tasnya dan berjalan keluar ruangan. Lobi gedung Elman Corp sudah sepi. Pencahayaan utama telah dimatikan, menyisakan lampu yang hidup di beberapa tempat. Hanya ada satu dua penjaga keamanan yang mengangguk hormat saat Sophie lewat.Pintu kaca otomatis terbuka. Ud
Suara pena yang digoreskan di atas kertas terdengar begitu nyaring di ruang rapat yang sunyi itu. Tidak ada percakapan basa-basi, tidak ada senyum ramah tamah. Hanya ada ketegangan yang mengisi ruangan.Sophie duduk di ujung meja, menatap lurus ke arah ayah dan sepupunya. Di hadapannya, tergeletak dokumen pengambilalihan penuh Elman Corp.Sophie akhirnya telah mengambil alih perusahaan itu sepenuhnya untuk dilebur ke dalam Campbell Industries.“Ini gila, Sophie!” Matthew akhirnya meledak. Ia membanting pulpennya ke meja, wajahnya memerah karena amarah dan rasa malu. “Kau tidak bisa menghapus nama ‘Elman’ dari perusahaan ini! Kakek membangunnya dari nol! Aku bekerja keras siang malam untuk…”“Bekerja keras untuk apa?” potong Sophie dingin. Tatapannya tajam, menusuk langsung ke mata Matthew yang bergetar. “Untuk menyalurkan dana ke rekening penipu? Untuk memalsukan laporan keuangan? Atau untuk menjual informasi tentang sepupumu sendiri demi menutupi kebodohanmu?”Matthew tercekat. Mulut
Lucas melangkah masuk ke ruangan Sophie tak lama setelah sambungan telepon itu terputus. Sorot matanya masih sedingin pagi tadi, namun kehadirannya di sana adalah bukti bahwa Lucas tidak mengabaikan Sophie sepenuhnya.“Apa yang mereka katakan?” tanya Lucas datar, menyembunyikan kekhawatirannya di balik suaranya.Sophie menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya. “Mereka ingin menyerahkan Elman Corp padaku,” ujarnya pelan, Sophie terdiam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. “Sepenuhnya… dan tanpa syarat.”“Oh,” tanggap Lucas singkat, wajahnya tak terbaca.Sophie menatap suaminya dengan ragu. “Bagaimana menurutmu, Lucas?”“Terserah padamu,” jawab Lucas acuh tak acuh, seolah keputusan besar itu hanyalah masalah sepele.Sophie menghela napas, ada kekecewaan tipis keluar dari dalam dirinya melihat respon dingin itu. Namun, fakta bahwa Lucas membiarkannya mengangkat telepon dari ayahnya, bahkan menyusulnya ke ruangan ini untuk bertanya langsung, cukup menjadi bukti bagi Sophi
“Tidak mungkin!” seru Matthew, suaranya meninggi karena panik yang tak bisa lagi ia bendung.Ia melempar dokumen di tangannya ke atas meja dengan kasar. “Paman, Sophie membenci kita! Dia bahkan tidak sudi melihat wajah kita lagi. Paman lupa perjanjian yang Paman tanda tangani dengan Lucas Campbell? Kita dilarang mendekatinya!”Robert tertawa, namun tawa itu terdengar hampa. Ia bangkit dari sofa, berjalan pelan menuju jendela besar yang menghadap ke kota, membelakangi Matthew.“Perjanjian itu dibuat karena kita berada di posisi yang lemah, Matthew. Tapi keadaan sudah berubah. Sekarang, kita bukan hanya lemah, kita sedang sekarat,” ujar Robert tanpa menoleh.“Dan soal kebencian… uang dan kekuasaan bisa menyembuhkan banyak luka lama. Jika aku menawarkan posisi ini padanya, posisi yang seharusnya menjadi hak lahirnya, dia mungkin akan mempertimbangkannya.”“Tapi aku CEO-nya di sini!” bantah Matthew, wajahnya memerah padam. “Aku yang menjalankan perusahaan ini selama dia koma! Aku yang…”“







