Share

BAB 3

Author: Rainina
last update Last Updated: 2025-09-12 11:02:03

“Tunggu, Ayah, Ibu!”

Kedua orang tuanya sudah beranjak pergi dan meninggalkan Sophie di ruangannya dengan segudang pertanyaan yang belum terjawab.

Sophie bangun dari kasur, berusaha mengejar. Tapi kakinya yang masih lemah tidak kuasa menopang tubuhnya, sehingga dia jatuh berdebam ke lantai. Sophie meringis ketika rasa nyeri menjalari tubuhnya.

Dengan terseok-seok, Sophie keluar dari ruangannya. Suasana koridor begitu sunyi. Jejak kepergian orang tuanya tidak ada di sana.

Sophie menopang tubuhnya ke tembok sambil berjalan pelan-pelan, sampai ia mendengar suara tawa riang yang asing baginya menyelinap keluar dari salah satu kamar dengan pintu yang terbuka tipis.

Sekuat tenaga, Sophie bergerak untuk mendekati sumber suara itu. Dari celah pintu yang terbuka, ia bisa melihat beberapa orang yang sangat ia kenal berada di kamar itu.

Keluarganya.

Ayah, ibu, bahkan beberapa kerabat dekat, semua berada di sana. Senyuman mereka begitu cerah.

“Selamat, Matthew, berkat kerja kerasmu, akhirnya kamu telah resmi menjadi CEO Elman Corp.”

Kata-kata itu terasa seperti sebuah tamparan keras di wajah Sophie. Nafasnya yang sudah berat karena usahanya untuk berjalan semakin tersengal.

CEO Elman Corp. Posisi itu seharusnya miliknya! Bagaimanapun juga ia adalah putri tunggal orang tuanya. Dan sejak kecil ia telah dipersiapkan untuk mengambil posisi itu.

Seolah seluruh dunia runtuh di depan matanya, Sophie berdiri terpaku.

Jadi, Sophie tidak salah dengar tadi, saat orang tuanya mengabarkannya hal itu.

Tidak ada satu pun dari keluarganya yang menyadari keberadaannya di koridor. Tidak ada yang menoleh, tidak ada yang peduli. Semua mata, semua senyum, semua ucapan hangat hanya ada untuk untuk Matthew.

=

Beberapa hari berlalu begitu saja, tapi tidak ada satupun yang kembali datang untuk menjenguknya. Tidak orang tuanya, bahkan tidak juga pria yang telah mengaku sebagai suaminya, Lucas.

Hari-hari Sophie hanya diisi dengan dokter dan perawat yang membantunya kembali beradaptasi dengan tubuhnya. Melakukan terapi ringan agar ia bisa kembali melakukan gerakan lebih leluasa.

Nampan besi makan malamnya diletakkan dengan suara hentakan keras di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Sendok dan garpu yang beradu menghasilkan suara berdentang yang nyaring.

Sophie tersentak, matanya melebar menatap perawat yang bahkan tidak sedikit pun berusaha menyembunyikan ekspresi sebal di wajahnya.

“Kamu…”

Sophie ingin menyentaknya, tidak terima dengan perlakuan yang ia terima. Bagaimanapun juga ia adalah pasien yang rela membayar lebih untuk tinggal di kamar VIP, tapi orang-orang ini justru memperlakukannya seenaknya.

Tapi rasa sakit pada kepalanya muncul secara mendadak. Tubuhnya masih belum mampu beradaptasi dengan semua gerakan dan pikiran yang datang secara tiba-tiba.

Bahkan perawat yang sedang membereskan beberapa alat medis itu tidak memperdulikannya dan melangkah keluar dengan pintu ditutup lebih keras dari seharusnya.

Sophie menunduk menatap nampan makanannya. Nafsu makannya hilang begitu saja. Rasa asing dan ketakutan merayap perlahan ke dalam dadanya. 

Sebenarnya apa yang terjadi dalam waktu satu tahun yang terhapus dalam ingatannya? Kenapa semua orang bersikap seolah dirinya adalah sampah yang berusaha disingkirkan?

=

Satu bulan berlalu sejak Sophie bangun dari komanya. Saat mendengar bahwa dirinya sudah diperkenankan untuk pulang, Sophie tidak tahu apakah ia harus merasa senang atau tidak.

Kedua orang tuanya belum mengunjunginya kembali. Tapi di hari-hari ketika ia tidak mampu menekan rasa penasarannya dan kembali berjalan di koridor, ia kembali menemukan keluarganya mengunjungi Matthew, lagi dan lagi.

Tidak ada satu haripun yang mereka lalui tanpa menjenguk pria itu, hingga hari terakhirnya di rumah sakit. Tapi tidak ada satu orangpun yang rela meluangkan waktu untuk melihat dirinya.

Dan begitulah ia berdiri sendirian, di depan rumah sakit, menunggu taksi dengan sebuah tas yang berisi barang-barangnya. Angin sore menusuk kulitnya, membuat tubuhnya terasa semakin ringkih. 

Kata pulang yang sejak tadi muncul di dalam pikirannya terasa asing. Untuk apa dia pulang ketika keluarganya tidak menginginkannya?

Sophie menarik napas panjang, menatap jalan yang ramai di depannya. Saat itulah, sebuah bayangan tiba-tiba melintas cepat di hadapannya.

“Ah!”

Dalam sekejap, seseorang menyambar tas yang ada di tangannya. Tarikannya begitu kuat hingga tubuh Sophie terdorong ke belakang dan jatuh ke aspal. Rasa sakit menjalar di siku dan lututnya.

“Berhenti!” teriaknya parau, tapi suara Sophie tenggelam dalam hiruk pikuk jalanan yang begtu sibuk.

Sophie menatap putus asa ke arah pria yang kini berlari membawa tasnya. Copet? Preman? Pikirannya berkecamuk sementara tubuhnya susah payah berdiri.

Bagaimana caranya pulang sekarang? Seluruh uang dan ponselnya ada di tas itu. Sophie hampir menangis karena rasa frustasi, tapi suara teriakan nyaring mengagetkannya.

“AARGHH!!!!”

Pencopet yang merampas tas Sophie terhuyung, wajahnya meringis kesakitan. Lengannya dipelintir begitu kuat oleh seseorang yang entah sejak kapan sudah berdiri di sana.

Sophie membeku. Pandangannya naik perlahan, dan matanya membesar ketika akhirnya mengenali sosok itu. Pria yang baru ia temui sekali.

“Lucas…”

Pria itu menatapnya dengan sorot mata dingin yang sama seperti pertama kali Sophie lihat di kamar rawatnya. Namun tangannya tidak ragu sedikitpun saat semakin memelintir lengan pencopet itu sampai berteriak nyaring, seolah tulangnya akan patah.

“Sebodoh apa kamu sampai tidak bisa menjaga diri sendiri, Sophie?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Usai Tidur Panjang, Aku Menjadi Istrinya   BAB 131

    Lucas terpaku. Matanya membelalak lebar, seolah tidak mempercayai pendengarannya sendiri. Namun perlahan, keterkejutan di wajahnya meluruh, digantikan oleh tatapan yang begitu lembut."Ulangi sekali lagi," pintanya dengan suara serak.Wajah Sophie memanas, semburat merah menjalar hingga ke telinganya. Ia menunduk malu, menghindari tatapan intens suaminya. "Aku sudah mengatakannya dua kali, Lucas."Lucas menangkup wajah Sophie, memaksanya untuk kembali menatapnya. "Sekali lagi saja. Aku ingin mendengarnya."Sophie menarik napas panjang, memberanikan diri. "Aku... men…"Belum sempat kalimat itu selesai, Lucas menunduk dan menyambar bibir Sophie. Ciuman itu dalam, seolah Lucas mencoba menumpahkan segala perasaan yang selama ini tertahan di antara mereka.Saat tautan bibir mereka terlepas, Lucas menempelkan keningnya pada kening Sophie, napas mereka beradu."Sophie, aku juga mencintaimu," bisiknya parau.Lucas memundurkan wajahnya sedikit, memberi jarak agar ia bisa menatap manik mata ist

  • Usai Tidur Panjang, Aku Menjadi Istrinya   BAB 130

    Tubuh Sophie melayang di udara, matanya terpejam rapat, pasrah pada hantaman yang tak terelakkan.Namun, apa yang ia harapkan tidak terjadi. Alih-alih rasa sakit dari benturan beton yang dingin, Sophie merasakan sepasang lengan menangkap tubuhnya di udara dengan sentakan keras. Napas hangat menerpa wajahnya, diikuti oleh aroma yang sangat ia kenali.Lucas.Pria itu berhasil melompat menaiki beberapa anak tangga terbawah dan menangkap Sophie tepat sebelum tubuh istrinya menghantam beton. Keduanya terhuyung hebat, tapi Lucas berhasil mehan tubuhnya sendiri untuk tetap berdiri sambil tetap menahan Sophie.“Lucas…?” bisik Sophie, suaranya gemetar hebat. Ia mencengkeram kemeja Lucas sekuat tenaga, belum berani membuka mata sepenuhnya.“Aku di sini.” jawab Lucas parau. Napasnya memburu, jantungnya berdegup kencang seolah ingin meledak di dalam dada. Ia mendekap kepala Sophie ke dadanya.Ketika Lucas mendongak, tatapannya yang terarah pada Maya dan Elena begitu mematikan.Di sana, Maya berdi

  • Usai Tidur Panjang, Aku Menjadi Istrinya   BAB 129

    Malam telah larut ketika Sophie akhirnya mematikan lampu di ruang kerja barunya. Keheningan menyelimuti ruangan besar yang kini sepenuhnya menjadi miliknya itu.Sophie meregangkan tubuhnya, tumpukan dokumen perusahaan yang menggunung seharian ini akhirnya selesai ia periksa. Meski lelah, ada kepuasan tersendiri yang menjalar di dadanya.Ia melirik ponselnya yang bergetar di atas meja mahoni. Sebuah pesan singkat dari Lucas baru saja masuk.[Aku sudah dekat.]Senyum kecil terukir di bibir Sophie. Lucas, dengan segala sifat protektifnya, seolah tahu bahwa Sophie sedang bersemangat untuk segera pulang. Pria itu benar-benar tidak bisa mengabaikannya sedikit pun bahkan walau ia masih marah.Dengan langkah ringan, Sophie menyambar tasnya dan berjalan keluar ruangan. Lobi gedung Elman Corp sudah sepi. Pencahayaan utama telah dimatikan, menyisakan lampu yang hidup di beberapa tempat. Hanya ada satu dua penjaga keamanan yang mengangguk hormat saat Sophie lewat.Pintu kaca otomatis terbuka. Ud

  • Usai Tidur Panjang, Aku Menjadi Istrinya   BAB 128

    Suara pena yang digoreskan di atas kertas terdengar begitu nyaring di ruang rapat yang sunyi itu. Tidak ada percakapan basa-basi, tidak ada senyum ramah tamah. Hanya ada ketegangan yang mengisi ruangan.Sophie duduk di ujung meja, menatap lurus ke arah ayah dan sepupunya. Di hadapannya, tergeletak dokumen pengambilalihan penuh Elman Corp.Sophie akhirnya telah mengambil alih perusahaan itu sepenuhnya untuk dilebur ke dalam Campbell Industries.“Ini gila, Sophie!” Matthew akhirnya meledak. Ia membanting pulpennya ke meja, wajahnya memerah karena amarah dan rasa malu. “Kau tidak bisa menghapus nama ‘Elman’ dari perusahaan ini! Kakek membangunnya dari nol! Aku bekerja keras siang malam untuk…”“Bekerja keras untuk apa?” potong Sophie dingin. Tatapannya tajam, menusuk langsung ke mata Matthew yang bergetar. “Untuk menyalurkan dana ke rekening penipu? Untuk memalsukan laporan keuangan? Atau untuk menjual informasi tentang sepupumu sendiri demi menutupi kebodohanmu?”Matthew tercekat. Mulut

  • Usai Tidur Panjang, Aku Menjadi Istrinya   BAB 127

    Lucas melangkah masuk ke ruangan Sophie tak lama setelah sambungan telepon itu terputus. Sorot matanya masih sedingin pagi tadi, namun kehadirannya di sana adalah bukti bahwa Lucas tidak mengabaikan Sophie sepenuhnya.“Apa yang mereka katakan?” tanya Lucas datar, menyembunyikan kekhawatirannya di balik suaranya.Sophie menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya. “Mereka ingin menyerahkan Elman Corp padaku,” ujarnya pelan, Sophie terdiam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. “Sepenuhnya… dan tanpa syarat.”“Oh,” tanggap Lucas singkat, wajahnya tak terbaca.Sophie menatap suaminya dengan ragu. “Bagaimana menurutmu, Lucas?”“Terserah padamu,” jawab Lucas acuh tak acuh, seolah keputusan besar itu hanyalah masalah sepele.Sophie menghela napas, ada kekecewaan tipis keluar dari dalam dirinya melihat respon dingin itu. Namun, fakta bahwa Lucas membiarkannya mengangkat telepon dari ayahnya, bahkan menyusulnya ke ruangan ini untuk bertanya langsung, cukup menjadi bukti bagi Sophi

  • Usai Tidur Panjang, Aku Menjadi Istrinya   BAB 126

    “Tidak mungkin!” seru Matthew, suaranya meninggi karena panik yang tak bisa lagi ia bendung.Ia melempar dokumen di tangannya ke atas meja dengan kasar. “Paman, Sophie membenci kita! Dia bahkan tidak sudi melihat wajah kita lagi. Paman lupa perjanjian yang Paman tanda tangani dengan Lucas Campbell? Kita dilarang mendekatinya!”Robert tertawa, namun tawa itu terdengar hampa. Ia bangkit dari sofa, berjalan pelan menuju jendela besar yang menghadap ke kota, membelakangi Matthew.“Perjanjian itu dibuat karena kita berada di posisi yang lemah, Matthew. Tapi keadaan sudah berubah. Sekarang, kita bukan hanya lemah, kita sedang sekarat,” ujar Robert tanpa menoleh.“Dan soal kebencian… uang dan kekuasaan bisa menyembuhkan banyak luka lama. Jika aku menawarkan posisi ini padanya, posisi yang seharusnya menjadi hak lahirnya, dia mungkin akan mempertimbangkannya.”“Tapi aku CEO-nya di sini!” bantah Matthew, wajahnya memerah padam. “Aku yang menjalankan perusahaan ini selama dia koma! Aku yang…”“

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status