تسجيل الدخول"Kata Ayah, tak perlu kenalan lagi lah, Nad. Langsung lamaran saja," ucap Hanum di seberang telepon, suaranya terdengar begitu bersemangat sekaligus penuh kepastian.
"Tempat pasti di rumah Bunda, hari Sabtu dua minggu lagi, tanggal 1 Maret jam 10 pagi, sehingga habis itu langsung makan siang," balas Hanum saat Nadia pagi ini menelepon, bertanya soal jawaban Adit atas permintaan Galih.
Nadia yang saat ini sedang berada di koridor kampus, langsung menghentikan langkahnya, menempel
"Alhamdulillah, akhirnya anak itu bergerak cepat juga. Berarti lokasinya di rumah orang tua Nadia yang di Jakarta sini, kan?" tanya Byan memastikan, memastikan dia tidak salah tangkap mengenai domisili calon menantunya."Iya, Yah, di Jakarta sini semua. Makanya, karena jaraknya dekat dan kita semua ada di satu kota, siang ini kita harus langsung data siapa saja keluarga yang mau kita ajak.” “Kita tidak bisa datang dengan rombongan kecil, paling tidak harus sekitar dua puluh orang yang ikut agar terlihat pantas," ucap Ima, langsung mengambil pulpen untuk bersiap menulis di atas meja kerjanya.Byan mengetukkan jemarinya di meja kantor, mulai menimbang-nimbang formasi saudara-saudaranya."Dua puluh orang ya, Bu? Berarti kita harus mengajak seluruh jajaran kakak dan adik kita beserta pasangan mereka masing-masing. Kalau dari pihak Ayah, Mas Broto sebagai yang paling tua wajib ikut untuk mewakili berbicara. Lalu Mbak Lastri, Mas Haris, dan Dik Ambar juga harus masuk daftar," usul Byan mul
“Ya, setelah pendekatan, lalu kami menikah. Tapi, baru seminggu yang lalu aku tahu sebuah fakta dari Bunda, rupanya sejak awal aku dekat dengan Nayaka, Ayah itu sama sekali tidak suka. Tapi Bunda terus membujuk Ayah, kata Bunda yang penting saat itu aku bisa bahagia," pungkas Nadia, mengakhiri ceritanya dengan helaan napas panjang.Mendengar penuturan terakhir Nadia tentang ketidaksukaan Galih pada mantan suaminya, sebuah analisis tajam langsung berputar di dalam benak Aditya.'Insting seorang ayah yang sangat menyayangi putrinya memang tidak pernah salah,'batin Aditya, menatap Nadia dengan sorot mata yang dipenuhi rasa takjub sekaligus hormat yang mendalam pada sosok Galih.'Pak Galih pasti sudah bisa melihat riak-riak ketidakpastian dan ketidakmatangan dalam diri Nayaka sejak awal pertemuan mereka dulu.’‘Seorang pria tua yang bijaksana seperti beliau tentu tahu mana laki-laki yang benar-benar siap men
"Kata Ayah, tak perlu kenalan lagi lah, Nad. Langsung lamaran saja," ucap Hanum di seberang telepon, suaranya terdengar begitu bersemangat sekaligus penuh kepastian."Tempat pasti di rumah Bunda, hari Sabtu dua minggu lagi, tanggal 1 Maret jam 10 pagi, sehingga habis itu langsung makan siang," balas Hanum saat Nadia pagi ini menelepon, bertanya soal jawaban Adit atas permintaan Galih.Nadia yang saat ini sedang berada di koridor kampus, langsung menghentikan langkahnya, menempelkan ponsel lebih erat ke telinga sembari tersenyum lebar mendengar keputusan cepat dari orang tuanya. Di seberang sana, Hanum tentu saja sedang berada di apotek miliknya, menyempatkan diri berbicara serius di antara kesibukan melayani resep pagi.Mendengar ketegasan sang bunda yang tanpa basa-basi itu, dàda Nadia seketika membuncah oleh rasa lega sekaligus debaran yang luar biasa hebat. Tangannya yang bebas refleks meremas ujung kardigan yang dipakainya, mencoba meredam rasa gugup yang me
'Ya Allah, laki-laki ini benar-benar luar biasa,'batin Nadia, matanya kembali menghangat menatap Aditya yang sedang berusaha tegar.'Dia sedang mengira aku menolaknya, mengira seluruh perjuangannya selama delapan bulan ini berakhir sia-sia, dan dadanya pasti terasa sesak bukan main.’‘Tapi, alih-alih egois, marah, atau mendesakku dengan pembelaan diri, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya justru tentang menerima keputusanku demi kebahagiaanku.’‘Dia bahkan mengingat Angga, anakku, dalam analoginya. Dia menempatkan kenyamanan dan ketenanganku jauh di atas harga diri dan kebahagiaannya sendiri.''Ini bukan sekadar ucapan cinta murahan dari pria yang sedang merayu.’‘Ini adalah wujud cinta paling dewasa, tulus, dan protektif yang pernah kutemui seumur hidupku.’‘Di saat masa laluku selalu memaksakan kehendak dan meruntuhkan duniaku, Mas Adit justru siap
Begitu pelayan itu meletakkan piring-piring tersebut, Aditya langsung mengambil alih keduanya. Tanpa banyak bicara atau menunggu diminta, dia menarik piring steak milik Nadia ke hadapannya terlebih dahulu. Dengan cekatan dan penuh kehati-hatian, Aditya memotong-motong daging steak tersebut hingga menjadi bagian-bagian kecil yang siap santap. Setelah seluruhnya selesai dipotong rapi, barulah dia menyodorkan kembali piring itu ke depan perempuan di hadapannya.Melihat perlakuan sederhana namun begitu sarat akan perhatian nyata itu, dàda Nadia mendadak sesak oleh emosi yang membuncah. Tanpa bisa dibendung lagi, air mata menetes di sudut matanya. Nadia buru-buru mengambil selembar tissue dan mengelap air mata yang lolos begitu saja.Di dalam benaknya, sebuah perbandingan pahit sekaligus manis menyeruak, menegaskan perbedaan kontras antara masa lalu dan masa depannya.'Lelaki masa lalu, yang dulu selalu menghujaniku dengan kata-kata cinta yang manis dan janji-janji setia, berkali-kali mak
'Ya Allah, laki-laki ini benar-benar berbeda,'batin Nadia bergetar, matanya mulai terasa panas namun ia sekuat tenaga menahan agar air matanya tidak luruh di tempat ini.'Saat dunia luar, bahkan bayang-bayang masa laluku sendiri selalu menyudutkan status yang kusandang, dia dan keluarganya justru meruntuhkan tembok itu tanpa sisa.’‘Analisis Bunda di mobil kemarinsiang terbukti seratus persen nyata.’‘Mas Adit tidak pernah maju dengan kata-kata cinta yang murahan karena dia begitu menghargai lukaku.’‘Perisai yang selama ini kupasang untuk melindungi diri dari rasa takut gagal, mendadak terasa lumpuh di hadapan ketulusannya yang tanpa syarat ini.’‘Bagaimana bisa ada laki-laki selembut dan sekokoh ini setelah semua kehancuran yang pernah kulewati?'Nadia menarik napas panjang, mencoba men
“Ini Pa,” ucap Rahma pada Achmad saat papanya tiba di rumah sakit sepulang beli obat yang ternyata tak tersedia di apotek rumah sakit. ‘Kamu ganti ponsel karena merasa ada pelacak di pesawat ponselmu, atau ganti nomor ribuan kali, serta pindah kerja ratusan kali bahkan pindah rumah puluhan kali, a
Nadia masuk mobil Nayaka, mobil baru setelah mereka bercerai, sebab awalnya mobil Nayaka adalah mobil sport, tentu untuk digunakan sebagai alat mata pencaharian tak akan pas.Belum sempat Nayaka membuka mulut untuk mengeluarkan kata pertama, atmosfer di antara mereka sudah terasa beg
“Maaf, saya tak mau bakery saya rame karena banyak orang ingin tahu perusak rumah tangga orang,” pemilik bakery memecat Rahma yang baru dua minggu bekerja.Rahma terpaksa keluar dengan tak hormat, tanpa pesa
“Maaf, kalau dia sudah menutup nomor rekeningnya, artinya dia sama sekali tak mau berhubungan dengan Anda, jadi saya tak bisa bantu,” ucap Fitri formal pada anak kandungnya yang siang ini datang ke rumah minta tolong agar menerima titipan uang nafkah un







