LOGIN
Ruangan besar yang disulap menjadi arena pertarungan terlihat ramai. Seruan tertahan, suara mengaduh, suara tepisan, bunyi berdebuk, terbanting, terpental, suara merintih, teriakan menyemangati, hingga teriakan bersahut-sahutan memenuhi langit-langit ruangan.
Satu-dua berseru dalam bahasa yang tidak dipahami bahkan oleg orang yang berdiri di sebelahnya. Wajah-wajah dan perawakan antarbangsa, wajah-wajah manusia bercampur tegang. Udara terasa pengap meski pendingin ruangan bekerja maksimal. Sebab kapasitas ruangan tersebut sudah melebihi standarnya. Orang-orang tampak antusias berkerumun menonton pertarungan sengit malam ini. Menanti kehadiran seorang penantang spesial di club tarung malam ini. Dua petarung sedang jual-beli pukulan di tengah ruangan tinju. Arena pertandingan tanpa ring pemisah apalagi kerangkeng tertutup. Hanya lingkaran merah di atas lantai, berdiameter dua depa. Percik keringat petarung, dengus napas, suara bogem mentah menghantam badan, semuanya terdengar langsung, tanpa jarak. Penonton di sekitar lingkaran, berdesak-desakan. Tangan mereka terangkat menyemangati. Sebuah jenis pertunjukan yang mengesankan setiap mata pengunjung. Satu tinju lagi menghantam cepat rahang salah seorang petarung. Membuat penonton berseru tertahan, sebagian besar berseru girang, "Yes!". Sebagian mengeluh, "Oh,no!" Disusul tinju lainnya mengenai dagu, kali ini lebih telak. Sepersekian detik berlalu, penantang yang beberapa menit lalu masih terlihat segar bugar segera tumbang ke lantai. Knockout alias KO. Pengunjung serentak berteriak kegirangan, melontarkan kebisingan. Napas petarung satunya, yang masih berdiri kokoh di tengah arena, bahkan tidak terlihat tersengal sedikitpun. Hanya kausnya yang tampak sedikit basah oleh keringat. "Fantastico!" "Bravo!" Thom menelan ludah, melirik jam besar di tiang ruangan. Hanya dua menit lima belas detik lawan pertamanya dibuat tersungkur. "Kau tidak akan berubah pikiran, bukan?!" Sebuah tangan menyingkut lengan Thom, berkata kencang, berusaha mengalahkan bising. Yang dipanggil Thom menoleh, menatap wajah menyebalkan disebelahnya. "Maksudku, jika kau mau, aku masih bisa membatalkan pertarungan. Aku bisa pergi ke mereka, mengarang-ngarang alasan. Kau sakit perut misalnya. Atau asmamu kambuh, mag kronis." Theo mengangkat bahu, menunjuk salah satu sudut kerumunan, tempat beberapa anggota klub petarung yang bertindak sebagai inspektur pertandingan malam ini. "Atau kita bisa mengarang cerita, tiba-tiba bisulmu pecah hahaha...." celetuknya di akhir. "Aku tidak akan membatalkan pertarungan" Thom menyergah Theo, memotong kalimatnya, "simpan omong kosongmu!" Tegas Thom di akhir kalimatnya. Theo tertawa ringan, menyeka peluh di pelipis. Salah satu inspektur pertandingan meraih pengeras suara. Dia mengenakan pakaian kerja seperti kebanyakan pengunjung lain, hanya kemejanya terlihat berantakan, keluar dari celana, lengan dilipat, dan dasi entah tersumpal di mana. Dengan bahasa inggris bercampur Portugis yang sama fasihnya, dia berseru tentang pertarungan yang baru saja selesai. "Luar biasa. Pertarungan yang luar biasa, ladies and gentlemen. Well, simpan teriakkan kalian. Pertarungan kedua akan segera dimulai. Kami sudah menyiapkan sang penantang lokal yang telah menunggu giliran bertaruk sejak setahun yang lalu." Inspektur berseru meneriakkan penantang berikutnya, wajahnya antusias menanti pertandingan berikutnya. Begitu pula dengan keramaian penonton di arena. Berseru berteriak penuh semangat seolah pertandingan ini adalah hiburan yang mengasyikkan. "Jangan lupa, seperti yang kami sebutkan pada pertemuan malam ini, kami telah menyiapkan kejutan besar di pertarungan terakhir, ladies and gentlemen. Ini sungguh kejutan hebat. Kalian pasti suka." Janji inspektur penuh semangat. Disambut dengan sorak-sorakkan pengunjung yang semakin menggema, mengudara dilangit-langit ruangan. Petarung yang masih bertahan di tengah lingkaran merah menolak duduk di kursi yang disediakan. Dia memilih berdiri, melemaskan bahunya. Sorot matanya tajam membekukan udara, mimik wajahnya datar tanpa ekspresi. Postur nya tegap, dan gerak-gerik tubuhnya stabil. Menunjukkan bahwa ia tidak sedikitpun terpengaruh oleh situasi sekitar. Sedangkan, penantang keduanya bersiap di tepi lingkaran. Dia memasang sarung tinju tipis dan pelindung kepala. Beberapa orang berseru menyemangati, menepuk-nepuk bahu. Detik-detik pertarungan semakin dekat. Suasana semakin panas. "Lee! Lee!" Nama sang juara bertahan diteriakkan beramai-ramai. "Ladies and gentlemen, inilah pertarungan kedua malam ini. Sang juara bertahan, Lee si monster, menghadapi penantang kedua, Chow." Glekkk....... Thom menelan salivanya kasar. Enam tahun mengikuti klub petarung di Jakarta, belum pernah ia menyaksikan seorang petarung begitu terkendali di depan matanya. Bukan postur badannya yang gagah meyakinkan atau gerakan tangan dan kakinya yang gesit mematikan di pertarungan sebelumnya. Sikap dan kehormatanlah yang membedakan seorang petarung sejati dengan petarung lainnya. Tidak ada yang tahu seberapa terhormat juara bertahan yang berdiri gagah di dalam lingkaran merah tersebut. Aku baru mengenalnya malam ini. Namun, menilik wajah dan tububnya, Lee memiliki sikap yang menakjubkan. "Lee! Lee! Monster! Monster!" Nama sang juara bertahan semakin keras diteriakkan. Lawan kedua Lee memasuki lingkaran merah arena tanding. Kedua petarung saling menempelkan tinju. Inspektur pertandingan berseru singkat tentang peraturan, mengangkat tangannya, dan memberikan tanda. Ketika kakinya melangkah kebelakang, pertandingan kedua malam ini telah resmi dimulai. Petarung kedua mengambil inisiatif melayang kan pukulannya terlebih dulu. Berputar-putar di tepi lingkaran merah. Gerakan tangannya cukup cepat. Dua, tiga, empat, lima, enam pukulan terkirim. Sang juara menghindari empat tinju sekaligus, tenang menangkis dua tinju lainnya. Lantas tanpa perlu mengambil kuda-kuda, dia bergerak maju, menyelinap di antara pukulan lawan, dan menghujamkan tinju kanannya, sepersekian detik. Sebelum penantangnya menyadari betapa terbuka pertahanannya, tinju itu telah menghantam dagunya. Ruangan terdiam, penonton menahan napas. Sang penantang terduduk di lantai, kemudian jatuh ke belakang mengaduh kesakitan. Selesai sudah. KO. "Yes!" "Bravo! Sensacional!" Seruan penonton bergema di langit-langit ruangan. Thom mengusap rambutnya. "Dia benar-benar monster." Theo untuk kesekian kalinya menyikut lengan Thom, kali ini suaranya terdengar cemas. Sepertinya tombol panik mulai aktif di kepalanya. Thom menggeleng pelan. Dia petarung sejati. Monster tidak bertarung dengan ketenangan luar biasa dan kalkulasi matang seperti itu. Dia bahkan bisa melihat pukulan-pukulan lawannya datang, lantas memilih pukulan balasan paling masuk akal untuk menganvaskan musuhnya dalam sebuah gerakan yang amat efisien. Tidak ada monster seperti itu, pastinya julukan monster tidak cocok dengan wajahnya yang bersih dan bersahabat. Dia lebih mirip aktor tampan china ketimbang dengan para ahli gulat dengan gelar monster. Sebutan itu hanya cocok dengan betapa dinginnya dia menghabisi lawan-lawannya. "Astaga, hanya tiga puluh detik. Itu rekor KO tercepat, jangan-jangan." Theo menatap jeri ke dalam lingkaran merah. Tempat sang penantang terkapar beberapa detik. Sang juara bertahan berjongkok, bersama inspektur pertandingan dan anggota klub petarung yang bertugas sebagai tim medis, membantu memeriksa apakah sang penantang baik-baik saja. Seruan-seruan semakin ramai di sekitar. Beberapa tertawa lebar karena menang bertaruh kedua kalinya malam ini. "Kamu harus berhati-hati, Thom." Theo menepuk pundak Thom sekali. Thom menolehkan kepalanya kekanan. "Sejak kapan kamu mencemaskanku?" Menatap Theo tak percaya."Kylie masih terlihat... fungsional untuk usianya," Viktor berkata dengan nada yang sangat kurang ajar, menatap tubuh Kylie yang gemetar. "Daripada menangisi mayat hidup seperti Nathan, kenapa Ayah tidak membawanya saja ke tempat tidur? Buatkan dia satu atau dua bayi baru di usia senjanya ini. Biarkan dia punya kesibukan baru untuk menggantikan posisi Nathan dihati kecilnya, siapa tahu bayi yang lahir lebih berguna kali ini?"Tawa Leonid pecah mendengar saran anak angkatnya. Ia kini menatap istrinya dengan pandangan penuh nafsu kekuasaan yang rendah. "Kau benar, Viktor. Kita pria Slavia, pria Rusia, punya daya tahan dan kekuatan yang berbeda. Usia hanyalah angka bagi kita. Jika pabrik lamanya masih bisa menghasilkan sesuatu yang tidak cacat moral seperti Nathan, mungkin itu ide yang bagus."Kylie membelalak, wajahnya pucat pasi mendengar percakapan itu. "Leonid... apa yang kau katakan? Kalian gila! Kalian binatang!""Binatang?" Viktor tertawa terbahak-bahak, tawanya melengking taj
Pintu kayu mahoni yang berat itu terbanting terbuka dengan suara dentuman yang memecah keheningan perayaan dingin antara ayah dan anak angkat tersebut. Kylie Wilson muncul di ambang pintu, namun ia tidak berdiri tegak sebagai nyonya besar mansion ini. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini kusut masai, gaun tidurnya yang mahal ternoda debu dan air mata.Tanpa mempedulikan martabatnya, Kylie menjatuhkan diri ke lantai marmer yang dingin. Ia merangkak, benar-benar merangkak di atas lututnya, mendekati kursi besar tempat Leonid duduk dengan gelas wiski di tangan."Leonid... aku mohon... hiks... ampunilah Nathan," ratapnya, suaranya pecah oleh isak tangis yang menyesakkan dada. Jemarinya yang gemetar mencoba meraih ujung sepatu kulit suaminya. "Dia membusuk di sana, Leonid! Luka-lukanya meradang, dia kesakitan! Dia putra kandungmu, darah dagingmu sendiri! Bagaimana bisa kau merayakan kemenangan di atas penderitaan anakmu?"Leonid Wilson bahkan tidak menunduk untuk menatap istrinya.
Sel gelap di sudut terdalam penjara Butyrka terasa seperti peti mati yang lembap. Aroma busuk dari sisa makanan yang basi, pesing, dan keringat dingin yang menguap di udara yang pengap menciptakan atmosfer yang mampu membunuh kewarasan siapa pun. Di sana, di atas lantai beton yang retak dan berlumut, Nathan Wilson terbaring seperti onggokan sampah yang dibuang.Tubuhnya tak lagi menyerupai putra bangsawan Moskow yang dulu angkuh. Luka-luka akibat cambukan besi dan hantaman stik golf Leonid beberapa waktu lalu tidak pernah diobati dengan layak. Luka itu kini mulai meradang beberapa di antaranya membusuk, mengeluarkan aroma amis yang menarik perhatian kecoak-kecoak penjara untuk berpesta di atas kulitnya yang dulu mulus.Cairan kuning kehijauan merembes dari perban kotor yang melilit kakinya, namun Nathan masih memiliki sisa-sisa kesombongan yang menjijikkan di matanya yang cekung."Kalian semua... akan merangkak di kakiku saat Ayah menjemputku!" serak Nathan, suaranya pecah dan pa
Kaka memutar kepalanya 180 derajat, menatap Lachlan dengan mata bulatnya yang cerdik. "Kami melakukan ini demi kebaikan keluarga Vladimir, Tuan! Pikirkan tentang rekening Callum! Jika kami terus-menerus meminta logistik kelas atas dari dapur pusat, biaya operasional Kremlin akan membengkak. Tuan Bryer ini adalah donatur sukarela. Kami hanya membantu menghemat anggaran negara!""Penghematan?" sindir Lachlan, kini berdiri tepat di depan Bryer. "Menghemat anggaran dengan cara menjual informasi kepada putra presiden Amerika? Aku tidak tahu sejak kapan burung-burungku belajar tentang ekonomi makro dan pengkhianatan dalam satu suapan yang sama."Luna, si kakatua pemakan segala yang biasanya paling pendiam dan hanya genit dengan orang baru, ikut angkat bicara dengan suara parau. "Jangan menyalahkan kami jika lidah kami mulai bosan dengan rasa daging Ivan Li yang hambar dan penuh dosa itu, Tuan. Sesekali, kami butuh sesuatu yang manis untuk menetralisir rasa pahit dari rahasia-rahasia yang
Pagi di Kremlin tidak pernah benar-benar hangat, meskipun pemanas ruangan di kamar tamu mewah milik Davis Gerald bekerja maksimal dan ini masih hari kelima musim panas. Di balkon yang menghadap ke arah Lapangan Merah, Bryer duduk santai, menyilangkan kaki panjangnya di atas kursi beludru. Di hadapannya, Stewart dan Thane Vladimir berdiri dengan rahang mengeras, menatap pemandangan yang sama sekali tidak masuk akal bagi martabat keluarga mereka."Ini Tuan—pizza hangat di pagi hari yang indah, dikirim dengan logistik tercepat Kremlin—hahahahaa!" Tawa melengking itu pecah dari Kaka, kakatua macaw merah yang tampak sangat bangga dengan hasil jarahannya. Ia mendarat dengan dentuman kecil di bahu kursi Bryer, melepaskan pita di ujung kukunya yang tadinya mengikat kotak pizza dari toko pizza di ujung jalan."Heiii... hati-hati Kaka! Sayap kami hampir patah karena kamu menurunkan kotaknya terburu-buru!" Protes Luna dengan suara melengkingnya. Burung kakatua itu mendarat di sandaran kurs
"Nona, Bagaimana dengan berita migrasi burung-burung pemakai bangkai yang menyerang Kremlin?" Zayn membuka mulutnya, menatap penuh tanda tanya ke arah punggung nona mudanya, Nona Berry. "Apa kita akan menulis kebenarannya? Menyibak fakta dibalik tembok Kremlin yang dingin? Atau__?" Menjeda kalimatnya sejenak. "Besar-besarkan! Buat berita penyerangan burung-burung pemakai bangkai itu menjadi nyata!" Suaranya dingin, tangannya meremas kuntum mawar di jemarinya, menghamburkan kelopak-kelopak mawar itu ke samudra lepas. "Tapi__" "Lakukan saja sesuai perintahku, Zayn!" Nadanya naik satu oktaf menggerang marah. Menoleh cepat, menatap mata asistennya tajam. "Mereka mulai mengejarku, Zayn. Buat mereka percaya seolah aku berada dipihak jantung dunia," "Baik, Nona." Angin laut yang kencang menghantam dek kapal pesiar The Grand Odyssey, membawa aroma garam yang kontras dengan keharuman mawar yang baru saja dihancurkan oleh jemari Nona Berry. Di tengah samudra yang memisahkan daratan Ru







