MasukHari pertama kontrak kerja itu dimulai di bawah bayang-bayang gedung pencakar langit yang mengelilingi Central Park, Jakarta Barat. Suasana mal yang megah dengan taman terbuka di tengahnya memberikan kontras yang aneh bagi Tuan Ardiansyah. Meski tempat ini sangat publik, ia merasa jauh lebih aman daripada saat berada di pantai kemarin. Alasannya sederhana Gadis yang berjalan setengah langkah di sampingnya. Kesia hari ini tampil sangat profesional. Ia mengenakan celana kain berpotongan lurus dan blazer tanpa lengan berwarna krem yang menyamarkan lekuk tubuhnya, namun tetap memudahkan pergerakan tangannya. Rambut hitam pekatnya diikat kucir kuda tinggi, menonjolkan rahangnya yang tegas. Tuan Ardiansyah sesekali melirik Kesia dari sudut matanya. Bayangan saat Kesia membuka Tessen besi dan menebas arteri lawan di PIK 2 masih terekam jelas di otaknya. Ia sadar, ia tidak sedang menyewa seorang penerjemah; ia sedang menyewa malaikat maut yang kebetulan fasih sepuluh bahasa. "Tuan
Ketenangan semu di PIK 2 pecah dalam sekejap. Suara dentuman musik tropical house tenggelam oleh rentetan tembakan otomatis yang memekakkan telinga. Botol-botol minuman mahal hancur berkeping-keping, dan pasir putih yang tadi damai kini menjadi saksi kepanikan massa yang berlarian buta arah. Kesia tidak lari. Ia justru merunduk di balik batang pohon palem yang kokoh, matanya menyipit tajam memindai sumber api. Ia melihat sekelompok pria berseragam taktis hitam tanpa atribut muncul dari arah parkiran, melepaskan tembakan presisi yang mengarah ke area VIP tepat ke arah Tuan Ardiansyah dan para koleganya. Namun, sebelum para teroris itu sempat merangsek maju, beberapa mobil SUV lapis baja hitam legam merangsek masuk ke area beach club, menabrak pembatas kayu. Dari dalamnya, keluar pasukan pengawal dengan seragam rapi yang mengenakan pin emas kecil di kerah mereka Simbol Keluarga Soertja. "Keluarga Soertja?" batin Kesia, otaknya berputar cepat. "Jika klan penguasa ekonomi Nusanta
Matahari sore di PIK 2, Tangerang, terasa menyengat, membakar pasir putih buatan di sepanjang bibir pantai. Angin laut membawa aroma garam dan parfum mahal dari para pengunjung beach club kelas atas yang sedang bersantai di daybed mereka. Di tengah dentuman musik tropical house yang santai, Kesia Dubicki melangkah dengan keanggunan yang kontras dengan keriuhan di sekitarnya. Ia mengenakan terusan linen putih yang ringan dan kacamata hitam besar, namun langkahnya tetap mantap langkah seorang wanita yang baru saja menaklukkan dinginnya Edinburgh dan kini siap menantang panasnya Jakarta. Di sebuah area VIP yang paling tersembunyi, seorang pria paruh baya dengan kemeja batik sutra bermotif kontemporer duduk menunggu. Ia adalah Tuan Ardiansyah, konglomerat properti yang namanya disebut-sebut oleh Theo Percy. Di depannya, dua orang pria berwajah dingin yang Kesia kenali sebagai orang Rusia dan Mandarin sedang menyesap koktail mereka dengan tegang. Kesia mendekat, melepaskan kacamat
Artem menghela napas panjang, membiarkan kemarahan yang tadinya memuncak menguap begitu saja saat merasakan tubuh kecil Nayla bergetar hebat di pelukannya. Ia mempererat dekapannya, menyandarkan dagunya di puncak kepala Nayla yang masih beraroma keringat dan sisa sabun mawar. "Sshhh... diamlah. Aku di sini," bisik Artem, suaranya kini sehalus gesekan beludru, sangat jauh dari bentakan mautnya beberapa menit lalu. Tangan besarnya yang terbiasa menggenggam laras senapan kini bergerak dengan ritme yang sangat kontras lembut dan teratur. Ia mengusap punggung Nayla perlahan, naik-turun dengan gerakan menenangkan, seolah sedang mencoba menyatukan kembali kepingan keberanian istrinya yang sempat hancur karena rasa cemas. Nayla menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Artem, menghirup dalam-dalam aroma tubuh suaminya yang maskulin dan menenangkan campuran antara bau tembakau tipis, aroma kayu, dan hawa dingin malam Moskow yang masih tertinggal di bajunya. Isak tangisnya yang tadinya me
Sore itu, koridor rumah sakit yang biasanya tenang pecah oleh jeritan melengking yang menyayat hati. Di dalam ruang rehabilitasi, Nayla tersungkur di atas matras tipis, napasnya memburu dengan keringat dingin yang membanjiri pelipisnya. Kaki jenjangnya bergetar hebat, rasa nyeri seperti ditusuk ribuan jarum panas merambat dari pergelangan kaki hingga ke pangkal paha. "Nona Nayla, sudah saya katakan, jangan dipaksakan! Otot Anda belum siap untuk peregangan yoga seperti ini!" Terapis fisik itu mendekat dengan wajah cemas, mencoba membantu Nayla duduk. "Diam!" bentak Nayla dengan suara serak, meski air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. "Aku harus bisa... aku harus kuat. Sekali lagi!" Nayla mencoba bertumpu pada lengannya yang gemetar, namun tubuhnya justru limbung. Ia bebal, menulikan telinga dari peringatan medis hanya karena satu obsesi: ia tidak ingin menjadi "sampah" yang ditinggalkan Artem di Moskow. Ia ingin menjadi wanita yang sanggup melayani suaminya tanpa cela.
Tiga hari adalah waktu yang terlalu lama bagi seseorang yang baru saja menggantungkan seluruh dunianya pada satu sosok. Di luar sana, musim panas Moskow masih membara, namun bagi Nayla, waktu seolah membeku di dalam kamar rumah sakit yang mulai terasa mencekik ini. Berkat latihan keras yang ia paksakan demi menepati janjinya pada Artem, Nayla kini tidak lagi terpaku di brankar. Dengan tangan yang menggenggam erat sebuah tongkat penyangga, ia berdiri di depan jendela besar, menatap cakrawala Moskow yang dipenuhi gedung-gedung tinggi. Matanya yang sayu mencari-cari satu siluet mobil atau tanda-tanda kehadiran pria itu, namun yang ada hanyalah hiruk-pikuk kota yang asing baginya. Suara pintu yang terbuka membuat jantungnya melonjak, namun harapannya pupus saat melihat seorang perawat masuk membawa sebuah nampan. "Nona Nayla, saatnya makan siang. Ada kiriman lagi dari Mansion Wilson," ujar perawat itu dengan ramah. Nayla menoleh lambat, matanya tertuju pada mangkuk keramik yan
Kesia menarik nafasnya pendek. Menyentuh handle kopernya, menggenggamnya lalu menariknya perlahan. Mengayunkan sepatu ke depan, keluar dari kamarnya. Seraya berkata "Ada pepatah mengatakan air tidak setenang kelihatannya, adik." Menurunkan kacamata di dahinya. Emilia mematung, matanya terbelalak
Malam musim panas di Moskow tidak membawa kegelapan yang pekat, melainkan sebuah selubung biru tua yang transparan dan hangat. Langit malam itu membentang luas, jernih tanpa awan, memamerkan taburan bintang yang berpijar cerah seolah berebut perhatian dengan lampu-lampu kota. Cahaya bulan purnam
Matahari mulai meninggi di atas Kremlin, namun bagi Carl Rodin, cahaya itu terasa membakar kulitnya. Ia berjalan tergesa-memasuki lorong rahasia pelayan, menghindari tatapan para penjaga yang tadi mengawasinya di taman. Napasnya memburu, keringat dingin bercampur debu tanah membasahi keningnya. S
Lachlan dan Emilia mulai melangkah menjauh, tawa manja Emilia masih terdengar samar di antara hembusan angin pagi. Merencanakan liburan yang indahnya bersama sang ibu.Kesia menyerahkan mawar-mawar yang ia petik ke pelukan Callum, memberi isyarat kecil agar kakaknya itu menunggunya di dekat air man







