Beranda / Rumah Tangga / WANITA LAIN DI RUMAHKU / 63. JEJAK DIGITAL PERTAMA

Share

63. JEJAK DIGITAL PERTAMA

Penulis: vitafajar
last update Tanggal publikasi: 2026-02-22 11:42:59

Alvaro tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya ia melepaskan tangannya dari pinggang Arini untuk memberikan ruang privasi. "Silakan, tapi kalau isinya cuma sampah dari Adrian, langsung matikan lagi saja, ya," pesannya dengan nada tegas.

Arini merogoh tasnya dan mengeluarkan perangkat persegi hitam yang selama satu jam terakhir ia abaikan dengan sengaja. Ia menekan tombol daya dan menunggu logo produsen ponsel tersebut muncul di atas layar yang bercahaya terang. Selama proses pemuatan sistem, A
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   182. SINGA YANG TERLUKA

    Arini masih mematung di sisi sofa, jemarinya mencengkeram ponsel dengan tenaga yang membuat buku-buku jarinya memutih. Matanya tak lepas dari barisan kalimat yang dikirimkan oleh Rudi Wijaya, sebuah pesan yang dirancang sebagai racun untuk melumpuhkan mentalnya di saat titik terlemah.Rudi, pria yang seharusnya menjadi pelindung bagi Alvaro, justru menggunakan luka putranya sendiri sebagai senjata untuk menyudutkan Arini. Kata-kata 'pembawa sial' seolah berdengung di telinga Arini, mencoba mengoyak pertahanan batin yang baru saja ia bangun dengan susah payah.Selama beberapa detik, rasa bersalah itu mencoba merangkak naik. Namun, saat ia melirik ke arah Alvaro yang sedang bersandar lemah dengan bahu terbebat perban, rasa sedih itu mendadak menguap, digantikan oleh kobaran amarah yang murni dan sangat dingin."Ada apa, Rin?" suara Alvaro memecah keheningan. Meski wajahnya masih pucat, tatapannya tetap tajam mengawasi setiap perubahan ekspresi di wajah istrinya.Arini tidak menjawab den

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   181. SERANGAN TAK TERDUGA

    "Arini! Kamu nggak apa-apa? Ada yang luka nggak?" suara Alvaro terdengar parau, sarat akan kepanikan yang jarang sekali ia tunjukkan pada dunia luar.Dekapannya begitu erat, seolah ia ingin menyembunyikan seluruh tubuh Arini di balik dadanya yang bidang.Arini bisa merasakan deru napas Alvaro yang memburu di puncak kepalanya. Getaran hebat yang merambat dari tubuh pria itu akibat lonjakan adrenalin yang luar biasa juga bisa ia rasakan.Wanita itu mengerjap perlahan, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang sempat terbang tersapu angin ketakutan. Bau tanah basah dan aroma khas keramik pecah menyeruak masuk ke indra penciumannya, mengingatkannya pada bahaya yang baru saja melintas.Ia mendongak perlahan, menatap wajah Alvaro yang kini berada tepat di depan matanya. Wajah yang biasanya tenang dan terkendali itu kini tampak pucat, dengan rahang yang terkatup rapat menahan sesuatu yang Arini yakini adalah rasa sakit yang sangat hebat."A-aku ... aku nggak apa-apa, Kak," bisik Arini dengan su

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   180. SISI LAIN DARI SANG KAISAR

    Mobil mewah itu meluncur membelah kemacetan Jakarta dengan keanggunan yang mengintimidasi setiap pasang mata yang melihatnya. Di dalam kabin yang kedap suara, ketegangan masih terasa sangat pekat, seolah oksigen di sana ikut menegang mengikuti suasana hati penumpangnya.Arini duduk dengan punggung tegak, jemarinya bertautan erat di atas pangkuan untuk menahan gemetar halus yang sesekali muncul. Blazer putih tulang yang ia kenakan memberikan kesan bersih dan berwibawa, namun di balik itu, ia masih merasakan sisa-sisa pegal yang luar biasa dari malam panjang mereka.Alvaro duduk di sampingnya, tatapannya lurus ke depan dengan rahang yang mengeras sempurna. Aura predator yang terpancar dari suaminya masih sangat kuat, sisa dari perang yang baru saja ia deklarasikan terhadap klan Wijaya di jalanan tadi.Keheningan itu pecah ketika ponsel Alvaro yang diletakkan di antara mereka bergetar hebat. Sebuah nama muncul di layar. Aditya Wijaya.Alvaro terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangkat pa

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   179. GUNCANGAN DI MENARA WIJAYA

    Kamar utama apartemen itu kini dipenuhi aroma kopi yang kuat dan harumnya roti panggang, kontras dengan sisa-sisa aroma gairah yang masih tertinggal di setiap sudut ruangan. Arini masih terdiam di atas ranjang, bibirnya mengerucut sebal meski tangannya tetap menerima suapan omelet dari Alvaro.Setiap kali ia mencoba bergerak untuk membetulkan posisi duduknya, ia kembali meringis tertahan. Rasa pegal di pinggang dan pangkal pahanya benar-benar menjadi pengingat yang nyata betapa "buasnya" Alvaro semalam saat mereka berada di balik pintu tertutup."Pelan-pelan makannya, Rin. Nanti kamu tersedak," ucap Alvaro dengan nada suara yang begitu lembut, kontras dengan kekuatannya yang luar biasa beberapa jam lalu."Habisnya Kakak sih ... ahh, sudahlah! Aku bener-bener kesal," gerutu Arini sembari mengunyah. "Kakak kelihatan seger banget, sedangkan aku merasa tulangku mau lepas semua. Ini nggak adil!"Alvaro terkekeh rendah, suara tawa baritonnya yang renyah memenuhi seisi kamar. Ia meletakkan g

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   178. SISA BADAI SEMALAM

    Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden blackout yang tidak tertutup sempurna, menciptakan garis cahaya keemasan yang jatuh tepat di atas kelopak mata Arini. Wanita itu mengerang pelan, mencoba menghalau silau yang mengganggu tidurnya yang sangat berharga.Namun, begitu ia mencoba menggerakkan tubuhnya untuk sekadar berbalik posisi, sebuah rasa nyeri yang tumpul menjalar dari pinggang hingga ke seluruh ujung kakinya. Sensasi pegal yang luar biasa itu seolah mengunci pergerakannya di atas kasur."Aduh ...," rintih Arini pelan sembari meringis menahan perih.Ia membuka matanya perlahan, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya ruangan yang sudah terang. Hal pertama yang ia rasakan adalah hawa dingin yang menyentuh kulit bahunya yang polos di balik selimut sutra yang berantakan.Arini menoleh ke sisi ranjang di sebelahnya, berharap menemukan sosok pria yang menjadi alasan seluruh tubuhnya terasa seperti habis dihantam ombak besar. Namun, s

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   177. PUNCAK LEDAKAN CINTA

    Dinding-dinding walk-in closet yang elegan itu seolah tidak lagi mampu menampung energi panas yang meledak di antara keduanya. Di bawah temaram cahaya lampu yang kuning keemasan, Alvaro masih menggendong Arini dalam posisi yang sangat intim dan menuntut kekuatan fisik yang luar biasa.Keringat mulai bercucuran dari pelipis Alvaro, mengalir turun melewati leher dan membasahi kemeja putihnya yang kini sudah tidak lagi rapi. Namun, kekuatan otot lengannya seolah tidak memiliki batas, ia tetap menopang berat tubuh Arini sembari terus melakukan gerakan memaju-mundurkan pinggulnya dengan tenaga yang kian liar."Nngghhh ... Kak ... pelan-pelan ... ahh! Kita mau ke mana sih?" rintih Arini di sela-sela desahannya yang tersengal hebat.Kepalanya terkulai lemas di bahu kokoh Alvaro, namun kedua tangan Arini masih meremas kain kemeja suaminya dengan sangat erat. Alvaro tidak menjawab dengan kata-kata, fokusnya sepenuhnya tercurah pada rasa nikmat yang menghantam setiap sel tubuhnya saat ini.Deng

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   146. DUKUNGAN ALVARO WIJAYA

    "Jangan, Kak! Itu cuma berkas internal kantor!" seru Arini sembari mencoba menahan lengan Alvaro, namun pria itu sudah lebih dulu meraih map merah tersebut.Alvaro mengabaikan protes Arini, ia membuka map itu dengan satu sentakan tangan yang tegas, seolah ia sudah tahu persis apa yang ada di dalamn

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   145. IDENTITAS YANG SEBENARNYA

    Sama halnya dengan rasa lemas yang kian menjalar, Arini meremas pinggiran meja jatinya. "Jadi ... ini alasan kenapa Alvaro nggak pernah pakai nama keluarganya di firma hukumnya sendiri?""Mungkin," balas Maya di seberang telepon. "Dari yang aku dengar, Kak Alvaro itu nggak mau berhubungan dengan se

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   144. TABIR YANG TERSINGKAP

    "Tolong panggil Pak Budi dari tim finansial dan Bu Sarah dari legal. Sekarang juga," perintahnya dengan nada bicara yang diusahakan tetap stabil.Tak lama kemudian, kedua orang kepercayaan itu masuk dengan wajah yang sama pucatnya, seolah mereka sudah mencium aroma badai yang dibawa oleh pria-pria

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   143. UPAYA UNTUK TETAP BERDIRI

    Tanpa berkata apa-apa lagi, Arini akhirnya meraih map merah tersebut dan mulai membuka isinya lembar demi lembar dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Setiap tarikan kertas di tangannya menimbulkan bunyi gesekan yang tajam, seolah sedang menyayat kesunyian yang mencekam di dalam ruang kerja

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status