Startseite / Rumah Tangga / WANITA LAIN DI RUMAHKU / 9. TAMU YANG TAK DIUNDANG

Teilen

9. TAMU YANG TAK DIUNDANG

last update Veröffentlichungsdatum: 28.01.2026 23:23:33

Arini mematung di balik lemari buku besar, dadanya naik turun dengan napas yang ia tahan sekuat tenaga. Detak jantungnya berdentum begitu keras di telinganya sendiri, seolah-olah seluruh ruangan bisa mendengarnya.

Hanya berjarak beberapa jengkal dari tempatnya bersembunyi, pintu kayu ruang kerja itu terbuka perlahan. Bayangan Dewi memanjang di lantai, diikuti suara gemerincing kunci. Arini memejamkan mata, tangannya mencengkeram ponsel rahasia itu hingga buku jarinya memutih.

Satu detik yang te
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel
Kommentare (1)
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
bukti apalagi yg kau dan si penhacara butuhkan,njing. terlalu banyak drama murahan menye2 yg kau lakukan. pantas aja kau diselingkuhi dan diremehkan. krn kau terlalu goblok!!
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   187. PAGI SETELAH PEPERANGAN

    Alvaro, dengan ketelatenan yang luar biasa, membasuh sisa-sisa busa di bahu istrinya untuk terakhir kalinya. Gerakannya sangat lembut dan penuh perasaan. Ia tidak membiarkan Arini melakukan apa pun sendiri, ia benar-benar memanjakan wanita itu hingga ke titik di mana Arini merasa seluruh beban berat di pundaknya luruh bersama air.Alvaro bangkit berdiri perlahan, meraih handuk putih tebal yang sudah ia siapkan di atas rak pemanas. Dengan gerakan yang sangat protektif, ia membantu Arini berdiri dan melilitkan handuk itu ke tubuh mungil istrinya, membungkusnya dengan rapat seolah ingin melindungi Arini dari udara dingin yang mungkin menyerang.Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, namun tatapan mata Alvaro yang dalam sudah cukup mewakili ribuan kalimat cinta.Ia kembali mengangkat tubuh Arini dalam gendongannya dengan sangat sigap. Tubuh Arini terasa begitu ringan di tangannya, atau mungkin kekuatan Alvaro yang sedang berada di puncaknya karena dorongan keinginan untuk m

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   186. MEMBASUH LUKANYA

    Cukup lama mereka terdiam dalam posisi itu. Keheningan yang tercipta seolah menjadi ruang bagi Alvaro untuk meredam sisa-sisa amarahnya. Alvaro akhirnya menoleh pada Kael. Asisten setianya itu masih berdiri mematung setelah menyaksikan badai pertengkaran hebat antara majikannya dengan sang ayah.“Siapkan mobil, kita pulang ke apartemen sekarang,” perintah Alvaro. Suaranya tidak lagi menggelegar, namun ada ketegasan yang tidak bisa dibantah di sana.Arini mendongak, menatap suaminya dengan sorot mata tak percaya. “Masih ada masalah yang harus aku selesaikan di sini, Kak. Kita nggak bisa pulang begitu saja,” protes Arini pelan. Pikirannya masih tertinggal pada tumpukan berkas dan kekacauan di ruang rapat tadi.Namun, Alvaro hanya menggelengkan kepala sambil menyunggingkan senyum tipis yang menenangkan. “Kita pulang. Kamu percayakan saja urusan perusahaan sama aku, hmm?”Alvaro mengusap puncak kepala Arini, mencoba menyalurkan keyakinan. Arini masih terlihat tidak rela, bibirnya terkatup

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   185. PELINDUNG DI BALIK LUKA

    Kegembiraan yang baru saja membuncah di dada Arini seolah ditarik paksa oleh gravitasi, menyisakan rasa sesak yang mendinginkan ujung jemarinya. Di ruang rapat yang masih menyisakan aroma parfum para direksi yang baru saja terusir itu, Arini berdiri terpaku. Gema suara Kael tentang kondisi Darma dan ancaman kedatangan Rudi Wijaya berputar di kepalanya seperti badai.Alvaro yang sedetik lalu tersenyum bangga, kini menegang hebat. Rahangnya mengeras, menciptakan garis tajam yang mempertegas gurat kecemasan di wajah tampannya. Arini bisa merasakan aura pelindung itu berubah menjadi aura peperangan yang pekat dan menyesakkan."Kak ...," bisik Arini, suaranya bergetar. Ia melangkah mendekat, mencoba menggapai lengan Alvaro yang kini terasa kaku seperti beton.Alvaro menoleh, tatapannya yang tajam perlahan melunak saat bertemu dengan manik mata Arini. "Jangan takut, Rin. Aku nggak akan biarin siapa pun mengacaukan kemenangan kita hari ini. Bahkan ayahku sekalipun," ucapnya dengan nada prote

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   184. SINGGASANA BERDARAH

    Keheningan yang dingin menyergap Arini saat langkah kakinya menggema di lorong menuju ruang rapat utama Mahardika Group. Di sampingnya, Alvaro berjalan dengan langkah yang tetap tenang meski wajahnya masih memancarkan kepucatan yang nyata. Penyangga bahu di balik jas hitamnya seolah menjadi pengingat bisu tentang pengorbanan yang baru saja terjadi di lobi.Kael berjalan di belakang mereka, membawa beberapa map hitam yang nampak seperti dokumen biasa, namun Arini tahu bahwa di dalam sana terdapat "bom" yang siap meratakan kesombongan orang-orang di dalam ruangan itu."Siap, Rin?" bisik Alvaro sesaat sebelum pintu kayu ek raksasa itu terbuka secara otomatis.Arini menarik napas panjang, memperbaiki posisi kerah blazer putihnya, dan menatap lurus ke depan dengan binar mata yang tajam. "Sangat siap, Kak. Mereka pikir aku mangsa empuk cuma karena aku perempuan, tapi mereka lupa kalau di pembuluh darahku mengalir darah seorang pendiri."Begitu pintu terbuka, aroma kopi pahit menyeruak kelua

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   183. PERISAI SANG KAISAR

    Sofia Wijaya mematung di tengah ruangan, wajahnya yang semula sembap karena air mata palsu kini berubah menjadi merah padam karena murka yang mencapai ubun-ubun. Matanya melotot, menatap Arini dengan kebencian yang begitu pekat seolah ingin membakar wanita di depannya itu menjadi abu.Kata-kata Arini yang memintanya keluar bukan hanya sekadar usiran bagi Sofia, itu adalah penghinaan besar terhadap harga diri klan Wijaya yang selama puluhan tahun ia agungkan. Baginya, Arini hanyalah penghalang yang harus segera disingkirkan dari kehidupan putra mahkotanya."Kamu ... kamu bener-bener lancang!" suara Sofia bergetar hebat karena amarah yang meledak. "Dasar janda nggak tahu diri! Kamu pikir siapa kamu bisa bicara kayak gitu padaku di depan putraku sendiri?!"Dalam satu gerakan yang sangat cepat, Sofia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Ia tidak lagi memedulikan citra ningratnya sebagai nyonya besar keluarga Wijaya. Yang ia inginkan saat ini hanyalah mendaratkan tamparan keras di wajah Ari

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   182. SINGA YANG TERLUKA

    Arini masih mematung di sisi sofa, jemarinya mencengkeram ponsel dengan tenaga yang membuat buku-buku jarinya memutih. Matanya tak lepas dari barisan kalimat yang dikirimkan oleh Rudi Wijaya, sebuah pesan yang dirancang sebagai racun untuk melumpuhkan mentalnya di saat titik terlemah.Rudi, pria yang seharusnya menjadi pelindung bagi Alvaro, justru menggunakan luka putranya sendiri sebagai senjata untuk menyudutkan Arini. Kata-kata 'pembawa sial' seolah berdengung di telinga Arini, mencoba mengoyak pertahanan batin yang baru saja ia bangun dengan susah payah.Selama beberapa detik, rasa bersalah itu mencoba merangkak naik. Namun, saat ia melirik ke arah Alvaro yang sedang bersandar lemah dengan bahu terbebat perban, rasa sedih itu mendadak menguap, digantikan oleh kobaran amarah yang murni dan sangat dingin."Ada apa, Rin?" suara Alvaro memecah keheningan. Meski wajahnya masih pucat, tatapannya tetap tajam mengawasi setiap perubahan ekspresi di wajah istrinya.Arini tidak menjawab den

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   70. RENCANA PENANGGUHAN

    "Iya, video saat kamu sedang jatuh dan Arini justru asyik masuk ke mobil mewah pengacaranya itu," jawab Lastri sambil mengeluarkan ponsel pintarnya.Ia menyentuh layar ponsel itu beberapa kali dengan jemari yang masih gemetar, lalu memutar sebuah video yang sudah menjadi viral di berbagai platform.

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   69. MENGERAHKAN SELURUH TABUNGAN

    Pak Darmawan menyodorkan dokumen-dokumen itu melalui celah sempit yang ada di bawah pembatas besi antara ruang tunggu dan area tahanan."Langkah pertama adalah membuat narasi bahwa Anda adalah korban dari konspirasi perebutan aset perusahaan oleh istri sendiri," papar Pak Darmawan dengan tenang.Ad

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   68. DI BALIK DINDING PENJARA

    Denting notifikasi pada ponsel rahasia di atas meja dapur apartemen Arini seolah menjadi latar suara yang kontras dengan keheningan mencekam di tempat lain. Jauh dari kemewahan apartemen yang tenang itu, di sebuah lorong sempit dengan sirkulasi udara yang buruk, Adrian duduk membeku di atas bangku

  • WANITA LAIN DI RUMAHKU   67. GERAKAN DI BALIK LAYAR

    Arini masih terpaku di depan jendela besar kamar apartemennya, menatap kerlip lampu kota yang tidak pernah tidur. Setelah beberapa saat bergelut dengan pikirannya sendiri, ia membalikkan badan dan matanya tertuju pada sebuah koper besar yang terletak di sudut ruangan dekat lemari pakaian."Kak Alva

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status