LOGINRasa dingin yang ditinggalkan tawa Houtman masih membekas di tulang Mala. Setelah penemuan mengerikan itu. Krael yang hidup sebagai baterai, perintahnya tidak lagi datang dari strategi, melainkan dari sebuah kebutuhan fisik untuk menghancurkan.
"Kaelia, bawa aku ke arah sumber resonansi terkuat. Lyra, tarik mundur semua unit pengintai, kita lakukan penyerbuan penuh!" perintah Mala, suaranya kini kembali tegas, menekan setiap getaran kepedihan yang mengancam untuk melumpuhkannya.
Lyra, yang masih merasakan getaran tawa tiran itu melalui ikatan resonansi mereka, mengangguk kaku. "Mengerti, Ratu. Semua unit, bersiap untuk serangan ke utara. Kita akan menjadi dinding air di hadapan uap hitam mereka!”
Keheningan sejenak di antara Sisterhood pecah menjadi pusaran aktivitas yang cepat. Mereka tidak lagi melakukan patroli. Ini adalah perang yang dipercepat, didorong oleh kepastian bahwa Krael masih bernafas di suatu tempat di dalam sarang musuh.
Mereka bergerak cepat, Leviathan mereka meninggalkan jejak gelembung yang jarang dan terkontrol, menghindari sonar Alchemist Legion yang kini lebih waspada. Perjalanan ke pos terdepan terdekat memakan waktu yang terasa sangat panjang. Mala terus menahan citra Krael di benaknya, memaksa dirinya untuk menganalisis peta yang mereka curi dari kapal patroli sebelumnya.
Jika Houtman menggunakan Krael sebagai sumber energi, itu berarti Krael berada di inti sistemnya. Itu adalah kesimpulan tunggal yang muncul di benaknya, mengalahkan nasihat Lyra untuk fokus pada pembalasan terstruktur.
"Lyra, kita tidak menyerang pangkalan ini," kata Mala, saat mereka mendekati dermaga suplai Alchemist Legion yang dijaga ketat. Kapal-kapal uap hitam yang besar memuat kargo yang Mala duga adalah bahan kimia alkimia untuk mesin pembeku. "Ini hanya pengalih perhatian. Kita akan membuat kekacauan di sini, tetapi tujuan kita adalah kapal suplai terbesar yang terlihat di peta."
"Ratu, serangan ke kapal suplai akan membutuhkan semua kekuatan kita. Beberapa anggota baru mungkin tidak siap menghadapi pertahanan penuh," Lyra memprotes dengan nada khawatir. "Kita kehilangan tiga penunggang di serangan terakhir karena mereka terlalu ragu-ragu."
Mala menoleh pada Lyra. Cahaya biru samar dari ikatan mereka menerangi wajahnya yang keras. "Mereka akan menghadapi keganasan itu sekarang, Komandan. Jika aku mengizinkan keraguan, Houtman akan membunuh kita semua pelan-pelan, seperti yang ia lakukan pada Krael. Kita adalah Wraith-Raiders. Kita adalah janda yang tidak punya apa-apa untuk dipertaruhkan selain dendam."
Keputusan itu dingin, dan itu menghantam Lyra seperti ombak besar. Dia mengerti. Mala tidak lagi bertindak sebagai pemimpin yang melindungi semua orang. Dia bertindak sebagai Ratu yang menuntut kesempurnaan brutal demi tujuan yang lebih besar. menyelamatkan Krael.
"Aku akan memastikan formasi itu siap, Ratu," kata Lyra, suaranya kini tanpa bantahan. "Tapi jika ada yang roboh, kita harus meninggalkannya. Demi inti."
"Demi inti," ulang Mala.
Serangan dimulai dengan keheningan yang mencekam. Lima Wraith-Raiders, termasuk Mala dan Lyra, bergerak ke bawah lambung kapal suplai terbesar, The Iron Maw. Kapal itu tebal, berlapis baja alkimia yang Mala tahu sulit ditembus.
"Targetkan sambungan pipa uap di bagian buritan!" perintah Mala. "Gunakan Rencora!"
Mala turun lebih dulu. Kaelia bergerak seperti bayangan. Tepat saat Mala mencapai lambung, beberapa prajurit Alchemist Legion dalam Zirah Uap Hitam mereka muncul di dek kapal, bersiap melakukan patroli rutin. Mereka tidak menyadari bahaya di bawah air sampai terlambat.
Mala mendorong Kaelia ke atas lambung. Dia melompat, mendarat dengan gesit di dek yang licin karena minyak. Dua prajurit berbalik, meriam uap kecil mereka menunjuk padanya.
"Wanita gila!" raung salah satu prajurit.
Mala tidak menjawab. Dia berlari, menggunakan momentum gerak tubuhnya yang ramping. Rencora, yang terbuat dari tulang purba, tidak tertarik pada baja industri yang sudah diperkuat. Rencora mencari titik lemah, sambungan yang ditenagai oleh sihir gelap. Dia menusukkan belati itu ke persendian bahu kiri prajurit pertama, tepat di sambungan hidrolik yang mengeluarkan uap bertekanan.
Baja itu berderit, dan energi Void Fire yang terkandung di dalam zirah prajurit itu bereaksi dengan kekuatan air yang dibangkitkan Mala. Prajurit itu mengeluarkan jeritan yang teredam saat pelumas di sambungannya mendidih, membakar mekanisme internalnya. Dia ambruk, tubuhnya berkedut.
Prajurit kedua menembak. Energi uap panas melesat, tetapi Mala sudah bergerak ke samping.
"Lyra! Sekarang!"
Di bawah kapal, Lyra dan tiga penunggang lainnya menyinkronkan resonansi mereka, menciptakan gelombang tekanan air yang terfokus. Gelombang itu menghantam lambung kapal tepat di bawah ruang mesin utama. Baja yang tebal itu bergetar hebat.
"Tahan sebentar, para saudari!" teriak Lyra.
Mala berputar, menghindari serangan kedua. Dia melihat anggota baru, Elara, yang terlalu bersemangat. Elara mendorong Leviathan-nya terlalu cepat, menyerang kapal kedua sebelum resonansi mereka stabil. Kapal patroli kecil Houtman yang mengawal The Iron Maw melepaskan semacam jaring energi.
Jaring itu mengenai Leviathan Elara. Makhluk itu berteriak, bukan jeritan amarah, tetapi jeritan kesakitan biologis. Jaring itu langsung membakar sisik Leviathan itu dengan energi kimia yang kuat.
"Elara, mundur!" teriak Mala, tetapi Elara hanya bisa memegang erat, matanya membelalak ketakutan. Keganasan pertempuran nyata jauh melebihi pelatihan di gua karang.
Mala harus membuat pilihan, menyelamatkan Elara dan mengorbankan serangan krusial, atau memastikan kapal suplai itu hancur, yang berarti membiarkan Elara dan pasangannya terkoyak.
Prioritaskan misi. Prioritaskan Krael.
"Lyra, jangan biarkan mereka lolos! Hancurkan mesinnya!" teriak Mala, mengalihkan fokusnya kembali ke kapal utama, mengabaikan jeritan yang kini terdengar dari Elara.
Lyra mengerti perintah itu. Kebijakan Ratu baru itu jelas. Kegagalan tidak dapat ditoleransi. Dia memimpin dua penunggang lainnya untuk menghantam titik lemah yang ditunjukkan Mala. Tiga Leviathan menghantam lambung kapal secara bersamaan. Kali ini, baja itu menyerah. Uap panas bercampur air laut yang bergejolak.
Kapal suplai itu mulai miring. Sementara Lyra menahan kapal agar tidak tenggelam terlalu cepat, Mala bergegas menuju bangkai kapal patroli kecil yang kini mulai hanyut.
"Tutup mata kalian jika tidak tahan melihatnya," perintah Mala pada dua Wraith-Raiders yang tersisa, yang tampak pucat pasi karena menyaksikan nasib Elara.
Mala dan dua rekannya menggeledah kapal patroli yang rapuh itu. Dalam beberapa menit, di antara puing-puing yang meleleh, Mala menemukan apa yang ia cari. Sebuah kristal penyimpanan kecil yang terselip di bawah konsol navigasi. Itu adalah artefak Houtman, memancarkan energi Void Fire residual yang khas.
Saat Mala menyentuhnya dengan Rencora, semua yang telah ia kubur sejak Teluk Abyss muncul kembali. Api ungu, tawa Krael yang terputus-putus, dan suara portal yang menutup.
Kristal itu menyala.
Cahaya ungu itu terproyeksi, kabur, namun mengerikan. Itu adalah Krael, terikat pada inti reaktor yang memancarkan cahaya dingin. Wajahnya tampak menderita, tetapi dia ada.
Mala merasakan jiwanya terbelah. Dia ingin berteriak, merobek lautan untuk mencapai suaminya. Tetapi sebelum dia sempat bereaksi, kristal itu bereaksi terhadap gelombang emosi yang melonjak.
Cahaya itu berkedip, dan tawa dingin, seperti logam yang bergesekan, terdengar keras melalui sistem sonar mereka yang disadap.
"Aku melihatmu, Ratu Janda," suara Houtman bergema, terdistorsi tetapi jelas. "Kau terlambat. Dia sudah menjadi bagian dari mesinku sekarang."
Di luar, Lyra berhasil menenggelamkan kapal suplai, tetapi suara tawa Houtman menggema di kedalaman samudra, membatalkan semua kemenangan kecil Sisterhood. Mala mencengkeram kristal itu erat-erat, air mata membeku di sekitar matanya karena amarah yang tak tertahankan.
"Tidak. Tidak akan pernah!" raungnya dalam hati, menggenggam Rencora begitu erat hingga tulang belati itu terasa mau patah. Misi mereka telah berubah. Mereka tidak lagi gerilya. Mereka harus menuju inti.
"Tiga hari," bisik Lyra, suaranya masih menggantung di udara lembab gua karang. Perasaan berat itu kini berubah menjadi ledakan aksi. Armada Wraith-Raiders tidak menyia-nyiakan waktu. Dalam dua minggu berikutnya, samudra utara Aethelgard yang dingin menjadi medan perburuan tanpa henti. Mala telah pergi, memimpin tim kecil yang berani menuju jantung wilayah Houtman. Keputusan itu menusuk Lyra, meninggalkan kekosongan yang dingin di pusat komando. Namun, Mala juga telah meninggalkan sebuah perintah. Ciptakan kekacauan yang akan mengalihkan pandangan Houtman dari misi Mala. Dan Lyra, sebagai Komandan Utama Inong Balee, berniat memenuhi perintah itu dengan kehancuran. Malam itu, dingin dan penuh ancaman. Lyra menunggangi Shadow, Leviathan-nya yang besar, memimpin formasi sepuluh Wraith-Raiders lainnya. Mereka bergerak seperti pisau melalui air, menuju benteng perbatasan utama Houtman yang menjulang seperti gunung es logam yang busuk di lepas pantai utara.
Rasa dingin yang ditinggalkan tawa Houtman, yang menggema melalui kristal penangkap sinyal, masih melekat di telinga Mala. Ia mencengkeram artefak itu erat-erat sepanjang perjalanan pulang. Setiap sentuhannya memancarkan denyut Void-Fire yang sama, yang mengingatkannya pada penderitaan Krael. Sisterhood kembali ke markas rahasia mereka di dalam gua karang, cahaya biru lembut dari lumut laut memantul di dinding batu yang basah, kontras dengan kegelapan yang menyelimuti hati Mala. Para Wraith-Raiders lainnya, meski kelelahan, merasakan aura kemarahan yang berbeda dari Ratu mereka. Mereka tahu sesuatu telah berubah. Mala, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, langsung menuju area perencanaan, tempat peta dan hologram taktis biasa melayang di udara. Lyra mengikutinya, matanya penuh pertanyaan. "Ratu, kita sudah berhasil menenggelamkan Iron Maw," lapor Lyra, suaranya berusaha terdengar seperti laporan kemenangan, namun getaran tawa Houtman masih berdesir di ika
Rasa dingin yang ditinggalkan tawa Houtman masih membekas di tulang Mala. Setelah penemuan mengerikan itu. Krael yang hidup sebagai baterai, perintahnya tidak lagi datang dari strategi, melainkan dari sebuah kebutuhan fisik untuk menghancurkan. "Kaelia, bawa aku ke arah sumber resonansi terkuat. Lyra, tarik mundur semua unit pengintai, kita lakukan penyerbuan penuh!" perintah Mala, suaranya kini kembali tegas, menekan setiap getaran kepedihan yang mengancam untuk melumpuhkannya. Lyra, yang masih merasakan getaran tawa tiran itu melalui ikatan resonansi mereka, mengangguk kaku. "Mengerti, Ratu. Semua unit, bersiap untuk serangan ke utara. Kita akan menjadi dinding air di hadapan uap hitam mereka!” Keheningan sejenak di antara Sisterhood pecah menjadi pusaran aktivitas yang cepat. Mereka tidak lagi melakukan patroli. Ini adalah perang yang dipercepat, didorong oleh kepastian bahwa Krael masih bernafas di suatu tempat di dalam sarang musuh. Me
Kegelapan dan cahaya biru yang menusuk mata bersaing di puncak Tebing Black Rock. Darah Mala yang menetes di batu seolah menjadi konduktor, memanggil kekuatan yang jauh lebih tua dari kerajaan mana pun. Leviathan-Hatchlings yang menjulang tinggi masih menggeram, energi lapar mereka terpancar seperti panas yang menakutkan, namun mata kuning mereka kini terfokus pada Mala. Mala berdiri tak bergerak. Dia tidak menarik tangannya dari energi yang ia pancarkan. Sebaliknya, dia mendorong lebih keras. Dia tidak lagi memohon, dia memerintah. Rasa sakit fisik dari pengorbanan itu adalah harga kecil untuk dominasi atas makhluk purba ini. "Aku adalah Ratu kalian sekarang," desis Mala, suaranya nyaris tenggelam oleh deburan ombak liar yang dipanggil oleh ritual itu. "Aku telah kehilangan segalanya demi lautan ini. Kalian akan melayani tujuanku. Kalian akan menjadi perisai dan tombakku." Leviathan tertua itu menyentakkan kepalanya maju, hampir menyentuh dahi Mala
Air laut yang dingin terasa seperti jutaan tusukan es pada kulit Mala yang melepuh. Dia terdampar di pantai berbatu yang terpencil, jauh dari Teluk Abyss. Pasir di sini berwarna hitam pekat, hasil dari erosi gunung berapi kuno. Aroma amis darah bercampur dengan bau belerang dan sisa-sisa sihir industri yang mencekik. Tiga minggu. Tiga minggu sejak Aethelgard lenyap, tiga minggu sejak Krael ditarik ke dalam kehampaan ungu. Setiap gerakan menyakitkan. Luka bakar Void Fire di lengan dan punggungnya meninggalkan bekas ungu kehitaman yang terasa seperti kulit mati yang tertarik. Mala mengusap wajahnya, air mata yang mengering bercampur dengan lumpur garam. Di sekelilingnya, puing-puing kapal yang terseret ombak, sisa-sisa para Ksatria Badai yang gugur menjadi saksi bisu kehancurannya. Keputusasaan seharusnya menjadi jurang, namun anehnya, di dalam dirinya tumbuh sesuatu yang keras dan tajam. Kebutuhan untuk menuntut balas. Jika dia kembali ke tradisi Aethelgar
Suara sirene peringatan membelah malam di Teluk Abyss. Bukan lagi dentuman monster laut mekanik dari perbatasan. Ini adalah ratapan panjang, serak, menandakan invasi skala penuh. Malam yang seharusnya menjadi penutup perayaan kemenangan kecil kini berubah menjadi pembantaian. Mala dan Krael berdiri di anjungan The Jormungandr, kapal yang baru saja ia selamatkan dalam keajaiban Ghost Drift. Di bawah mereka, armada Aethelgard yang bangga kini tampak seperti kumpulan anak domba yang dikepung. Di hadapan mereka, bukan sekadar kapal perang, melainkan benteng industri terapung yang dikelilingi oleh awan asap hitam berbau belerang. Itu armada Cornelis de Houtman, Alchemist Legion. "Mereka datang dari dimensi yang berbeda," Krael berbisik, matanya menyipit menatap kilatan energi ungu yang keluar dari haluan kapal Houtman. "Itu bukan sihir biasa, Mala. Itu Void Fire." "Ayahku bilang itu mitos, Krael. Kutukan yang ditinggalkan para industrialis zaman kuno,"







