首頁 / Fantasi / WANITA PENAKLUK SAMUDRA / Bab 3: Dendam yang berkobar

分享

Bab 3: Dendam yang berkobar

作者: Putrisyamsu
last update publish date: 2026-02-13 13:46:19

          Air laut yang dingin terasa seperti jutaan tusukan es pada kulit Mala yang melepuh. Dia terdampar di pantai berbatu yang terpencil, jauh dari Teluk Abyss. Pasir di sini berwarna hitam pekat, hasil dari erosi gunung berapi kuno. Aroma amis darah bercampur dengan bau belerang dan sisa-sisa sihir industri yang mencekik. Tiga minggu. Tiga minggu sejak Aethelgard lenyap, tiga minggu sejak Krael ditarik ke dalam kehampaan ungu.

          Setiap gerakan menyakitkan. Luka bakar Void Fire di lengan dan punggungnya meninggalkan bekas ungu kehitaman yang terasa seperti kulit mati yang tertarik. Mala mengusap wajahnya, air mata yang mengering bercampur dengan lumpur garam. Di sekelilingnya, puing-puing kapal yang terseret ombak, sisa-sisa para Ksatria Badai yang gugur menjadi saksi bisu kehancurannya.

          Keputusasaan seharusnya menjadi jurang, namun anehnya, di dalam dirinya tumbuh sesuatu yang keras dan tajam. Kebutuhan untuk menuntut balas. Jika dia kembali ke tradisi Aethelgard, dia akan mati karena kesedihan. Jika dia menyerah pada Houtman, dia akan mati karena kehinaan. Satu-satunya jalan adalah kegelapan yang bahkan lebih dalam dari Void Fire.

          Mala bangkit dengan susah payah, bertumpu pada batu karang yang menusuk. Dia harus bergerak, mencari. Di antara puing-puing yang ia seret ke tempat yang lebih tersembunyi, ia menemukan sesuatu yang terselamatkan dari penyimpanan rahasia di bawah lambung Jormungandr. Sebuah gulungan kulit ikan paus tua, yang disegel dengan lilin kerajaan yang telah usang.

          Gulungan itu adalah bagian dari arsip terlarang yang pernah diperlihatkan Krael padanya, dokumen yang menyebutkan takhayul kuno Aethelgard tentang kekuatan yang lebih tua dari kristal Aether. Matanya terpaku pada diagram yang rumit, menggambarkan penggabungan jiwa dengan kekuatan primordial yang berdiam di Palung Samudra.

          Ritual Pengikat Inong Balee.

          Inong Balee. Sebutan untuk janda perang, wanita yang kehilangan segalanya, tetapi memiliki kebencian murni. Mereka tidak bisa mengandalkan Dewan yang sudah mati atau sisa-sisa militer yang tercerai-berai. Mereka membutuhkan sesuatu yang liar, sesuatu yang Houtman tidak pahami.

          Mala duduk di atas batu datar, menyelimuti dirinya dengan kain kapal yang robek. Dia memelajari teks itu selama berhari-hari, waktu terasa cair dan tidak berarti. Rasa sakitnya membeku menjadi fokus yang dingin. Ini bukan tentang balas dendam pribadi lagi. Iini tentang 

memenangkan kembali samudra itu sendiri, yang kini dibekukan oleh teknologi Houtman.

          "Aku tidak akan menjadi korban lagi," gumamnya, suaranya serak karena jarang digunakan. "Jika mereka menginginkan perang alkimia, mereka akan mendapatkan perang yang lahir dari laut itu sendiri."

          Konflik internalnya memuncak di sini, di pantai sunyi ini. Untuk melakukan ritual ini, dia harus meninggalkan identitas lamanya. Seorang putri laksamana, istri Ksatria Badai, Kapten Kapal Naga. Dia harus menjadi sesuatu yang menakutkan, sesuatu yang mungkin tidak bisa dikendalikan lagi.

           Dia melihat ke laut. Dia merasakan kegelapan di bawah sana, tapi juga kekuatan yang murni. Mengabaikan rasa bersalah yang membakar karena meninggalkan Krael (sebuah pengkhianatan terhadap memori Krael yang ia temukan di bab sebelumnya), Mala mengambil keputusan final. Dia harus menjadi pembalas, atau semua yang diperjuangkan Krael akan sia-sia.

*

         Tiga minggu berlalu seperti kedipan mata yang dibayangi duka. Mala menemukan tempat suci yang ditandai dalam gulungan itu. Tebing Black Rock, sebuah formasi batu hitam menjulang yang jarang dikunjungi manusia karena sering diliputi badai magis.

          Di sana, di puncak tebing yang menghadap ke kedalaman samudra yang tak berdasar, Mala berdiri. Dia mengenakan pakaian sederhana yang dijahit dari kulit Leviathan muda yang ia temukan mati, berwarna abu-abu kebiruan. Di tangannya, ia membawa Rencora, belati tulang naga pertamanya. Satu-satunya benda yang ia selamatkan dari masa lalu yang utuh.

          Pikirannya kini fokus pada satu hal. Memanggil mereka yang juga hancur.

           Dia tidak mengirim pesan tersembunyi. Dia hanya menggunakan resonansinya, mengirimkan gelombang keputusasaan murni yang ditujukan pada para wanita yang kehilangan suami, anak, atau rumah mereka dalam serangan Houtman. Dia memanggil mereka yang telah bersembunyi di desa-desa pesisir yang terisolasi, di antara para nelayan yang ketakutan.

          Satu per satu, mereka tiba. Awalnya hanya tiga, kemudian sepuluh, lalu dua puluh. Mereka adalah janda perang, istri pedagang, bahkan beberapa wanita dari kasta rendah yang selalu dicurigai Aethelgard. Mereka semua memiliki mata yang sama. Kosong, penuh luka, dan lapar akan pembalasan.

          Lyra, yang dulunya adalah perwira logistik yang selalu patuh, berdiri paling dekat dengan Mala. Matanya lebar karena kengerian dan kekaguman.

          "Ratu Mala," Lyra berbisik, menggunakan gelar lama, namun nadanya kini tunduk pada pemimpin baru. "Mereka semua datang. Tapi apa yang kau minta dari kami?"

          Mala menatap lautan yang bergolak di bawah. Dia mengangguk ke arah Lyra, dan kemudian ke arah wanita-wanita lain yang berkumpul, wajah mereka pucat di bawah cahaya bulan yang terhalang kabut.

          "Kita tidak bisa lagi bertempur dengan kapal dan baja," kata Mala, suaranya kini lebih dalam dan bergaung, terpengaruh oleh energi yang mulai ia tarik. "Kita akan bertempur dengan hukum laut itu sendiri. Kita akan menjadi hantu yang menunggangi mimpi buruk Houtman. Kalian semua telah kehilangan segalanya. Aku menawarkan kalian tujuan. Aku menawarkan kalian cara untuk membuat mereka membayar dengan darah yang sama kotornya dengan sihir mereka."

          Dia mengangkat Rencora. Dengan gerakan yang cepat dan tanpa ragu, dia mengiris telapak tangan kirinya. Darah Mala, yang kini mulai memancarkan kilau biru samar karena kontak dengan Void Fire yang menyembuhkannya, menetes ke batu tebing yang dingin.

          "Aku bersumpah untuk memimpin kalian keluar dari abu," Mala bersumpah, suaranya bergetar karena kekuatan yang membanjiri dirinya. "Aku bersumpah atas ingatan mereka yang hilang!"

         Dia memejamkan mata, mengarahkan energinya ke kedalaman jurang di bawah Tebing Black Rock. Dia memanggil bukan sekadar air, tetapi kekuatan liar di bawahnya. Dia memanggil kebutuhan.

          Seketika, tebing itu bergetar. Suara gemuruh rendah, bukan dari badai, tetapi dari perut bumi, merobek udara. Energi biru pekat mulai naik dari kedalaman, menembus dasar laut, memantul dari formasi karang.

          Para wanita di sekitarnya tersentak mundur, beberapa jatuh berlutut. Mereka merasakan gelombang kekuatan murni yang luar biasa.

         "Apa itu?" teriak Lyra, mencengkeram erat lengan baju Mala.

          Mala tersenyum tipis, senyum pertama yang tulus namun paling mengerikan yang pernah ia tunjukkan. "Itu adalah jawaban kita."

         Gelombang kejut kedua terjadi, kali ini lebih dekat, lebih intens. Air di dasar tebing mulai bergolak hebat. Bukan gelombang pasang biasa, melainkan gerakan yang disengaja. Dari kegelapan bawah, bayangan masif mulai bergerak naik.

           Mereka adalah Leviathan-Hatchlings, anak-anak makhluk laut primordial yang seharusnya tidak pernah dilihat manusia. Mereka besar, bahkan dalam keadaan muda, dengan sisik kasar dan mata kuning yang membakar rasa lapar. Mereka tertarik oleh darah Mala dan panggilan kekuatan yang ia keluarkan.

           Sembilan makhluk raksasa itu mulai mencuat dari ombak, kepala dan leher mereka yang berotot menjulang tinggi, siap menerkam siapa pun di puncak tebing. Para janda perang menjerit ketakutan. Ritual telah menarik predator yang lebih buas daripada Houtman.

          "Mereka bukan sekutu kita!" teriak salah satu wanita. "Kita dikutuk!"

           Mala tidak gentar. Dia berdiri tegak di antara para wanita yang ketakutan dan makhluk-makhluk itu, darahnya yang masih menetes di batu menjadi jembatan spiritual. Dia menatap mata kuning Leviathan tertua, memproyeksikan kehendaknya. Keinginan untuk memburu, keinginan untuk menenggelamkan api industri.

          "Duduklah, anak-anakku!" Mala membentak. Energi biru dari tubuhnya menyebar, membentuk jaring halus di antara dia dan para makhluk itu.

          Kekuatan baru ini terasa asing, menyakitkan, namun memabukkan. Itu bukan Hydro-Resonance yang lembut. Ini adalah tuntutan kekuasaan mutlak.

         Leviathan tertua, yang tingginya mencapai dua kali lipat tiang kapal, mendesis. Ia menurunkan kepalanya, mata kuningnya menatap lurus ke mata Mala. Keheningan menggantung berat, siap meledak menjadi kematian yang brutal.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • WANITA PENAKLUK SAMUDRA   Bab 45

    Lyra mencengkeram kristal Mala di pergelangan tangannya. Kristal itu berdenyut, bukan dengan kehangatan, tetapi dengan peringatan. Pada saat yang sama, Elara, di sampingnya, melihat layar sensor pribadinya berkedip-kedip dengan anomali yang belum pernah terlihat. Sebuah pola energi yang tidak dikenal, bergerak dengan kecepatan yang menakutkan, dari luar batas sistem pertahanan Aethelgard.Lyra menatap Elara. "Anda merasakannya?"Elara mengangguk, wajahnya pucat. "Lebih jauh dari apa pun yang pernah kita deteksi. Lebih besar. Bukan dari sini."Di kejauhan, The Azure Sentinel berlayar dengan anggun, simbol harapan. Tetapi Lyra tahu, harapan itu akan segera diuji.Lima tahun berlalu sejak peluncuran The Azure Sentinel. Lima tahun yang membentuk Aethelgard menjadi peradaban yang jauh berbeda. Ujian dari bisikan asing itu datang tak lama setelahnya. Ternyata bukan ancaman militer, melainkan sekelompok kecil penjelajah antar bintang yang tersesat, menderita kerusakan kapal. Lyra, dengan keb

  • WANITA PENAKLUK SAMUDRA   Bab 44

    Lyra memejamkan mata sesaat. Pertempuran ini telah berakhir. Tetapi perang... perang sesungguhnya baru saja dimulai. Bisikan dingin itu merayap di benaknya, sebuah firasat tajam yang menusuk melalui euforia kemenangan, seolah samudra itu sendiri mendesah dengan rahasia yang lebih kuno dan mengerikan. Namun, di hadapannya, lautan manusia bersorak, dan ia punya janji untuk ditepati. Sebuah janji kepada Krael, kepada Mala, dan kepada dirinya sendiri.Enam bulan kemudian. Aethelgard, yang dulunya puing-puing, kini menggeliat bangkit. Bukan sekadar rekonstruksi, tetapi metamorfosis. Pekerja berduyun-duyun membangun kembali, namun kali ini, arsitekturnya berbeda. Garis-garis yang lebih organik, terinspirasi dari Sisterhood, mulai terlihat. Kristal Aether yang dipulihkan, bukan obsidian, memancarkan cahaya lembut, menerangi jalan-jalan yang sebelumnya gelap.Di aula dewan yang baru direnovasi, suasana terasa jauh berbeda. Tidak ada lagi ukiran patriarkis yang mencolok, diganti dengan mural y

  • WANITA PENAKLUK SAMUDRA   Bab 43

    Lyra perlahan bangkit, tubuhnya yang terluka terasa ringan oleh tujuan yang baru. Dia menatap Heart of the Abyss yang kini berdenyut dengan pendaran biru yang stabil, murni. Di sana, di kedalamannya, Mala dan Krael kini adalah satu, penjaga yang abadi. Tetapi Lyra merasakan sesuatu yang lain. Sebuah bisikan samar dari jauh, sebuah gema di kedalaman samudra yang melampaui Aethelgard, sebuah panggilan samar dari kegelapan yang belum ia kenal. Sebuah pertanda bahwa meskipun perang ini telah berakhir, perjuangan sesungguhnya baru saja dimulai. Dia menarik napas dalam, merasakan beratnya takdir yang kini menantinya, sendirian di puncak dunia.Di sekeliling Lyra, Sisterhood yang kelelahan namun bersemangat mulai bergerak. Mereka membersihkan puing-puing, mengevakuasi Leviathan yang hancur, dan menstabilkan area inti. Si Naga Biru yang babak belur kini tertambat, para teknisi bekerja keras memperbaiki lambungnya yang robek. Vardus Solara, yang kini terbaring tak bergerak dengan mata kosong,

  • WANITA PENAKLUK SAMUDRA   Bab 42

    Lyra menatap inti kristal Jormungandr itu, hatinya dipenuhi campuran kesedihan dan kelegaan. Krael. Kau di sana? Bisikan itu nyaris tak terdengar, sebuah hembusan napas yang tertahan di tengah kehancuran. Di sekelilingnya, Heart of the Abyss perlahan pulih, denyutannya yang biru dan murni terasa seperti detak jantung yang baru terlahir kembali, namun di sampingnya, inti kristal Jormungandr terasa dingin, cahaya birunya redup, nyaris mati, setelah semua energi yang ia berikan.Luka di tubuh Lyra masih terasa perih, tetapi itu tidak seberapa dibandingkan dengan rasa kehilangan yang kembali menyeruak. Vardus Solara telah dikalahkan, tapi harga yang dibayar terasa begitu mahal. Mala kini satu dengan samudra, dan Krael... Apakah dia benar-benar pergi?Tiba-tiba, inti kristal Jormungandr berdenyut lagi. Bukan ledakan energi seperti sebelumnya, melainkan sebuah denyutan lembut, mirip detak jantung yang pelan, namun stabil. Dari kedalamannya, sebuah pendar keperakan muncul, berputar perlahan,

  • WANITA PENAKLUK SAMUDRA   Bab 41

    Vardus, yang selalu mengendalikan, kini sepenuhnya tidak berdaya. Dia merasakan setiap partikel dari dirinya disentuh, dianalisis, dan dinetralkan oleh kekuatan yang tak terkalahkan. Wajahnya pucat pasi, matanya memancarkan kepanikan liar.Cahaya biru Mala berdenyut lembut, tidak melukai, tetapi meresap. Lyra, yang berjuang untuk bangkit, melihatnya bukan serangan kekuatan, melainkan penetrasi. Vardus terbungkus dalam esensi Mala, terpaksa menghadapi sesuatu yang lebih dalam dari kehampaan yang ia puja.Sebuah gelombang ingatan, bukan milik Lyra, tetapi diproyeksikan oleh Mala, menghantam pikiran Lyra. Dia melihatnya dari mata Vardus. Seekor ikan kecil yang kesakitan, terengah-engah dalam air yang tercemar Void-Fire dari penambangan baru Vardus. Terumbu karang yang dulunya berwarna-warni, kini memutih, merana, mati. Arus Aether yang murni, berbelok, kering, tidak lagi memberi makan kehidupan di kedalaman. Lyra bisa merasakan rasa sakit itu, keputusasaan makhluk-makhluk laut yang pelan

  • WANITA PENAKLUK SAMUDRA   Bab 40

    Lyra menatapnya, matanya setengah tertutup, bayangan Vardus menari di depannya. Apakah ini... akhirnya? Dia merasakan denyutan Heart of the Abyss yang kini kembali dikuasai kehampaan, terasa seperti bisikan kematian yang akan datang. Pergelangan tangannya berdenyut sakit, kristal Mala di sana terasa dingin, mati, seperti dirinya sendiri.Vardus Solara, dengan senyum tipis kemenangan, mengangkat tangannya. Ujung jarinya berkumpul, memancarkan percikan Void-Fire yang mematikan. Itu adalah pukulan terakhir, tak terhindarkan. Lyra bisa merasakan embusan dingin kehampaan yang mendekat, seperti tangan tak terlihat yang siap merobeknya menjadi ketiadaan. Maafkan aku, Mala. Maafkan aku, Krael.Tepat saat Void-Fire itu siap dilepaskan, sebuah fenomena yang melampaui pemahaman Vardus terjadi.Dari inti kristal Jormungandr yang tergeletak di dekat tangan Lyra, sebuah pendar biru samar muncul. Bukan hanya cahaya, melainkan sebuah denyutan. Seolah jantung yang telah lama tertidur kini terbangun. P

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status