LOGINSuara sirene peringatan membelah malam di Teluk Abyss. Bukan lagi dentuman monster laut mekanik dari perbatasan. Ini adalah ratapan panjang, serak, menandakan invasi skala penuh. Malam yang seharusnya menjadi penutup perayaan kemenangan kecil kini berubah menjadi pembantaian.
Mala dan Krael berdiri di anjungan The Jormungandr, kapal yang baru saja ia selamatkan dalam keajaiban Ghost Drift. Di bawah mereka, armada Aethelgard yang bangga kini tampak seperti kumpulan anak domba yang dikepung. Di hadapan mereka, bukan sekadar kapal perang, melainkan benteng industri terapung yang dikelilingi oleh awan asap hitam berbau belerang. Itu armada Cornelis de Houtman, Alchemist Legion.
"Mereka datang dari dimensi yang berbeda," Krael berbisik, matanya menyipit menatap kilatan energi ungu yang keluar dari haluan kapal Houtman. "Itu bukan sihir biasa, Mala. Itu Void Fire."
"Ayahku bilang itu mitos, Krael. Kutukan yang ditinggalkan para industrialis zaman kuno," jawab Mala, tangannya bergerak liar mencari kristal resonansi, berusaha menyalurkan kekuatan air laut di sekitarnya, mencari cara untuk menangkis serangan yang datang.
"Houtman mewujudkannya," balas Krael tegas. Dia meraih tangan Mala, memaksanya menatap matanya di bawah cahaya lampu sorot kapal yang mulai kacau. "Dengar, Mala. Kita harus menahan mereka di garis depan. Kau harus bersiap. Jika kita bertahan malam ini, kita masih punya kerajaan."
"Aku bisa melindungi kapal kita, Krael, tapi bukan seluruh armada!" teriak Mala, suara sirene mengalahkan teriakan mereka. Kapal-kapal Alchemist Legion menembakkan proyektil logam yang dilapisi asap ungu. Void Fire. Saat proyektil itu menghantam lambung kapal Aethelgard, air di sekitarnya tidak menyala. Ia lenyap, terserap ke dalam kehampaan yang panas.
"Fokus pada pertahanan inti, aku akan memimpin Ksatria Badai untuk serangan pengalih perhatian," perintah Krael melalui komunikator helmnya. "Ini perintah, Mala. Lindungi Jormungandr. Jika kapal ini jatuh, Aethelgard tamat!"
Krael tidak menunggu jawaban. Dia melompat dari kapal kristal itu, mendarat di Kapal Naga-nya sendiri, The Tempest, yang segera melesat maju, membelah formasi Alchemist Legion yang baru terbentuk. Keberaniannya adalah tindakan bunuh diri yang heroik. Dia mengalihkan seluruh daya tembak Houtman kepadanya.
Mala mengutuk dalam hati. Krael selalu memprioritaskan kehormatan di atas segalanya. Dia berusaha keras menggunakan Hydro Resonance-nya untuk menyalurkan air laut ke arah kapal-kapal Houtman, mencoba memadamkan sumber Void Fire mereka, tetapi energi dingin dari teknologi tiran itu terlalu kuat, terlalu beracun bagi air biasa.
"Mereka menekan kita! The Trident baru saja hancur!" lapor seorang petugas dengan suara gemetar.
Mala memejamkan mata. Dia merasakan Krael. Dia merasakan Kapal Naga miliknya dikepung oleh setidaknya lima kapal uap baja Houtman. Krael bertarung seperti dewa badai, menghancurkan tiga kapal dengan pedang Aether-nya, namun energi ungu itu mengitarinya.
"Krael, tarik mundur! Itu jebakan!" Mala memohon melalui saluran pribadi, air matanya terasa panas dan asin.
"Tidak ada kata mundur, Jantung Lautan ku," suara Krael terdengar terputus-putus, dipenuhi gerak statis. "Aku akan mengulur waktu agar kau…"
Komunikasi terputus oleh ledakan dahsyat. Gelombang kejut menghantam The Jormungandr. Mala terlempar dari konsolnya, kepalanya membentur penyangga logam. Saat ia bangkit, pandangannya kabur, dan dia melihatnya di layar sonar sekunder. Lokasi The Tempest.
Kapal Krael dikelilingi bola api ungu yang meluas. Void Fire menelan logam, batu, dan kehidupan dalam sekejap mata. Kapal itu tidak terbakar; ia terhapus dari keberadaan.
"TIDAK!" Pekikan Mala nyaris tak terdengar di tengah kebisingan.
Ketakutan pribadi meledak menjadi amarah primordial. Dia tidak lagi peduli pada Dewan atau tradisi. Dia hanya melihat Krael yang hilang. Dia membanjiri inti kristal Jormungandr dengan semua kekuatannya, tidak lagi mencari Ghost Drift, tetapi mencari daya hancur.
Dia mendorong kapal itu langsung ke arah pusat pusaran Void Fire tempat Krael lenyap. Armada Houtman menembak membabi buta, menargetkan kapal perang terakhir Aethelgard yang tersisa.
Dua proyektil Void Fire raksasa menghantam lambung Jormungandr di bagian tengah. Kristal Aether retak dengan suara melengking yang memilukan. Tekanan yang ditimbulkan oleh Void Fire menyebabkan distorsi ruang dan waktu di sekitar kapal.
"Kapal pecah!" teriak Theron dari bawah.
Mala merasakan inti kapal runtuh, dan energi yang baru saja ia kumpulkan berbalik melawannya. Ia tidak bisa menarik dirinya keluar dari resonansi kapal yang sedang sekarat.
"Mala! Keluar sekarang!" Itu suara Krael, meski terdengar jauh, dipenuhi urgensi yang mengerikan.
Mala melihat ke geladak. Di reruntuhan yang hancur, di antara pecahan kristal yang masih memancarkan cahaya biru, Krael berdiri. Bagaimana? Apakah itu ilusi? Dia telah melihat The Tempest lenyap!
Krael, dengan baju zirah Ksatria Badai yang hancur dan bercak Void Fire di sisinya, tampak mengerang kesakitan. Dia memegang sebuah portal kecil yang berputar di tangannya. Portal yang tampak seperti lubang hitam mini yang diselimuti api ungu.
"Aku... berhasil menahannya sebentar!" Krael berteriak, wajahnya pucat pasi. "Ini adalah salah satu gerbang Houtman! Cepat! Masuk ke air! Aku akan menghancurkannya dari sini!"
Mala ragu sesaat. Jika dia pergi ke laut, dia kehilangan kendali atas kapal yang masih bisa menyelamatkan yang lain. Tetapi jika dia tetap di sini, dia akan mati bersamanya.
"Ikut aku!" Krael menariknya ke tepi geladak yang runtuh.
"Aku tidak bisa meninggalkan kapal!"
"Kapal ini mati! Kau harus hidup!" Krael mendorongnya dengan seluruh kekuatannya yang tersisa. Mala terlempar ke udara, jatuh dari ketinggian menuju kegelapan Teluk Abyss.
Saat dia jatuh, sensasi dingin yang membekukan mencengkeramnya, bukan dari air laut, tetapi dari energi Void Fire yang menyelimuti dirinya. Dia melihat ke atas. Krael tidak melompat ke air. Sebaliknya, Krael mengarahkan portal dimensi yang mengerikan itu ke dadanya sendiri, menarik semua energi Void Fire yang ada padanya.
Mala menabrak permukaan air dengan keras. Air terasa seperti asam setelah kontak dengan sisa api ungu di kulitnya. Dia berjuang untuk mengapung, paru-parunya terbakar.
Dia memaksa matanya terbuka di bawah permukaan yang gelap dan bergejolak. The Jormungandr terbelah, tenggelam perlahan, kristalnya meredup menjadi debu. Di atasnya, tepat di tempat Krael berdiri, portal itu membesar, berputar liar, dan kemudian, dengan kilatan cahaya ungu yang memekakkan mata, ia menutup.
Krael tidak terlempar ke air. Dia tersedot ke dalam pusaran itu, tertarik oleh kekuatan yang diciptakan Houtman. Mala berteriak, tetapi suaranya tenggelam. Dia melihat suaminya, cahaya hidupnya, lenyap ke dalam kehampaan ciptaan tiran itu.
Dia terlempar ke air dingin, sendirian, di tengah bangkai kerajaannya, sementara armada Houtman mulai menyebar, membersihkan sisa-sisa perlawanan seperti pemanen yang rakus.
"Tiga hari," bisik Lyra, suaranya masih menggantung di udara lembab gua karang. Perasaan berat itu kini berubah menjadi ledakan aksi. Armada Wraith-Raiders tidak menyia-nyiakan waktu. Dalam dua minggu berikutnya, samudra utara Aethelgard yang dingin menjadi medan perburuan tanpa henti. Mala telah pergi, memimpin tim kecil yang berani menuju jantung wilayah Houtman. Keputusan itu menusuk Lyra, meninggalkan kekosongan yang dingin di pusat komando. Namun, Mala juga telah meninggalkan sebuah perintah. Ciptakan kekacauan yang akan mengalihkan pandangan Houtman dari misi Mala. Dan Lyra, sebagai Komandan Utama Inong Balee, berniat memenuhi perintah itu dengan kehancuran. Malam itu, dingin dan penuh ancaman. Lyra menunggangi Shadow, Leviathan-nya yang besar, memimpin formasi sepuluh Wraith-Raiders lainnya. Mereka bergerak seperti pisau melalui air, menuju benteng perbatasan utama Houtman yang menjulang seperti gunung es logam yang busuk di lepas pantai utara.
Rasa dingin yang ditinggalkan tawa Houtman, yang menggema melalui kristal penangkap sinyal, masih melekat di telinga Mala. Ia mencengkeram artefak itu erat-erat sepanjang perjalanan pulang. Setiap sentuhannya memancarkan denyut Void-Fire yang sama, yang mengingatkannya pada penderitaan Krael. Sisterhood kembali ke markas rahasia mereka di dalam gua karang, cahaya biru lembut dari lumut laut memantul di dinding batu yang basah, kontras dengan kegelapan yang menyelimuti hati Mala. Para Wraith-Raiders lainnya, meski kelelahan, merasakan aura kemarahan yang berbeda dari Ratu mereka. Mereka tahu sesuatu telah berubah. Mala, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, langsung menuju area perencanaan, tempat peta dan hologram taktis biasa melayang di udara. Lyra mengikutinya, matanya penuh pertanyaan. "Ratu, kita sudah berhasil menenggelamkan Iron Maw," lapor Lyra, suaranya berusaha terdengar seperti laporan kemenangan, namun getaran tawa Houtman masih berdesir di ika
Rasa dingin yang ditinggalkan tawa Houtman masih membekas di tulang Mala. Setelah penemuan mengerikan itu. Krael yang hidup sebagai baterai, perintahnya tidak lagi datang dari strategi, melainkan dari sebuah kebutuhan fisik untuk menghancurkan. "Kaelia, bawa aku ke arah sumber resonansi terkuat. Lyra, tarik mundur semua unit pengintai, kita lakukan penyerbuan penuh!" perintah Mala, suaranya kini kembali tegas, menekan setiap getaran kepedihan yang mengancam untuk melumpuhkannya. Lyra, yang masih merasakan getaran tawa tiran itu melalui ikatan resonansi mereka, mengangguk kaku. "Mengerti, Ratu. Semua unit, bersiap untuk serangan ke utara. Kita akan menjadi dinding air di hadapan uap hitam mereka!” Keheningan sejenak di antara Sisterhood pecah menjadi pusaran aktivitas yang cepat. Mereka tidak lagi melakukan patroli. Ini adalah perang yang dipercepat, didorong oleh kepastian bahwa Krael masih bernafas di suatu tempat di dalam sarang musuh. Me
Kegelapan dan cahaya biru yang menusuk mata bersaing di puncak Tebing Black Rock. Darah Mala yang menetes di batu seolah menjadi konduktor, memanggil kekuatan yang jauh lebih tua dari kerajaan mana pun. Leviathan-Hatchlings yang menjulang tinggi masih menggeram, energi lapar mereka terpancar seperti panas yang menakutkan, namun mata kuning mereka kini terfokus pada Mala. Mala berdiri tak bergerak. Dia tidak menarik tangannya dari energi yang ia pancarkan. Sebaliknya, dia mendorong lebih keras. Dia tidak lagi memohon, dia memerintah. Rasa sakit fisik dari pengorbanan itu adalah harga kecil untuk dominasi atas makhluk purba ini. "Aku adalah Ratu kalian sekarang," desis Mala, suaranya nyaris tenggelam oleh deburan ombak liar yang dipanggil oleh ritual itu. "Aku telah kehilangan segalanya demi lautan ini. Kalian akan melayani tujuanku. Kalian akan menjadi perisai dan tombakku." Leviathan tertua itu menyentakkan kepalanya maju, hampir menyentuh dahi Mala
Air laut yang dingin terasa seperti jutaan tusukan es pada kulit Mala yang melepuh. Dia terdampar di pantai berbatu yang terpencil, jauh dari Teluk Abyss. Pasir di sini berwarna hitam pekat, hasil dari erosi gunung berapi kuno. Aroma amis darah bercampur dengan bau belerang dan sisa-sisa sihir industri yang mencekik. Tiga minggu. Tiga minggu sejak Aethelgard lenyap, tiga minggu sejak Krael ditarik ke dalam kehampaan ungu. Setiap gerakan menyakitkan. Luka bakar Void Fire di lengan dan punggungnya meninggalkan bekas ungu kehitaman yang terasa seperti kulit mati yang tertarik. Mala mengusap wajahnya, air mata yang mengering bercampur dengan lumpur garam. Di sekelilingnya, puing-puing kapal yang terseret ombak, sisa-sisa para Ksatria Badai yang gugur menjadi saksi bisu kehancurannya. Keputusasaan seharusnya menjadi jurang, namun anehnya, di dalam dirinya tumbuh sesuatu yang keras dan tajam. Kebutuhan untuk menuntut balas. Jika dia kembali ke tradisi Aethelgar
Suara sirene peringatan membelah malam di Teluk Abyss. Bukan lagi dentuman monster laut mekanik dari perbatasan. Ini adalah ratapan panjang, serak, menandakan invasi skala penuh. Malam yang seharusnya menjadi penutup perayaan kemenangan kecil kini berubah menjadi pembantaian. Mala dan Krael berdiri di anjungan The Jormungandr, kapal yang baru saja ia selamatkan dalam keajaiban Ghost Drift. Di bawah mereka, armada Aethelgard yang bangga kini tampak seperti kumpulan anak domba yang dikepung. Di hadapan mereka, bukan sekadar kapal perang, melainkan benteng industri terapung yang dikelilingi oleh awan asap hitam berbau belerang. Itu armada Cornelis de Houtman, Alchemist Legion. "Mereka datang dari dimensi yang berbeda," Krael berbisik, matanya menyipit menatap kilatan energi ungu yang keluar dari haluan kapal Houtman. "Itu bukan sihir biasa, Mala. Itu Void Fire." "Ayahku bilang itu mitos, Krael. Kutukan yang ditinggalkan para industrialis zaman kuno,"