Share

Bab 6

Penulis: Putrisyamsu
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-27 14:06:38

           Rasa dingin yang ditinggalkan tawa Houtman, yang menggema melalui kristal penangkap sinyal, masih melekat di telinga Mala. Ia mencengkeram artefak itu erat-erat sepanjang perjalanan pulang. Setiap sentuhannya memancarkan denyut Void-Fire yang sama, yang mengingatkannya pada penderitaan Krael. Sisterhood kembali ke markas rahasia mereka di dalam gua karang, cahaya biru lembut dari lumut laut memantul di dinding batu yang basah, kontras dengan kegelapan yang menyelimuti hati Mala.

          Para Wraith-Raiders lainnya, meski kelelahan, merasakan aura kemarahan yang berbeda dari Ratu mereka. Mereka tahu sesuatu telah berubah. Mala, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, langsung menuju area perencanaan, tempat peta dan hologram taktis biasa melayang di udara. Lyra mengikutinya, matanya penuh pertanyaan.

          "Ratu, kita sudah berhasil menenggelamkan Iron Maw," lapor Lyra, suaranya berusaha terdengar seperti laporan kemenangan, namun getaran tawa Houtman masih berdesir di ikatan resonansi mereka. "Taktik pengalihan itu berhasil menarik beberapa unit Houtman ke utara."

            Mala tidak menoleh. Kristal di tangannya berdenyut pelan, memproyeksikan citra Krael, membesar di udara dingin. Wajah Krael yang pucat, matanya yang kosong, dan kabel-kabel hitam yang mengikatnya, tampak jelas bagi Lyra dan beberapa Wraith-Raiders yang mendekat. Desahan ketakutan memenuhi gua.

           "Ini bukan laporan kemenangan, Lyra," kata Mala, suaranya parau. Ia akhirnya berbalik, tatapannya membara. "Ini adalah bukti bahwa kita berburu dengan mata tertutup."

            Lyra menatap gambar Krael, rahangnya mengeras. "Mala... Ratu... apakah ini... benar?"

           "Houtman sendiri yang mengirimkan ini. Krael hidup, Lyra. Tapi dia disiksa. Dijadikan sumber energi untuk mesin kotornya." Amarah Mala meletup. "Kita tidak lagi hanya membalas dendam atas kematian. Kita harus menyelamatkan yang hidup."

            Keheningan menyelimuti gua. Para janda perang saling berpandangan, guncangan atas kabar ini terlihat jelas di wajah mereka. Harapan tipis bercampur dengan ketakutan yang mendalam.

           Lyra melangkah maju, tangannya mencengkeram bahu Mala. "Ratu, aku mengerti kesedihanmu. Lebih dari siapapun, aku tahu. Tapi kita adalah pasukan Inong Balee. Misi kita adalah menghancurkan Houtman, bukan terjebak dalam jebakannya. Ini mungkin ilusi. Sebuah umpan untuk menarikmu."

           Mala menarik diri dari sentuhan Lyra. "Kau pikir aku tidak mempertimbangkan itu, Lyra? Setiap tarikan nafas Krael adalah siksaan yang lebih parah baginya. Apakah kita akan membiarkannya menderita di sana, sementara kita terus melakukan serangan kecil yang hanya menggores permukaan?" desah Mala dengan hati geram. 

            "Serangan kecil itu efektif, Ratu! Kita telah membangun reputasi, kita telah melemahkan rute pasokan mereka!" Lyra meninggikan suaranya, keberaniannya mempertanyakan Ratu Mala muncul dari kekhawatiran yang tulus. "Jika kita menyerbu ke jantung mereka tanpa rencana, hanya demi menyelamatkan satu orang atau bahkan jika itu adalah suamimu mala kita akan kehilangan segalanya! Kita akan kehilangan semua orang!"

          Lyra menunjuk ke arah Wraith-Raiders yang berkumpul. Mereka tampak lelah, beberapa terluka dari pertempuran sebelumnya. "Mereka telah berkorban, Ratu. Mereka percaya pada tujuanmu untuk membalas dendam bagi Aethelgard. Bukan untuk menyelamatkan satu orang, yang mungkin saja sudah terlalu jauh untuk diselamatkan!"

            Kata-kata Lyra menusuk Mala. Terlalu jauh untuk diselamatkan. Namun, citra Krael di udara, meski buram, memproyeksikan penderitaan yang nyata. Aku tidak akan membiarkanmu mati sendirian, Krael.

            Mala memejamkan mata sejenak, menekan ledakan emosi yang mengancam untuk menelannya. Dia adalah Ratu Janda, bukan hanya istri yang berduka. Dia tahu risiko yang diucapkan Lyra sangatlah benar. Tapi dia juga tahu bahwa jika dia meninggalkan Krael sekarang, dia akan kehilangan dirinya sendiri.

            "Houtman tidak akan bisa mengendalikan kita jika kita menyerang inti kekuatannya," Mala membuka matanya, suaranya kini tenang, sedingin es, namun dipenuhi tekad yang tak tergoyahkan. "Jika Houtman menggunakan Krael sebagai sumber energinya, itu berarti Krael adalah kunci untuk menghancurkan inti Behemoth."

           Lyra menggelengkan kepalanya. "Itu risiko yang tidak bisa kita ambil, Ratu. Jika kita salah, seluruh Sisterhood akan musnah."

            "Kita akan membuat pengalihan yang lebih besar," Mala mengabaikan Lyra, berjalan ke depan peta hologram. Jarinya menekan sebuah titik di dekat benteng perbatasan utama Houtman. "Kita akan menyerang benteng ini dengan kekuatan penuh. Ini akan menjadi gangguan terbesar yang pernah kita lakukan."

           "Untuk apa, Ratu? Untuk menarik mereka menjauh dari apa?" tanya Lyra, suaranya kini lebih putus asa daripada menantang.

           "Untuk menarik perhatian mereka dari tim kecil," jawab Mala, menekan titik lain, jauh di dalam wilayah Houtman, di mana citra Krael telah terlihat. "Tim kecil yang akan menyusup ke sarang mereka. Aku akan memimpin tim itu sendiri."

            Para Wraith-Raiders terdiam, menyadari implikasi dari keputusan Mala. Ini bukan lagi tentang gerilya. Ini adalah serangan bunuh diri, sebuah upaya putus asa untuk menyelamatkan seorang pria yang mungkin sudah tidak bisa diselamatkan lagi, dengan risiko mengorbankan setiap wanita yang tersisa.

            Lyra menatap Mala, tidak lagi dengan bantahan, melainkan dengan kekecewaan dan rasa takut yang mendalam. "Ratu, kepemimpinanmu selalu didasari oleh logika dan strategi untuk bertahan hidup. Sekarang... ini adalah emosi. Ini adalah pengorbanan yang mungkin tidak akan menghasilkan apa-apa selain kehancuran."

           "Pengorbanan dibutuhkan, Komandan," balas Mala, menatap mata Lyra tanpa berkedip. "Ini adalah pengorbanan untuk tujuan yang lebih besar, demi kedamaian samudra dan jiwa Krael yang tersiksa. Aku tahu risiko yang kita ambil. Tapi jika ada kesempatan, bahkan sekecil apa pun, aku akan mengambilnya."

          Lyra menghela nafas panjang, bahunya merosot. Loyalitasnya pada Mala lebih dalam dari strategi apapun, meskipun ia mempertanyakan kebijaksanaan Ratu-nya. "Baiklah, Ratu. Aku akan menyiapkan pasukan pengalihan. Berapa banyak yang akan ikut bersamamu?"

            Mala mengamati Lyra, lalu menatap kristal yang masih memproyeksikan wajah Krael. "Empat. Empat Wraith-Raiders terkuat dan paling setia. Kita akan bergerak dalam tiga hari. Perang sesungguhnya baru akan dimulai."

"Tiga hari," ulang Lyra, suaranya nyaris berbisik. "Semoga lautan memberkatimu, Ratu. Karena aku tidak yakin kita akan kembali."

           Mala hanya mengangguk, hatinya terasa berat. Dia tahu ini mungkin adalah misi terakhirnya. Namun, bayangan Krael yang tersiksa mendorongnya. Dia tidak bisa membiarkannya sendirian. Ini adalah harga yang harus dibayar, untuk cintanya, untuk janjinya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • WANITA PENAKLUK SAMUDRA   Bab 7

    "Tiga hari," bisik Lyra, suaranya masih menggantung di udara lembab gua karang. Perasaan berat itu kini berubah menjadi ledakan aksi. Armada Wraith-Raiders tidak menyia-nyiakan waktu. Dalam dua minggu berikutnya, samudra utara Aethelgard yang dingin menjadi medan perburuan tanpa henti. Mala telah pergi, memimpin tim kecil yang berani menuju jantung wilayah Houtman. Keputusan itu menusuk Lyra, meninggalkan kekosongan yang dingin di pusat komando. Namun, Mala juga telah meninggalkan sebuah perintah. Ciptakan kekacauan yang akan mengalihkan pandangan Houtman dari misi Mala. Dan Lyra, sebagai Komandan Utama Inong Balee, berniat memenuhi perintah itu dengan kehancuran. Malam itu, dingin dan penuh ancaman. Lyra menunggangi Shadow, Leviathan-nya yang besar, memimpin formasi sepuluh Wraith-Raiders lainnya. Mereka bergerak seperti pisau melalui air, menuju benteng perbatasan utama Houtman yang menjulang seperti gunung es logam yang busuk di lepas pantai utara.

  • WANITA PENAKLUK SAMUDRA   Bab 6

    Rasa dingin yang ditinggalkan tawa Houtman, yang menggema melalui kristal penangkap sinyal, masih melekat di telinga Mala. Ia mencengkeram artefak itu erat-erat sepanjang perjalanan pulang. Setiap sentuhannya memancarkan denyut Void-Fire yang sama, yang mengingatkannya pada penderitaan Krael. Sisterhood kembali ke markas rahasia mereka di dalam gua karang, cahaya biru lembut dari lumut laut memantul di dinding batu yang basah, kontras dengan kegelapan yang menyelimuti hati Mala. Para Wraith-Raiders lainnya, meski kelelahan, merasakan aura kemarahan yang berbeda dari Ratu mereka. Mereka tahu sesuatu telah berubah. Mala, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, langsung menuju area perencanaan, tempat peta dan hologram taktis biasa melayang di udara. Lyra mengikutinya, matanya penuh pertanyaan. "Ratu, kita sudah berhasil menenggelamkan Iron Maw," lapor Lyra, suaranya berusaha terdengar seperti laporan kemenangan, namun getaran tawa Houtman masih berdesir di ika

  • WANITA PENAKLUK SAMUDRA   Bab 5: Misi pembebasan Krael

    Rasa dingin yang ditinggalkan tawa Houtman masih membekas di tulang Mala. Setelah penemuan mengerikan itu. Krael yang hidup sebagai baterai, perintahnya tidak lagi datang dari strategi, melainkan dari sebuah kebutuhan fisik untuk menghancurkan. "Kaelia, bawa aku ke arah sumber resonansi terkuat. Lyra, tarik mundur semua unit pengintai, kita lakukan penyerbuan penuh!" perintah Mala, suaranya kini kembali tegas, menekan setiap getaran kepedihan yang mengancam untuk melumpuhkannya. Lyra, yang masih merasakan getaran tawa tiran itu melalui ikatan resonansi mereka, mengangguk kaku. "Mengerti, Ratu. Semua unit, bersiap untuk serangan ke utara. Kita akan menjadi dinding air di hadapan uap hitam mereka!” Keheningan sejenak di antara Sisterhood pecah menjadi pusaran aktivitas yang cepat. Mereka tidak lagi melakukan patroli. Ini adalah perang yang dipercepat, didorong oleh kepastian bahwa Krael masih bernafas di suatu tempat di dalam sarang musuh. Me

  • WANITA PENAKLUK SAMUDRA   Bab 4: Ratu ditebing Black Rock

    Kegelapan dan cahaya biru yang menusuk mata bersaing di puncak Tebing Black Rock. Darah Mala yang menetes di batu seolah menjadi konduktor, memanggil kekuatan yang jauh lebih tua dari kerajaan mana pun. Leviathan-Hatchlings yang menjulang tinggi masih menggeram, energi lapar mereka terpancar seperti panas yang menakutkan, namun mata kuning mereka kini terfokus pada Mala. Mala berdiri tak bergerak. Dia tidak menarik tangannya dari energi yang ia pancarkan. Sebaliknya, dia mendorong lebih keras. Dia tidak lagi memohon, dia memerintah. Rasa sakit fisik dari pengorbanan itu adalah harga kecil untuk dominasi atas makhluk purba ini. "Aku adalah Ratu kalian sekarang," desis Mala, suaranya nyaris tenggelam oleh deburan ombak liar yang dipanggil oleh ritual itu. "Aku telah kehilangan segalanya demi lautan ini. Kalian akan melayani tujuanku. Kalian akan menjadi perisai dan tombakku." Leviathan tertua itu menyentakkan kepalanya maju, hampir menyentuh dahi Mala

  • WANITA PENAKLUK SAMUDRA   Bab 3: Dendam yang berkobar

    Air laut yang dingin terasa seperti jutaan tusukan es pada kulit Mala yang melepuh. Dia terdampar di pantai berbatu yang terpencil, jauh dari Teluk Abyss. Pasir di sini berwarna hitam pekat, hasil dari erosi gunung berapi kuno. Aroma amis darah bercampur dengan bau belerang dan sisa-sisa sihir industri yang mencekik. Tiga minggu. Tiga minggu sejak Aethelgard lenyap, tiga minggu sejak Krael ditarik ke dalam kehampaan ungu. Setiap gerakan menyakitkan. Luka bakar Void Fire di lengan dan punggungnya meninggalkan bekas ungu kehitaman yang terasa seperti kulit mati yang tertarik. Mala mengusap wajahnya, air mata yang mengering bercampur dengan lumpur garam. Di sekelilingnya, puing-puing kapal yang terseret ombak, sisa-sisa para Ksatria Badai yang gugur menjadi saksi bisu kehancurannya. Keputusasaan seharusnya menjadi jurang, namun anehnya, di dalam dirinya tumbuh sesuatu yang keras dan tajam. Kebutuhan untuk menuntut balas. Jika dia kembali ke tradisi Aethelgar

  • WANITA PENAKLUK SAMUDRA   Bab 2: Menghilangnya Krael

    Suara sirene peringatan membelah malam di Teluk Abyss. Bukan lagi dentuman monster laut mekanik dari perbatasan. Ini adalah ratapan panjang, serak, menandakan invasi skala penuh. Malam yang seharusnya menjadi penutup perayaan kemenangan kecil kini berubah menjadi pembantaian. Mala dan Krael berdiri di anjungan The Jormungandr, kapal yang baru saja ia selamatkan dalam keajaiban Ghost Drift. Di bawah mereka, armada Aethelgard yang bangga kini tampak seperti kumpulan anak domba yang dikepung. Di hadapan mereka, bukan sekadar kapal perang, melainkan benteng industri terapung yang dikelilingi oleh awan asap hitam berbau belerang. Itu armada Cornelis de Houtman, Alchemist Legion. "Mereka datang dari dimensi yang berbeda," Krael berbisik, matanya menyipit menatap kilatan energi ungu yang keluar dari haluan kapal Houtman. "Itu bukan sihir biasa, Mala. Itu Void Fire." "Ayahku bilang itu mitos, Krael. Kutukan yang ditinggalkan para industrialis zaman kuno,"

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status