MasukKegelapan dan cahaya biru yang menusuk mata bersaing di puncak Tebing Black Rock. Darah Mala yang menetes di batu seolah menjadi konduktor, memanggil kekuatan yang jauh lebih tua dari kerajaan mana pun. Leviathan-Hatchlings yang menjulang tinggi masih menggeram, energi lapar mereka terpancar seperti panas yang menakutkan, namun mata kuning mereka kini terfokus pada Mala.
Mala berdiri tak bergerak. Dia tidak menarik tangannya dari energi yang ia pancarkan. Sebaliknya, dia mendorong lebih keras. Dia tidak lagi memohon, dia memerintah. Rasa sakit fisik dari pengorbanan itu adalah harga kecil untuk dominasi atas makhluk purba ini.
"Aku adalah Ratu kalian sekarang," desis Mala, suaranya nyaris tenggelam oleh deburan ombak liar yang dipanggil oleh ritual itu. "Aku telah kehilangan segalanya demi lautan ini. Kalian akan melayani tujuanku. Kalian akan menjadi perisai dan tombakku."
Leviathan tertua itu menyentakkan kepalanya maju, hampir menyentuh dahi Mala. Keheningan pecah oleh desisan panjang yang penuh ancaman. Namun, di tengah desisan itu, Mala merasakan keraguan. Keengganan biologis yang digantikan oleh resonansi spiritual yang lebih kuat.
Mala mengambil Rencora, belati tulang naga di tangannya, dan mengarahkannya ke bahu Leviathan itu. Tindakan itu gila, tetapi yang terjadi berikutnya jauh lebih mengejutkan. Sebelum ujung belati itu menyentuh sisik kasar, Leviathan itu menarik diri dengan gerakan panik. Ia membungkuk, bukan dalam serangan, tetapi dalam penyerahan diri yang tiba-tiba dan total.
Gelombang biru yang keluar dari tubuh Mala kini merayap ke tubuh kesembilan makhluk itu. Sisik mereka yang tadinya tampak kasar dan penuh agresi kini tampak berkilauan, energi kegelapan yang menyelimuti mereka tersedot habis, digantikan oleh resonansi biru yang tenang namun kuat. Mereka merunduk, membiarkan aura sang Ratu Janda menyelimuti mereka.
Para janda perang lainnya, termasuk Lyra, menahan napas. Mereka telah melihat kemarahan Mala, mereka telah melihat ritualnya, tetapi melihat penguasaan mutlak atas makhluk sebesar itu adalah bukti bahwa mereka telah mengikuti sosok yang benar.
Lyra melangkah maju, matanya berkaca-kaca oleh lega dan rasa takut. "Mereka... mereka tunduk, Ratu."
"Mereka adalah perpanjangan dari kemarahan kita," jawab Mala, menarik Rencora. Luka di telapak tangannya menutup dengan kecepatan yang aneh, meninggalkan garis perak tipis. "Mereka adalah kekuatan yang tidak bisa dibeli Houtman dengan logam dan api. Mereka adalah Inong Balee."
Proses transformasi memakan waktu satu bulan. Gua karang yang gelap dan lembab di bawah Tebing Black Rock menjadi markas rahasia mereka. Mala tidak hanya menaklukkan Leviathan. Dia memaksa para wanita yang putus asa itu untuk beradaptasi dengan kekejaman baru yang mereka butuhkan.
Mereka tidak lagi hanya janda, mereka adalah Wraith-Raiders. Tubuh mereka diperkuat oleh kontak terus-menerus dengan Leviathan, memungkinkan mereka bertahan di kedalaman yang membekukan. Mereka belajar cara memotong tali kekang spiritual alih-alih tali kapal. Mereka belajar cara menembus udara di bawah air dengan kecepatan yang memusingkan.
Mala memastikan setiap wanita memiliki ikatan tunggal dengan tunggangannya. Lyra menjadi yang pertama menunjukkan bakat alami dalam koordinasi. Dalam sesi latihan yang brutal, di mana Leviathan muda yang liar mencoba menenggelamkan penunggangnya, Lyra menunjukkan ketenangan yang diperlukan.
"Fokus pada ritme jantungnya, Lyra! Jangan melawan arus, jadilah arusnya!" teriak Mala dari atas punggung Leviathan-nya yang terbesar, seekor betina yang ia beri nama Kaelia, mengambil semangat suaminya dalam nama baru.
Lyra, yang awalnya tampak hampir tercekik oleh tekanan air, tiba-tiba bersinar. Dia membiarkan rasa takutnya menguap, menggantinya dengan loyalitas dingin. Dia menyalurkan energi resonansi kecil ke celah sisik Lyra, menciptakan tautan yang stabil.
"Aku mengerti, Ratu!" Lyra berteriak, suaranya terdistorsi melalui alat komunikator bawah air yang mereka rancang. Leviathan Lyra, yang ia sebut Shadow, melesat maju dengan kecepatan baru, meninggalkan jejak gelembung hitam seperti asap.
"Bagus, Komandan Lyra," Mala memuji, membelai sisik Kaelia. Dia telah menciptakan hierarki baru. Dia adalah Ratu, dan Lyra adalah tangan kanannya Letnan Utama, yang memimpin formasi garis depan.
Mereka menguji batas. Mereka melakukan manuver pengepungan, di mana sepuluh Wraith-Raiders mengepung kapal selam pengintai Houtman, menyerang secara sinkron, menggunakan momentum Leviathan untuk menghancurkan lambung baja yang rapuh. Tidak ada yang tersisa dari kapal pengintai itu kecuali serpihan logam yang dingin.
Mala telah berhasil menciptakan pasukan. Bukan untuk memenangkan perang dengan cara lama, tetapi untuk membuat Houtman membayar setiap hari dengan darah dan teknologi yang ia curi. Reputasi mereka menyebar melalui transmisi sonar yang dicegat Inong Balee, Ratu Janda Lautan, pemburu yang tak terhentikan.
*
Satu bulan berlalu dalam kebrutalan yang terfokus. Malam ini, Sisterhood berpatroli di perbatasan tenggara wilayah yang dulu dikuasai Aethelgard. Keheningan di bawah permukaan sangat kontras dengan kekerasan yang baru saja mereka lakukan.
Mala duduk di atas Kaelia, yang bergerak lambat, mengapung seperti gunung di bawah kegelapan laut. Dia memejamkan mata sejenak, membiarkan rasa tenang Leviathan-nya meresap. Itu adalah kedamaian palsu, karena rasa kehilangan Krael selalu menggerogoti tepi kesadarannya. Namun, selama dia memimpin, dia tidak punya waktu untuk berduka.
"Ratu," suara Lyra terdengar di telinga Mala, melalui ikatan resonansi yang kini mereka bagi bersama. "Kita telah mencapai zona interogasi yang ditandai. Tidak ada kapal Houtman di sekitar."
"Periksa pangkalan terdekat," perintah Mala. "Gunakan mata spiritualmu, Lyra. Kita mencari sampah kapal apa pun yang mungkin mereka tinggalkan."
Sembilan Wraith-Raiders lainnya menyebar, Leviathan mereka bergerak tanpa suara, bayangan hitam menembus kegelapan. Energi biru samar dari ikatan mereka adalah satu-satunya cahaya.
Sepuluh menit yang terasa seperti jam berlalu. Kemudian, Lyra menarik perhatian Mala kembali.
"Ratu! Aku menemukan sesuatu. Kapal yang terbakar, sepertinya serangan awal di Teluk Abyss. Ini hanya bangkai, tapi... tunggu."
Mala mengarahkan Kaelia menuju lokasi Lyra. Ketika mereka tiba, mereka melihat bangkai kapal patroli kuno Aethelgard yang sudah hampir hancur dimakan api dan korosi. Namun, di tengah puing-puing yang menghitam, ada sesuatu yang bersinar dengan cahaya ungu yang sangat Mala kenali.
"Jangan sentuh itu!" perintah Mala, namun Lyra sudah terlanjur meraihnya dengan cakar Leviathan-nya yang telah termodifikasi.
Itu adalah kristal pemancar kecil, milik teknologi pengawasan Alchemist Legion. Kristal itu memancarkan sisa energi Void Fire yang sama seperti saat Krael menghilang.
"Artefak Houtman, Ratu. Kita bisa mempelajarinya," kata Lyra, menarik kristal itu ke dalam kantung kulit khusus.
Mala merasakan gelombang energi dingin. Dia memerintahkan Kaelia untuk mendekat. Dia menyentuh kristal itu dengan ujung Rencora.
Tiba-tiba, kristal itu hidup. Cahaya ungu menyala, bukan sebagai api, tetapi sebagai proyektor hologram yang terdistorsi.
Seluruh Sisterhood membeku. Di tengah puing-puing, sebuah citra singkat muncul.
Gambar itu kabur, penuh distorsi, tetapi tidak salah lagi. Itu adalah Krael.
Dia tidak mati. Dia terikat pada struktur logam yang kompleks, kabel-kabel hitam menempel di dada dan lehernya. Wajahnya pucat, matanya terbuka menatap kosong, namun ada sedikit gerakan di kelopak matanya. Dia digunakan sebagai sumber energi.
Mala tidak bisa menahan diri. Teriakan tanpa suara keluar dari tenggorokannya, sebuah erangan kepedihan yang lebih menyakitkan daripada kehancuran seluruh kerajaannya. Kepalanya tertunduk ke leher Kaelia, tubuhnya gemetar hebat.
"Krael... hidup..." gumamnya, kata-kata itu tercekat.
Saat itu juga, kristal itu berhenti memproyeksikan Krael. Ia memancarkan gelombang kejut balik yang kecil, dan melalui peralatan komunikasi yang mereka curi, terdengar suara yang dingin, bergema, dan terlalu familiar. Itu adalah tawa terdistorsi Cornelis de Houtman, tawa yang mengejek dari kejauhan.
"Kau menemukannya, Ratu Janda? Jangan khawatirkan suamimu. Dia melayani tujuan yang lebih besar sekarang."
Mala mendongak, matanya kini tidak lagi biru penuh kesedihan, melainkan menyala dengan api murni yang mematikan. Balas dendam pribadi kini menjadi misi tunggal, dan prioritas Lyra untuk menyerang pusat Houtman kini menjadi hal kedua.
"Lyra," Mala berkata, suaranya datar namun mematikan. "Kita tidak akan berburu kapal pasokan lagi. Kita akan menuju jantung mereka. Kita akan mengambil apa yang menjadi milik kita.”
"Tiga hari," bisik Lyra, suaranya masih menggantung di udara lembab gua karang. Perasaan berat itu kini berubah menjadi ledakan aksi. Armada Wraith-Raiders tidak menyia-nyiakan waktu. Dalam dua minggu berikutnya, samudra utara Aethelgard yang dingin menjadi medan perburuan tanpa henti. Mala telah pergi, memimpin tim kecil yang berani menuju jantung wilayah Houtman. Keputusan itu menusuk Lyra, meninggalkan kekosongan yang dingin di pusat komando. Namun, Mala juga telah meninggalkan sebuah perintah. Ciptakan kekacauan yang akan mengalihkan pandangan Houtman dari misi Mala. Dan Lyra, sebagai Komandan Utama Inong Balee, berniat memenuhi perintah itu dengan kehancuran. Malam itu, dingin dan penuh ancaman. Lyra menunggangi Shadow, Leviathan-nya yang besar, memimpin formasi sepuluh Wraith-Raiders lainnya. Mereka bergerak seperti pisau melalui air, menuju benteng perbatasan utama Houtman yang menjulang seperti gunung es logam yang busuk di lepas pantai utara.
Rasa dingin yang ditinggalkan tawa Houtman, yang menggema melalui kristal penangkap sinyal, masih melekat di telinga Mala. Ia mencengkeram artefak itu erat-erat sepanjang perjalanan pulang. Setiap sentuhannya memancarkan denyut Void-Fire yang sama, yang mengingatkannya pada penderitaan Krael. Sisterhood kembali ke markas rahasia mereka di dalam gua karang, cahaya biru lembut dari lumut laut memantul di dinding batu yang basah, kontras dengan kegelapan yang menyelimuti hati Mala. Para Wraith-Raiders lainnya, meski kelelahan, merasakan aura kemarahan yang berbeda dari Ratu mereka. Mereka tahu sesuatu telah berubah. Mala, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, langsung menuju area perencanaan, tempat peta dan hologram taktis biasa melayang di udara. Lyra mengikutinya, matanya penuh pertanyaan. "Ratu, kita sudah berhasil menenggelamkan Iron Maw," lapor Lyra, suaranya berusaha terdengar seperti laporan kemenangan, namun getaran tawa Houtman masih berdesir di ika
Rasa dingin yang ditinggalkan tawa Houtman masih membekas di tulang Mala. Setelah penemuan mengerikan itu. Krael yang hidup sebagai baterai, perintahnya tidak lagi datang dari strategi, melainkan dari sebuah kebutuhan fisik untuk menghancurkan. "Kaelia, bawa aku ke arah sumber resonansi terkuat. Lyra, tarik mundur semua unit pengintai, kita lakukan penyerbuan penuh!" perintah Mala, suaranya kini kembali tegas, menekan setiap getaran kepedihan yang mengancam untuk melumpuhkannya. Lyra, yang masih merasakan getaran tawa tiran itu melalui ikatan resonansi mereka, mengangguk kaku. "Mengerti, Ratu. Semua unit, bersiap untuk serangan ke utara. Kita akan menjadi dinding air di hadapan uap hitam mereka!” Keheningan sejenak di antara Sisterhood pecah menjadi pusaran aktivitas yang cepat. Mereka tidak lagi melakukan patroli. Ini adalah perang yang dipercepat, didorong oleh kepastian bahwa Krael masih bernafas di suatu tempat di dalam sarang musuh. Me
Kegelapan dan cahaya biru yang menusuk mata bersaing di puncak Tebing Black Rock. Darah Mala yang menetes di batu seolah menjadi konduktor, memanggil kekuatan yang jauh lebih tua dari kerajaan mana pun. Leviathan-Hatchlings yang menjulang tinggi masih menggeram, energi lapar mereka terpancar seperti panas yang menakutkan, namun mata kuning mereka kini terfokus pada Mala. Mala berdiri tak bergerak. Dia tidak menarik tangannya dari energi yang ia pancarkan. Sebaliknya, dia mendorong lebih keras. Dia tidak lagi memohon, dia memerintah. Rasa sakit fisik dari pengorbanan itu adalah harga kecil untuk dominasi atas makhluk purba ini. "Aku adalah Ratu kalian sekarang," desis Mala, suaranya nyaris tenggelam oleh deburan ombak liar yang dipanggil oleh ritual itu. "Aku telah kehilangan segalanya demi lautan ini. Kalian akan melayani tujuanku. Kalian akan menjadi perisai dan tombakku." Leviathan tertua itu menyentakkan kepalanya maju, hampir menyentuh dahi Mala
Air laut yang dingin terasa seperti jutaan tusukan es pada kulit Mala yang melepuh. Dia terdampar di pantai berbatu yang terpencil, jauh dari Teluk Abyss. Pasir di sini berwarna hitam pekat, hasil dari erosi gunung berapi kuno. Aroma amis darah bercampur dengan bau belerang dan sisa-sisa sihir industri yang mencekik. Tiga minggu. Tiga minggu sejak Aethelgard lenyap, tiga minggu sejak Krael ditarik ke dalam kehampaan ungu. Setiap gerakan menyakitkan. Luka bakar Void Fire di lengan dan punggungnya meninggalkan bekas ungu kehitaman yang terasa seperti kulit mati yang tertarik. Mala mengusap wajahnya, air mata yang mengering bercampur dengan lumpur garam. Di sekelilingnya, puing-puing kapal yang terseret ombak, sisa-sisa para Ksatria Badai yang gugur menjadi saksi bisu kehancurannya. Keputusasaan seharusnya menjadi jurang, namun anehnya, di dalam dirinya tumbuh sesuatu yang keras dan tajam. Kebutuhan untuk menuntut balas. Jika dia kembali ke tradisi Aethelgar
Suara sirene peringatan membelah malam di Teluk Abyss. Bukan lagi dentuman monster laut mekanik dari perbatasan. Ini adalah ratapan panjang, serak, menandakan invasi skala penuh. Malam yang seharusnya menjadi penutup perayaan kemenangan kecil kini berubah menjadi pembantaian. Mala dan Krael berdiri di anjungan The Jormungandr, kapal yang baru saja ia selamatkan dalam keajaiban Ghost Drift. Di bawah mereka, armada Aethelgard yang bangga kini tampak seperti kumpulan anak domba yang dikepung. Di hadapan mereka, bukan sekadar kapal perang, melainkan benteng industri terapung yang dikelilingi oleh awan asap hitam berbau belerang. Itu armada Cornelis de Houtman, Alchemist Legion. "Mereka datang dari dimensi yang berbeda," Krael berbisik, matanya menyipit menatap kilatan energi ungu yang keluar dari haluan kapal Houtman. "Itu bukan sihir biasa, Mala. Itu Void Fire." "Ayahku bilang itu mitos, Krael. Kutukan yang ditinggalkan para industrialis zaman kuno,"







