Share

Bab 7 Perang di Dapur

last update Last Updated: 2025-11-11 12:10:21

“Ma, aku pulang, ya.” Savita menyandang tasnya lalu berdiri dari duduknya di ruang makan.

“Kenapa buru-buru, Vita? Papamu paling sebentar lagi pulang.” Citra ikut berdiri lalu mengikuti Savita yang berjalan menuju ruang depan.

Hari masih pagi. Savita memutuskan untuk menginap di rumah itu. Sepanjang malam, Savita tidak bisa tidur. Mahendra tidak meneleponnya sama sekali dan itu pertanda bahwa Kaivan tidak mencarinya. 

Savita mengirim pesan singkat semalam. menanyakan kabar Kaivan akan tetapi tidak ada balasan dari Mahendra sampai pagi tiba. Savita menatap sekilas jam tangannya. Pukul 05.30 pagi. 

“Kaivan kan besok sekolah, Ma.” Savita menjawab ringan. “Aku harus pastikan semua keperluannya lengkap. Kalau nggak begitu, nanti ada yang ketinggalan.” Imbuhnya lagi.

“Oh yasudah.” Citra mengangguk paham. “Hati-hati di jalan.”

Savita mengendarai mobilnya perlahan. Diperhatikannya Citra melambaikan tangan seraya tersenyum. 

Tangan Savita terulur menyalakan radio. Suara penyiar radio yang ceria menyapa telinganya. Savita mendengarkan seraya menyetir mobilnya menuju rumah yang jaraknya 1 jam dari rumah orang tuanya. 

“Bi, mana Kaivan” tanya Savita ketika yang membuka pintu asistem rumah tangganya.

“Ada di ruang makan, Bu.” 

Savita mengangguk pelan. Dia melangkah masuk. Tetapi berhenti ketika melihat asisten rumah tangga itu masih berdiri di tempatnya seraya menunduk. Melihat ada yang janggal. Savita menghentikan langkahnya. 

“Kenapa, Bi Uti?” tanyanya pelan.

“Nggak, Bu.” Bi Uti menyahut pelan seraya menggeleng.

“Bi,” Savita menghela napas. “Cerita saja sama saya. Kayak sama siapa aja.” Tambahnya lalu tersenyum.

Bi Uti merupakan asisten rumah tangga di keluarga itu semenjak Savita hamil Kaivan. Sudah lama bersama dengannya sehingga Savita paham jika Bi Uti memiliki masalah atau ada sesuatu yang ingin disampaikan. 

“Anu,” Bi Uti menggaruk dagunya. Ditatapnya Savita ragu.

Savita mengangkat alisnya. Menunggu Bi Uti melanjutkan ucapannya. “Ya, kenapa, Bi?” tanyanya sabar.

“Mbak Gita masih di sini. Dari kemarin, Bu.” 

Informasi dari Bi Uti itu membuat senyum di bibir Savita pudar. 

‘Mungkin itu sebabnya Mahendra tidak membalas pesanku semalam. Dia sibuk sama Gita.’ Pikir Savita sedih.

Savita menelan ludah susah payah. Dia berjalan menuju Dapur. “Kaivan?” panggilnya dengan suara sedikit keras.

Dia melihat Kaivan sedang duduk di kursi makan. Sibuk dengan sesuatu di dalam wadah berukuran sedang. 

“Kaivan? lagi apa?” tanya Savita lagi. Savita tahu jika Kaivan sudah menyukai sesuatu, maka dia tidak akan memedulikan sekitar.

Kaivan segera menoleh. Senyum mengembang melihat Savita datang. “Mama!” serunya tetapi anak itu tidak beranjak dari kursinya. Matanya kembali pada wadah itu. “Aku lagi main playdough yang dibuat Bunda Gita barusan.”

Savita mengangguk. “Sudah sarapan belum?” tanyanya. Jam di tangannya menunjukkan pukul 7 pagi. 

“Belum.” Kaivan menjawab pelan. “Bunda lagi mandi, Papa lagi di kamar.”

Savita memejamkan mata sekilas. Dia tidak ingin tahu apa yang dilakukan mereka berdua di rumah itu. Kemudian Savita menuju lemari dapur. “Mau sarapan apa? pancake?”

“Iya, Mama.” Kaivan membalas singkat seraya sibuk dengan mainannnya. “Bunda Gita pinter deh, Ma. Bisa buat kue, buat playdough dari terigu.”

Savita bergumam membalas. Mencoba mengesampingkan rasa iri di hatinya karena telah merebut perhatian Kaivan. Sebaliknya dia mencari bahan pancake instan di dalam lemari penyimpanan tetapi tidak ketemu.

“Seingatku kemarin masih ada, deh. Lumayan banyak.” Savita bergumam sendiri. “Yasudahlah, terpaksa buat sendiri.”

Savita mengambil bahan-bahan untuk membuat pancake juga menyiapakn peralatannya. “Mama butuh waktu buat pancakenya, Nak. Bisa nunggu, kan?”

“Iya, Ma. Bisa.” Kaivan menjawab. 

“Eh, Mbak Vita.”

Sapaan itu membuat Savita menoleh. Gita berdiri tidak jauh darinya. 

“Savita. Bukan Vita.” Savita mengoreksi sapaan Gita. Dia tidak suka sapaan kesayangan orang tuanya digunakan juga oleh Gita. ‘Nggak sudi aku,’ gerutunya dalam hati. 

“Iya, Mbak Savita.” Gita mengoreksi. “Lagi buat pancake ya?” tanyanya lagi.

Savita tidak menjawab.

“Maaf, ya, kemarin aku pake semuanya. Kukira Mbak nggak bakalan butuh.” Gita menghampiri. “Aku bantuin deh. Aku singkirkan dulu piringnya, ya, kuatir pecah.”

Gita mengambil piring kotor yang ada di dekat Savita. Diangkatnya piring itu hendak dibawa ke tempat cuci piring ketika Savita menoleh menatap Gita tidak suka.

“Kata Mahendra, Mbak Savita nggak boleh masak karena kan tangannya untuk pegang piano,” ucap Gita lagi. Senyum manis terpasang di wajah cantik itu. 

Ucapan itu membuat Savita mengepalkan tangannya. 

“Nggak perlu dibantu.” Savita berkata dengan nada pelan tetapi jelas tidak suka.

“Nggak apa-apa, Mbak. Aku biasa di dapur kok. Maklum, pernah tinggal sendiri.” sahut Gita. 

Savita melihat Gita berjalan melewatinya yang sedang memanaskan wajan di atas kompor.

“Eh, Mbak, aduh!” Gita berkata  saat kakinya tersandung kakinya sendiri dan piring yang dibawanya dijatuhkan ke lantai. “Aw!” pekik Gita lalu memegangi perutnya. 

Bunyi suara kencang itu membuat Mahendra berlari. 

“Gita?!” teriak Mahendra panik.

“Aduh, Mbak!” Gita menatap Savita dengan wajah memucat dengan tangan masih di perutnya. “Mbak hati-hati Mbak.”

Savita berdiri mematung dan tidak dapat mengedip walau sekali. Dia terkejut juga. 

“Gita, kamu baik-baik aja?” tanya Mahendra memegangi kedua bahu Gita. Lalu tatapannya tertuju pada Savita. “Vita, kamu itu gimana sih. Hati-hati. Gita kan lagi hamil.”

Suara Mahendra meninggi. Suaminya yang tidak pernah marah itu sekarang meninggikan suaranya. 

Kaivan berlari menghampiri Gita. “Bunda nggak apa-apa?”

Gita menggeleng pelan. “Nggak kayaknya,” jawabnya.

“Ayo, kamu istirahat aja. Kita ke kamar.” Mahendra menggandeng Gita dan Kaivan bersamanya.

“Piringnya?” Gita menatap piring yang pecah itu.

Mahendra menatap Savita. “Biarin Bibi yang bersihin,” ucapnya. “Ayo, Kaivan. Ikut Papa.”

Savita membeku di tempat. Dia ingin membela diri tetapi tidak ada ucapan yang keluar dari mulutnya. Sebaliknya, perutnya terasa sangat mual. Ditahannya rasa ingin muntah dengan menutup mulutnya. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 95 Surat Suara

    Tepat ketika pecahan kaca itu menggores permukaan kulitnya.BZZT… BZZT…Sebuah suara pelan dan ritmis terdengar. Savita membuka matanya karena terganggu. Gerakannya mengiris lengannya terhenti.“Suara apaan itu?” tanyanya pelan.BZZT… BZZT…Suara getaran itu tidak berhenti. Getaran itu seakan-akan merambat dari lantai, naik ke tubuhnya, lalu menyentuh jiwanya yang hampir saja padam. Getaran itu kembali menyadarkannya.Savita menatap pecahan di tangannya, lalu menatap ke arah tempat tidur. Getaran itu masih terdengar di telinganya. Savita melihat pantulan cahaya dari kolong tempat tidurnya. Itu ponsel Kaivan.Di dalam ponsel itu ada semuanya. Rekaman pengakuan Mahendra, foto-foto lukanya, dan juga jurnal penderitaannya.‘Kalau mati sekarang, semuanya bakalan sia-sia,’

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 94 Titik Nadir

    “Bagaimana kalau aku nyerah aja?”Pertanyaan itu melayang dalam benak Savita. Bahkan menggodanya layaknya lagu pengantar tidur yang mematikan. Dia tidak menangis ataupun berteriak. Dia memilih berbaring di lantai dingin dengan mata menatap kosong pada langit-langit kamar.Bisikan terakhir Mahendra terus bergema di dalam kepalanya. Bisikan itu menjadi tumpang tindih dengan jerit ketakutan Kaivan.“Buat apa lagi aku bertahan?” gumamnya pada ruangan yang sepi. “Kaivan aja udah lihat aku kayak monster. Duniaku lihat aku begitu.”Rasa sakit di hatinya sudah melampaui batas air mata. Hatinya terasa tidak ada. Kosong. Bukan lagi hancur lebur. Lubang hitam hampa menyedot semua emosinya. Dia telah mengalami breakdown mental. Jiwanya sudah menyerah total.“Dia benci aku,” gumamnya. “Anak aku sendiri benci aku. Nggak suka sama aku.&rdquo

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 93 Panggilan 'Bunda'

    “Ada Bunda, Sayang. Tenang, ya. Ada bunda jagain kamu kok.”Suara Gita yang menenangkan itu terdengar bagaikan melodi surga di telinga Kaivan yang sangat ketakutan. Namun, bagi Savita layaknya racun paling mematikan yang masuk ke telinga. Savita masih terduduk di lantai dingin. Lebih tepatnya di ambang pintu kamarnya yang masih terbuka.Tubuhnya membeku oleh pemandangan yang menghancurkan jiwanya. Savita seolah mati rasa dalam hal apa pun. Dia tidak bisa merasakan tubuhnya yang meronta kesakitan.Dia tidak merasakan tenggorokannya yang kering bagai di gurun sahara. Kini, seluruh panca inderanya terfokus pada satu titik di anak tangga terbawah.‘Kaivan, Nak, kamu kenapa begitu?’Itu hanya bisa keluar dalam pikiran Savita. Tidak ada yang bisa diucapkannya dengan jelas.Kaivan memeluk Gita erat seolah-olah wanita itu merupakan satu-satuny

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 92 Penolakan

    “Kaivan, ini Mama, Nak. Mama sayang banget sama Kaivan.”Permohonan itu keluar dari bibir Savita yang pecah-pecah dengan lirih. Setiap ucapan diwarnai kerinduan dan keputusasaan yang teramat mendalam. Air matanya mengalir deras hingga menciptakan jejak basah di wajahnya yang pucat.Penolakan Kaivan tidak lantas membuatnya jera. Dia masih merangkak. Tangannya terulur hendak menggapai. Dia hanya beberapa senti dari Kaivan yang bersembunyi ketakutan di balik kaki Mahendra.“Nggak. Bukan Mama aku!” cicit Kaivan masih bersembunyi. “Mama nggak kayak gitu. Mama aku cantik.”“iya, Nak. Ini Mama, Sayang,” bujuk Savita. Dia mencoba membuat suaranya selembut dan sehalus mungkin walau meskipun yang keluar hanya bisikan serak. “Mama kan cuma sakit. Tapi Mama ini tetap Mama kamu, Nak. Mama nggak bakalan sakiti kamu. Sini, Nak. Coba kamu pegang tangan Mama.&rdqu

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 91 Pertemuan yang Menghancurkan

    “Siti, panggil penontonnya kemari.”Kali ini Mahendra yang memerintahkan Siti. Wanita muda itu mengangguk patuh lalu keluar dari kamar Savita yang berantakan seperti terkena badai. Siti seolah tahu yang dimaksud oleh Tuannya tersebut tanpa bertanya lagi.Gita tersenyum miring pada savita. Sementara Mahendra menatap Savita tajam.“Tuan,” ucap Siti.Tidak lama dia datang lagi. Savita tidak perlu menebak. Di belakang Siti, Kaivan memeluk pinggang wanita itu.Savita, yang masih duduk di pojok kamarnya segera menegang. Jantungnya berdebar kencang dan suaranya tercekat di tenggorokan.Mahendra menoleh.“Kaivan, kemari, Nak,” pinta Mahendra dengan nada sabar.Seperti seorang ayah yang sedang mengajari anaknya belajar. “Papa mau tunjukin sama kamu. Kenapa kamu nggak boleh dekat-dekat lagi ke kamar in

  • Wanita Lain di Dalam Rumah Tanggaku   Bab 90 Panggung Sandiwara

    “Siti, bantu saya. Kamu berantakin kamarnya. Bikin kamar itu kayak baru aja ada perang di sini.”Perintah Mahendra terdengar keesokan paginya hingga membuat Savita yang sedang meringkuk di tempat tidur segera waspada. Savita sudah bangun pagi-pagi sekali, akan tetapi tubuhnya memilih untuk tetap tidursaja sebab tidak ada yang bisa dia kerjakan di kamar itu.Savita bahkan mendengar Siti menjawab patuh, “Baik, Tuan Mahendra.”Tidak lama kemudian, pintu kamar Savita menjeblak terbuka. Savita duduk di atas tempat tidur. Tatapannya waspada karena bukan hanya Siti yang masuk tetapi Mahendra dan Gita ikut masuk ke kamar itu.Savita segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang tiba-tiba gemetar. Beruntung kali ini dia tidur menggunakan penutup kepala.“Mau ngapain kalian?” tanyanya. Walau suaranya lemah tetapi penuh perlawanan dan waspada.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status