MasukSaat diinterogasi polisi, Mirae awalnya masih menyangkal, bahkan berusaha memanipulasi emosi mereka. "Aku ini calon ibu, mana mungkin aku membunuh seorang anak sekejam itu?"Namun, di hadapan bukti yang tak terbantahkan, dia tidak bisa lagi berkilah. Polisi menemukan rekaman CCTV di sepanjang rute perjalanannya dan juga koper yang dia buang. Setelah diuji, pada koper itu terdapat DNA miliknya.Setelah penyelidikan lebih lanjut, polisi secara tak terduga menemukan bahwa Mirae bukan hanya terlibat dalam satu kasus.Sepuluh tahun lalu, Mirae dan Alden putus karena perbedaan pandangan. Alden menjadi dokter forensik, sementara Mirae pergi ke luar negeri untuk belajar.Di luar negeri, dia terjerumus dalam kehidupan gemerlap, dipengaruhi hingga menyimpang, dan bergabung dengan organisasi penipuan. Dalam beberapa tahun terakhir, dia terlibat dalam ratusan kasus penipuan. Dari sekadar menipu uang hingga menyebabkan kematian. Sejak awal, dia telah kehilangan moral dan hati nurani.Baru setelah h
Mirae tidak jadi pergi dan segera tertidur lelap. Alden telah mencampurkan obat tidur ke dalam air minumnya.Kemudian, dia pergi memeriksa rekaman CCTV kompleks. Dalam rekaman itu, dia melihat Mirae yang mengenakan pakaianku sedang menyeret sebuah koper.Dia mengira bisa mengelabui orang dengan memakai pakaianku, tetapi lupa bahwa Alden sangat mengenalku dan dirinya.Dugaan paling mengerikan itu ... tampaknya menjadi kenyataan.Alden tertawa pelan di depan layar, semakin lama semakin keras, hingga akhirnya tertawa sambil menangis."Kenapa aku bisa sebodoh ini ... membawa pulang seorang pembunuh dengan tanganku sendiri ...," katanya sambil beberapa kali menampar wajahnya sendiri. "Alden, kamu benar-benar bajingan bodoh!"Aku menatapnya dengan dingin, dalam hati berkata bahwa kamu memang bodoh.Alden menyalin rekaman CCTV itu, lalu kembali ke rumah dan menatap Mirae sampai fajar menyingsing.Pagi harinya, kantor polisi mengirimkan hasil pencocokan DNA. Di atasnya tertulis dengan jelas ko
Saat Alden pulang ke rumah, wajahnya penuh bekas air mata, ekspresinya linglung.Mirae terkejut, menggenggam ujung bajunya dengan gugup. "Alden, ka ... kamu kenapa? Apa ada perkembangan dalam kasus anak itu?"Dia sedang menguji pria itu.Alden menggeleng dengan kaku.Mirae menghela napas lega, tetapi detik berikutnya dia mendengar Alden berkata. "Tapi ... Julie ... dia sudah meninggal.""Apa?!" Mirae berteriak kaget, tampak benar-benar terkejut.Air mata Alden kembali menetes. "Semua salahku, semuanya salahku."Melihatnya begitu menyalahkan diri dan diliputi kesedihan, mata Mirae dipenuhi rasa tidak rela dan iri."Dia mati karena nasib buruk, apa hubungannya denganmu? Alden, sekarang kamu bisa menikah denganku." Mirae berkata sambil hendak memeluknya, tetapi langsung didorong menjauh.Alden menatapnya dengan tak percaya. "Julie sudah mati, diperkosa lalu dibunuh! Gimana kamu bisa mengatakan hal seperti itu?"Mirae pun sadar perkataannya salah, buru-buru mencoba memperbaiki. "Aku ... ak
"Nggak, nggak mungkin ...." Alden menatap cincin itu, mulutnya terus mengulang tanpa sadar. "Aku pasti salah ingat, nggak mungkin dia ...."Keanehannya menarik perhatian rekan-rekannya. "Alden, kamu kenapa?"Alden tiba-tiba melepaskan tangannya, lalu berlari ke kejauhan dan muntah hebat.Lima menit kemudian, dia kembali ke lokasi dengan masker terpasang. Matanya memerah, tangannya tak lagi stabil.Saat itu, dia masih menyimpan harapan tipis, menolak mengakui bahwa itu adalah jenazahku.Sampai akhirnya polisi menemukan dompetku yang tak sengaja terjatuh .... Di dalam dompet itu tidak banyak uang tunai, tetapi ada identitas penting.Saat kartu identitas dikeluarkan, semua orang pun terdiam. Tatapan mereka tertuju pada Alden, penuh keterkejutan dan rasa tidak tega."Kalian ... kenapa lihat aku begitu?" Alden pura-pura santai, tetapi suaranya bergetar. "Lanjutkan penyelidikan.""Kak Alden ...." Seseorang menyerahkan kartu identitas itu kepadanya. "Kamu ... yang tabah ya."Hening yang panja
Malam itu, Alden dan Mirae berbaring di satu ranjang, tetapi untuk pertama kalinya mereka tidur saling membelakangi. Keduanya terjaga dalam gelap, masing-masing dengan pikiran mereka sendiri.Di mata Mirae tampak kegelisahan dan kecemasan, sedangkan Alden .... Aku tidak bisa memahami apa yang dia pikirkan.Keesokan harinya, begitu sampai di kantor polisi, seorang rekan buru-buru memanggilnya. "Ada seorang gadis muda datang melapor, katanya dia diperkosa sopir taksi. Kamu perlu melakukan pemeriksaan luka."Aku yang mengikuti dari belakang langsung terkejut.Setelah diperiksa, gadis itu memang mengalami kekerasan seksual. Menurut pengakuannya, dia dibius di dalam taksi, lalu dibawa ke pinggiran kota. Saat terbangun, sopir itu sedang menindihnya. Dia meraih sebuah batu di dekatnya, memukul sopir itu hingga pingsan, lalu melarikan diri.Namun, ketika polisi tiba di lokasi, sopir itu sudah menghilang.Mendengar ceritanya, aku hampir bisa memastikan, itu adalah sopir taksi yang memerkosa dan
Alden mengatupkan bibir, lalu mengetik beberapa baris dan mengirimkannya.Aku mendekat dan melihat isi pesannya.[ Julie, jangan bikin masalah lagi, cepat pulang untuk urus perceraian kita. Kita pisah baik-baik. ][ Berikan hak asuh Jennah kepadaku, aku akan memberikan kehidupan yang lebih baik untuknya. Kamu juga bisa datang menemuinya kapan saja. ]Omong kosong! Aku menggertakkan gigi dengan kesal. Semua ini terjadi karena kamu membawa serigala ke dalam rumah, sampai putriku mati setragis ini!Alden menunggu lama, tetapi tidak ada balasan sama sekali. Wajahnya semakin muram.Saat pulang ke rumah, begitu masuk, Alden langsung melihat beberapa kantong besar tergeletak di depan pintu. Semua yang ada di dalamnya adalah pakaian dan barang-barang milikku."Mirae, ini ...." Mirae sedang mengeluarkan kantong terakhir. Mendengar itu, dia mengeluh, "Alden, pakaianku sudah nggak muat lagi. Lagi pula, Julie cepat atau lambat akan cerai denganmu. Barang-barang ini juga nggak ada gunanya, lebih ba







