LOGIN
"Tuan... Saya hamil"
Pria berdasi yang saat itu sedang sibuk dengan dokumen-dokumennya sontak mendongak, netranya yang hitam kelam tertuju pada wanita muda yang berdiri di hadapannya. Wanita dengan rambut hitam bergelombang, yang mentapnya dengan rasa gugup sampai berkeringat dingin. Wajah cantiknya bahkan terlihat berkeringat meskipun ruangan ini ber- AC. "Ini surat pengunduran diri saya" Tangan seputih susu itu meletakan surat pengunduran di atas meja, membuat pria yang duduk di hadapannya melepaskan berkas-berkas di sisi lain, dan matanya menatap lekat surat pengunduran diri yang baru saja di ajukan. Jovan Fedorov... Sang Presdir yang selama ini di katakan sebagai pemimpin yang tegas juga displin, pria dengan karisma luar biasa yang dengan mudah menaklukan hati para wanita. Tapi selalu saja sikapnya terlalu santai, atau bisa di katakan cuek, dia selalu serius dalam pekerjaanya. "Kau akan menikah?" Jovan bersuara dengan nada penuh keharanan, sebab ia belum pernah mendengar jika sekretarisnya itu memiliki seorang kekasih. Lavannya Damara dengan sekuat tenaga berusaha mempertahankan kekuatannya, ia menganggukan kepala dengan berat, dan dengan cepat menunduk untuk bersembunyi dari tatapan sang presdir yang penuh dengan intimidasi. Melihat anggukan dari sekretarisnya, Jovan terdiam cukup lama, seperti menimang-nimang keputusan yang hendak dirinya ambil. Vannya memegang sebagian besar pekerjaan penting di perusahaan, sangat sulit menemukan penggantinya, belum lagi jika harus mengajari dari awal kembali. "Kau sudah menemukan pengganti?" Vannya menggeleng sebagai jawaban, ia tidak memiliki persiapan karena semuanya begitu mendadak. "Temukan pengganti, sebelum itu saya tidak bisa memberhentikanmu" Gleg Vannya tahu ini akan terjadi, dan menemukan pengganti dirinya bukanlah hal yang mudah. Sangat sulit beradaptasi dengan Jovan yang sangat disiplin dan tidak suka kesalahan barang sedikitpun. "Tapi Tuan..." "Kau bisa mengambil cuti jika merasa tidak nyaman, perusahaan juga akan memberikan tunjangan untuk wanita hamil" Jovan tidak mau berdebat ataupun mengalah, ia tetap dengan keputusannya dan kembali melanjutkan pekerjaanya, sama sekali tidak melirik Vanya yang kala itu masih terdiam karena keputusan sepihak darinya. "Baik Tuan" Vannya kembali membuka suara setelah cukup lama terdiam. Meski terasa berat, ia mencoba untuk tetap kuat mengangkat kakinya untuk keluar dari ruangan itu. Ingin sekali ia melawan, tapi Vannya juga mengerti dengan tanggungjawabnya di perusahaan ini. Lagi pula ini adalah mimpinya sejak dulu, menjadi bagian dari salah satu perusahaan terbesar di tanah air. "Gugurkan" "Aku tidak bisa mengakui anak itu" "Mungkin... Dia bukan anakku" "aku akan memberimu uang untuk menggugurkannya, dan kau bisa melanjutkan kehidupanmu seperti biasa" Di sepanjang hari hanya ada kalimat-kalimat menyayat itu yang Lavannya pikirkan, semuanya terus berputar seperti kaset rusak di dalam kepalanya. Rasa sakit yang ia rasakan terasa semakin menyiksa, dadanya sangat sesak seakan nafasnya akan berhenti saat itu juga. Entah kemana gadis malang itu harus pergi, tidak ada tujuan, tidak ada tempat untuk meminta bantuan, bahkan ia bingung bagaimana harus menjelaskan semua ini kepada keluarganya. "Vannya..." Sapaan dari seseorang membuat lamunannya terpecah. "Berkas ini harus sampai ke Tuan Jovan sebelum jam makan siang, tolong berikan padanya ya! Aku akan pergi meeting sebentar" Vannya hanya mengangguk tanpa suara, ia kembali melanjutkan langkah kakinya untuk masuk ke area kerjanya. Bukan hanya Vannya, setidaknya ada empat orang lagi yang selalu bekerja membantu Jovan mengurus perusahaan, mereka berada dalam satu ruangan yang tidak dapat di jangkau sembarangan orang di perusahaan ini. "Vannya, kau tidak enak badan?" Tatapan sayu Vannya terangkat, ia paksakan untuk tersenyum sambil menatap pria berkacamata yang duduk di sampingnya. "Hanya sedikit pusing" suaranya mengudara dengan lemah, Vannya tidak bisa menyembunyikan keadaanya yang tidak baik-baik saja. "Sepertinya kau tidak sehat, aku akan buatkan teh hangat, tunggu sebentar" Tidak ada respon dari Vannya, pikirannya sudah terlalu jauh melangkah, ia hanya terduduk diam dengan bersandar di sandaran kursi, matanya terpejam rapat tak ingin melihat peliknya dunia sedikitpun. "Ada apa? Tidak biasanya kau murung?" Vannya membuka matanya dan mendapati David sudah kembali dengan secangkir teh, pria itu meletakkanya di atas meja Vannya lalu kembali duduk di kursinya. "Tidak ada, hanya sedikit lelah" sedikit terdengar ketus dan lesu, sepertinya memang sedang ada masalah. Vannya memang bukan gadis yang ceria dan banyak energi, dia lebih ke arah anggun dan dewasa, sedikit pendiam tapi ramah. Karena itulah orang-orang gampang mengingatnya. Terlebih lagi senyumannya yang super manis itu membuat orang-orang meleleh melihatnya. Tapi kini kemurungan di wajahnya merenggut semua citra indah itu, Vannya tampak berbeda dan sangat putus asa, entah masalah apa yang sedang wanita itu hadapi. Tidak ada pilihan lain, Lavannya harus menyelesaikan pekerjaanya hari ini. Mungkin besok baru akan mulai mencari pengganti untuknya. Perusahaan ini sungguh bukan tempat yang tepat untuk Vannya bisa bertahan, ia harus segera pergi dan hidup aman bersama buah hatinya. Bukan akan menikah, tapi Vannya ingin kabur dari kota ini dan menjauhi pria brengsek yg tidak bertanggung jawab. Ia akan pergi sejauh mungkin agar anaknya tidak akan pernah tahu siapa Ayahnya yang begitu bajingan itu. .... "Damian, sang aktris muda yang saat ini sedang naik daun mengalami kecelakaan saat terlibat aksi balapan mobil Liar semalam" "Evakuasi berhasil di lakukan, dan dugaan sementara artis muda itu mengalami koma karena benturan hebat di kepalanya" Seluruh kota bahkan di seluruh negeri telah mendengar berita duka itu. Para penggemar berbondong-bondong memberikan doa, sedangkan orang awam yang tidak mengenalnya justru memberikan cibiran karena pria muda itu kecelakaan akibat ulahnya sendiri. "Katanya dia sedang mabuk saat kecelakaan, di sana juga ada pacarnya" "Jadi dia kecelakaan bersama pacarnya? Lalu bagaima kondisi gadis itu?" "Katanya mengalami luka-luka yang parah, tapi sudah sadar" Jovan terus melangkah di tengah gunjingan semua orang, kakinya yang jenjang tampak tegas dan berlalu begitu cepat, para pengawal mengikutinya dengan tertip dan memastikan Jovan sampai di mobil dengan aman. "Kerumah sakit" Sopir yang sejak tadi telah menantikannya segera mengangguk dengan patuh dan langsung melajukan mobil dengan kecepatan sedang. "Sepertinya menjenguk Damian, tahu sendiri dia artis kita yang paling berharga" Semua orang kembali bergosip tetang Jovan yang tiba-tiba pergi saat sedang meeting untuk menjenguk Dimian. Tentu itu tidak mengagetkan lantaran perusahaan dan Damian terikat kontrak yang sangat menguntungkan. Perusahaan ini menaungi Damian sejak tiga tahun yang lalu, dan baru-baru ini sahamnya melonjak tinggi karena kesuksesan Damian dalam drama terbarunya, tentu saja akan mengalami guncangan karena berita tersebut. .... "Apa kita juga harus menjenguknya?" Di ruangan yang sepi itu, suara Calara-lah yang terdengar paling nyaring, dia memang terlalu ceria untuk para orang berekspresi datar di sekitarnya. "Apa dia mati?" Vannya bergumam tanpa sadar, dan itu di dengar oleh semua orang. "Katanya koma, sebaiknya kita jenguk sebagai rekan kerja yang baik" Vannya tersenyum kecut, ia melihat berita di layar ponselnya dengan tatapan kosong, wajahnya semakin pucat dan mengkhawatirkan. Sesuatu yang bergejolak di dalam perutnya berusaha ia tahan mati-matian, ia meremat bajunya untuk menahan rasa mual yang semakin naik hingga ketenggorokannya. "Sebaiknya mati saja" Lagi-lagi Vannya bergumam, namun kali ini tanpa di sadari oleh seorang pun. Clara yang tidak menyadari kegelisahan Vannya itu justru mendekat, ia tersenyum sambil menepuk pundak Vannya. "Kau cukup dekat dengannya, apa tidak mau menjenguk? Kau penggemar nomor satunya, dan aku nomor dua, kita harus menjenguknya supaya... Hey..." Clara terdiam kala Vannya tidak meresponnya dan malah terburu-buru pergi ke arah kamar mandi. Biasanya Vannya pasti akan menanggapi ocehnya dengan senyuman dan tatapan yang lembut, tapi entah kenapa kini Clara melihat jika ada luka yang Vannya sembunyikan, gadis itu tampak murung sejak satu minggu yang lalu. "Sepertinya dia sedang ada masalah" David bersuara sambil menatap kepergian Vannya. "Sebaiknya jangan ganggu dulu, kita bicarakan lagi masalah ini saat pulang nanti" Clara mengangguk lirih dan kembali duduk di kursinya, meskipun sebenarnya ia masih sangat penasaran dengan perubahan Vannya akhir- akhir ini, tapi ia memilih untuk tetap diam demi kenyamanan rekan kerjanya itu.Suara dedaunan kering turut mengikuti kemanapun kaki Vannya melangkah. Meskipun sudah terengah-engah dan kelelahan, tapi ia enggan berhenti sebelum menmuk jalan keluar.Hari masih panjang, Vannya yakin ia akan mendapat pertolongan sebelum bulan terlihat.DORSuara tembakan terdengar melengking memekakkan telinga, Vannya terkejut bukan main, bahkan sampai kehilangan fokusnya mencati jalan.Ia ketakutan setengah mati, sudah hampir menangisi takdirnya yang buruk ini. Tapi Vannya ingat, jiwa lain di dalam perutnya juga pasti ingin selamat dan hidup bersamanya, Vannya harus terus mengejar kebebasa itu."Cari sampai dapat, jangan sampai Nyonya marah"Teriakan itu mengapa terdengar semakin dekat, padahal Vannya sudah berlari begitu jauh sejak tadi. Bahkan cuaca panas mulai menguras tenaganya, kakinya semakin melemah, rasanya berat sekali untuk melanjutkan pelarian ini."Dia pasti datang, dia pasti mencari kita, ayo nak berjuang
Sejak kepulangannya, Jovan belum sempat benar- benar beristirahat dengan tenang, ia masih terus mencati tahu dimana istrinya saat iniSeperti pagi tadi, pria gagah itu sudah bersiap-siap setelah tidur tidak lebih dari satu jam. Kini ia mulai perjalanannya menuju kawasan terpencil yang sangat jauh dari kota.Setelah berulang kali di paksa oleh Anton, Adeline akhirnya mau bicara dan mengatakan dimana ia menyembunyikan Vannya. Dan sekarang Jovan sedang menuju kesana.Akses yang di lewati cukup sulit dan ekstrim, Jovan khawatir kandungan Vannya akan bermasalah jika di paksa melewati jalur ini. Tapi sayangnya memang tidak ada jalur yang lain.Jovan berulang kali menghela nafas, ia menatap keluar jendela dengan wajah yang dingin, sesekali membenahi kacamatanya dengan ekspresi tenang dan santai. Ia memang selalu seperti itu, tidak pernah benar-benar menunjukan raut cemas di wajahnya."Lebih cepat sedikit" kata Jovan yang langsung di angguki oleh
Sudah dua puluh empat jam Vannya berbaring di atas brankar rumah sakit dengan kedua tangan dan kakinya yang terikat. Ia sudah mencoba memberontak sejak semalam, tapi percuma saja karena tali yang mengikat tubuhnya terlalu kuat.Rasa lelah mulai menguasai ya, tenaga Vannya sudah habis sehingga ia memilih untuk di saja. Perutnya terus mengalami keram sejak semalam, Vannya harus benar-benar berhati-hati.Adeline itu gila, dia membuang Vannya ke rumah sakit pedesaan yang sangat jauh dari kota. Rumah sakit jiwa dimana semua pasiennya benar-benar membuat Vannya ikut gila hanya dengan mendengar suaranya saja."Di rumah sakit terpencil ini apa mungkin Tuan Jovan bisa menemukanku?" Vannya bergumam dengan setetes air mata yang membasahi pipi.Pagi ini suster kembali datang untuk memeriksa lukanya, bahkan tanpa melepaskan ikatan tali di tubuh Vannya."Nona sekarang waktunya minum obat dan oleskan salep"Jujur saja para pekerja disini memang
"Adeline pulang, mengapa tidak katakan pada saya?" Jovan segera menemui ayahnya untuk melayangkan protes."dia tiba-tiba ingin pulang" Anton menyahut dengan nada ringan dan seadanya, tanpa raut bersalah sama sekali."Dia pulang untuk menyiksa istri saya. Istri saya terluka dan sedang di rumah sakit sekarang" Jovan yang selama ini selalu tenang sekarang terlihat begitu seperti badai ombak yang siap menghantam siapa saja.Tapi Anton justru tetap dengan kebiasaanya yang selalu tenang, ia tersenyum melihat kemarahan putranya, senyuman tipis yang terkesan seperti meremehkan Jovan."Kau ingin pulang? Ingin menemui istrimu?" Anton menoleh ke arah putranya yang begitu marah hampir meledak, ia bisa melihat betapa Jovan sangat mencemaskan istrinya sekarang.Tidak ada jawaban yang Jovan berikan untuk ayahnya, ia hanya segera berpaling dan berlalu pergi sambil membanting pintu kamar hotel Anton.Reaksi itu adalah satu-satunya yang tidak Anto
Seluruh tubuh Vannya lebam bahkan berdarah, Adeline memukulnya terlalu kuat tadi pagi. Vannya tahu ada begitu besar kebencian Adeline untuk Jovan, tapi apa dengan menyiksa Vannya dia pikir bisa membuat Jovan sengsara?"Bersihkan dengan benarsih!"Setelah segala perbuatannya, Adeline masih meminta Vannya membersihkan seluruh Mansion tanpa bantuan siapapun. Wanita malang itu tidak lagi berani membantah, Vannya takut Adeline akan berbuat lebih dari yang tadi pagi.Vannya bagai seorang pelayan yang siap berjalan kesana kemari untuk membersihkan tempat yang kotor. Tidak perduli meskipun perutnya lapar, atau tubuhnya sakit, Vannya tetap melakukannya agar Adeline tidak lagi marah.Bibi Grett yang melihat kejadian itu terus menghela nafasnya, marah dengan perilaku Adeline tapi juga ia tidak bisa membantah. Tidak seorangpun disana yang berani melawan sang Nyonya besar.Namun, melihat Vannya yang semakin nelangsa membuat bibi Grett tidak lagi bisa
Setelah kepergian Alexa tadi pagi, sore ini Vannya di kejutkan dengan kedatangan seseorang yang tidak ia duga.Hari-harinya yang tenang dan nyaman seakan terhenti saat itu juga, Vannya terdiam seribu bahasa ketika melihat sang ibu mertua berjalan dengan angkuh ke arahnya."Selamat datang Nyonya" di depan pintu seluruh pelayan berkumpul untuk menyambut kedatangan Adeline. Wanita paruh baya itu bahkan sama sekali tidak melirik para pelayan itu, hanya terus menatap ke arah Vannya yang berdiri di paling ujung dengan tatapan terpaku."Selamat sore... Menantu" dia berhenti melangkah tepat di hadapan Vannya, ia tersenyum licik sambil menatap Vannya dari atas sampai bawah.Vannya cepat-cepat menundukan pandangannya untuk memberi hormat. "Selamat datang Nyonya Adeline" Ia menyapa dengan canggung dan bingung.Adeline tersenyum semakin lebar, sepertinya ia telah mendapatkan mangsa yang tepat hari ini."Tunggu" Adeline menghentikan seorang p
Sepi dan sunyi, malam ini terasa begitu tenang, tapi entah mengapa Vannya tidak bisa terlelap barang satu menit saja. Kamar mewah yang di tempatinya saat ini terasa terlalu asing dan dingin untuk dirinya.Setelah penjelasannya kepada nenek Julia tadi sore, Jovan memutuskan untuk membawa Vannya pula
Siapa yang menyangka, dalam takdir tuhan yang penuh dengan lika liku, Lavannya justru menemukan Jovan sebagai malaikat penolongnya.Pria konglomerat yang sangat terhormat, jauh sekali jika di bandingkan dengan Vannya yang bukan siapa -siapa. Jovan memiliki derajat yang jauh lebih tinggi,
"Tidak... aku mohon aku mohon aku mohon" Vannya terus memohon berulang kali, ia memaksa tubuhnya yang lemah untuk memberontak sekuat mungkin.Tapi seakan dunia telah menulikan telinganya, tidak ada yang mendengar tangisan Vannya, tubuhnya terus di seret paksa keluar dari area rumah megah
Malam ini Vannya mengulur waktunya untuk pulang, ia memutuskan untuk menginap semalam karena kondisi tubuhnya yang lemah.Selalu saja seperti itu, ia sulit mengendalikan dirinya dan selalu kehilangan energi saat mengalami mual hebat."Dia mengancamku?" Vannya yang kala itu henda







