Share

2. pingsan

Author: Mint Boy
last update publish date: 2025-12-25 18:32:49

"ayolah Van, hanya sedikit bermain denganku apa akan menjadi masalah besar untukmu?"

Vannya menggeleng lemah, kepalanya terasa berputar- putar dan sangat berat, ia bahkan tidak bisa membuka matanya dengan benar.

"Ck tidak mau" Vannya terus menolak setiap sentuhan dari pria di sampingnya. Alkohol yang menguasai tubuhnya membuat ia hampir kehilangan kesadaran.

"Ayolah, semua wanita bukankah sama saja? Mengapa sok jual mahal sekali sih" tampaknya pria itu semakin kesal dengan setiap penolakan Vannya. Ia terus membujuk dan memaksa meskipun Vannya berulang kali menepisnya.

Damian memang sedang berusaha untuk menjalin hubungan yang lebih intens dengan Lavannya, tapi yang membuat pria itu kesal adalah Lavannya yang selalu sok jual mahal. Vannya ingin menjalin hubungan ketika mereka sudah lebih mengenal satu sama lain, tapi dia bahkan sama sekali tidak mau di sentuh, padahal sudah terlihat jelas kalau Vannya juga tertarik kepada Damian.

Bagi Vannya dunianya cukup dengan bekerja dan mendapat penghasilan, ia sukses di usia muda dan berhasil masuk kedalam perusahaan ternama. Lelaki adalah nomor sekian baginya, mereka tidak boleh terlalu mudah mendapatkan Vannya.

Dan kalau boleh jujur Damian cukup menarik untuknya, Vannya mulai memikirkan pria itu akhir-akhir ini. Mungkin juga akan segera menerimannya. Tapi sepertinya tidak setelah malam ini, pria ini akan menghancurkan masa depannya.

"Tidak mau Damian" Vannya terus berusaha menolaknya, tapi karena efek alkohol yang tinggi membuat ia kesulitan mengendalikan dirinya.

"Ah.."

Apa yang telah di takuti terjadi, terlu cepat tanpa bisa Vannya hindari, ia terhanyut dal ketidaksadaran.

....

Semuanya hancur malam itu, Vannya telah gagal menjaga kesuciannya, ia memberikannya keda pria yang salah, seharusnya saat itu Vannya tidak pernah memberikan Damian kesempatan untuk mendekatinya. Seharusnya ia tidak terbuai, seharusnya ia berusaha lebih keras untuk bertahan

Bahkan pertanggung jawaban yang telah pria itu janjikan lenyap begitu saja, Vannya di campakan saat ia mengadukan tentang kabar kehamilannya. Dia sama sekali tidak perduli.

Bahkan hari ini pria bajingan itu kecelakaan bersama kekasihnya, sungguh pria pendosa yang tidak tahu malu.

"Aku membencimu"

Tes

Air matanya terjatuh dramatis saat ia kembali mengingat segalanya, wajahnya terlihat putus asa dan kecewa berat, kini tidak ada yang bisa Vannya lakukan selain pasrah dalam menjalani takdirnya.

Vannya menatap brankar Damian dari balik jendela kaca besar, ia menatap pria itu dengan penuh rasa marah dan kebencian.

"Aku..." Vannya berhenti sejenak, meremat kuat kain baju di bagian perutnya untuk menahan amarah yang memuncak. "...Dan anak ini mengutukmu. Semoga saja tuhan mencabut nyawamu"

"Ekhem, kau disini?"

Vannya tersentak kaget saat mendengar suara tidak asing menyapa telinganya, ia menoleh dengan ragu dan di buat mati kutu saat melihat bahwa Jovan lah yang memergokinya.

Vannya cepat-cepat menghapus sisa air mata di wajahnya, ia segera kembali memasang wajah tenang seperti biasanya.

Apa dia mendengar ucapan Vannya? Vannya baru saja mengutuk artis terbaik di perusahaan Jovan, apa pria itu akan marah?

"Masuklah!" Kata Jovan sambil ikut memandangi tubuh lemah Damian dari balik jendela kaca.

Vannya segera menggeleng sebagai penolakan, ia tidak sudi melihat wajah pria brengsek yang telah menghancurkan hidupnya.

"Kenapa?" Tanya Jovan dengan mata tertuju penuh kepada Lavannya. Jovan melihatnya, ia bisa merasakan rasa marah dan kekecewaan yang besar dari Vannya, ia melihat bagaimana mata yang selalu menatap semua orang dengan ramah itu menjadi lebih gelap saat memperhatikan keberadaan Damian.

Tanpa sadar Jovan menatap ke arah lain, ke ujung tangan Vannya yang terkepal kuat, juga dadanya yang tampak bergemuruh penuh emosi. Ada apa? Bukankah mereka teman dekat? Mengapa bisa ada dendam di antara keduanya?

Apa mungkin...

Ah mungkin tidak juga, Jovan hanya terlalu cepat mengambil kesimpulan yang tidak jelas, bagaimana bisa ia berpikir jika Damianlah yang telah menghamili Lavannya. Jelas-jelas Jovan tahu jika saat kecelakaan Damian sedang bersama kekasihnya.

Lavannya juga mengatakan akan segera menikah,tentu tidak mungkin mereka berhubungan sejauh itu.

"Saya tidak memiliki kepentingan untuk masuk" Suara Vannya terdengar lirih dan sedikit di tahan. Ada kebencian di dalamnya, dan kutukan yang akan selalui menyertai tidur Damian.

Jovan tidak ambil pusing, ia berlalu begitu saja dan duduk di kursi tunggu. Sementara Vannya masih berdiri diam disana, padahal yang lain sudah lebih dulu pulang sejak tadi.

"Tuan..."

Vannya berbalik badan, menatap Jovan yang duduk di belakang sana. Tidak ada jawaban dari sang empu, hanya lirikan mata dan kembali terfokus dengan ponselnya.

"Jika tidak bisa resign, apa saya boleh mengambil cuti?'' Vannya telah menghabiskan seluruh tenaganya untuk hari ini, setidaknya ia perlu beristirahat agar bisa tenang kembali.

"Berapa lama?"

"Satu minggu" kata Vannya tanpa banyak basa basi.

"Tiga hari" Jovan membantah dengan cepat, ia tampak sangat serius dan tegas, bahkan tidak menoleh kepada Lavannya sama sekali.

Tentu sikapnya yang buruk itu membuat Vannya jadi takut untuk berdebat, ia tidak bisa membantah tapi berat untuk menerima.

"Ambil cutimu minggu depan, jika tidak mau tidak masalah" Jovan kembali bersuara, membuat Vannya terbangun dari lamunannya.

Vannya menghela nafas dengan putus asa, tapi da akhirnya tetap mengangguk meskipun berat.

"Baik Tuan" Vannya menahan nafas, meski sedikit jengkel tapi tidak apa, tiga hari saja sepertinya sudah cukup. "Saya pamit"

Tampa keramahan Jovan hanya mengangguk kecil, sedangkan Vannya berlalu begitu cepat bahkan dengan sedikit berlari, sepertinya memang sedang buru -buru.

Semakin cepat Lavvanya melangkah, semakin sakit dadanya. Nafasnya memburu marah, ia tidak bisa melakukan apapun selain hanya diam. Ia berusaha lari, tetapi... di tengah keterpurukan yang buruk, saat kakinya terus maju untuk berlari, semuanya semakin terasa menyiksa dan air matanya mengalir begitu saja.

Lavannya tidak bisa membela dirinya karena tahu tidak akan ada yang percaya. Tangisannya harus ia sembunyikan dari dunia agar tidak ada yang tahu nasip buruknya. Tidak boleh ada yang tahu ada janin di dalam rahimnya, ia jarus bersembunyi.

"Nona Vannya..."

"Apa Anda baru saja menjenguk Tuan Damian?"

"Bagaimana keadaannya, nona? Kenapa menangis"

"Apa kondisinya memburuk? Katanya sedang koma, apa benar?"

Lavannya belum pulih dari keterpurukan yang panjang, akan tetapi kehadiran para reporter di halaman rumah sakit membuat ia kebingungan harus berbuat apa. Ia tid tahu mereka semua akan datang  dan memblokir jan keluarnya.

"Nona sebaiknya lewat pintu belakang saja"

Para penjaga pintu mengarahkan agar Lavvanya bisa keluar dengan tenang.

Vannya menghapus sisa air matanya, ia menatap para reporter itu yang berebut meminta informasi darinya. Matanya memerah, penuh luka dan amarah.

Andai saja, Andai saja bibirnya bisa mengungkapkan kelakuan bejat apa saja yang telah idola mereka lakukan kepadanya, andai saja Vannya memiliki sedikit keberanian untuk membela dirinya, apa mungkin akan ada seseorang yang mempercayainya? Apakah ada setidaknya satu orang saja yang membelanya?

"Akh..."

"Nona"

Para penjaga dengan sigap membantu Vannya yang tampak kesakitan, wanita itu tersungkur dramatis didepan banyak orang. Itu membuat para wartawan berasumsi buruk mengenai kondisi Damian.

Vannya terdiam seribu bahasa, sakit yang menyerang perutnya secara tiba-tiba itu perlahan terasa semakin menyiksa sampai hampir merenggut kesadarannya.

"Tolong..." Lirih Vannya dengan wajah pucat pasi, kondisinya terlihat buruk sekali.

"Apa?" Para penjaga tidak bisa mendengar ucapannya, terlalu lemah dan tidak bertenaga.

Vannya mendongak dengan wajah putus asa, matanya menatap sayu, bibirnya hanya mampu terbuka tanpa suara yang jelas, apalagi dengan kericuhan di luar sana, suaranya semakin tenggelam.

Ketika kesadarannya semakin menurun dan tubuhnya semakin kehilangan tenaga, Vannya hanya mampu menatap kosong dan berharap saat terbangun nanti ia akan melihat kebenaran jika semua ini hanyalah mimpi.

Matanya perlahan mengatup, tubuhnya semakin lemah tanpa tenaga, akan tetapi Sebuah rasa hangat yang menyelimutinya membuat Vannya terpaksa harus mempertahankan kesadarannya.

"Tuan..."

Tubuhnya menjulang tinggi, lengan dan dadanya memiliki otot kuat bahkan tidak kesulitan membopong tubuh Vannya. Tubuhnya begitu hangat dengan nafas yang memburu kuat, aromanya sangat khas milik pria yang Vannya kenal.

Saat itulah matanya bisa tertutup dengan tenang, kepalanya ia sandarkan di dada bidang pria itu dan melupakan segalanya begitu saja.

"Tolong periksa dia, dia sedang hamil"

Kalimat terakhir itu terdengar sebelum Vannya benar-benar kehilangan kesadarannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Wanita Tuan Presdir    35. akhirnya

    Suara dedaunan kering turut mengikuti kemanapun kaki Vannya melangkah. Meskipun sudah terengah-engah dan kelelahan, tapi ia enggan berhenti sebelum menmuk jalan keluar.Hari masih panjang, Vannya yakin ia akan mendapat pertolongan sebelum bulan terlihat.DORSuara tembakan terdengar melengking memekakkan telinga, Vannya terkejut bukan main, bahkan sampai kehilangan fokusnya mencati jalan.Ia ketakutan setengah mati, sudah hampir menangisi takdirnya yang buruk ini. Tapi Vannya ingat, jiwa lain di dalam perutnya juga pasti ingin selamat dan hidup bersamanya, Vannya harus terus mengejar kebebasa itu."Cari sampai dapat, jangan sampai Nyonya marah"Teriakan itu mengapa terdengar semakin dekat, padahal Vannya sudah berlari begitu jauh sejak tadi. Bahkan cuaca panas mulai menguras tenaganya, kakinya semakin melemah, rasanya berat sekali untuk melanjutkan pelarian ini."Dia pasti datang, dia pasti mencari kita, ayo nak berjuang

  • Wanita Tuan Presdir    34. sedikit lagi

    Sejak kepulangannya, Jovan belum sempat benar- benar beristirahat dengan tenang, ia masih terus mencati tahu dimana istrinya saat iniSeperti pagi tadi, pria gagah itu sudah bersiap-siap setelah tidur tidak lebih dari satu jam. Kini ia mulai perjalanannya menuju kawasan terpencil yang sangat jauh dari kota.Setelah berulang kali di paksa oleh Anton, Adeline akhirnya mau bicara dan mengatakan dimana ia menyembunyikan Vannya. Dan sekarang Jovan sedang menuju kesana.Akses yang di lewati cukup sulit dan ekstrim, Jovan khawatir kandungan Vannya akan bermasalah jika di paksa melewati jalur ini. Tapi sayangnya memang tidak ada jalur yang lain.Jovan berulang kali menghela nafas, ia menatap keluar jendela dengan wajah yang dingin, sesekali membenahi kacamatanya dengan ekspresi tenang dan santai. Ia memang selalu seperti itu, tidak pernah benar-benar menunjukan raut cemas di wajahnya."Lebih cepat sedikit" kata Jovan yang langsung di angguki oleh

  • Wanita Tuan Presdir    33. Rumah sakit jiwa

    Sudah dua puluh empat jam Vannya berbaring di atas brankar rumah sakit dengan kedua tangan dan kakinya yang terikat. Ia sudah mencoba memberontak sejak semalam, tapi percuma saja karena tali yang mengikat tubuhnya terlalu kuat.Rasa lelah mulai menguasai ya, tenaga Vannya sudah habis sehingga ia memilih untuk di saja. Perutnya terus mengalami keram sejak semalam, Vannya harus benar-benar berhati-hati.Adeline itu gila, dia membuang Vannya ke rumah sakit pedesaan yang sangat jauh dari kota. Rumah sakit jiwa dimana semua pasiennya benar-benar membuat Vannya ikut gila hanya dengan mendengar suaranya saja."Di rumah sakit terpencil ini apa mungkin Tuan Jovan bisa menemukanku?" Vannya bergumam dengan setetes air mata yang membasahi pipi.Pagi ini suster kembali datang untuk memeriksa lukanya, bahkan tanpa melepaskan ikatan tali di tubuh Vannya."Nona sekarang waktunya minum obat dan oleskan salep"Jujur saja para pekerja disini memang

  • Wanita Tuan Presdir    32. Jovan kembali

    "Adeline pulang, mengapa tidak katakan pada saya?" Jovan segera menemui ayahnya untuk melayangkan protes."dia tiba-tiba ingin pulang" Anton menyahut dengan nada ringan dan seadanya, tanpa raut bersalah sama sekali."Dia pulang untuk menyiksa istri saya. Istri saya terluka dan sedang di rumah sakit sekarang" Jovan yang selama ini selalu tenang sekarang terlihat begitu seperti badai ombak yang siap menghantam siapa saja.Tapi Anton justru tetap dengan kebiasaanya yang selalu tenang, ia tersenyum melihat kemarahan putranya, senyuman tipis yang terkesan seperti meremehkan Jovan."Kau ingin pulang? Ingin menemui istrimu?" Anton menoleh ke arah putranya yang begitu marah hampir meledak, ia bisa melihat betapa Jovan sangat mencemaskan istrinya sekarang.Tidak ada jawaban yang Jovan berikan untuk ayahnya, ia hanya segera berpaling dan berlalu pergi sambil membanting pintu kamar hotel Anton.Reaksi itu adalah satu-satunya yang tidak Anto

  • Wanita Tuan Presdir    31. telfone

    Seluruh tubuh Vannya lebam bahkan berdarah, Adeline memukulnya terlalu kuat tadi pagi. Vannya tahu ada begitu besar kebencian Adeline untuk Jovan, tapi apa dengan menyiksa Vannya dia pikir bisa membuat Jovan sengsara?"Bersihkan dengan benarsih!"Setelah segala perbuatannya, Adeline masih meminta Vannya membersihkan seluruh Mansion tanpa bantuan siapapun. Wanita malang itu tidak lagi berani membantah, Vannya takut Adeline akan berbuat lebih dari yang tadi pagi.Vannya bagai seorang pelayan yang siap berjalan kesana kemari untuk membersihkan tempat yang kotor. Tidak perduli meskipun perutnya lapar, atau tubuhnya sakit, Vannya tetap melakukannya agar Adeline tidak lagi marah.Bibi Grett yang melihat kejadian itu terus menghela nafasnya, marah dengan perilaku Adeline tapi juga ia tidak bisa membantah. Tidak seorangpun disana yang berani melawan sang Nyonya besar.Namun, melihat Vannya yang semakin nelangsa membuat bibi Grett tidak lagi bisa

  • Wanita Tuan Presdir    30. Awal penyiksaan

    Setelah kepergian Alexa tadi pagi, sore ini Vannya di kejutkan dengan kedatangan seseorang yang tidak ia duga.Hari-harinya yang tenang dan nyaman seakan terhenti saat itu juga, Vannya terdiam seribu bahasa ketika melihat sang ibu mertua berjalan dengan angkuh ke arahnya."Selamat datang Nyonya" di depan pintu seluruh pelayan berkumpul untuk menyambut kedatangan Adeline. Wanita paruh baya itu bahkan sama sekali tidak melirik para pelayan itu, hanya terus menatap ke arah Vannya yang berdiri di paling ujung dengan tatapan terpaku."Selamat sore... Menantu" dia berhenti melangkah tepat di hadapan Vannya, ia tersenyum licik sambil menatap Vannya dari atas sampai bawah.Vannya cepat-cepat menundukan pandangannya untuk memberi hormat. "Selamat datang Nyonya Adeline" Ia menyapa dengan canggung dan bingung.Adeline tersenyum semakin lebar, sepertinya ia telah mendapatkan mangsa yang tepat hari ini."Tunggu" Adeline menghentikan seorang p

  • Wanita Tuan Presdir    11. satu kamar

    Sepi dan sunyi, malam ini terasa begitu tenang, tapi entah mengapa Vannya tidak bisa terlelap barang satu menit saja. Kamar mewah yang di tempatinya saat ini terasa terlalu asing dan dingin untuk dirinya.Setelah penjelasannya kepada nenek Julia tadi sore, Jovan memutuskan untuk membawa Vannya pula

  • Wanita Tuan Presdir    10. akta nikah

    Siapa yang menyangka, dalam takdir tuhan yang penuh dengan lika liku, Lavannya justru menemukan Jovan sebagai malaikat penolongnya.Pria konglomerat yang sangat terhormat, jauh sekali jika di bandingkan dengan Vannya yang bukan siapa -siapa. Jovan memiliki derajat yang jauh lebih tinggi,

  • Wanita Tuan Presdir    9. syarat

    "Tidak... aku mohon aku mohon aku mohon" Vannya terus memohon berulang kali, ia memaksa tubuhnya yang lemah untuk memberontak sekuat mungkin.Tapi seakan dunia telah menulikan telinganya, tidak ada yang mendengar tangisan Vannya, tubuhnya terus di seret paksa keluar dari area rumah megah

  • Wanita Tuan Presdir    8. Beri keutusan

    Malam ini Vannya mengulur waktunya untuk pulang, ia memutuskan untuk menginap semalam karena kondisi tubuhnya yang lemah.Selalu saja seperti itu, ia sulit mengendalikan dirinya dan selalu kehilangan energi saat mengalami mual hebat."Dia mengancamku?" Vannya yang kala itu henda

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status