เข้าสู่ระบบ"ayolah Van, hanya sedikit bermain denganku apa akan menjadi masalah besar untukmu?"
Vannya menggeleng lemah, kepalanya terasa berputar- putar dan sangat berat, ia bahkan tidak bisa membuka matanya dengan benar. "Ck tidak mau" Vannya terus menolak setiap sentuhan dari pria di sampingnya. Alkohol yang menguasai tubuhnya membuat ia hampir kehilangan kesadaran. "Ayolah, semua wanita bukankah sama saja? Mengapa sok jual mahal sekali sih" tampaknya pria itu semakin kesal dengan setiap penolakan Vannya. Ia terus membujuk dan memaksa meskipun Vannya berulang kali menepisnya. Damian memang sedang berusaha untuk menjalin hubungan yang lebih intens dengan Lavannya, tapi yang membuat pria itu kesal adalah Lavannya yang selalu sok jual mahal. Vannya ingin menjalin hubungan ketika mereka sudah lebih mengenal satu sama lain, tapi dia bahkan sama sekali tidak mau di sentuh, padahal sudah terlihat jelas kalau Vannya juga tertarik kepada Damian. Bagi Vannya dunianya cukup dengan bekerja dan mendapat penghasilan, ia sukses di usia muda dan berhasil masuk kedalam perusahaan ternama. Lelaki adalah nomor sekian baginya, mereka tidak boleh terlalu mudah mendapatkan Vannya. Dan kalau boleh jujur Damian cukup menarik untuknya, Vannya mulai memikirkan pria itu akhir-akhir ini. Mungkin juga akan segera menerimannya. Tapi sepertinya tidak setelah malam ini, pria ini akan menghancurkan masa depannya. "Tidak mau Damian" Vannya terus berusaha menolaknya, tapi karena efek alkohol yang tinggi membuat ia kesulitan mengendalikan dirinya. "Ah.." Apa yang telah di takuti terjadi, terlu cepat tanpa bisa Vannya hindari, ia terhanyut dal ketidaksadaran. .... Semuanya hancur malam itu, Vannya telah gagal menjaga kesuciannya, ia memberikannya keda pria yang salah, seharusnya saat itu Vannya tidak pernah memberikan Damian kesempatan untuk mendekatinya. Seharusnya ia tidak terbuai, seharusnya ia berusaha lebih keras untuk bertahan Bahkan pertanggung jawaban yang telah pria itu janjikan lenyap begitu saja, Vannya di campakan saat ia mengadukan tentang kabar kehamilannya. Dia sama sekali tidak perduli. Bahkan hari ini pria bajingan itu kecelakaan bersama kekasihnya, sungguh pria pendosa yang tidak tahu malu. "Aku membencimu" Tes Air matanya terjatuh dramatis saat ia kembali mengingat segalanya, wajahnya terlihat putus asa dan kecewa berat, kini tidak ada yang bisa Vannya lakukan selain pasrah dalam menjalani takdirnya. Vannya menatap brankar Damian dari balik jendela kaca besar, ia menatap pria itu dengan penuh rasa marah dan kebencian. "Aku..." Vannya berhenti sejenak, meremat kuat kain baju di bagian perutnya untuk menahan amarah yang memuncak. "...Dan anak ini mengutukmu. Semoga saja tuhan mencabut nyawamu" "Ekhem, kau disini?" Vannya tersentak kaget saat mendengar suara tidak asing menyapa telinganya, ia menoleh dengan ragu dan di buat mati kutu saat melihat bahwa Jovan lah yang memergokinya. Vannya cepat-cepat menghapus sisa air mata di wajahnya, ia segera kembali memasang wajah tenang seperti biasanya. Apa dia mendengar ucapan Vannya? Vannya baru saja mengutuk artis terbaik di perusahaan Jovan, apa pria itu akan marah? "Masuklah!" Kata Jovan sambil ikut memandangi tubuh lemah Damian dari balik jendela kaca. Vannya segera menggeleng sebagai penolakan, ia tidak sudi melihat wajah pria brengsek yang telah menghancurkan hidupnya. "Kenapa?" Tanya Jovan dengan mata tertuju penuh kepada Lavannya. Jovan melihatnya, ia bisa merasakan rasa marah dan kekecewaan yang besar dari Vannya, ia melihat bagaimana mata yang selalu menatap semua orang dengan ramah itu menjadi lebih gelap saat memperhatikan keberadaan Damian. Tanpa sadar Jovan menatap ke arah lain, ke ujung tangan Vannya yang terkepal kuat, juga dadanya yang tampak bergemuruh penuh emosi. Ada apa? Bukankah mereka teman dekat? Mengapa bisa ada dendam di antara keduanya? Apa mungkin... Ah mungkin tidak juga, Jovan hanya terlalu cepat mengambil kesimpulan yang tidak jelas, bagaimana bisa ia berpikir jika Damianlah yang telah menghamili Lavannya. Jelas-jelas Jovan tahu jika saat kecelakaan Damian sedang bersama kekasihnya. Lavannya juga mengatakan akan segera menikah,tentu tidak mungkin mereka berhubungan sejauh itu. "Saya tidak memiliki kepentingan untuk masuk" Suara Vannya terdengar lirih dan sedikit di tahan. Ada kebencian di dalamnya, dan kutukan yang akan selalui menyertai tidur Damian. Jovan tidak ambil pusing, ia berlalu begitu saja dan duduk di kursi tunggu. Sementara Vannya masih berdiri diam disana, padahal yang lain sudah lebih dulu pulang sejak tadi. "Tuan..." Vannya berbalik badan, menatap Jovan yang duduk di belakang sana. Tidak ada jawaban dari sang empu, hanya lirikan mata dan kembali terfokus dengan ponselnya. "Jika tidak bisa resign, apa saya boleh mengambil cuti?'' Vannya telah menghabiskan seluruh tenaganya untuk hari ini, setidaknya ia perlu beristirahat agar bisa tenang kembali. "Berapa lama?" "Satu minggu" kata Vannya tanpa banyak basa basi. "Tiga hari" Jovan membantah dengan cepat, ia tampak sangat serius dan tegas, bahkan tidak menoleh kepada Lavannya sama sekali. Tentu sikapnya yang buruk itu membuat Vannya jadi takut untuk berdebat, ia tidak bisa membantah tapi berat untuk menerima. "Ambil cutimu minggu depan, jika tidak mau tidak masalah" Jovan kembali bersuara, membuat Vannya terbangun dari lamunannya. Vannya menghela nafas dengan putus asa, tapi da akhirnya tetap mengangguk meskipun berat. "Baik Tuan" Vannya menahan nafas, meski sedikit jengkel tapi tidak apa, tiga hari saja sepertinya sudah cukup. "Saya pamit" Tampa keramahan Jovan hanya mengangguk kecil, sedangkan Vannya berlalu begitu cepat bahkan dengan sedikit berlari, sepertinya memang sedang buru -buru. Semakin cepat Lavvanya melangkah, semakin sakit dadanya. Nafasnya memburu marah, ia tidak bisa melakukan apapun selain hanya diam. Ia berusaha lari, tetapi... di tengah keterpurukan yang buruk, saat kakinya terus maju untuk berlari, semuanya semakin terasa menyiksa dan air matanya mengalir begitu saja. Lavannya tidak bisa membela dirinya karena tahu tidak akan ada yang percaya. Tangisannya harus ia sembunyikan dari dunia agar tidak ada yang tahu nasip buruknya. Tidak boleh ada yang tahu ada janin di dalam rahimnya, ia jarus bersembunyi. "Nona Vannya..." "Apa Anda baru saja menjenguk Tuan Damian?" "Bagaimana keadaannya, nona? Kenapa menangis" "Apa kondisinya memburuk? Katanya sedang koma, apa benar?" Lavannya belum pulih dari keterpurukan yang panjang, akan tetapi kehadiran para reporter di halaman rumah sakit membuat ia kebingungan harus berbuat apa. Ia tid tahu mereka semua akan datang dan memblokir jan keluarnya. "Nona sebaiknya lewat pintu belakang saja" Para penjaga pintu mengarahkan agar Lavvanya bisa keluar dengan tenang. Vannya menghapus sisa air matanya, ia menatap para reporter itu yang berebut meminta informasi darinya. Matanya memerah, penuh luka dan amarah. Andai saja, Andai saja bibirnya bisa mengungkapkan kelakuan bejat apa saja yang telah idola mereka lakukan kepadanya, andai saja Vannya memiliki sedikit keberanian untuk membela dirinya, apa mungkin akan ada seseorang yang mempercayainya? Apakah ada setidaknya satu orang saja yang membelanya? "Akh..." "Nona" Para penjaga dengan sigap membantu Vannya yang tampak kesakitan, wanita itu tersungkur dramatis didepan banyak orang. Itu membuat para wartawan berasumsi buruk mengenai kondisi Damian. Vannya terdiam seribu bahasa, sakit yang menyerang perutnya secara tiba-tiba itu perlahan terasa semakin menyiksa sampai hampir merenggut kesadarannya. "Tolong..." Lirih Vannya dengan wajah pucat pasi, kondisinya terlihat buruk sekali. "Apa?" Para penjaga tidak bisa mendengar ucapannya, terlalu lemah dan tidak bertenaga. Vannya mendongak dengan wajah putus asa, matanya menatap sayu, bibirnya hanya mampu terbuka tanpa suara yang jelas, apalagi dengan kericuhan di luar sana, suaranya semakin tenggelam. Ketika kesadarannya semakin menurun dan tubuhnya semakin kehilangan tenaga, Vannya hanya mampu menatap kosong dan berharap saat terbangun nanti ia akan melihat kebenaran jika semua ini hanyalah mimpi. Matanya perlahan mengatup, tubuhnya semakin lemah tanpa tenaga, akan tetapi Sebuah rasa hangat yang menyelimutinya membuat Vannya terpaksa harus mempertahankan kesadarannya. "Tuan..." Tubuhnya menjulang tinggi, lengan dan dadanya memiliki otot kuat bahkan tidak kesulitan membopong tubuh Vannya. Tubuhnya begitu hangat dengan nafas yang memburu kuat, aromanya sangat khas milik pria yang Vannya kenal. Saat itulah matanya bisa tertutup dengan tenang, kepalanya ia sandarkan di dada bidang pria itu dan melupakan segalanya begitu saja. "Tolong periksa dia, dia sedang hamil" Kalimat terakhir itu terdengar sebelum Vannya benar-benar kehilangan kesadarannya.Seperti kata Jovan, Vannya menuruti perintah pria itu dan duduk dengan tenang didalam ruang kerja bersamanya.Vannya juga tidak mengerti mengapa Jovan bisa begitu posesif terhadap dirinya, tidak membiarkannya bekerja di tempat lain tapi juga tidak memberikan pekerjaan apapun disini."Minta Andi kerjakan ini!"Bongkahan es itu akhirnya bersuara setelah mengabaikan Vannya sejak dua jam yang lalu. Vannya bangkit dengan semangat dan meraih berkas yang Jovan berikan."Aku boleh keluar?" Untuk berjaga-jaga, Vannya harus bertanya di setiap tindakan yang ia lakukan.Jovan melirik istrinya sekilas lalu menganggukan kepala dengan samar, tapi itu sudah cukup untuk membuat Lavannya tersenyum gembira.Vannya bergegas keluar untuk menemui rekan-rekannya yang lain, ia senang sekali akhirnya bisa bebas dari ruangan Jovan yg sangat monoton.Vannya masuk kedalam ruangan yang tidak kalah senyap dari ruangan Jovan, tapi setidaknya tenpat in
"aku sudah baik-baik saja kok"Jovan sekali lagi menghela nafasnya, ini sudah kesekian kalinya Vannya merengek untuk kembali bekerja. Jovan tidak mengijinkan karena Vannya yang memang belum sepenuhnya pulih, tapi wanita ini terus memaksa bahkan sekarang sudah berpakaian rapi."Saya sibuk" Jovan tetap mengabaikan istrinya, ia justru sibuk bersiap-siap sendiri.Vannya berdiri tepat di depan pintu, memperhatikan setiap pergerakan suaminya dengan wajah masam."Tuan, aku juga bisa bosan jika hanya duduk di rumah" kata Vannya lagi, wajah memelasnya ia tunjukan supaya Jovan bisa sedikit luluh.Jovan meliriknya sekilas tanpa perduli, ia berlalu masuk kedalam walk in closet untuk mengambil dasi.Karena geram Vannya akhirnya mengikuti Jovan, berdiri tepat di belakang pria itu dengan wajah kesal. Jika saja Jovan bukan atasannya, sudah pasti Vannya tidak akan repot-repot membujuk."Hanya bekerja dan duduk, apa salahnya sih" Vannya c
Malam harinya Jovan baru saja masuk kekamar setelah sejak tadi sore banyak berbincang bersama Aldo dan juga Kevin, tentu ada beberapa pekerjaan yang harus mereka urus juga."Tuan"Suara yang tidak asing membuat Jovan yang baru saja hendak membuka pintu kamar menjadi terhenti, ia menoleh dan mendapati Gretta yang sudah berdiri dengan wajah cemasnya.Pelayan tua ini turut Jovan ambil dari kediaman Fedorov, tentu karena satu-satunya orang yang Jovan percayai adalah dia.Sebenarnya berat untuk Adeline meninggalkan Mansion setelah bekerja puluhan tahun disana, tapi tidak apa asal ia tetap bekerja dengan garis keturunan Fedorov."Apa?" Jovan bertanya dengan ketus, dia memanh tidak pernah bersikap ramah."Sejak sore nona tidak keluar kamar, dia juga menolak makanan yang saya bawakan" kata Gretta dengan raut wajah cemas. "Jika terus seperti ini nona akan kembali jatuh sakit"Jovan mendengarkan, ia melirik pintu kamar Vannya yang
Hari ini adalah hari kepulangan Lavannya dari rumah sakit, sebab itulah Jovan meminta Aldo dan Kevin datang untuk membantunya. "Apa kita langsung pulang?" Jovan dan Vannya sejak tadi hanya diam di belakang sana, tapi Aldo dan Kevin sayangnya tidak memiliki kepribadian semonoton mereka. Keduanya masih terus berusaha mencari topik untuk hanya mendengar sepatah kata saja dari Vannya ataupun Jovan. Jovan merengkuh tubuh kecil Vannya, menyalurkan kehangatan di tengah musim dingin yang mulai datang. Sudah satu minggu sejak Vannya kehilangan bayinya, dia benar-benar tidak banyak bicara, tidak jarang Jovan juga melihatnya diam-diam menangis sendirian. "Ingin sesuatu?" Akhirnya suara Jovan keluar, dan itu membuat Aldo yang duduk di depan segera menoleh ke belakang. "Aku ingin makan kepiting" kata Aldo dengan keceriaan di wajahnya. Baik Jovan maupun Vannya hanya menatapnya dengan tatapan aneh, sebelum akhirnya Aldo di tarik paksa oleh Kevin untuk kembali duduk dengan benar. Padahal K
"Bukankah kita saling mencintai? Untuk apa bercerai?""Eh" Vannya tercengang bukan main mendengar ucapan Jovan. Ini sudah kesekian kalinya Jovan berkata begitu, seakan yang dia ucapkan itu memang benar adanya."Ayo saling mencintai dan umumkan pernikahan kita" Tiba-tiba sekali Jovan menginginkan hal yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.Tentu saja Vannya tidak menyahut sama sekali, Jovan terlalu mengejutkannya."Saya akan buat kontrak, jika selama satu tahun kita tidak saling mencintai maka saya akan menceraikanmu" Lanjut Jovan yang belum mendapatkan reaksi apapun dari Vannya."Jika hanya kau yang jatuh cinta, saya akan alihkan seluruh aset saya untukmu" mengapa pria ini begitu bersemangat membahas hubungan mereka. Wajahnya bahkan tidak sedatar biasanya.Vannya mengeryit, masih belum mengerti apa tujuan Jovan menawarkan perjanjian seperti itu."Bagaimana?" Jovan sangat menunggu jawaban dari Vannya, tapi sepertinya wanita itu terlalu lamban untuk mencerna semua ucapannya.Jovan han
"dia pergi ya?"Jovan menoleh ketika mendengar suara lirih istrinya. Sudah sejak dua jam yang lalu wanita itu hanya melamun dan enggan berbicara, bahkan menolak ketika Jovan menawarkan makanan."Tidak" Jovan masih duduk samping brankar, wajahnya selalu saja datar meski cara bicaranya sangat lembut ketika bersama Vannya.Vannya mengerjap beberapa kali, matanya yang sejak tadi kosong perlahan mulai berbinar kembali. "Tidak pergi?" ia kembali bertanya untuk memastikan jawaban Jovan.Suaminya mengangguk samar, tapi Vannya bisa melihat gelengan kepala itu dengan jelas."Sungguh tidak pergi?" Vannya seakan kembali mendapat harapan. Ia jelas mendengar ucapan dokter yang mengatakan janinnya tidak bisa di pertahankan tadi, tapi sayangnya setelah itu kesadaran Vannya benar-benar hilang dan tidak mendengar apapun lagi.Jovan menghela nafas sejenak, ia bangkit dan mendekati Vannya dengan aura dinginnya."Saya tidak mau memberikan harapan apapun, dokter bilang sebaiknya gugurkan saja" ekspresi itu
Siapa yang menyangka, dalam takdir tuhan yang penuh dengan lika liku, Lavannya justru menemukan Jovan sebagai malaikat penolongnya.Pria konglomerat yang sangat terhormat, jauh sekali jika di bandingkan dengan Vannya yang bukan siapa -siapa. Jovan memiliki derajat yang jauh lebih tinggi,
"Tidak... aku mohon aku mohon aku mohon" Vannya terus memohon berulang kali, ia memaksa tubuhnya yang lemah untuk memberontak sekuat mungkin.Tapi seakan dunia telah menulikan telinganya, tidak ada yang mendengar tangisan Vannya, tubuhnya terus di seret paksa keluar dari area rumah megah
Sepi dan sunyi, malam ini terasa begitu tenang, tapi entah mengapa Vannya tidak bisa terlelap barang satu menit saja. Kamar mewah yang di tempatinya saat ini terasa terlalu asing dan dingin untuk dirinya.Setelah penjelasannya kepada nenek Julia tadi sore, Jovan memutuskan untuk membawa Vannya pula
Malam ini Vannya mengulur waktunya untuk pulang, ia memutuskan untuk menginap semalam karena kondisi tubuhnya yang lemah.Selalu saja seperti itu, ia sulit mengendalikan dirinya dan selalu kehilangan energi saat mengalami mual hebat."Dia mengancamku?" Vannya yang kala itu henda







