Masuk
Embun pagi menyelimuti halaman pelatihan Sekte Serakan Cahaya. Matahari baru saja terbit, menembus kabut tipis yang menggantung di udara. Di tengah hiruk-pikuk para murid yang berlatih, terdengar suara bentakan, umpatan, dan tawa mereka yang merasa dirinya lebih tinggi dari yang lain.
Di antara semua itu, berdiri seorang pemuda kurus dengan pakaian lusuh dan buket kayu di tangan—Raynar. Seperti biasa, tidak ada yang memperhatikannya. Ia berjalan pelan, menghindari murid-murid yang berlatih pedang dan tidak ingin terseret dalam amukan mereka. Setiap pagi, tugasnya hanyalah satu: membersihkan halaman pelatihan. Tugas yang bahkan tidak mau dilakukan murid terlemah sekalipun. “HEY! Pesuruh!” teriak salah satu murid, menendang ember air ke arahnya. “Airnya kurang! Apa kau buta atau bodoh?” Raynar terdiam, menunduk, menahan napas. Ember itu jatuh tepat di depan kakinya, memercikkan air ke jubahnya yang tipis. Murid lain tertawa melihatnya. “Raynar si sampah sekte! Tidak bisa melakukan apa pun dengan benar!” “Aku yakin dia tidak punya akar spiritual! Mana bisa seseorang seperti dia berlatih kultivasi?” “Diam saja dia! Dasar pengecut!” Ia menahan semua hinaan itu seperti biasa. Sudah bertahun-tahun ia mendengar kata yang sama: sampah. Sampah yang tidak layak menjadi murid. Sampah yang hanya dipungut sekte demi mengisi pekerjaan kotor. Tapi Raynar tidak membalas. Baginya, diam adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup di tempat yang tidak menginginkan kehadirannya. Setelah memastikan halaman pelatihan bersih, Raynar berjalan ke gudang kayu yang berada di belakang sekte. Ia meletakkan sapu yang sudah usang lalu duduk sebentar, mengusap keringat di lehernya. Hidupnya selalu seperti ini—dimulai dengan penghinaan, diakhiri dengan kelelahan. Namun yang lebih menyakitkan adalah kenyataan pahit yang selalu muncul dalam benaknya: dia tidak punya masa depan. Ia memang tidak memiliki akar spiritual—setidaknya itulah yang dikatakan para tetua saat pertama kali ia dibawa ke sekte sebagai anak kecil. Tanpa akar spiritual, seseorang tidak bisa menyerap energi langit dan bumi. Itu berarti, ia tidak akan pernah menjadi kultivator. Sederhananya… Ia adalah bayangan di antara para bintang. Raynar menghela napas panjang. “Seandainya aku punya sedikit saja kekuatan… sedikit saja…” Ia tidak menginginkan kebesaran. Tidak ingin menjadi tetua sekte. Ia hanya ingin… dihargai. Namun hidup tidak pernah memberinya kesempatan itu. Siang menjelang ketika Raynar berjalan menuju dapur untuk mengantarkan kayu bakar. Di sana, ia kembali dihentikan oleh sekelompok murid. “Raynar,” ujar Dalen, murid tingkat menengah yang paling sering mengganggunya. Senyum congkaknya muncul, menandakan hal buruk akan terjadi. “Kami sedang latihan teknik tubuh. Kami butuh seseorang… hmm… untuk jadi ‘sasaran’ pukulan.” Tawa menggema di belakangnya. Raynar menunduk. “Maaf, aku harus mengantar kayu bakar. Jika terlambat, Penjaga Dapur—” “Cih! Kau pikir kau bisa pergi begitu saja?” Dalen menarik baju Raynar dan mendorongnya ke tanah. Kayu bakar berjatuhan. Raynar ingin melawan. Ingin berteriak. Ingin memukul balik. Tapi ia tahu, melawan hanya akan memperburuk keadaan. Mereka bisa melapor ke tetua bahwa ia tidak hormat. Dan satu-satunya konsekuensi bagi pesuruh seperti dirinya adalah hukuman—bahkan bisa diusir. Dalen mencengkeram kerah bajunya. “Kau dengar, kan? Kau ini pesuruh. Tugasmu mengikuti perintah, bukan membantah.” Raynar menutup mata, menahan napas, menunggu pukulan itu datang— “DALEN!” Suara lantang itu mengguncang udara. Salah satu Penjaga Dapur muncul dari belakang pintu, membawa sendok besar seperti senjata. “Masih mengganggu pesuruh lagi? Kalau pekerjaan terlambat, kalian sendiri yang akan memasak untuk seluruh sekte!” Dalen mendecak kesal. “Tsk. Pesuruh payah ini selalu dapat perlindungan.” Namun ia tetap mundur. Raynar mengumpulkan kayu bakarnya dan menunduk sebagai ucapan terima kasih. Penjaga Dapur hanya menepuk pundaknya. “Jangan terlalu diambil hati. Dunia kultivasi memang keras,” katanya. “Tapi kamu tetap saja harus bertahan, Nak.” Bertahan. Kata yang sejak kecil selalu ia dengar. Dunia tidak pernah memberinya ruang selain untuk bertahan. Malam tiba cepat. Langit dipenuhi bintang, dan udara dingin menyusup ke sela-sela pakaian Raynar. Ia sedang membersihkan ruangan penyimpanan gulungan kuno—tugas yang biasanya diberikan saat ada kesalahan, tapi hari itu ia ditugasi agar “tidak mengganggu” latihan murid lain. Raynar menyapukan debu dari satu gulungan tua dengan hati-hati. Ia tidak bisa membaca banyak tulisan kuno, tetapi ia suka berada di tempat ini. Sunyi. Tenang. Tidak ada orang yang menghina. Saat ia mendekati rak paling pojok, ia menemukan sesuatu: sebuah kotak hitam kecil, sangat tua, hampir tertutup debu dan lumut. Raynar memegangnya, mencoba membukanya, namun kotak itu tidak memiliki engsel atau kunci. Aneh. Ia menepuk permukaannya, mencoba meraba ukiran samar di permukaan. Ketika jari Raynar menyentuh bagian tengah kotak— BRUK! Kotak itu tiba-tiba bergetar dan jatuh ke lantai. Raynar tersentak, mundur dua langkah. Dan kemudian sesuatu terjadi. Sebuah cahaya merah keemasan merambat dari celah kotak, membentuk simbol aneh di udara. Simbol itu melayang, berputar, lalu jatuh tepat pada tubuh Raynar. “A—apa yang—” SYUUUT! Cahaya itu menembus kulit Raynar, menimbulkan sensasi panas mengalir ke seluruh tubuhnya. Ia terjatuh, tubuhnya seperti terbakar dari dalam. “Ngaaaah!” Glyph merah keemasan muncul di dadanya—berbentuk seperti mata naga dengan garis melingkar yang mengelilinginya. Teriakannya menggema di ruang sunyi itu. Cahaya semakin terang, membentuk semburan energi yang membuat gulungan di sekitarnya beterbangan. “BERHENTI! AKU TIDAK SANGGUP!” Namun cahaya itu tidak peduli. Seolah memiliki kehendaknya sendiri… Dan ia memilih Raynar. Dalam benaknya, suara berat terdengar. “Pewaris… akhirnya ditemukan.” Raynar membeku. Suara itu bukan suara manusia. Bukan suara yang pernah ia dengar. Itu suara makhluk kuno—suara yang bergema dari kedalaman bumi dan ujung langit. “Warisan Dewa Naga… akan bangkit kembali.” Tubuh Raynar seperti diremukkan dari dalam. Rasa sakitnya begitu hebat hingga ia merasa jantungnya pecah. Glyph di dadanya menyala semakin terang, membuat bayangan naga purba muncul di belakangnya, melingkari tubuhnya. Gulungan kuno jatuh, rak-rak bergetar, dan lantai retak sedikit demi sedikit. Raynar memegang dadanya kuat-kuat. “Kenapa aku? Aku bukan siapa-siapa…” Namun suara itu menjawab dengan lantang. “Karena darahmu… tidak pernah benar-benar hilang.” Dan seketika itu juga, cahaya membuncah. Raynar pingsan. Beberapa saat kemudian… Suara langkah mendekat. Suara robekan udara. Suara seruan panik. “APA YANG TERJADI DI SINI?!” Raynar merasakan tubuhnya ditarik seseorang. Ruangan itu hancur sebagian, dan cahaya glyph telah surut. Para tetua sekte berkerumun di sekelilingnya. “Apa itu simbol di dadanya?” “Itu… mustahil…” “Glyph naga?! Bukankah itu sudah hilang ribuan tahun?” “Jadi anak ini… memiliki warisan kuno?” Raynar membuka mata perlahan, pandangannya kabur. Yang bisa ia lihat hanyalah wajah-wajah tetua yang kini tidak lagi memandangnya dengan jijik… melainkan ketamakan. “Bawa dia ke aula utama!” perintah salah satu tetua dengan suara tegang. “Tetap hidupkan dia! Jangan sampai mati!” Raynar tidak mengerti apa-apa. Tubuhnya masih lemah, dan ia hanya bisa bertanya dengan suara serak: “A-apa yang terjadi… denganku?” Tetua itu menatapnya lekat-lekat. “Apa yang terjadi? Kau… adalah kunci yang sekte ini cari selama berabad-abad.” Raynar menelan ludah. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia bukan lagi bayangan. Dan nalurinya mengatakan— itu tidak berarti ia akan aman. Tidak berarti ia akan dihargai. Karena di mata mereka… Raynar bukan manusia. Ia adalah harta. Senjata. Warisan Dewa Naga yang Terlupakan. Dan hidupnya… baru saja berubah menjadi neraka.Angin panas berdesir rendah di Tanah Terlupakan, membawa butiran abu yang beterbangan seperti salju hitam. Langit merah tak bergerak, seolah waktu sendiri enggan mengalir di tempat ini.Penjaga Makam Api berdiri tegak, pedang hitamnya mengarah lurus ke Raynar. Aura yang terpancar darinya bukan seperti makhluk Jurang—tidak busuk, tidak liar—melainkan dingin dan tajam, seperti tekad yang telah ditempa selama ribuan tahun.Raynar menelan ludah.Ia bisa merasakan tekanan yang luar biasa. Bukan tekanan fisik semata, melainkan tekanan jiwa—seolah setiap keraguan, setiap ketakutan dalam dirinya ditarik ke permukaan tanpa ampun.“Jika kau ingin warisan itu,” ulang Penjaga Makam Api dengan suara parau, “kau harus membuktikan bahwa kau layak memikulnya.”Raynar menurunkan kuda-kudanya. Api emas samar menyelimuti lengannya, namun ia menahan dorongan untuk melepaskannya.“Apa yang harus kulakukan?” tanya Raynar.Penjaga itu tidak menjawab.Ia melangkah maju.Dalam sekejap, dunia terasa menyempit.
Langit di atas Gunung Thevrion berwarna kelabu pucat, seolah matahari sendiri ragu untuk menyinari tanah yang baru saja disentuh Jurang. Kabut hitam telah lenyap, namun bekasnya tertinggal—tanah menghitam, bangunan runtuh, dan aura dingin yang belum sepenuhnya menguap.Raynar berdiri di tepi pelataran sekte.Di bawah sana, murid-murid membersihkan puing dalam diam. Tidak ada tangisan, tidak ada teriakan. Hanya kelelahan dan kesadaran pahit bahwa dunia mereka tidak lagi aman.Ia mengepalkan tangan.Glyph di dadanya berdenyut pelan, seolah merespons setiap penderitaan di sekitarnya.“Semalam… tiga puluh dua murid terluka parah. Lima tidak selamat.”Suara Tetua Bara terdengar di belakangnya.Raynar tidak menoleh. “Aku tahu.”Ia merasakan mereka pergi—benang-benang kehidupan yang putus di tengah malam, ditelan kegelapan sebelum sempat berteriak.Tetua Bara berdiri di sampingnya, wajah tua itu tampak lebih tua dari biasanya. “Makhluk Jurang tidak akan berhenti. Setelah mereka menemukan jej
Api emas yang tersisa perlahan memudar di udara, menyisakan bau hangus dan keheningan yang terasa tidak wajar. Aula utama sekte Thevrion dipenuhi retakan, puing-puing batu, dan wajah-wajah murid yang membeku antara lega dan ketakutan.Raynar masih berdiri di tengah aula.Napasnya berat. Setiap tarikan terasa seperti menghirup bara hangat. Glyph di dadanya tidak lagi meledak-ledak, namun berdenyut pelan—teratur—seperti jantung naga yang sedang tidur dengan satu mata terbuka.Keheningan itu pecah oleh suara gemuruh jauh di luar tembok sekte.Makhluk-makhluk kegelapan belum pergi.“Mereka mundur,” gumam salah satu tetua, menatap ke luar dengan mata menyipit. “Tapi tidak kabur.”Tetua Bara mengangguk pelan. “Mereka sedang menilai.”Raynar menoleh. “Menilai… apa?”“Dirimu,” jawab Tetua Bara tanpa ragu.Kata itu menghantam Raynar lebih keras dari serangan makhluk mana pun. Ia mengepalkan tangan, merasakan panas samar mengalir di bawah kulitnya.Linara berdiri di sisinya. Meski wajahnya masi
Cahaya glyph di dada Raynar semakin terang, berdenyut seperti jantung kedua yang baru saja terbangun. Setiap denyutannya memancarkan gelombang panas yang membuat udara di sekitarnya bergetar. Bayangan naga di belakangnya semakin jelas—sisik emas samar, mata tajam seperti bintang yang terjaga dari tidur panjang. Raynar terhuyung. Ia jatuh berlutut, telapak tangannya menghantam lantai batu aula. Retakan halus menjalar di bawah sentuhannya, seolah batu itu tak sanggup menahan tekanan energi purba yang keluar dari tubuhnya. “Agh…!” Raynar menggertakkan gigi. Tubuhnya terasa seperti hendak terbelah dua. Suara itu kembali terdengar—kali ini tidak lagi seperti bisikan jauh. Melainkan… tepat di dalam kepalanya. “Jangan menahan api itu.” Raynar terengah. “Kau… kau lagi…” “Aku selalu di sini. Darahmu adalah pintu. Dan kini pintu itu telah terbuka.” Ledakan lain terdengar dari luar aula. Jeritan murid sekte bercampur dengan raungan makhluk kegelapan. Tanah berguncang hebat—sebua
Malam turun seperti tirai hitam yang menelan seluruh gunung Thevrion. Tidak biasanya angin berhenti bergerak, seolah semua alam menahan napas. Langit begitu gelap hingga lentera-lentera sekte tampak seperti titik cahaya rapuh yang bergetar di tengah kekosongan. Raynar berjalan pelan keluar dari ruang penyembuhan. Tubuhnya masih terasa lemah, tapi pikirannya resah. Suara gema—halus seperti bisikan angin—bergetar di benaknya sejak bangun. “Pewarisku… Kegelapan telah mencium jejakmu.” Ia menggigil. Suara itu bukan suara manusia, bukan pula suara dari dalam dirinya. Itu… suara naga itu lagi. Ketika Raynar menatap ke kejauhan, ia melihat kabut hitam tipis mulai turun dari puncak hutan di bawah gunung. Kabut itu bukan kabut biasa. Terasa berat. Pekat. Seolah memiliki kehendak sendiri. Dan dari kejauhan terdengar sesuatu— suara gesekan yang tidak seharusnya dimiliki makhluk hidup. Sek-sek-sek… Raynar merinding. “Raynar!” Ia menoleh cepat. Linara berlari menghampirinya, napasnya me
Suasana lembap menyelimuti kamar kecil tempat Raynar tinggal. Dinding kayu yang mulai rapuh itu belum pernah terasa sedingin malam itu. Api lampu minyak menari kecil, seolah takut padam, sementara Raynar duduk di lantai, kedua tangannya menggenggam lutut, napasnya pendek—penuh tekanan yang bukan berasal dari tubuhnya sendiri. Glyph naga itu kembali berdenyut. Cahaya keperakan muncul dari balik kulitnya, merayap seperti sulur hidup hingga ke lengan dan dada. Setiap denyutan seperti memukul jantungnya dari dalam, membuatnya terhuyung, menahan teriakan. “A—ahh… tidak lagi… tolong berhenti…” desis Raynar, menekan dadanya. Tetapi glyph itu tidak peduli pada permintaannya. Ia hidup. Ia bergerak. Ia memilih. Dan ia memilih dirinya. Raynar merasakan energi asing mengalir melalui nadi, mengikis batas tubuhnya, membuat ototnya menegang dan tulangnya seolah retak oleh sesuatu yang tak terlihat. Bayangan suara—gema asing—tiba-tiba mengalun di benaknya. “Pewarisku…” Raynar terhenti. Tub







