Home / Fantasi / Warisan Dewa Naga Yang Terlupakan / BAB 2 - Mata Yang Mengawasi Warisan

Share

BAB 2 - Mata Yang Mengawasi Warisan

Author: Alorastory
last update Last Updated: 2025-12-08 23:27:56

Suara pintu besar yang terbuka paksa membuat seluruh aula utama Sekte Serakan Cahaya dipenuhi gaung berat. Cahaya lentera bergoyang-goyang, seolah ikut menggigil melihat apa yang dibawa masuk oleh para tetua malam itu.

Raynar.

Tubuhnya masih melemah, pakaian lusuhnya sobek di beberapa bagian, dan napasnya pendek seperti baru ditarik paksa dari kematian. Dua tetua memapahnya menuju pusat aula, tepat di depan altar batu tempat biasanya para murid bersumpah setia pada sekte.

Kini, altar itu terasa seperti panggung eksekusi.

Aula dipenuhi puluhan orang: murid tingkat tinggi, penatua, penjaga sekte, bahkan beberapa tamu terhormat yang biasa tinggal di paviliun atas. Semua mata tertuju padanya—mata yang tidak lagi berisi penghinaan… melainkan ketakutan, keserakahan, dan hasrat.

Tetua Rengard, lelaki tua dengan janggut putih panjang dan mata tajam seperti elang, melangkah maju. Ia adalah tetua tertinggi kedua di sekte, terkenal karena keras dan ambisius.

“Letakkan pemuda itu.”

Raynar dibaringkan di atas altar. Batu dingin menyentuh punggungnya, membuat ia mengerang pelan.

Rengard menunduk memeriksa simbol di dada Raynar yang masih memancarkan cahaya tipis merah keemasan. Cahaya itu bergerak seperti denyut jantung, seolah glyph itu hidup.

Seseorang berbisik dari sisi ruangan, “Tidak salah lagi… itu glyph naga. Simbol warisan tertinggi!”

Yang lain menimpali dengan suara bergetar, “Tapi bagaimana mungkin anak pesuruh ini…?”

Raynar mencoba bangkit, tetapi tangannya lemas. Ia hanya mampu menggerakkan mulutnya.

“Kenapa… semua orang menatapku seperti ini…?”

Rengard menatapnya, tatapannya tajam, penuh campuran rasa ingin tahu dan kekhawatiran. “Karena kau membawa sesuatu yang seharusnya tidak mungkin lagi ada di dunia ini.”

Ia menunjuk dada Raynar.

“Itu… adalah Warisan Dewa Naga.”

Aula menjadi hening.

Raynar mengerutkan kening, bingung. “Tapi aku… aku tidak—”

“Diam,” potong salah satu tetua lain. “Selain itu, kau tidak perlu mengerti. Yang penting sekarang adalah bagaimana kita memanfaatkan—“

Namun tetua Rengard mengangkat tangan, menghentikannya. “Jangan terlalu cepat membicarakan hal seperti itu.”

Ia kembali menatap Raynar.

“Aku tidak tahu bagaimana warisan sebesar itu memilih tubuhmu. Tapi satu hal pasti: mulai malam ini, hidupmu tidak akan sama.”

Tetua lain, seorang wanita bernama Penatua Shaela, maju dengan pandangan tajam penuh kekhawatiran.

“Kita tidak boleh gegabah. Warisan ini… bukan hanya rahmat. Ini kutukan. Sekte-sekte besar akan menghancurkan kita jika tahu kita menyembunyikan pewaris naga.”

Ketika kata sekte besar disebut, seluruh ruangan bergetar dengan kecemasan.

Azure Sky Sect.

Bloodshade Temple.

Imperial Dragon Palace.

Tiga kekuatan raksasa yang bisa menghancurkan sekte kecil seperti mereka dalam satu malam.

Tetua Shaela menatap Raynar penuh empati, berbeda dengan yang lain. “Anak ini… bisa menjadi alasan perang besar berikutnya.”

Raynar tersentak. Perang? Karena dirinya?

Aku hanya seorang pesuruh… kenapa semua ini terjadi?

Diskusi para tetua semakin memanas.

“Rebut kekuatannya!”

“Gunakan dia sebagai senjata!”

“Tidak! Kita harus mengamankannya! Kalau sampai bocor, semua akan datang memburu kita!”

“Kita harus mengirimkannya diam-diam ke tempat terisolasi!”

“Jangan bodoh! Jika kita kehilangan dia, kita kehilangan kesempatan emas!”

Raynar mendengarkan semua itu dengan tubuh gemetar.

Mereka tidak membicarakan dirinya sebagai manusia. Tidak satu pun.

Di mata mereka, ia hanyalah benda.

Seorang tetua dengan jubah hitam melangkah mendekat. Mata hitamnya memancarkan cahaya aneh. “Biarkan aku memeriksa lebih dekat. Mungkin aku bisa mengeluarkan warisan itu dari tubuhnya.”

Shaela langsung memblokirnya. “TIDAK. Jika Anda salah langkah, anak ini bisa mati!”

“Kalau dia mati, kita tidak kehilangan apa-apa,” jawab tetua jubah hitam dingin. “Warisan itu akan kembali tidur untuk beberapa abad. Kita masih bisa—"

“Tidak.” Shaela menatap tajam. “Warisan itu memilih. Jika pewaris mati, kekuatan naga tidak akan muncul selama ribuan tahun. Kita akan kehilangan kesempatan selamanya.”

Raynar terperangah.

Pewaris? Aku?

Ia mencoba membuka mulut, ingin berteriak bahwa mereka semua salah orang. Bahwa ia tidak mungkin menjadi pewaris apa pun. Tapi lidahnya kaku.

Bukan hanya karena ketakutan…

tapi karena suara itu kembali terdengar di dalam kepalanya.

“Tenanglah, pewaris…”

Raynar membeku.

Suara itu lagi.

Napasnya tercekat saat bayangan besar muncul di benaknya: sosok naga raksasa dengan sisik merah keemasan dan mata menyala seperti matahari. Suara itu bukan gema… itu langsung menyentuh inti jiwanya.

“Warisan ini… bukan untuk mereka.”

Raynar memeluk dadanya. “Pergi… pergilah dari kepalaku…”

Tetua Rengard mendekat. “Apa yang terjadi? Simbol itu berdenyut lebih kuat—”

BRUUUMMM!

Glyph naga menyala terang, menerangi seluruh aula. Angin berputar kencang, membuat lentera terjatuh dan jubah para tetua terangkat.

Semua orang mundur beberapa langkah.

“GLYPH ITU AKTIF SENDIRI!”

Salah satu murid berteriak ketakutan.

Rengard mengangkat tangan. “Kalian semua! Mundur!”

Raynar merasa tubuhnya melayang sedikit dari altar. Suara naga itu kembali bergema.

“Mulai detik ini, kau tidak lagi hidup sebagai bayangan. Tidak lagi sebagai sampah.”

“Kekuatan naga… telah menandaimu.”

Raynar menutup mata.

Tidak… aku tidak menginginkan ini… aku hanya ingin hidup biasa…

Tapi suara itu tidak memberi ruang untuk penolakan.

“Takdir berjalan. Dan kau harus berjalan di atasnya.”

Cahaya glyph mereda perlahan.

Raynar jatuh kembali ke altar, batuk keras.

Aula menjadi sunyi.

Para tetua saling pandang, wajah mereka berubah—sebagian ketakutan, sebagian terpesona, sebagian dipenuhi ambisi.

Tetua Rengard menarik napas panjang. “Mulai hari ini… pemuda ini tidak boleh keluar dari sekte. Tidak boleh terlihat oleh siapapun.”

Shaela langsung menimpali, “Dan tidak boleh diperlakukan sebagai pesuruh lagi. Dia harus dijaga. Jika kekuatan itu bangkit tanpa kendali, bukan hanya sekte kita… seluruh lembah akan hancur.”

Rengard menatap Raynar. “Mulai malam ini, kau tinggal di Paviliun Dalam.”

Raynar menggeleng lemah. “Aku tidak… aku tidak ingin pindah… aku tidak ingin semua ini…”

Tetua Rengard memaksanya duduk dengan kasar. “Ini bukan tentang apa yang kau inginkan! Ini tentang apa yang telah kau bawa! Warisan naga bukan mainan. Jika salah langkah, dunia bisa terguncang!”

Raynar terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia merasa takut pada dirinya sendiri.

Beberapa jam kemudian, ketika aula telah kosong dan hanya penjaga tersisa, Raynar dibawa menuju Paviliun Dalam—tempat khusus untuk murid pilihan dan kandidat inti sekte.

Langkahnya gemetar, bukan karena lelah, tapi karena ketakutan yang merambat di dadanya.

Di tengah jalan, tetua Shaela berjalan mendampinginya.

“Raynar,” katanya dengan suara lembut namun tegas. “Aku tahu ini terlalu besar untukmu. Tapi kau harus ingat: kau tidak boleh mempercayai semua orang di sekte ini.”

Raynar mengangkat kepalanya perlahan. “Kenapa…? Bukankah mereka ingin melindungi warisan ini?”

Shaela tersenyum tipis, pahit. “Beberapa ingin melindungi… tapi lebih banyak yang ingin memanfaatkan. Kekuatan sebesar ini… bisa membuat seseorang lupa bahwa manusia memiliki hati.”

Raynar menunduk. Ia sudah melihat itu di mata tetua-tetua tadi.

“Kalau begitu… apa yang harus aku lakukan?”

Shaela berhenti, menatapnya dengan mata sedih namun tegas.

“Bertahan hidup.”

Ia menyentuh bahu Raynar.

“Mulai sekarang, kau bukan hanya pesuruh. Kau adalah pewaris naga. Itu berarti dunia akan mencarimu. Memburumu. Menghancurkanmu… atau memujamu.”

Raynar mengepalkan tangan, berusaha menahan gemetar.

“Kenapa aku…? Kenapa bukan orang lain…? Aku tidak punya bakat, tidak punya akar spirit…”

Shaela tersenyum lembut. “Warisan tidak memilih berdasar bakat. Ia memilih berdasar takdir.”

Raynar menelan ludah.

Takdir…

Kata yang selalu ingin ia hindari.

Shaela kemudian berbisik pelan, hampir tak terdengar.

“Raynar… apa pun yang terjadi setelah ini… jangan biarkan siapa pun merenggut dirimu.”

Raynar terdiam.

Ia tidak tahu apa yang menunggunya.

Tapi satu hal pasti—

malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya…

Ia merasa diawasi.

Bukan oleh manusia.

Bukan oleh tetua.

Melainkan oleh sesuatu yang jauh lebih besar…

…sebuah mata naga kuno yang melihat jauh ke dalam jiwanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Warisan Dewa Naga Yang Terlupakan   BAB 9 - Ujian Makam Api

    Angin panas berdesir rendah di Tanah Terlupakan, membawa butiran abu yang beterbangan seperti salju hitam. Langit merah tak bergerak, seolah waktu sendiri enggan mengalir di tempat ini.Penjaga Makam Api berdiri tegak, pedang hitamnya mengarah lurus ke Raynar. Aura yang terpancar darinya bukan seperti makhluk Jurang—tidak busuk, tidak liar—melainkan dingin dan tajam, seperti tekad yang telah ditempa selama ribuan tahun.Raynar menelan ludah.Ia bisa merasakan tekanan yang luar biasa. Bukan tekanan fisik semata, melainkan tekanan jiwa—seolah setiap keraguan, setiap ketakutan dalam dirinya ditarik ke permukaan tanpa ampun.“Jika kau ingin warisan itu,” ulang Penjaga Makam Api dengan suara parau, “kau harus membuktikan bahwa kau layak memikulnya.”Raynar menurunkan kuda-kudanya. Api emas samar menyelimuti lengannya, namun ia menahan dorongan untuk melepaskannya.“Apa yang harus kulakukan?” tanya Raynar.Penjaga itu tidak menjawab.Ia melangkah maju.Dalam sekejap, dunia terasa menyempit.

  • Warisan Dewa Naga Yang Terlupakan   BAB 8 - Jalan Pengasingan Sang Pewaris

    Langit di atas Gunung Thevrion berwarna kelabu pucat, seolah matahari sendiri ragu untuk menyinari tanah yang baru saja disentuh Jurang. Kabut hitam telah lenyap, namun bekasnya tertinggal—tanah menghitam, bangunan runtuh, dan aura dingin yang belum sepenuhnya menguap.Raynar berdiri di tepi pelataran sekte.Di bawah sana, murid-murid membersihkan puing dalam diam. Tidak ada tangisan, tidak ada teriakan. Hanya kelelahan dan kesadaran pahit bahwa dunia mereka tidak lagi aman.Ia mengepalkan tangan.Glyph di dadanya berdenyut pelan, seolah merespons setiap penderitaan di sekitarnya.“Semalam… tiga puluh dua murid terluka parah. Lima tidak selamat.”Suara Tetua Bara terdengar di belakangnya.Raynar tidak menoleh. “Aku tahu.”Ia merasakan mereka pergi—benang-benang kehidupan yang putus di tengah malam, ditelan kegelapan sebelum sempat berteriak.Tetua Bara berdiri di sampingnya, wajah tua itu tampak lebih tua dari biasanya. “Makhluk Jurang tidak akan berhenti. Setelah mereka menemukan jej

  • Warisan Dewa Naga Yang Terlupakan   BAB 7 - Bisikan Dari Jurang Kegelapan

    Api emas yang tersisa perlahan memudar di udara, menyisakan bau hangus dan keheningan yang terasa tidak wajar. Aula utama sekte Thevrion dipenuhi retakan, puing-puing batu, dan wajah-wajah murid yang membeku antara lega dan ketakutan.Raynar masih berdiri di tengah aula.Napasnya berat. Setiap tarikan terasa seperti menghirup bara hangat. Glyph di dadanya tidak lagi meledak-ledak, namun berdenyut pelan—teratur—seperti jantung naga yang sedang tidur dengan satu mata terbuka.Keheningan itu pecah oleh suara gemuruh jauh di luar tembok sekte.Makhluk-makhluk kegelapan belum pergi.“Mereka mundur,” gumam salah satu tetua, menatap ke luar dengan mata menyipit. “Tapi tidak kabur.”Tetua Bara mengangguk pelan. “Mereka sedang menilai.”Raynar menoleh. “Menilai… apa?”“Dirimu,” jawab Tetua Bara tanpa ragu.Kata itu menghantam Raynar lebih keras dari serangan makhluk mana pun. Ia mengepalkan tangan, merasakan panas samar mengalir di bawah kulitnya.Linara berdiri di sisinya. Meski wajahnya masi

  • Warisan Dewa Naga Yang Terlupakan   BAB 6 - Api Yang Terbangun Dalam Darah

    Cahaya glyph di dada Raynar semakin terang, berdenyut seperti jantung kedua yang baru saja terbangun. Setiap denyutannya memancarkan gelombang panas yang membuat udara di sekitarnya bergetar. Bayangan naga di belakangnya semakin jelas—sisik emas samar, mata tajam seperti bintang yang terjaga dari tidur panjang. Raynar terhuyung. Ia jatuh berlutut, telapak tangannya menghantam lantai batu aula. Retakan halus menjalar di bawah sentuhannya, seolah batu itu tak sanggup menahan tekanan energi purba yang keluar dari tubuhnya. “Agh…!” Raynar menggertakkan gigi. Tubuhnya terasa seperti hendak terbelah dua. Suara itu kembali terdengar—kali ini tidak lagi seperti bisikan jauh. Melainkan… tepat di dalam kepalanya. “Jangan menahan api itu.” Raynar terengah. “Kau… kau lagi…” “Aku selalu di sini. Darahmu adalah pintu. Dan kini pintu itu telah terbuka.” Ledakan lain terdengar dari luar aula. Jeritan murid sekte bercampur dengan raungan makhluk kegelapan. Tanah berguncang hebat—sebua

  • Warisan Dewa Naga Yang Terlupakan   BAB 5 - Bayangan Yang Mengintai Darah Nagaku

    Malam turun seperti tirai hitam yang menelan seluruh gunung Thevrion. Tidak biasanya angin berhenti bergerak, seolah semua alam menahan napas. Langit begitu gelap hingga lentera-lentera sekte tampak seperti titik cahaya rapuh yang bergetar di tengah kekosongan. Raynar berjalan pelan keluar dari ruang penyembuhan. Tubuhnya masih terasa lemah, tapi pikirannya resah. Suara gema—halus seperti bisikan angin—bergetar di benaknya sejak bangun. “Pewarisku… Kegelapan telah mencium jejakmu.” Ia menggigil. Suara itu bukan suara manusia, bukan pula suara dari dalam dirinya. Itu… suara naga itu lagi. Ketika Raynar menatap ke kejauhan, ia melihat kabut hitam tipis mulai turun dari puncak hutan di bawah gunung. Kabut itu bukan kabut biasa. Terasa berat. Pekat. Seolah memiliki kehendak sendiri. Dan dari kejauhan terdengar sesuatu— suara gesekan yang tidak seharusnya dimiliki makhluk hidup. Sek-sek-sek… Raynar merinding. “Raynar!” Ia menoleh cepat. Linara berlari menghampirinya, napasnya me

  • Warisan Dewa Naga Yang Terlupakan   BAB 4 - Saat Langit Bergetar Memanggil Namaku

    Suasana lembap menyelimuti kamar kecil tempat Raynar tinggal. Dinding kayu yang mulai rapuh itu belum pernah terasa sedingin malam itu. Api lampu minyak menari kecil, seolah takut padam, sementara Raynar duduk di lantai, kedua tangannya menggenggam lutut, napasnya pendek—penuh tekanan yang bukan berasal dari tubuhnya sendiri. Glyph naga itu kembali berdenyut. Cahaya keperakan muncul dari balik kulitnya, merayap seperti sulur hidup hingga ke lengan dan dada. Setiap denyutan seperti memukul jantungnya dari dalam, membuatnya terhuyung, menahan teriakan. “A—ahh… tidak lagi… tolong berhenti…” desis Raynar, menekan dadanya. Tetapi glyph itu tidak peduli pada permintaannya. Ia hidup. Ia bergerak. Ia memilih. Dan ia memilih dirinya. Raynar merasakan energi asing mengalir melalui nadi, mengikis batas tubuhnya, membuat ototnya menegang dan tulangnya seolah retak oleh sesuatu yang tak terlihat. Bayangan suara—gema asing—tiba-tiba mengalun di benaknya. “Pewarisku…” Raynar terhenti. Tub

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status