LOGINDonny memandang ke arah yang ditunjuk Wabil, lalu melihat Arlo yang berdiri di belakang Keluarga Hanafi.Saat itu, Arlo tampak tersenyum tipis. Donny langsung merasa tekanan darahnya melonjak dan seluruh tubuhnya seperti mati rasa!Di kepalanya hanya ada satu pikiran, sebenarnya seberapa bodoh Wabil ini? Kenapa mencari masalah dengan bos besar?Di sisi lain, Wabil masih dengan wajah penuh kemenangan, terus mengoceh tanpa henti, "Kak Donny, kalau orang seberani ini nggak diberi pelajaran, ke depannya kita mau gimana mempertahankan wibawa?""Menurutku, sekalian saja tangkap mereka sekeluarga. Yang laki-laki patahkan kakinya, yang perempuan ... hehehe ... dimainkan saja ...."Sambil berbicara, tangan Wabil membuat gerakan meremas-remas. Ekspresinya pun mesum setengah mati.Dia sama sekali tidak menyadari bahwa saat itu mata Donny sudah memerah dan amarahnya hampir meledak.Daniel yang mendengar Wabil masih berani berbicara begitu langsung murka. "Donny, anak buahmu ini sudah keterlaluan!
Wabil bergegas ke samping untuk menelepon. Sambil berbicara, dia melirik ke arah Arlo dengan wajah penuh kebencian.Sementara itu, orang-orang lainnya mengepung Keluarga Hanafi dari kejauhan, seolah-olah takut mereka kabur.Keluarga Hanafi diliputi kecemasan. Renata sampai ingin menangis. Bahkan Daniel yang sudah maju pun tidak ada gunanya, lantas Arlo mau pamer apa?Renata tak tahan lagi dan memarahi Arlo, "Berani sekali kamu main tangan sama orang! Kamu mau mencelakakan Keluarga Hanafi atau gimana sih?"Wajah Isyana mendingin. Kilatan canggung melintas di matanya. Walaupun itu ibunya sendiri, sikap lempar tanggung jawab seperti ini benar-benar keterlaluan sampai dia tak bisa menahannya."Ibu, masalah ini terjadi gara-gara Ibu. Kalau Ibu nggak pinjam uang lintah darat, apa mereka akan datang cari gara-gara? Apa salah Arlo?"Renata membalas dengan lantang, "Aku pinjam uang lintah darat, apa sama dengan dia mukulin lintah darat? Mana bisa disamain!"Hilman dan Mahira justru tampak sedik
Mahira meluapkan semua amarahnya pada sang kakak. "Lapor polisi? Lihat saja sikap mereka yang begitu pongah. Memangnya mereka takut polisi? Semua ini gara-gara ulahmu yang ceroboh, sampai menyeret keponakanku juga!"Mahira mendorong kakaknya keras-keras, lalu berteriak, "Sudah! Jangan pukul lagi! Jangan pukul lagi! Nanti bisa mati!"Wabil melambaikan tangan dengan pongah. Anak buahnya pun menghentikan pemukulan sepihak terhadap Daniel.Dia berjalan ke depan Daniel, lalu meludahi wajahnya. "Masih mau sok jago nggak?"Dengan wajah bengkak dan lebam, Daniel menatap Wabil dengan penuh kebencian. "Kamu bakal nyesal!"Wabil langsung mengangkat kaki dan menendang. "Masih ngeyel ya? Belum kapok ya?"Baru setelah Daniel terguling-guling sambil merangkak, Wabil merasa puas. Kemudian, dia menoleh ke arah Keluarga Hanafi. "Kalian hebat juga! Cari bantuan ya? Kalau begitu, hari ini juga kalian harus bayar lunas utang kalian.""Pokok plus bunga, 50 miliar! Kurang satu sen saja, jangan harap Keluarga
Alis Arlo semakin berkerut. Dia sudah bersiap turun tangan dan menghajar beberapa bajingan itu sampai mati.Namun, Daniel yang berdiri di sampingnya justru menabrak Arlo dengan wajah penuh penghinaan. "Dasar pecundang tak berguna. Baru preman kelas teri saja sudah bikin kamu ketakutan sampai nggak berani buka mulut.""Keluarga Isyana masih bisa mengandalkanmu? Kalau nggak berani bicara, minggir saja. Biar aku yang maju!"Di samping, Hilman dan Mahira semula hendak berbicara. Melihat Daniel maju, mereka langsung menelan kembali kata-kata mereka."Paman, Bibi, jangan khawatir. Ada aku!" Daniel menunjukkan punggung yang menurutnya gagah untuk Keluarga Hanafi. "Bunganya terus bertambah? Sudah minta izinku belum?"Wabil mencibir, menatap Daniel dari atas ke bawah. "Kamu siapa?"Daniel mendengus dengan dingin, menyalakan sebatang rokok untuk dirinya sendiri, lalu berkata dengan nada pongah, "Namaku Daniel, orang Keluarga Pramono dari ibu kota provinsi!"Wabil berpikir sejenak, memastikan nam
'Mobil mewah apanya? Dibandingkan Rolls-Royce yang pernah dikendarai Kak Arlo sebelumnya, ini mah cuma rongsokan!'Namun, demi menjaga harga diri sepupunya, Mutia tetap menanggapi asal-asalan, "Ya, lumayanlah."Daniel langsung bengong. Ada apa ini sebenarnya?Isyana tidak memberinya kesempatan untuk pamer mobil mewah saja sudah cukup menyebalkan. Seharusnya Mutia bersemangat, bertanya ini itu, jadi dia bisa pamer dengan mulus. Kenapa semuanya tidak berjalan sesuai skenario?Dengan penuh rasa kesal, Daniel mengemudikan mobil sampai ke rumah Keluarga Hanafi. Begitu mereka turun dari mobil, tiba-tiba sekelompok orang bermunculan dari segala arah dan mengepung mereka di tengah.Yang memimpin adalah seorang pemuda berandal dengan wajah penuh kesombongan. Tingginya sekitar 1,75 meter, mengenakan pakaian bermerek dari ujung kepala sampai kaki, memakai anting di telinga. Dia menatap orang-orang yang terkepung dengan senyuman mengejek.Alis Arlo sedikit berkerut. Selain pemuda di depan, sisanya
Arlo tersenyum kecut dan berkata, "Bukan masalah besar, aku bisa mengatasinya."Mutia menggeleng dengan keras kepala. "Nggak, Kak Arlo. Masalah ini terjadi karena aku. Kalau bukan karena aku, semua ini nggak akan terjadi."Setelah berkata begitu, dia menoleh dan bersikap manja sambil berpura-pura memelas kepada orang tuanya dan sepupunya. "Ayah, Ibu, Kak Daniel .... Kak Arlo benar-benar terpaksa melakukannya demi menolongku. Apa kalian ingin aku diculik oleh Daiyan si mesum itu?"Daniel memaki dalam hati. Kalau yang dipukul hanya anak buah Omran, dia sama sekali tidak takut. Masalahnya, yang dipukul itu adalah anak Omran sendiri!Kalau sudah begini, bahkan membawa-bawa nama Rayanza pun belum tentu ada gunanya. Apalagi dia sama sekali tidak punya kemampuan untuk menggerakkan tokoh besar selevel Rayanza. Hubungannya dengan Fellis pun sebatas kerja sama bisnis biasa, sama sekali bukan hubungan pribadi.Meskipun hatinya gelisah, kata-kata yang keluar dari mulut Daniel terdengar sangat berb







