เข้าสู่ระบบDi setiap arah di sekeliling tubuh Arlo, terhalang oleh satu bayangan hitam. Bahkan tepat di atas kepalanya, ada sosok berbaju zirah ninja hitam yang berputar mengitari."Prajurit!" Sora kembali melontarkan satu kata.Tiga belas belati pendek berwarna hitam, secara bersamaan menusuk ke arah Arlo. Belum sempat bilah itu menyentuh tubuhnya, bau menyengat sudah menerpa wajah. Jelas, belati itu telah dilumuri racun mematikan.Arlo menatap cahaya kehijauan yang memancar dari bilah hitam itu, lalu melihat gerakan aneh para ninja tersebut. Timbul sedikit rasa penasaran.Dia melepaskan energi sejatinya ke luar tubuh, membentuk pelindung energi di sekelilingnya. Jimat pelindung juga membentuk satu lapisan perisai tambahan.Dia membiarkan belati-belati ninja itu menghantam, lalu menemukan sesuatu yang menarik. Racun pada belati itu ternyata mampu mengikis pelindung energi sejatinya!Racun semacam ini, bahkan seorang grandmaster tenaga transformasi sekalipun jika lengah, pasti akan terkena! Metod
Dia hanya bisa berkata, yang terlalu keras pasti akan mudah patah! Orang seperti Arlo, kalau ingin membalas dendam, tidak akan menunggu terlalu lama!"Pergilah!" Lasya menunjuk ke arah pintu utama.Nathan kembali terdiam, lalu berbalik hendak pergi.Saat itu, terdengar suara gaduh dari pintu depan vila. Ketiganya menoleh ke arah gerbang halaman kecil vila. Terlihat seorang pria muda, dengan satu tangan mencekik seorang pengawal penjaga pintu. Dengan sekali lempar, pengawal itu seperti boneka kain rusak, terlempar ke taman bunga.Di tangan satunya lagi, dia mencengkeram seorang wanita yang terus meronta, berjalan menuju pintu vila.Belum sempat dia masuk, wanita di tangannya sudah lebih dulu terlempar ke dalam, menghantam meja makan di ruang tamu, lalu terguling jatuh ke lantai.Barulah Lasya melihat jelas, yang dilempar Arlo seperti sampah itu adalah Welly. Welly terjatuh hingga berguling-guling, entah berapa tulang yang patah.Sambil memuntahkan darah, dia bergumam menyebut Arlo gila.
Di ibu kota provinsi, di vila tempat Lasya tinggal seorang diri.Jazuri duduk di sofa dengan wajah kosong, seperti orang yang disedot habis energinya. Dia mendengarkan Lasya berbicara di dalam ruangan dengan sekelompok orang Gorasa itu."Kalian dari Sekte Kaga dulu mendukungku. Selama bertahun-tahun ini, aku juga sudah memberi kalian imbalan yang cukup!""Ayah dan kakakku masih berada di posisi itu. Yang bisa kuberikan pada kalian akan lebih banyak lagi. Dan aku hanya punya satu permintaan, bunuh dia!""Sora, kamu nggak akan mengecewakanku, 'kan?" Suara Lasya bercampur gelisah dan cemas. Tatapannya penuh desakan saat memandang pria paruh baya di depannya yang mengenakan pakaian kendo Gorasa.Pria paruh baya itu berwajah khas orang Gorasa, dengan aura dingin dan suram. Di pinggangnya tergantung sebilah pedang, tangan kanannya terus diletakkan di gagang pedang.Mendengar perkataan Lasya, dia akhirnya membuka suara. Suaranya serak seperti pita suara yang pernah rusak, terdengar seperti be
Arlo benar-benar menyerah. Dengan perempuan galak seperti ini, memang tak ada logika yang bisa dipakai.Dia mengangguk pada Victor. "Ayah, aku pergi dulu!"Victor sungguh pusing dengan konflik antara istrinya dan Arlo.Renata sudah terbiasa menjadi "ratu", selalu ingin dibujuk dan dimanja. Seandainya saja Arlo mau mengucapkan beberapa kata lembut, tak akan sampai seperti ini.Namun, Arlo keras kepala. Victor sendiri tak tahu bagaimana harus menengahi. Hubungan Arlo dan Isyana yang tak kunjung berkembang juga selalu dia perhatikan.Saat Arlo sakit dulu, keadaan keluarga mereka masih bisa dibilang baik-baik saja. Sekarang malah menjadi seperti ini. Perasaan Victor pun sulit diungkapkan."Kau mau ke mana? Nggak nunggu Isyana sadar?" tanya Victor tak berdaya.Arlo melirik Renata, lalu menyeringai. "Aku mau pergi membunuh orang jahat dulu, baru kembali melihat Isyana. Supaya seseorang nggak merasa terganggu melihatku!"Renata semakin marah. "Omong kosong! Terus saja membual! Jangan kira aku
Arlo menatap Renata dengan dingin, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hanya dari tatapannya saja sudah terasa sindiran dan ejekan.Renata semakin marah. "Kamu ... kamu ...! Victor, lihatlah menantu kesayanganmu itu! Baru dapat sedikit uang saja sudah merasa hebat sekali! Lihat tatapannya itu! Kenapa? Mau memukul ibu mertuamu?"Victor sudah muak dengan teriakan istrinya. Dia membentak pelan, "Isyana masih sakit, sudah selesai belum? Keluar! Biarkan Arlo mengobati Isyana dulu!"Sambil berkata begitu, dia mendorong Renata keluar dari ruang rawat, lalu mengangguk pada Arlo.Arlo mengeluarkan Mycoblastusalpinus, lalu mengambil bahan obat lain yang sudah disiapkan sebelumnya oleh Leonard dan yang lain. Dia bahkan malas merebus ramuan.Dia langsung membentuk segel tangan, mengerahkan api alkimia, menggunakan api itu untuk memurnikan bahan-bahan obat, mengekstrak esensinya, hingga akhirnya membentuk sebuah pil kecil.Kemudian, dia membuka bibir merah Isyana dan memasukkan pil itu ke mulutnya.
Orang tua ini bilang akan memberinya obat spiritual, obat semi-spiritual, seolah-olah semudah membagikan permen!"Syaratnya, kelak kamu harus membantuku melakukan tiga hal. Sekarang belum bisa kuberi tahu hal apa. Aku hanya bisa bilang, kemungkinan besar itu nggak akan bertentangan dengan jalan yang akan kamu tempuh di masa depan." Husein berbicara dengan sangat samar.Arlo terdiam sejenak, lalu berkata, "Kalau begitu, kamu harus beri tahu dulu apa itu orang terpilih.""Apa itu? Nggak tahu, belum pernah dengar!" Husein menggeleng, seolah-olah tak tahu Arlo sedang mengatakan apa.Arlo terdiam lagi sesaat, lalu berkata, "Syaratmu terlalu samar, sekarang aku belum bisa menyetujuinya! Tunggu sampai kupikirkan matang-matang!""Baiklah! Kuberi satu kalimat untukmu. Hanya dengan memasuki tingkat bawaan, seseorang benar-benar melangkah ke gerbang bela diri!" Setelah berkata demikian, Husein melambaikan tangan, memberi isyarat Arlo boleh pergi.Awalnya Arlo ingin meninggalkan Mohit dan Jivano,







