เข้าสู่ระบบCahaya matahari pagi menyeka sisa-sisa embun yang masih menempel di dedaunan pinus ketika Lewi dan Lin Yan melangkah keluar dari gubuk tua. Udara dingin pegunungan menyegarkan paru-paru, membawa aroma tanah basah dan pinus yang khas. Sepasang tonfa kayu kini tergantung dengan nyaman di pinggang Lewi, terasa begitu ringan dan menyatu setelah sesi latihan intensif di halaman gubuk sebelumnya. "Kita ambil jalur bawah atau menyusuri punggung bukit?" tanya Lewi sambil melirik sekilas ke arah persimpangan jalan setapak di depan mereka. Untuk pertama kalinya, dia tidak langsung menoleh menunggu perintah atau petunjuk mutlak dari gadis di sampingnya. Lin Yan yang sedang merapikan tali pakaiannya mengangkat wajah, menatap pemuda itu sejenak dengan sorot mata menilai. "Punggung bukit terlalu terbuka. Anginnya kencang dan jalurnya memutar," jawab Lin Yan singkat. "Lewat lembah bawah saja. Kita kejar waktu sebelum matahari tepat di atas kepala." "Baiklah, lewat lembah," putus Lewi mantap, lang
Cahaya fajar menembus celah-celah dinding kayu gubuk tua, menyinari debu yang berterbangan di udara pagi. Lewi membuka matanya perlahan, mendapati ketegangan malam sebelumnya sirna tanpa jejak. Tidak ada penyusup dari luar meski mereka sudah bersikap waspada, yang ada hanya angin pagi yang menggesek dahan pohon pinus. Setelah sarapan sekadarnya dari bekal perjalanan, Lin Yan berdiri di depan pemuda itu dengan ekspresi tanpa kompromi. "Tinggalkan tonfa-nya di sudut," perintah Lin Yan singkat, menunjuk sepasang senjata kayu yang bersandar di dekat tumpukan jerami. Lewi mengerutkan keningnya, menatap ragu ke arah senjatanya lalu kepada Lin Yan. "Tanpa tonfa? Kita baru saja akan melanjutkan perjalanan, lagi pula kenapa aku harus berlatih tanpa senjata?" "Karena kau mulai bergantung pada kayu di tanganmu untuk merasa sebagai pendekar," jawab Lin Yan dingin, melangkah keluar menuju tanah lapang di depan gubuk. "Jika senjatanya lepas dari genggamanmu, apakah kau akan langsung menyerah
Senja mulai turun membawa sapuan warna jingga dan kelabu di langit barat ketika Lewi dan Lin Yan melangkah meninggalkan lapangan terbuka. Sisa-sisa keringat dan debu masih melekat di kulit Lewi, sementara otot-otot di bahu dan lengannya berdenyut ngilu akibat hantaman dalam pertarungan singkat tadi. Sepasang tonfa kayu yang baru saja diperbaiki di bengkel kota kini kembali dihiasi goresan-goresan baru yang menorehkan garis kasar di permukaannya. "Kau masih mencoba mencari jurus yang pas di tengah pertarungan tadi," Lin Yan memecah keheningan, berjalan santai di sisi kiri Lewi tanpa membuang tenaga percuma. "Saat pengguna tombak itu mendesakmu ke belakang, kepalamu sempat mencari-cari pola dari Aliran Delapan Seni, bukan?" Lewi menghela napas panjang, melirik senjatanya sendiri. "Aku memang sempat refleks ingin merangkai pola dasar yang diajarkan Paman Guo Ren tapi begitu kulakukan, gerakanku langsung patah dan aku hampir tersungkur." "Karena jurus adalah masa lalu orang lain, Lewi,
Langkah kaki yang mengikuti mereka semakin jelas terdengar di atas tanah berdebu, memantul di antara dinding-dinding batu gerbang kota yang mulai ditinggalkan. Lin Yan tidak mempercepat langkahnya, namun arah tujuannya bergeser dari jalur dagang utama menuju ke sebuah lapangan terbuka di luar kota, tempat di mana rerumputan liar tumbuh subur di bawah langit sore yang mulai memerah. "Mereka sengaja membiarkan kita keluar dari keramaian," bisik Lin Yan tanpa menoleh, suaranya tenang namun waspada. Lewi mengangguk kecil, merapatkan genggamannya pada sepasang tonfa yang baru saja diperbaiki di bengkel tadi. Aroma kayu segar bercampur bau besi tempa tercium samar di tangannya. Begitu mereka tiba di tengah lapangan terbuka yang dikelilingi pohon-pohon kerdil, Lin Yan bergeser mundur beberapa langkah, membiarkan Lewi berdiri sendiri menghadap jalur kedatangan. Tak lama kemudian, tiga orang pemuda berpenampilan praktisi muda muncul dari balik kelokan jalan tanah. Salah seorang di antaranya
Deru angin bercampur aroma rempah dan debu jalanan menyambut kedatangan Lewi dan Lin Yan begitu mereka melewati gerbang kota kecil ini. Kepadatan penduduk di pasar perdagangan ini kontras dengan kesunyian hutan tadi pagi. Di tengah hiruk-pikuk pedagang kain dan kuli panggul, Lewi meraba permukaan sepasang tonfa kayunya yang penuh dengan bekas goresan kasar dan retakan tipis akibat hantaman batu serta benturan pedang dari lawan-lawannya. "Senjata ini sudah terlalu sering disiksa," gumam Lewi sambil memperlihatkan tonfa tersebut kepada Lin Yan di sebuah sudut jalan yang agak longgar. Lin Yan melirik sekilas, lalu menunjuk ke sebuah bengkel pengrajin senjata di ujung lorong pasar. "Cari pengrajin di sana. Jangan biarkan retakannya melebar, atau tonfa itu akan patah tepat di tengah pertarungan berikutnya." Lewi mengangguk setuju. Mereka berdua segera menuju bengkel yang dimaksud, disambut oleh aroma minyak kayu dan suara ketukan alatan kerja. Seorang pria paruh baya bertubuh gempa
Lewi menyeringai kecil sembari meringis pelan saat bahu kirinya berdenyut nyeri setiap kali dia mengayunkan lengan. Sisa hantaman dari pendekar berpedang tadi pagi meninggalkan rasa ngilu yang menusuk tulang, namun dia memaksa diri untuk terus berjalan menyusuri jalan setapak di luar desa. "Jangan menahan napas setiap kali bahumu sakit," tegur Lin Yan tanpa menoleh dari jalurnya di depan. Gadis itu melangkah ringan, seolah beban pertarungan fajar tadi sama sekali tidak membekas di tubuhnya. "Itu hanya membuat Qi di dadamu tersendat." Lewi mengembuskan napas panjang, merenggangkan rahangnya untuk meredakan tegang. "Aku hanya mencoba membiasakan diri. Rasanya aneh, memang menang tapi tubuhku justru terasa seperti dihantam batu berkeping-keping." Lin Yan menghentikan langkahnya, berbalik dan mengamati postur Lewi dengan saksama. Tangannya terulur, menepuk pelan bahu kiri Lewi yang sedikit turun sebelah. "Kau menang bukan berarti teknikmu sudah matang. Lawanmu tadi memang meremehkanmu,







