LOGINDi ruang tunggu klinik, Nania tampak lebih gelisah dari siapa pun. Masalahnya, ia bukan hanya menunggu giliran Joko diperiksa dokter. Ia juga menunggu sesuatu yang sejak tadi terasa jauh lebih menguras kesabaran.
Respon dari Ray.
Ponsel di tangannya kembali ia periksa. Beberapa pesan sudah ia kirimkan sejak di perjalanan menuju Klinik.
‘Ray, aku butuh kamu. Cepat hubungi aku.’
Belum dibaca oleh Ray.
Nania menatap tulisan di kolom terakhir cukup lama sebelum mengunci layar.
Ia ingin menelepon lagi. Sangat ingin.
Namun, pikirnya, lebih baik menahan diri. Mungkin Ray sedang sibuk. Mungkin ponselnya tertinggal. Mungkin ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa menjawab.
Tanpa sadar ia malah berusaha mencari alasan untuk suaminya.
"Nania."
Suara Adam membuyarkan pikirannya.
"Sudah giliran Joko diperiksa."
Nania segera bangkit dan menemani Joko ke ruang pemeriksaan.
Akhirnya tangan dan sekujur lengan Joko mendapatkan perawatan.
"Tidak ada tanda-tanda cedera serius, selain luka bakar di telapak tangan. Tapi lengannya masih nyeri akibat sengatan listrik. Sebaiknya dia beristirahat dan kami pantau sampai malam ini,” kata Dokter.
Nania langsung mengangguk. "Kalau begitu, rawat inap saja, Dok."
Joko menggelengkan kepala.
"Kak, saya sudah jauh lebih baik. Saya bisa pulang."
"Nggak. Jangan."
"Tapi—"
"Kamu hampir celaka tadi." Nada suara Nania tegas.
Joko terdiam.
Nania menatap telapak tangan pemuda itu yang sudah diperban. Ia masih terus membayangkan tubuh Joko tersentak akibat tersengat listrik. Pasti sakit sekali.
"Kamu istirahat semalam di sini. Besok baru kita pulang."
Joko akhirnya menghela napas pasrah. “Satu malam saja ya, Kak."
Suster mengantar pemuda itu ke ruang rawat inap. Setelah Nania memastikan ia sudah beristirahat dan ditemani oleh Pak Miko, Nania kembali ke ruang tunggu.
Ia bercerita pada Adam yang masih bersiaga.
"Joko harus rawat inap satu malam.”
Adam mengangguk. "Kalau dia harus menginap, dia pasti butuh pakaian. Ayo aku antar ke vila dan nanti kita kembali lagi ke sini."
Nania sempat ingin menolak. Pikirannya lagi-lagi tertuju pada Ray.
Seharusnya Ray yang ada di sini. Seharusnya suaminya yang membantu. Nania kembali mengambil ponselnya. Masih tidak ada notifikasi dari pria itu.
Sebaliknya, pria yang baru dikenalnya ini betul-betul sabar menemani tanpa mengeluh.
“A-aku, banyak merepotkan. Ini sudah malam. Kamu sendiri butuh istirahat kan?”
“Nggak apa-apa. Ayo.” Adam tidak membiarkan Nania menolaknya. Ia langsung berjalan menuju mobil.
Meski merasa bimbang, Nania mengikuti.
Adam membuka pintu mobil untuknya, seperti tadi. Pria itu menunggu sampai Nania sudah duduk, barulah ia membantu menutup pintunya.
“Terima kasih,” kata Nania setelah mereka sudah duduk bersebelahan.
Mesin mobil dihidupkan.
“Maaf, ya. Kamu datang ke sini pasti untuk liburan dan melukis. Lihat, rencanamu buyar kan? Nggak jadi melukis langit malam, bagian terakhir di kanvas kamu hari ini.”
Adam mengangkat bahunya ringan. “Bisa jadi aku masih akan ke pantai nanti, larut malam. Atau lain hari. Nggak masalah. Itu nggak penting, dibandingkan masalah yang kalian alami sekarang.”
Nania tersenyum lirih. “Terima kasih, sekali lagi.”
Adam sudah bersiap menyetir keluar dari klinik ketika pandangan Nania menangkap sebuah mobil yang masuk ke lahan parkir.
Nania mengenali mobil itu.
"T-tunggu! Itu Ray ...."
Adam mengikuti arah pandangannya. Ia mengurungkan niat untuk menginjak pedal gas. Mereka berdua memperhatikan mobil merah itu dalam keheningan.
Seseorang turun dari mobil. Dan itu benar-benar Ray.
‘Apa dia datang setelah mendengar kabar tentang Joko?’
Untuk sesaat, rasa lega memenuhi dadanya. Suaminya akhirnya datang.
Namun, perasaan itu hanya bertahan beberapa detik.
Pintu penumpang mobil terbuka, dan seorang wanita turun dengan satu tangan menopang bagian bawah perutnya yang sudah membesar.
Nania mengenalinya.
Dewi. Pelayan di restoran milik Ray. Salah satu pelayan yang paling cantik di sana dan cukup sering menjadi pusat perhatian para pelanggan. Tubuh wanita itu sintal dan rambutnya selalu rapi berpotongan lurus sebahu.
Ray menyamakan langkah dengan Dewi. Ia kemudian membukakan pintu klinik untuk wanita itu, memastikan Dewi masuk lebih dahulu.
Nania mengernyit bingung, tapi mencoba menenangkan diri.
Suaminya belum ikut masuk. Dia berdiri di depan klinik, merokok dengan wajah santai, tidak ada yang dapat menebak isi pikirannya.
Seharusnya tidak ada yang aneh.
Dewi adalah karyawan Ray. Jika wanita itu sedang hamil dan membutuhkan bantuan, tentu tidak salah apabila Ray mengantarnya ke klinik. Nania sendiri sedang melakukan hal yang sama terhadap Joko.
Namun, ada sesuatu yang membuatnya sulit mengabaikan pemandangan itu. Ray tidak pernah memberitahunya bahwa Dewi sedang hamil.
Adam berdeham pelan. "Itu suamimu kan?"
"Ya," jawab Nania. Suaranya datar.
Ada begitu banyak pertanyaan di benaknya saat ini.
Kenapa Ray tidak pernah bercerita tentang kehamilan Dewi?
Dewi sudah lama menjadi janda, jadi itu anak siapa?
Kenapa Ray yang mengantarnya ke klinik? Ada banyak orang lain di restoran.
Dan kenapa, ketika Nania sedang membutuhkannya, justru Ray berada di tempat lain bersama wanita itu?
Ponselnya kembali dibuka. Jempolnya bergerak cepat. Kali ini ia tidak mengirim pesan.
Ia menekan tombol panggilan.
Tulisan ‘My Husband’ muncul besar di layar. Panggilan tersambung.
Satu nada dering.
Dua nada dering.
Ray masih berdiri di tempat yang sama. Nania terus menatapnya.
Lima nada dering.
Akhirnya, Ray mengeluarkan ponsel dari saku celana. Di dada Nania, harapan kecil sempat muncul.
Sialnya, setelah menatap layar selama beberapa saat, Ray tidak mengangkat telepon. Ia hanya memasukkan kembali ponsel ke dalam saku, lalu melanjutkan rokoknya seolah panggilan itu tidak pernah terjadi.
Nania menurunkan ponselnya perlahan. "Dia sengaja nggak angkat telepon dari aku.”
Adam tidak dapat berkata apa pun.
"Padahal aku sedang butuh dia."
Hati Nania seperti teriris-iris. Yang membuatnya terluka adalah kenyataan bahwa Ray ternyata sengaja mengabaikannya.
Adam memandangi wajah Nania. Tatapan penuh rasa iba.
"Kamu mau tetap pergi mengambil keperluan Joko?"
Nania mengangguk. "Seharusnya begitu."
Suaranya terdengar jauh lebih tenang daripada perasaannya.
"Atau … kamu mau turun dulu sekarang?"
Adam memberinya pilihan. Sebenarnya, itu pilihan yang sulit.
“A-aku–”
Rahang Adam tiba-tiba mengeras ketika memandang ke depan. Nania ikut memicingkan mata.
Dewi keluar dari klinik, bergelayut manja di lengan Ray yang buru-buru membuang rokoknya. Wanita itu lalu menarik Ray ke arah pintu, menatap pria itu sambil menyunggingkan senyum manis kekanak-kanakan.
Ray tertawa kecil, dengan senang hati ikut Dewi masuk ke klinik.
Di ambang pintu, sebelum pasangan kurang ajar itu menghilang dari pandangan, Nania melihat dengan jelas Ray mengecup pipi Dewi.
Jantung Nania rasanya seperti diremas dari dalam.
Selama ini ia selalu mencoba mengusir berbagai pikiran buruk tentang suaminya. Mengabaikan tanda-tanda mencurigakan yang kerap muncul.
Nania dengan tulus terus melatih rasa percaya pada pria yang sungguh dicintainya itu. Pria kebanggaan ayahnya sejak dahulu.
“Ternyata kamu berengsek, Ray.”
‘Jadi untuk apa lagi aku setengah mati berusaha memperbaiki hubungan kita?’
Halo, salam kenal! Panggil aku Mamak Adam aja, ya. Kuharap kalian suka cerita pertamaku di GN. Sampai sini gimana tanggapannya? Aku tunggu komen dan jejak kalian di cerita ini yaa. Love!
“Pagi, Si Cantik.”Ada yang menyusul Nania ke dalam kamar mandi.Aroma sabun cuci muka yang baru saja dibilas masih belum hilang. Tiba-tiba Ray merapat dari belakang.Nania sedang menyeka wajahnya dengan handuk kecil ketika dua lengan kekar Ray mengunci pinggangnya erat-erat. Tubuh Nania terdesak keras ke tepi keramik wastafel.Mata Nania membelalak, melihat melalui pantulan cermin di hadapannya. Ray berdiri sepenuhnya polos, menampilkan lekuk tubuh atletis tanpa sehelai benang pun.Sementara itu, Nania terbungkus selembar handuk mandi putih yang melilit dada hingga paha atasnya. Area wastafel benar-benar kering, namun hawa di sekitar mereka mendadak berubah menjadi begitu panas dan rapat."Aku masih pengen, Sayang. Aku nggak bisa tidur nyenyak karena belum puas," bisik Ray serak, menempelkan bibirnya yang panas ke garis rahang Nania.Ray sama sekali tidak butuh persetujuan, apalagi alasan. Tanpa membuang waktu untuk berpindah ke kamar tidur, jemari Ray bergerak cepat meraih ujung
“Ah, Nania. Cintaku.”Betapa lihai bibir dan lidah Ray membuai kulit Nania. Di telinga dan leher, bergantian. Ia melakukan itu sambil mengucapkan pujian semanis madu. Umpatan penuh kenikmatan pun terlontar dari mulutnya selagi miliknya menggesek tubuh Nania di bawah sana.“Dari luar aja sudah enak gini, Sayang.”Hati Nania menolak untuk menerima sentuhan dan bualan Ray. Sialnya, reaksi raganya bertolak belakang.Tidak dapat dicegah, tubuh Nania melengkung menyambut kenyamanan yang ditawarkan. Bukannya menjauh, ia malah hanyut bersama luapan gairah suaminya. Air matanya pun berhenti. Kedua tangannya menggapai pinggul Ray yang masih terus bergerak di atasnya.Bra Nania dilepaskan, dan Ray terkesiap melihat payudara istrinya sudah mengencang.Ray menenggelamkan wajahnya di dada Nania. Tepat di antara celahnya.Lalu, tangan Ray mulai meremas dengan gemas. “Ahhh.” Nania mengerang keras. Keindahan milik Nania yang bulat sempurna tidak disia-siakan. Ray melumatnya, rakus, seperti kelapar
“Sayang, kamu cantik banget.” Ray tidak peduli terhadap gestur kaku Nania yang tetap berdiri di tempatnya. Itu adalah penolakan secara halus, tapi Ray seakan buta. Pria itu turun dari tempat tidur, mendekati istrinya. Nania dapat melihat hasrat menyala-nyala dalam tatapan mata Ray. Ia buru-buru memakai atasan piyama yang sudah diremasnya dari tadi sampai kusut. Alis Ray mengerut, rahangnya pun mengeras. “Kamu kenapa, sih?” “A-aku ….” “Sudah aku bilang, nggak usah dipakai bajunya. Kenapa masih pakai?” Ray sedang berusaha menahan amarahnya. Cara bicaranya menekan, tapi nadanya tidak meninggi. Lengan kekar pria itu menarik pinggang Nania. Sedetik kemudian, Nania sudah berada dalam pelukannya. Tangan Ray terasa begitu hangat di pinggang Nania, tapi anehnya, tidak lagi terasa nyaman seperti dulu. Memori buruk mendadak berputar ulang di kepalanya seperti rekaman horor yang menolak berhenti. Bayangan Ray di samping Dewi yang perutnya membulat. Janin di dalam kandung
“Kak, menurut aku, sebaiknya Kakak pulang ke vila.” Pukul 10 malam, Rinna mendekati Nania yang duduk di dalam tenda di Sky Beach. Mereka menikmati suasana pantai bersama setelah selesai dari restoran. Nania memang merasa ingin pulang. Tubuh dan pikirannya seperti terpisah. Saat Rinna mengajaknya bicara, ia malah gagal fokus karena memikirkan Ray. Rinna yang membungkuk di luar tenda menggerakkan dagu ke arah sekelompok anak muda di dekat air laut. “Aku di sini, sama mereka. Kebetulan banget ketemu teman-teman zaman kita kecil dulu.” “Mereka mau tidur di tenda juga?” tanya Nania. “Iya. Ada banyak orang. Kakak nggak usah khawatir. Aman kok.” Nania cemas apabila meninggalkan adiknya di Sky Beach. Akan tetapi, Rinna sudah dewasa dan harusnya bisa menjaga diri. “Aku mungkin perlu bicara lagi dengan Ray,” ucap Nania jujur. “Jadi, kamu kutinggal dulu, ya.” “Aku tahu. Pergilah. Saling kabari kalau ada apa-apa. Oke?” Kadang Rinna bisa bersikap sangat dewasa. Nania akui itu. Mesk
Jika tidak ada Rinna, tidak akan terpikir oleh Nania untuk mendatangi Diamond Restaurant.Nania bersyukur atas keberadaan adiknya. Saat ini, ia betul-betul membutuhkan penyertaan dan dukungan dari seseorang yang ia percaya. Seseorang yang bisa berada di sisinya ketika ia gelisah.Suasana Diamond Restaurant dari luar tampak ramai. Jumlah kendaraan yang terparkir di depan restoran membuat Nania bisa memperkirakan bahwa hampir semua meja pasti terisi.Ia turun dari mobil, lalu Rinna menyusul dari sisi lainnya.Tanpa banyak bicara, Rinna meraih tangan Nania dan menautkan jemari mereka.Nania mengembuskan napas panjang. Napas yang sejak tadi seperti tertahan di dada akhirnya keluar juga."Kamu cantik, Kak."Nania menoleh dan tersenyum mendengar bisikan itu."Makasih.""Tenang. Aku yakin Kakak bisa mengendalikan diri waktu ngomong sama Kak Ray."Dalam hati, Nania mengaminkan perkataan adiknya.Ia memang datang bukan untuk membuat keributan. Bukan pula untuk langsung menuduh Ray. Ia hanya in
"Percuma kalau tanya langsung ke Ray, soal Dewi.""Karena Kakak merasa dia nggak mungkin mengaku?" tebak Rinna."Ya. Tepat, begitu maksudku," jawab Nania. "Jadi, aku akan menunggu."Rinna mengembuskan napas pendek, seperti ikut lelah dengan urusan rumah tangga kakaknya. "Tunggu apa?""Sampai punya bukti."Nania menunduk, memainkan ujung kain bajunya. Ada begitu banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya sejak kejadian di klinik. Kalau Ray memang tidak melakukan apa-apa, tentu dia bisa menjelaskan.Tetapi kalau ada sesuatu yang disembunyikannya, Nania ingin melihat sendiri bagaimana suaminya akan menyusun cerita."Kakak perlu bertanya apakah dia ada ke klinik sore itu," kata Rinna kemudian.Nania mengangkat wajah."Hanya untuk mendengar apa jawabannya. Nggak usah dilawan. Nggak usah langsung bilang Kakak melihat dia di sana.""Tapi, kalau aku nggak tahu dia sudah pulang atau belum, kita kembali ke vila buat apa?"Rinna terdiam sebentar.Memang benar. Sejak Ray ke kota, mereka tidak b







