LOGINMakan malam yang direncanakan akhirnya benar-benar terlaksana di mansion Pandu. Arika tidak banyak bicara dan dia lebih ingin menikmati masakan chef yang diundang khusus oleh Pandu untuk mereka berdua. Tema masakan untuk makan malam mereka ini adalah italian food. Arika tidak begitu asing dengan masakan asal negeri spaghetti itu. Pekerjaannya yang melibatkan banyak orang papan atas menuntunnya untuk mencicipi masakan elit di banyak resto berbintang."Namanya siapa, Chef?" tanya Arika membuka pembicaraan setelah hanya Pandu yang mengoceh tentang keahlian memasak sang chef yang sangat handal. Sejujurnya, dia sedang mengalihkan kebosanan karena harus menikmati makan malam sambil melihat live cooking di depannya. "Tian." Jawaban Chef itu terlalu singkat. "Septian? Bastian? Sebastian? Gustian?" Bebagai nama yang bisa digabungkan dengan 'Tian' Arika sebutkan satu per satu bahkan hingga Tutian yang hampir tidak nyambung pun dia sebutkan.Chef Tian tersenyum mendengar Arika yang menebak-neb
Arika mematut pantulan dirinya di kaca full body yang ada di dalam ruang kerjanya. Setengah jam lagi waktu pulang akan tiba. Itu berarti dia akan dijemput oleh Pandu dan menjalankan kencan pertamanya dengan lelaki itu di depan umum. Kencan? Pipi Arika terasa sedikit memanas ketika memikirkan kata itu. Satu senyuman terbit di bibir Arika. Dia mencoba untuk meluweskan senyuman itu agar tidak tampak terpaksa atau horor. Dia butuh untuk tampil dengan wajah segar juga, kan, saat jalan dengan Pandu? Dia tidak akan mempermalukan lelaki yang (katanya) adalah suaminya itu.Arika menghela napas. Dia harus mempersiapkan diri dengan baik. Jujur saja, makan malam ini bisa dibilang adalah makan malam pertama yang dia anggap sebagai kencan. Meski sebelumnya Pandu juga pernah mengajaknya makan di restoran, tapi dia tidak akan menghitungnya. Dia masih tidak terima diperlakukan Pandu seperti simpanan kapan waktu yang lalu."Aneh. Aneh. Kok gue gugup banget kayak gini?" batin Arika meronta. Dia mencob
Dimas hampir saja tidak bisa menutup mulutnya yang otomatis terbuka karena pernyataan Fatina barusan. Meski tidak lebar, tapi ekspresi lelaki yang biasanya terkontrol itu jadi tak karuan.Setelah jam makan siang selesai tadi, Fatina sengaja mengahadang Dimas untuk membicarakan sesuatu. Itu pun tanpa sepengetahuan Arika karena mereka berpisah di lift. Fatina mengajak Dimas berbicara di tangga darurat. Ya, tempat itu memang jadi langganan untuk berbisik rahasia."Kamu pasti lagi bercanda, kan? Enggak mungkin Arika berpikir seperti itu." Dimas masih ingin memastikan bahwa apa yang barusan dia dengar bukanlah bualan belaka atau salah dengar."Idih, enggak percaya banget. Kamu aja kaget. Apalagi aku yang biasa kenal dia dari luar sampai dalem." Fatina menyandarkan punggungnya ke tembok."Masalahnya, Tin. Publik belum banyak yang tahu masalah hubungan Pandu dan Arika. Kalau dia terlalu mencolok, bisa-bisa bikin gempar jagat persilatan."Fatina mengedikkan bahunya. "Tapi ini Arika. Kalau dia
Sedari tadi, Pandu mendengarkan percakapan Dimas dan Arika dari balik pintu ruang kerja gadis itu. Sesekali dia mengumpat saat Dimas malah membuat semua menjadi rumit. Dia juga mengumpati dirinya karena salah memilih utusan untuk menjelaskan bagaimana mekanisme kerja lelaki pada umumnya. Sial, Arika malah semakin ngambek kalau begini.Sejujurnya, Pandu memang tidak ingin mengabaikan Arika tadi pagi. Dia hanya terlalu larut dalam pembicaraan di telepon dengan seorang investor baru dari luar negeri sekaligus teman lamanya. Mungkin yang tidak disadari oleh Arika adalah earbuds yang dipakai oleh lelaki itu. Pandu tidak menyambungkan teleponnya ke benda kecil yang menggelantung di telinga tersebut.Masalah kecil memang bisa jadi runyam seperti ini jika ada kesalahpahaman. Untungnya, Vania tadi meneleponnya dan mengabarkan bahwa Arika ngambek karena tidak disapa. Dia juga disalahkan karena tidak menunggu istrinya untuk berangkat bersama. Nah, masalahnya adalah Arika sendiri yang kemarin bi
"Aku dengar ada yang kesal karena merasa diabaikan oleh suaminya." Suara itu masuk ke dalam telinga Arika yang sedang fokus di depan komputernya. Tidak menoleh, gadis itu lebih mengutamakan kerjaannya sekarang daripada harus menggubris orang gabut."Sejak kapan kita bicara dengan santai?" tanya Arika dengan sarkas. Yang mengajaknya bicara bukan sahabatnya, Fatina, apalagi Pandu. Itu adalah Dimas, kuasa hukum Pandu."Sebenarnya sejak awal kamu bilang bahwa aku bisa bicara santai saat cuma ada kita berdua, kan?" Dimas malah mengingatkan Arika kepada kejadian saat itu. Kejadiaan saat Arika berantakan dan benar-benar menolak untuk ada di dalam keluarga Baskara. Arika sadar kalau sedang dipojokkan oleh lelaki tersebut. "Terus, meski di kantor sekarang, bisa nih ngomong santai kayak gini?" Arika mengklik tetikus pada tulisan 'save' untuk menyimpan desain rumah yang sedang dia kerjakan. "Enggak takut ditangkap sama Tuan Pandu?" Dia sengaja menekan nada bicaranya saat menyebut nama Pandu.Di
Pandangan mata Arika mengekor ke sosok Pandu yang hanya melewati dirinya. Jelas-jelas gadis itu ada di ruang makan yang sama dengan lelaki tersebut. Kalau terlihat buru-buru, sih, Arika bisa maklum. Masalahnya, lelaki itu malah terlihat sedang sangat santai. Tapi kenapa tidak ada kata untuk menyapanya? Pandu menuju pintu utama dan sosoknya menghilang saat pintu itu ditutup. Arika yang tadinya hendak menghentikan langkah Pandu dengan sapaan hangat di pagi hari, malah sekarang membanting pisau roti dari genggamannya. "Ada yang mengganggu, Nyonya?" tanya salah satu pelayan yang sedang bertugas di pagi ini. Arika menggeleng. Tidak mungkin dia mengatakan sejujurnya apa yang sedng dia rasakan. Bisa jadi bahan tertawaan kalau begitu. "Enggak papa. Tiba-tiba aku males aja buat makan. Mendingan ini dikalian manfaatkan aja deh." Pelayan tersebut dan satu pelayan yang lain saling bertukar pandang, bertanya-tanya tentang maksud Arika. "Kenapa? Kalian tinggal beresi makanan ini dan b







