LOGINYavonne has been on her own for a few years, just trying to avoid being detected by pretty well anyone. Her sadness slowly grows to rage, the victim day by day turning to villainy for a solution. Koin's life was perfect, he would be Alpha in a few years, the next in a long line of men to make a grand decision that would further change the packs fortunes for the better. But what if both of their lives were built on lies, surrounded by creatures neither of them even knew existed?
View MoreEdelia mengusap kening putrinya yang berkeringat dingin. Perempuan berusia empat puluh lima tahun itu mendesah dan menatap netra indah milik putrinya yang kini tengah mengatur napasnya yang memburu. “Kamu tidak apa-apa? Apa perlu Mama menghubungi Yafas untuk memberikan konseling melalui sambungan telepon, atau lebih baik Mama panggil dia untuk datang dan memberikan konseling secara langsung?” tanya Edelia tidak bisa menyembunyikan rasa cemas yang ia rasakan.
Selama dua tahun ini, Edelia memang bergelut dengan perasaan cemas mengenai kondisi putrinya ini. Alasannya tentu saja berkaitan dengan putrinya ini. Putrinya yang bernama Makaila Dalila Analise, tumbuh menjadi gadis yang cantik, cerdas, dan periang hingga menjadi putri kebanggaan baginya. Sejak kecil, karena Edelia harus mencari nafkah dengan usahanya sendiri, terpaksa Edelia meninggalkan Makaila dalam pengasuhan orang kepercayaannya. Itu adalah risiko saat Edelia menjadi single parent. Namun, tidak berarti Edelia tidak menyayangi dan tidak mengikuti tumbuh kembangnya. Edelia sangat bangga karena mengetahui Makaila memang tumbuh menjadi seorang gadis yang berbakat dalam beberapa bidang.
Hanya saja, setelah Makaila remaja, Makaila yang sudah bisa ditinggal sendiri di apartemen mengalami kejadian buruk. Makaila yang pulang dari sekolah, rupanya melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat. Makaila melihat pembunuhan. Ya, Makaila menjadi saksi dalam tindakan pembunuhan. Karena itulah, Makaila mengalami trauma sosial. Dampaknya cukup besar hingga Makaila tidak mau melanjutkan sekolahnya lagi. Edelia tentu saja tidak memaksa karena mengerti dengan kondisi putrinya yang masih tidak stabil. Ia memilih untuk fokus membantu Makaila untuk menyembuhkan traumanya tersebut.
Makaila yang mendengar pertanyaan yang diajukan oleh ibunya tersenyum dengan manisnya. Makaila memang memiliki paras ayu seperti ibunya yang memang memiliki darah Indonesia asli. Wajahnya yang ayu tersebut di bingkai oleh helaian rambut lebat dan panjang sewarna arang. Tentu saja, dengan penampilan tersebut, Makaila bisa menjadi primadona di kampus—jika dirinya memang melanjutkan pendidikannya. Usia Makaila tahun ini memang sudah menginjak usia dua puluh tahun. Usia yang tepat di mana harusnya ia sudah menjadi seorang mahasiswi.
Namun, karena insiden di masa lalu, Makaila berhenti sekolah tepat saat dirinya akan mengikuti ujian nasional. Makaila harus fokus pada proses penyembuhan psikisnya yang memang agak terguncang dengan apa yang sudah ia lihat. Atas semua konsultasi yang sudah Makaila lalui, tahun ini Makaila sudah memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya. Tentu saja, Makaila tetap memilih untuk melanjutkan pendidikan di apartemen di mana dirinya tinggal.
“Mama tidak perlu cemas. Kaila hanya agak tegang dengan pertemuan pertama dengan guru baru Kaila nanti,” ucap Makaila mencoba untuk menenangkan mamanya yang memang lebih protektif setelah kejadian di mana dirinya trauma berat hingga tidak bisa mengendalikan diri beberapa tahun ke belakang.
Edelia yang mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya hanya bisa mendesah dan mengangguk. Ia pun memilih untuk menyisir helaian rambut lebat Makaila dan mengepangnya dengan cantik. Seperti yang dikatakan oleh Makaila, hari ini dirinya memang akan mengenalkan Makaila denga guru privat yang akan mengajar Makaila dalam homeschooling nantinya. Tentu saja, Edelia sudah mencari guru paling kompeten dan bertanggung jawab atas tugas yang ia berikan. Bahkan, Edelia tidak segan-segan untuk menghabiskan puluhan juta tiap bulannya hanya demi membayar jasa guru yang memang sudah sangat berpengalaman itu.
Saat ini, Edelia hanya bisa berharap, jika Makaila dan sang guru yang sudah dipersiapkan olehnya itu bisa cocok. Sebenarnya, Edelia masih harap-harap cemas. Ia tahu, jika Makaila sangat tidak nyaman, bahkan bisa berubah sesak napas saat bertemu atau berdekatan dengan orang asing. Jadi, tentu saja bertemu dengan guru privat ini adalah sebuah hal yang harus sangat diperhatikan oleh Edelia, mengingat trauma yang diderita oleh putrinya ini. Bahkan, untuk menyiapkan hal ini, Edelia sudah meminta cuti selama dua hari pada perusahaan di mana dirinya bekerja. Namun, sampai saat ini Edelia masih saja merasa cemas. Apa keputusannya ini memang tepat?
Makaila yang menyadari kecemasan mamanya kembali tersenyum saat melihat wajah cemas Edelia dari pantulan cermin rias di kamarnya. Makaila berbalik dan menyentuh kedua tangan Edelia yang sebelumnya tengah tenggelam dalam lamunannya. “Mama tidak perlu cemas. Bukankah Yafas mengatakan jika ini adalah keputusan baik untuk membantu penyembuhanku? Lagi pula, apa yang Mama cemaskan? Guru yang akan datang nanti adalah guru yang sangat kompeten dan berpengalaman, bukan? Mama pasti mencarikan guru terbaik untukku, jadi Mama tidak perlu cemas. Jika Mama cemas, Makaila malah akan merasa semakin gugup,” ucap Makaila.
Edelia tersenyum dan menyentuh wajah putrinya. “Maafkan Mama yang malah membuatmu semakin gugup,” ucap Edelia.
Makaila tersenyum semakin lebar dan mengangguk. Setelah itu, Edelia kembali mengatur rambut Makaila serta mengikatnya menggunakan pita rambut cantik yang senada dengan gaun rumahan yang digunakan oleh putrinya itu. Makaila memang gadis anggun yang tentu saja memiliki karakter lembut. Dulu Makaila adalah gadis ramah dan ceria yang tentu saja memiliki banyak teman. Hanya saja, setelah kejadian traumatis yang ia alami, Makaila tidak lagi bisa bertindak seceria sebelumnya.
Selalu ada dinding pembatas yang membatasi tindakannya. Saat ini, Makaila juga sudah tidak memiliki teman karena dirinya sudah memutuskan kontak dengan teman-teman sekolah dan pindah sejauh mungkin dari tempat tinggalnya dulu. Setidaknya, hal itu bisa membuat Makaila sedikit lebih tenang karena merasa sang pembunuh yang masih belum bisa ditangkap oleh pihak berwajib itu, tidak akan lagi bisa menemukan keberadaannya.
“Nah, sekarang sudah selesai. Ayo kita ke ruang tamu. Sebentar lagi, gurumu pasti akan tiba,” ucap Edelia dengan nada antusias. Tentu saja, ia harus menutupi rasa cemas yang ia rasakan. Ia tidak mau sampai Makaila merasa gugup dan berakhir menjadi kesulitan bernapas karena tekanan yang ia rasakan. Sebisa mungkin, Edelia harus memberikan kekuatan pada putrinya yang sudah berani untuk melangkah maju dan meninggalkan trauma yang membelenggunya selama ini.
Edelia membawa Makaila untuk duduk di ruang tamu. Makalia bergerak untuk menyalakan televisi, sementara Edelia masuk ke dapur untuk menyiapka kudapan serta minuman yang akan ia sajikan saat guru Makalia datang nantinya. Tak membutuhkan waktu lama, suara bel pintu terdengar. Makaila sama sekali tidak bergerak dari hadapan televisi, gadis cantik berusia dua puluh tahun itu masih saja asyik menonton acara televisi kesayangannya. Edelia yang melihat hal itu tidak bisa menahan diri untuk tersenyum sembari melangkah menuju pintu apartemen.
Edelia membukakan pintu dan tersenyum pada sosok tinggi yang berdiri di hadapannya. Sosok itu hanya tersenyum tipis dan berkata, “Selamat pagi, Nyonya Edelia.”
“Pagi. Ah, apa sulit mencari alamatku ini?” tanya Edelia balik sembari mempersilakan sosok tinggi tersebut untuk masuk ke dalam apartemennya.
Sosok tinggi yang tak lain adalah guru yang akan Edelia perkenalkan pada putrinya itu menggeleng pelan. “Tidak, bangunan ini berada di tempat strategis hingga membuatku mudah menemukannya,” ucapnya lalu mengedarkan pandangannya pada ruang apartemen yang cukup luas ini, dari balik kacamata yang ia kenakan.
Pandangan tersebut berhenti pada sosok Makaila yang memang masih sibuk dengan acara televisi yang ia lihat. Edelia yang menyadari hal itu melangkah untuk mendekati Makaila dan menyentuh bahu Makaila lembut. “Sayang, gurumu sudah datang. Ayo berdiri dan beri salam padanya,” ucap Edelia.
Makaila tentu saja menurut. Ia merapikan dirinya sendiri sebelum berdiri dibantu oleh ibunya. Namun, begitu melihat sosok berpakaian rapi dan mengenakan kacamata di hadapannya, Makaila yang sebelumnya tersenyum semringah tampak memucat serta menyurutkan senyumnya. Namun, Edelia tidak melihat hal tersebut karena dirinya sudah menatap sosok guru privat Makaila. Ia berkata, “Ini putriku, Makaila.”
Pria tampan yang ke depannya akan menjadi guru Makaila tersebut mengangguk dan melirik Makaila sebelum berkata ramah, “Halo Makaila, perkenalkan aku Bara Sarkara Treffen. Kedepannya, mari kita bekerja sama demi kenyamanan bersama.”
Namun, Makaila yang kini bertatapan dengan Bara sama sekali tidak menemukan kesan ramah pada tatapan yang diberikan oleh sosok guru tampan itu. Hal yang selanjutnya terjadi adalah Makaila mulai merasakan udara disekitarnya terasa begitu menekan, dan mencekik lehernya dengan kuat. Itu membuat Makalia tidak bisa bernapas dengan benar, dan pada akhirnya merasa sesak napas yang menyiksa. Edelia yang menyadari hal tersebut merasa panik, dan berusaha untuk menenangkah Makalia. Hanya saja, itu sudah terlambat. Makaila sudah terlanjur jatuh tak sadarkan diri, dalam bayang-bayang mengerikan di mana dirinya seakan-akan kembali melihat kejadian pembunuhan dua tahun yang lalu.
Just to Say It Iyla Ordia was dead. Beyond any repair or hope she was gone before Iyla even opened her eyes. Gone and she had given her last day to protect her and her sister. All of this because of 1 woman that Iyla was sure was perfect. She couldn't comprehend it all. Rehida was the responsible for Thalia’s attack, but why? All of this was rushing through her mind, even as Connor sat her down under a tree to go help Koin and Thalia do whatever they were actually doing. She couldn't bring herself to ask. After everything she and Ordia had suffered together, she was taken away so quickly Iyla hadn't even had time to know it before she was no more. Thalia was on the phone with someone, talking quickly, Iyla watched her, her thoughts still moving backwards to that terrible place. The strange creature told her that she would server the Gods by serving her or him. Then Thalia dropped in, and the creature actually ran to hide. It gave an earie laugh, too much air and not enough feel
What Beauty Can Disguise Koin He and Connor had taken their seats again, watching from a distance as his mother moved around the circle with some kind of herb, smoke wafting from it in heavy plumes as she whispered something. Then Ordia came into view, slowly, studying Rehida. Connor sat up a little "Over here" He whisper yelled to her, but she never looked in their direction. She was very focused on what Rehida was doing, her eyes moving over the circle slowly. A strange sort of energy was beginning to build, even Connor could feel it and they both stood "Hey? What’s going on?" Connor called out, understandably feeling panicked. Rehida stopped moving to look up to her and the two locked eyes. "Traitor. Thief. I know your name now. I know what you've done. What you would like to do." Ordeia told her. Koin stepped forward ready to interfere with whatever battle was taking place when his mother’s face twisted into a sneer, an almost inhuman expression, the corners of her lips pulli
Till The Worldly Grave is DugIylaShe had been dreaming about the ocean, her and Connor along with Thalia and Koin all just enjoying a long beach day, making sandcastles and learning awkwardly, to surf. They had their first kiss. Their first beautiful, magical, perfect kiss. Then it was night. That quickly. She closed her eyes as he kissed her, opened them and she was alone with the stary night sky above her. It was amazing, but she noticed something floating out on the waves, rising with each crest. It appeared to be a body!! She screamed for help, but no one was coming. She couldn’t remember why, but she wouldn't waist time. She ran out into the shallows of the shore and dove into the deeper water to swim out and try to grab onto the body, but she could no longer see it. The waves were getting much bigger now, she couldn't manage it anymore. One wave would lift her then crash her down into the depths and by the time she resurfaced to take in a breath another wave would slam down o
Like Bones Digging Deep Thalia This whole situation was making her skin crawl. Iyla had talked to her weeks before hand about how her venture into the dream scape was her first try, and if Ordia hadn't been there she probably would have been to scared to go for it. Sure, Iyla was a little reckless, but usually her misbehavior was due to curiosity, not an outright want for danger. Why would she have just randomly gone for a walk? How had Rehida known so quickly? She couldn't get her mind to shut down for a long time, no matter how many deep breaths she took, something about what was happening was far more unsettling than their main focus. Iyla had been in the dream state all day, it was hard telling how far away she was, Thalia could only hope that these last few days with Koin and feeling grounded would center her enough for her to also find her way back. Her biggest help was the fact that Thalia had taken walks at least twice a week for the past few years, the dream scape was nea
Acts of Care Koin Azier was having serious mood swings as Koin washed Thalia's hair. Of course, he was horny, he's wolf. Other emotions were swirling around as well. fear that she didn't want to actually join the pack. Anger that anyone would do this to her. And then comfort. There was an intense s
Other Ideas Thalia She had not fully considered Koin helping her shower. Her dressings and cast were wrapped up tight and he had carried her to the bathroom before the realization settled in. He didn't hesitate not even for a second. He closed the door behind them, used the toe of his shoe to close
Some Kind of Future Thalia Her head was spinning. Koin was back. He was different now, the time away had not been kind to him. or maybe he hadn't been kind to himself. him holding her in his arms actually made some of the pain edge away, and for the first time in what felt like forever she fell int
Empty Homes Yavonne She was so focused on getting away she barley felt the long gash along her side leading to the glass protruding from her hip. She simply ran. Ran like she hadn't since the day her family was slaughtered. Flashes of green and brown mixed together and there she was again, her mo






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews