LOGINMaddie was bred in a human lab and trained to be the ultimate weapon. Maddie escapes the lab at 9 years old and hides among the humans for 9 years. When her past finally catches up to her, she realizes her childhood best friend is now the one hunting her. Does she run for her life or stay and fight for the person she once loved?
View More“Sudah tiga bulan, Raka! Mau sampai kapan kamu mikirin mantan istri nggak tahu diri dan matre itu? Udah, sore ini kamu berangkat ke desa, pantau kebun yang mau Kakek jual,” titah Kakek Budi menggelegar.
Sementara pria di depannya, Bumi Raka Handoko yang akhir-akhir ini minta dipanggil Burhan, hanya bisa menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya yang berdenyut.
Pria itu terdiam lama. Niatnya ingin menolak, tapi ingatan terkutuk justru berputar liar di kepalanya. Pemandangan ranjang kamarnya tiga bulan lalu, saat mantan istrinya bergumul dengan sahabatnya mendadak terasa nyata lagi di pelupuk mata.
“Ah ... Enak, Mas Danu! Gak kalah sama punya Raka. Suamiku itu, kalau gak kaya, mana mungkin aku mau nikah sama dia!”
Perkataan mantan istrinya itu sukses membuat dada Burhan bergemuruh hebat menahan muak luar biasa.
“Cepat kamu siap-siap. Begitu sampai di sana, kamu langsung temui Pakde Darmo yang selama ini jagain rumah kakek. Pakde dan anak-anaknya nanti bakal bantuin kamu selama di sana. Dan tugasmu, cek batas-batas kebun, pastikan batasnya jelas sebelum akta jual beli ditandatangani. Sekalian temui Pak Bakti, calon pembeli yang mau bayar tanah itu. Nanti kalau ada masalah, telepon kakek!” ucap Kakek Budi sambil menghentakkan tongkatnya ke lantai.
Kalau sang kakek sudah berdiri dan menghentakkan tongkat keramatnya, pantang hukumnya untuk dibantah kalau tidak mau dicoret dari silsilah keluarga atau dikutuk jadi batu kali.
Pada akhirnya, Burhan menerima.
Yah, daripada di kota terus-terusan kepikiran mantan istri, tidak ada salahnya Burhan mencoba peruntungan berangkat ke desa. Lagipula, di desa juga tidak seburuk yang Burhan pikir, pasti akan banyak hiburan mata yang bisa membuatnya lupa tentang mantan istrinya yang matre dan tukang selingkuh itu!
Sambil bertekad tidak akan membiarkan wanita sembarangan mempermainkannya, ia berangkat sore itu juga meninggalkan ibu kota.
Setelah mengemudi hampir 12 jam, jalanan tanah berbatu akhirnya menyambut kedatangan Jeep hitam Burhan di perbatasan desa. Udara sejuk pedesaan pagi itu langsung menyergap, tapi ketiadaan plang petunjuk jalan membuatnya bingung mencari letak pasti rumah tua peninggalan kakeknya.
Burhan memelankan laju mobil di samping pematang ladang palawija. Dari balik kemudi, matanya menangkap sosok gadis muda yang sedang sibuk membetulkan letak keranjang panen di pinggir jalan.
Burhan menarik rem tangan lalu melangkah turun. Tubuh tegapnya yang dibalut kaos polo abu-abu ketat melangkah mendekat.
“Permisi ....”
Gadis itu menyapu peluh di dahinya, lalu mendongak. Seketika, napas Burhan tertahan. Pandangan matanya otomatis memindai sosok di depannya dari atas ke bawah.
Dina, gadis yang masih berumur 19 tahun itu hanya mengenakan caping bambu sederhana, kaos oblong putih model neck-V yang pas-pasan, dan celana training lusuh yang digulung sebetis.
Meski gayanya sederhana khas anak desa, tapi postur tubuhnya padat dan sintal. Kulitnya juga bukan hasil perawatan mahal, tapi cukup bersih, kencang, dan segar layaknya buah ranum yang baru dipetik. Wangi peluh bercampur aroma manis tubuhnya menguar samar, sempat membuat jakun Burhan naik-turun menelan ludah sebelum buru-buru menepis pikirannya sendiri.
“Eh ... iya, Pakde? Ada apa ya?” sahut gadis itu dengan mata bulat bening yang luar biasa polos dan bibir merah muda merekah basah.
Burhan segera berdehem, menjaga wibawa prianya. “Saya mau tanya rumah tua milik keluarga Pak Budi Handoko. Tahu arahnya ke mana?”
“Oh, rumah gedong juragan teh yang ada pagar kayunya ya? Pakde lurus aja lewatin kebun ini, nanti rumahnya ada di paling ujung jalan desa.”
“Terima kasih,” jawab Burhan singkat, lalu kembali naik ke mobilnya.
Mobil Burhan akhirnya tiba di pekarangan sebuah rumah bata merah megah berarsitektur kuno. Kedatangannya langsung disambut hangat oleh Pakde Darmo, penjaga rumah tua keluarga mereka.
“Den Raka cucunya Kakek Budi, ya? Wah, sekarang sudah besar ya,” sambut Pakde Darmo.
“Pakde tahu saya?” tanya Burhan sambil menjabat tangan Pakde Darmo.
“Wah, ya jelas tahu toh, Den. Den Raka dulu pernah diajak Kakek Budi kesini waktu umur 5 tahunan. Pasti sudah nggak inget ya? Tadi Pak Budi juga sudah telepon ngabari. Pokoknya selama Den Raka disini, jangan sungkan kalau butuh apa-apa. Rumah pakde ada dibelakang, bisa langsng kesana atau telepon.”
Burhan tersenyum tipis sambil angguk-angguk. Tidak menyangka, dulu ia pernah diajak kesini oleh kakeknya. Padahal tadi sebelum berangkat, kakeknya cuma bercerita singkat soal Pakde Darmo yang dibayar untuk menjaga serta membersihkan rumah tuanya, dan akan membantunya selama disana.
“Kalau gitu panggil Burhan saja, Pakde. Jangan pakai sebutan Den,” pinta Burhan. Ia memang sengaja memakai nama itu agar terasa lebih membaur, sekaligus ingin menemukan kehidupan baru di sini.
Tak berselang lama setelah Burhan duduk di sofa ruang tamu, seorang wanita melangkah anggun dari arah dapur membawa nampan berisi teh hangat.
“Nah, ini anak pertama saya, Mas Burhan. Namanya Yanti,” kata Pakde Darmo memperkenalkan.
“Mari diminum tehnya, Mas Burhan,” sapa Mbak Yanti dengan senyum santun.
Burhan memperhatikan sosok janda mati berusia tiga puluh dua tahun itu. Sikapnya sangat tahu tata krama dan menghormati Burhan sebagai majikan.
Namun, daster tipis berbahan jatuh yang dikenakan Yanti menempel sangat ketat di lekuk tubuh matangnya. Aura matangnya sangat kuat, tipe wanita yang paham betul cara memancing mata pria.
Burhan terkesiap, buru-buru menyeruput teh menetralkan tenggorokan yang mendadak kering.
Sialnya, ketika Yanti membungkuk meletakkan piring pisang goreng, kerah daster yang longgar sontak terbuka lebar, memamerkan sepasang buah pepaya matang yang pucuknya ranum, menggantung bebas tanpa penyangga memadai tepat di depan matanya.
UHUKK!
BYURR!
Burhan tersedak. Teh hangat yang baru diseruputnya langsung menyembur keluar, membasahi sebagian meja dan celana panjangnya tepat di area selangkangan.
“Eh, ya ampun, Mas!” seru Yanti panik. Pakde Darmo juga langsung terjingkat kaget.
“Aduh! Cepet ambil lap, Yan!”
Dengan cepat, Yanti mengambil serbet kain lalu berlutut tepat di depan kaki Burhan. Berniat membersihkan tumpahan air secepatnya, tapi tangan Yanti yang tergesa-gesa justru tanpa sengaja menggosok pangkal paha hingga meraba area selangkangan celana Burhan yang basah dan menyentuh gundukan keras yang mendadak menegang di balik kain.
Burhan tersentak dan bangkit berdiri.
“Saya ... mau mandi dulu, Pakde, Mbak,” potong Burhan.
“O-oh, iya, Mas. Itu kamar mandinya di pojok samping dapur,” sahut Pakde Darmo.
Burhan langsung melangkah cepat menuju kamar mandi. Di bawah kucuran air sumur yang dingin, dia mengguyur kepalanya berkali-kali demi meredakan ‘dedek gemoy’-nya yang mendadak bangkit keras akibat rangsangan janda tadi.
Setelah amarah biologisnya agak mereda, Burhan langsung masuk ke kamar dan memilih untuk segera tidur. Ia lelah setelah menempuh perjalanan 10 jam lebih.
***
Keesokan harinya, pukul empat sore.
Matahari mulai condong ke barat, memayungi jalanan tanah dengan semburat jingga. Burhan menyetir Jeep-nya perlahan untuk meninjau batas lahan pabrik teh kakeknya.
Namun saat mobilnya melintasi jalanan perkebunan yang mulai gelap dan sepi, mata Burhan menangkap sesosok tubuh kecil di pinggir jalan.
Itu Dina, yang sedang berdiri di tepi jalan sambil menyeka keringat di lehernya. Karena kegerahan dan kakinya yang gemetar sehabis berjalan jauh memikul keranjang kosong, Dina tampak menyingsingkan sedikit kain rok bawahnya ke atas, paha mulusnya yang putih bersih dan bebas noda terlihat kontras dengan debu jalanan di sekitarnya.
Gadis itu jelas ketinggalan satu-satunya bus desa yang cuma beroperasi sampai jam tiga sore.
Begitu Dina melihat mobil melintas, ia mengayunkan tangan. Refleks Burhan menghentikan laju mobilnya.
Dina melangkah mendekat ke pintu samping kemudi. Dengan mata bening tanpa dosa dan bibir mungil yang merekah kelelahan, Dina menatap lurus ke mata Burhan.
“Om, Dina boleh nebeng sampai desa? Sebagai ongkosnya, Dina bisa bikin Om muncrat.”
Maddie I hug Lila goodbye as she has tears in her eyes, “We will be back, you know that,” I whisper into her ear. She wipes her eyes as she sighs. “I know, and I understand why I can’t come, but I will miss all of you. Even Ian,” she says, and I chuckle as I wipe the tears that fall from my eyes. Then, finally, I release her so Ryan can hug her next. “It’s only for a few days,” Andy reminds us both. We are going to kill the Norms and be home by Saturday.” He says with confidence. We both nod, and Lila sighs, kissing and hugging Ryan. I watch them as Colt grabs my hand, “She is safest here, you know.” He reminds me. I nod, “I know. I am glad she won’t be alone here but still.” I say, looking at the staff that will stay with her. She is my sister, and I will miss her dearly. “Is everyone ready?” Andy asks, and we all nod. Even though we have to leave Lila and I can’t see into the future like him, I know I am ready. This has been a long time coming, and I am prepared for it to end
ColtIt’s been three days since Andy showed us the basement where we would be training, and we have been down here every day ever since. There is so much equipment down here that it’s insane. When he said he had unlimited resources, he wasn’t kidding.“Duck!” Ryan shouts to me, and I do, avoiding Andy’s fist. We have been down here not only learning to control our powers but also learning to fight at the same time.“GO, Ryan!” Andy shouts, and Ryan closes his eyes, twisting into a twister. Everything in the basement gets windy, and Andy claps his hands, “See! You got it,” he says, and Ryan twists back into himself.“I still can’t believe I can do that,” he admits, and I nod, agreeing. Yep. None of us ever imagined he could become a twister. Even though he can do the things that Andy does, he is still not as powerful as him; none of us are.Ian walks down the stairs carrying a dead bunny, and I know it’s my turn. He grins evilly, and I roll my eyes. Andy’s sense of humor is sick. He
RyanI have never seen anything like this in my entire life. This house is massive, and there are so many rooms. My entire pack could live here. As we walk inside, we are greeted with a grand staircase, but there are two more entryways in either direction to explore the house.“This way first,” Andy says, pointing up the stairs. “I’ll give you the grand tour after dinner.” Lila smiles as she grabs my hand, and we begin to climb the stairs. I can hear her heart beating and feel her excitement through the bond. I know this must be exciting for her. By becoming Maddie’s friend, she was thrown into an extraordinary life.When we reach the top, there’s a long hallway and a vast living area. Complete with a traditional kitchen and a living room. It looks as big as Caleb’s packhouse. “Each of you will have a room up here on this floor. Mates, of course, share,” he says, winking at Colt and Maddie, and I mind-link her, “He’s weird, right?” Maddie chuckles and covers her mouth as he shows us
MaddieSilence ensues in the limo, and I eye my pack as Andy scrolls on his phone. “Do you really think we can trust him?” Colt’s voice comes through the group mind link, and Ian and Ryan begin to talk over one another.“No, why, how, where, no,”“STOP!” I shout. “One at a time,” I say as I eye Ryan; he is our leader; he should go first.“I don’t know, and look at this- a freaking limo, what the hell?” he responds, and I notice Andy’s eyes dart between us all- he knows were mind-linking, but of course, he would; he has a pack.“If there is something you guys want to ask me, just ask. I promise, I am an open book,” he says, placing his hands in his lap. I look around the limo at our pack and clear my throat. We definitely have questions.“How do you have money?” I ask. This is valid. Most of us ended up barely getting by.Andy chuckles and lifts his hands up as he speaks, “I was found by a pack after we all split up. I am now the heir to the pack and future Alpha. My adoptive father is
Tall buildings and a city are where my dreams take me tonight. I search for some sort of landmark or sign, anything to help me. Finally, there it is Denver, Colorado. I sigh in relief. Once we get there, I can send a signal out for him to find me. I will get Andy back and we can figure out what t
After I finish the rest of my chores, I walk back into the house and toward Mrs. Stevenson’s office. It’s noon now and I should be getting lunch ready. I knock on the door, “Come in.”I open the door slowly and she’s sitting at her desk, eating a sandwich. “You prepared sandwiches yesterday, right?
Breakfast was uneventful and Lila and I got away with me changing and spilling the milk. I will need to replace it somehow before Mrs. Stevenson notices, but I think that will work out fine.I now help wash the hands of all the little children here and then it’s off to clean the orphanage and take
My breath is heavy, and the concrete is cold on my feet. The five of us pant as we run through the dark hallway, the alarm loud and echoing through this hell hole, “Which way?!” Julia shouts. We all look to Andy; Andy is the one who is going to get us out of here. “This way,” Andy motions to us. Th


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore