LOGIN“Ada apa ya, Ma? Tadi Ayu lagi bikinin susu untuk Gavin. Apa ada perlu sesuatu, Ma?” Tanpa basa-basi Ayu langsung bertanya. Dia sudah hafal kalau soal suruh menyuruh pasti ditujukan padanya.
“Ya ampun, jadi kamu nanya? Lihat tuh, lihat! Sup yang kamu hidangkan di meja, lihat! Itu warnanya jadi jelek banget. Dan itu overcook! Mau ada vitaminnya gimana, hah?” Deg! Purnamasari membentak Ayu dengan suara yang sangat keras. Dan benar saja itu perihal sop yang dikhawatirkan Ayu tadi. Memang Ayu juga menyadari dan tahu kalau sop itu kematangan. Tapi dia pikir tidak akan jadi masalah seperti ini. “Maaf, Ma. Tadi kan pas Ayu lagi masak Ayu dipanggil sama Mbak Mayang. Ayu sudah kecilin apinya tapi memang tadi di atas itu terlalu lama. Jadi mungkin kematangan.” Ayu menjelaskan dengan hati-hati. Seperti biasa dia menunduk takut dan gelisah. Sebenarnya ingin melawan dan menjelaskan seperti biasa saja tanpa ada ketakutan. Hanya saja sorot mata Purnamasari sudah membanting mental Ayu lebih dulu. “Jadi maksudnya kamu nyalahin aku karena aku manggil kamu?” Dari tangga datang suara Mayang yang buat Ayu melirik cepat. Perempuan itu menggendong bayinya sambil memberi susu formula yang tadi dibuat oleh Ayu. Tatapannya tentu saja sudah tidak enak untuk Ayu. “Aku sama sekali nggak nyalahin Mbak Mayang. Tapi kenyataannya tadi memang begitu.” Dengan susah payah Ayu mengatakan uneg-uneg di kepalanya itu. Memang dalam hati kecilnya seperti sudah bosan kalau dia terus saja dipermasalahkan hanya karena hal-hal sepele. “Lalu apa namanya kalau bukan nyalahin? Kamu kan bisa jelasin pakai alasan yang lain. Dan ngomong aja kalau kamu itu nggak becus ngapa-ngapain. Sudah bikin susah cuma numpang, kamu masak aja kematangan. Oh mungkin dulu di keluarga kamu kayak begitu makanya otak kamu bodoh. Mungkin ibu kamu ya yang selalu masaknya itu matang banget, terus diangetin sampai berhari-hari karena masih ada. Jadi begini nih hasilnya, otak kamu itu bodohnya kebangetan.” Ayu benar-benar terkejut bukan main dengan reaksi Mayang atas apa yang terjadi pagi itu. Dia juga tak menyangka kalau keluarga akan dibawa-bawa. Tidak, ini jangan dibiarkan. Ayu pun menatap tegas kakak iparnya. Hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya kini berani dilakukan. “Stop ya, Mbak. Mbak jangan sampai bawa-bawa ibu aku. Mbak boleh silahkan rendahin aku dan hina-hina aku. Tapi jangan bawa-bawa soal ibu aku. Dia itu ibu aku dan ibu yang terbaik. Mbak jangan menghina dia.” Suara Ayu lumayan lantang karena posisi dengan Mayang yang lumayan jauh. “Aduh, sekarang kamu udah berani ngelawan?” serang Mayang dengan sangat kecewa. “Heh Ayu, kamu berani sama mbakmu ngomong gitu? Kalau Mas Andi tahu Kamu songong gitu sama istrinya, kamu habis!” ancam Purnamasari. Taringnya mengerat. “Maaf, Ma, aku songong di mana? Di letak mananya yang memperjelas bahwa aku ini songong saat bicara sama Mbak Mayang? Mbak Mayang bawa-bawa ibu aku, itu sudah keterlaluan, Ma. Lagipula aku sudah minta maaf soal masakan yang terlalu matang. Kan daripada mentah? Dan masih banyak menu yang lainnya, Ma. Kenapa Mama semarah ini sama Ayu?” Sangat sesak dada Ayu saat ini. Bertahun-tahun tinggal di istana mertua, baru kali ini dia bisa nyerocos panjang yang bisa saja dikatakan melawan. Biasanya, Ayu hanya manggut dan menangis. Mayang terkejut bukan main dengan jawaban Ayu. Pun dengan ibunya yang kini terdengar giginya bergemeretak. Menandakan bahwa dia sangat marah atas perlawanan menantunya. Ayu membuat matanya berkaca-kaca. Ah, mungkin sudah bawaan lahir. Apa-apa memang harus dibarengi air mata. Hanya saja, bulir bening kali ini berbeda. Bukan takut, melainkan terharu dengan dirinya yang bisa bicara membela. “Dasar kamu gak tahu diuntung! Sok sudah jadi mantu di rumah ini kamu, ya? Kamu berani bicara dengan nada seperti tadi?” Purnamasari memangkas jarak dengan menantunya itu. Sepasang matanya tentu tidak lekang menatap Ayu. Seluruh tubuh Ayu gemetar. Sakit rasanya bukan main. Dia merasa ini sudah sangat keterlaluan. Sampai kapan dia akan diinjak-injak dan diperlakukan seperti babu? Sampai kapan? “Mungkin dia harus ditampar biar sadar, Ma!” ujar Mayang sambil terus mendekat ke arah mereka berdua. Dan setelah ide dari anak perempuannya itu, tentu saja Purnamasari seperti diberi dukungan. Kilat saja saat itu juga tamparan melayang di pipi Ayu. PLAK!! “Awh, Mama!” Ayu merintih kesakitan. Pipi kanannya yang ditampar terasa begitu sangat panas. Refleks tangan Ayu memegang bagian yang sakit itu. Tanpa sadar air mata pun jatuh dari sebelah kanan dan kiri. Pedih. Bukan hanya pipi yang jadi memerah, tapi batinnya yang makin tertekan. “Hemh, bagus. Biar tahu rasa,” celetuk Mayang dengan bangga. Dia bicara seperti tak ada dosa sedikit pun. “Denger kamu, ya? Kamu di sini cuma numpang. Bukan anak konglomerat, bukan anak pejabat, tapi kamu dinikahi sama anak saya Beni yang kerjanya bagus di kantoran. Kamu kurang beruntung apa coba, Ayu? Tapi kata-kata kamu sudah nyakitin Mayang dan saya!” Lantang suara paruh baya itu mengisi setiap sudut ruangan. Sampai-sampai Beni yang sedang tidur pun kini terbangun dan segera menghampiri ke sumber suara. “Ada apa ini? Dari tadi gak kelar-kelar berisik. Sekarang ada apa?” Beni terlihat marah. Tatapannya juga langsung tertuju pada istri dan ibunya. Purnamasari menoleh cepat. Dia ingin segera menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. “Istri kamu, Ben. Dia berani bentak Mama dan mbakmu. Padahal Mama cuma kesel karena sop yang dia masak terlalu matang. Dia malah ngomong ke mana-mana!” Astaghfirullah! Semakin lesu Ayu di sana. Sudah ditampar, sekarang difitnah di depan suaminya. “Masak iya? Itu Ayu kenapa pegang pipi?” Terusik dengan gelagat istrinya, Beni pun penasaran. “Jujur aja Mama tampar dia. Seenaknya aja dia ngomong. Dia songong. Masak dia bilang makan aja yang lain, kan masih ada. Jangan makan SOP yang overcook itu. Dia songong banget lagi.” Purnamasari semakin mengada-ada. Apa yang keluar dari mulut Ayu ditambah bumbu pedas olehnya. Beni pun mengernyitkan keningnya. Entah apa yang sedang dia pikirkan. “Bener, Mbak denger tadi. Dia juga bilang sama Mbak jangan ikut campur. Dia songong banget. Jelas lah Mama marah, Ben.” Mayang juga menjadi kompor. Kehadiran Ayu semakin jelas tidak diinginkan oleh mereka. “Gak gitu, Mas. Aku bicara baik-baik. Tapi ya sudah, hanya aku yang salah. Aku minta maaf.” Ayu berlari sambil menangis. Sudah beberapa tahun fisik dan mentalnya digempur di rumah mertuanya itu. Kali ini sudah sangat keterlaluan. Kenapa ada saja alasan untuk memojokkan dia di depan suaminya? Apa salah Ayu sebenarnya? Bukankah semua pekerjaan beres tanpa harus bayar orang? Semua dikerjakan oleh Ayu. Tapi apa balasannya? “Tuh lihat, Ben, istri kamu cuma bisanya nangis. Cengeng banget! Mbak yakin, kamu belum punya anak karena dia yang jelek hormonnya. Saran Mbak, kamu cari wanita lain sebelum terlambat.” Ayu mendengar itu. Jelas, jelas sekali, karena Mayang sengaja agar adik iparnya itu mendengarnya. “Mama sih setuju. Untuk apa pernikahan gak enak begini. Makan ati tahu, gak? Mama sebenarnya juga gak mau punya cucu dari si Ayu. Takutnya anaknya nanti bloon gitu. Cuma nyusahin!” Duarrrrr Dan itu seperti halilintar yang menyambar Ayu di siang bolong. Digempur sudah semua kesedihan dan kekecewaannya menjadi satu. Belum lagi rasa sakit yang ikut ambruk di sana mendengar perkataan keluarga suaminya. Kok tega sekali?Sejak perkataan sadis dari ibu mertua dan juga kakak iparnya tadi pagi, Ayu enggan untuk keluar kamar. Air matanya merebak membasahi pipi seiring dengan nasib yang dia ratap, yang melanda dirinya setelah menikah dengan Beni. Dan itu terjadi nyaris setiap hari. Hanya jika keluarga suaminya liburan, mungkin telinga Ayu hening.Tangisnya yang tertahan bukan karena takut terdengar. Hanya itu rasanya sangat pedih dan menyesakkan dada. Sehingga suara pun seperti tak ingin keluar dari mulutnya.Andai ada sosok ibunya di sana, dia bisa mencurah limpahkan rasa sakit hati itu. Tapi tidak mungkin kalau harus menelepon, pasti keluarganya di sana akan sangat sedih.“Semoga kamu disayang sama suami dan keluarga suamimu ya, Nak? Kita akan jauh. Jadi, Ibu gak bisa nengok kamu tiap hari. Tapi Ibu yakin, Beni adalah sosok suami yang sangat baik. Seperti ayah kamu. Keluarganya juga pasti baik semua. Meski tinggal satu rumah, kamu pasti akan bahagia.”Setelah menikah dulu dan memutuskan untuk ikut dengan
“Ada apa ya, Ma? Tadi Ayu lagi bikinin susu untuk Gavin. Apa ada perlu sesuatu, Ma?” Tanpa basa-basi Ayu langsung bertanya. Dia sudah hafal kalau soal suruh menyuruh pasti ditujukan padanya. “Ya ampun, jadi kamu nanya? Lihat tuh, lihat! Sup yang kamu hidangkan di meja, lihat! Itu warnanya jadi jelek banget. Dan itu overcook! Mau ada vitaminnya gimana, hah?”Deg!Purnamasari membentak Ayu dengan suara yang sangat keras. Dan benar saja itu perihal sop yang dikhawatirkan Ayu tadi. Memang Ayu juga menyadari dan tahu kalau sop itu kematangan. Tapi dia pikir tidak akan jadi masalah seperti ini.“Maaf, Ma. Tadi kan pas Ayu lagi masak Ayu dipanggil sama Mbak Mayang. Ayu sudah kecilin apinya tapi memang tadi di atas itu terlalu lama. Jadi mungkin kematangan.”Ayu menjelaskan dengan hati-hati. Seperti biasa dia menunduk takut dan gelisah. Sebenarnya ingin melawan dan menjelaskan seperti biasa saja tanpa ada ketakutan. Hanya saja sorot mata Purnamasari sudah membanting mental Ayu lebih dulu.“J
“Ada apa, Mayang? Kok kamu pagi-pagi udah berisik?” Purnamasari terlihat kesal. Wajah yang tak lagi muda itu memperlihatkan kerutan di dahinya.“Ini si Ayu, nih. Susu Gavin habis, aku suruh dia beliin, malah gak mau. Alasan aja.” Enteng sekali Mayang mengucapkannya. Seakan tak ada rasa bersalah bicara pada ibunya tentang Ayu.“Apa? Kok gitu sih, Yu?” Purnamasari mengernyit menatap Ayu.“Bukan itunya, Ma, tapi Mbak Mayang mau pinjam uangnya juga dari Ayu. Ayu mana ada? Mana harus dua kaleng. Katanya sekitar delapan ratus ribuan. Ayu kan gak ada uang, Ma.” Ayu menyelipkan beberapa helai rambutnya ke telinga. Dia pun tak berani menatap ibu mertuanya yang sudah terlihat menyalahkan.“Alesan aja, Ma. Uang dari Beni ke dia kan pasti besar. Gaji Beni di kantor itu gede. Ngeles aja. Pelit banget! Padahal mana pernah aku minta uang atau pinjam ke si Ayu.” Alih-alih meredam, Mayang malah makin membuat suasana panas.“Bukan gitu, Mbak. Aku ….”Belum juga Ayu menjelaskan lagi, Purnamasari sudah n
“Ayu, Ayu!”Suara panggilan itu melengking begitu keras memanggil nama Ayu–menantu di rumah itu. Sumbernya dari lantai dua. Dari suaranya tentu saja seorang wanita. Tapi bukan ibu mertuanya, melainkan pekerjaan setiap pagi untuk Ayu yang bersumber dari kakak iparnya.Sejak pagi buta itu seperti biasa Ayu sudah sibuk dengan pekerjaannya di dapur. Setelah shalat subuh, tangannya tidak berhenti menghadapi setiap pekerjaan di rumah. Kakinya yang ikut lelah pun seringkali terasa pegal. Sesekali membuatnya duduk untuk menenangkan syaraf tubuhnya yang digempur pekerjaan rumah tangga setelah menikah dengan Beni.Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Rasa lapar dalam perutnya sudah lama melanda. Keringat bercucuran tiada henti meski pagi sekali dia sudah mandi. Bagaimana tidak, rumah besar mertuanya itu sangat membuat dia lelah selama tiga tahun ini.Ayu kadang mengeluh dan menghujat dirinya. Kenapa dia meloloskan takdir menikah dibanding harus menerima pekerjaan, dulu itu. Yang n
28 tahun silam***“Pikirkan lagi keputusan kamu untuk tinggal dengan suami miskinmu, Yasmin. Kalau kamu terus bersamanya, ayah terpaksa tidak akan memberikan kamu apapun! Ayah harap kamu dipanggil ke sini bisa paham maksud ayah.”Suara itu terdengar tegas dan berwibawa. Sayangnya, isinya adalah sebuah ancaman.Di rumah mewah nan megah seorang pria paruh baya berdiri tegap. Bukan sedang memantau karyawan kesiangan, melainkan menghakimi anak kandungnya sendiri.“Ayah, Mas Hadi orang yang sangat baik. Dia suamiku. Dia berpenghasilan kecil juga halal.”“Diam kamu, Yasmin. Ayah sudah malu dengan orang banyak atas pernikahan sembunyi-sembunyi kalian. Lihat kan? Pada akhirnya ada orang yang membocorkan, hingga di media heboh. Pernikahan anakku dilaksanakan seperti orang miskin. Kamu tahu siapa kita? Jamal Adi Bhaskara itu bukan orang sembarangan!”“Aku sangat bersyukur karena ayah bersedia menjadi wali di pernikahan kami, Ayah. Terima kasih, tapi Yasmin harus ikut suami Yasmin. Apalagi Mas







