Share

Bab 3

Author: Kom Komala
last update publish date: 2026-02-14 11:43:59

“Ada apa ya, Ma? Tadi Ayu lagi bikinin susu untuk Gavin. Apa ada perlu sesuatu, Ma?” Tanpa basa-basi Ayu langsung bertanya. Dia sudah hafal kalau soal suruh menyuruh pasti ditujukan padanya.

“Ya ampun, jadi kamu nanya? Lihat tuh, lihat! Sup yang kamu hidangkan di meja, lihat! Itu warnanya jadi jelek banget. Dan itu overcook! Mau ada vitaminnya gimana, hah?”

Deg!

Purnamasari membentak Ayu dengan suara yang sangat keras. Dan benar saja itu perihal sop yang dikhawatirkan Ayu tadi. Memang Ayu juga menyadari dan tahu kalau sop itu kematangan. Tapi dia pikir tidak akan jadi masalah seperti ini.

“Maaf, Ma. Tadi kan pas Ayu lagi masak Ayu dipanggil sama Mbak Mayang. Ayu sudah kecilin apinya tapi memang tadi di atas itu terlalu lama. Jadi mungkin kematangan.”

Ayu menjelaskan dengan hati-hati. Seperti biasa dia menunduk takut dan gelisah. Sebenarnya ingin melawan dan menjelaskan seperti biasa saja tanpa ada ketakutan. Hanya saja sorot mata Purnamasari sudah membanting mental Ayu lebih dulu.

“Jadi maksudnya kamu nyalahin aku karena aku manggil kamu?”

Dari tangga datang suara Mayang yang buat Ayu melirik cepat. Perempuan itu menggendong bayinya sambil memberi susu formula yang tadi dibuat oleh Ayu. Tatapannya tentu saja sudah tidak enak untuk Ayu.

“Aku sama sekali nggak nyalahin Mbak Mayang. Tapi kenyataannya tadi memang begitu.” Dengan susah payah Ayu mengatakan uneg-uneg di kepalanya itu. Memang dalam hati kecilnya seperti sudah bosan kalau dia terus saja dipermasalahkan hanya karena hal-hal sepele.

“Lalu apa namanya kalau bukan nyalahin? Kamu kan bisa jelasin pakai alasan yang lain. Dan ngomong aja kalau kamu itu nggak becus ngapa-ngapain. Sudah bikin susah cuma numpang, kamu masak aja kematangan. Oh mungkin dulu di keluarga kamu kayak begitu makanya otak kamu bodoh. Mungkin ibu kamu ya yang selalu masaknya itu matang banget, terus diangetin sampai berhari-hari karena masih ada. Jadi begini nih hasilnya, otak kamu itu bodohnya kebangetan.”

Ayu benar-benar terkejut bukan main dengan reaksi Mayang atas apa yang terjadi pagi itu. Dia juga tak menyangka kalau keluarga akan dibawa-bawa. Tidak, ini jangan dibiarkan. Ayu pun menatap tegas kakak iparnya. Hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya kini berani dilakukan.

“Stop ya, Mbak. Mbak jangan sampai bawa-bawa ibu aku. Mbak boleh silahkan rendahin aku dan hina-hina aku. Tapi jangan bawa-bawa soal ibu aku. Dia itu ibu aku dan ibu yang terbaik. Mbak jangan menghina dia.” Suara Ayu lumayan lantang karena posisi dengan Mayang yang lumayan jauh.

“Aduh, sekarang kamu udah berani ngelawan?” serang Mayang dengan sangat kecewa.

“Heh Ayu, kamu berani sama mbakmu ngomong gitu? Kalau Mas Andi tahu Kamu songong gitu sama istrinya, kamu habis!” ancam Purnamasari. Taringnya mengerat.

“Maaf, Ma, aku songong di mana? Di letak mananya yang memperjelas bahwa aku ini songong saat bicara sama Mbak Mayang? Mbak Mayang bawa-bawa ibu aku, itu sudah keterlaluan, Ma. Lagipula aku sudah minta maaf soal masakan yang terlalu matang. Kan daripada mentah? Dan masih banyak menu yang lainnya, Ma. Kenapa Mama semarah ini sama Ayu?”

Sangat sesak dada Ayu saat ini. Bertahun-tahun tinggal di istana mertua, baru kali ini dia bisa nyerocos panjang yang bisa saja dikatakan melawan. Biasanya, Ayu hanya manggut dan menangis.

Mayang terkejut bukan main dengan jawaban Ayu. Pun dengan ibunya yang kini terdengar giginya bergemeretak. Menandakan bahwa dia sangat marah atas perlawanan menantunya.

Ayu membuat matanya berkaca-kaca. Ah, mungkin sudah bawaan lahir. Apa-apa memang harus dibarengi air mata. Hanya saja, bulir bening kali ini berbeda. Bukan takut, melainkan terharu dengan dirinya yang bisa bicara membela.

“Dasar kamu gak tahu diuntung! Sok sudah jadi mantu di rumah ini kamu, ya? Kamu berani bicara dengan nada seperti tadi?”

Purnamasari memangkas jarak dengan menantunya itu. Sepasang matanya tentu tidak lekang menatap Ayu.

Seluruh tubuh Ayu gemetar. Sakit rasanya bukan main. Dia merasa ini sudah sangat keterlaluan. Sampai kapan dia akan diinjak-injak dan diperlakukan seperti babu? Sampai kapan?

“Mungkin dia harus ditampar biar sadar, Ma!” ujar Mayang sambil terus mendekat ke arah mereka berdua. Dan setelah ide dari anak perempuannya itu, tentu saja Purnamasari seperti diberi dukungan. Kilat saja saat itu juga tamparan melayang di pipi Ayu.

PLAK!!

“Awh, Mama!”

Ayu merintih kesakitan. Pipi kanannya yang ditampar terasa begitu sangat panas. Refleks tangan Ayu memegang bagian yang sakit itu. Tanpa sadar air mata pun jatuh dari sebelah kanan dan kiri. Pedih. Bukan hanya pipi yang jadi memerah, tapi batinnya yang makin tertekan.

“Hemh, bagus. Biar tahu rasa,” celetuk Mayang dengan bangga. Dia bicara seperti tak ada dosa sedikit pun.

“Denger kamu, ya? Kamu di sini cuma numpang. Bukan anak konglomerat, bukan anak pejabat, tapi kamu dinikahi sama anak saya Beni yang kerjanya bagus di kantoran. Kamu kurang beruntung apa coba, Ayu? Tapi kata-kata kamu sudah nyakitin Mayang dan saya!” Lantang suara paruh baya itu mengisi setiap sudut ruangan. Sampai-sampai Beni yang sedang tidur pun kini terbangun dan segera menghampiri ke sumber suara.

“Ada apa ini? Dari tadi gak kelar-kelar berisik. Sekarang ada apa?” Beni terlihat marah. Tatapannya juga langsung tertuju pada istri dan ibunya.

Purnamasari menoleh cepat. Dia ingin segera menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. “Istri kamu, Ben. Dia berani bentak Mama dan mbakmu. Padahal Mama cuma kesel karena sop yang dia masak terlalu matang. Dia malah ngomong ke mana-mana!”

Astaghfirullah! Semakin lesu Ayu di sana. Sudah ditampar, sekarang difitnah di depan suaminya.

“Masak iya? Itu Ayu kenapa pegang pipi?” Terusik dengan gelagat istrinya, Beni pun penasaran.

“Jujur aja Mama tampar dia. Seenaknya aja dia ngomong. Dia songong. Masak dia bilang makan aja yang lain, kan masih ada. Jangan makan SOP yang overcook itu. Dia songong banget lagi.”

Purnamasari semakin mengada-ada. Apa yang keluar dari mulut Ayu ditambah bumbu pedas olehnya. Beni pun mengernyitkan keningnya. Entah apa yang sedang dia pikirkan.

“Bener, Mbak denger tadi. Dia juga bilang sama Mbak jangan ikut campur. Dia songong banget. Jelas lah Mama marah, Ben.” Mayang juga menjadi kompor. Kehadiran Ayu semakin jelas tidak diinginkan oleh mereka.

“Gak gitu, Mas. Aku bicara baik-baik. Tapi ya sudah, hanya aku yang salah. Aku minta maaf.”

Ayu berlari sambil menangis. Sudah beberapa tahun fisik dan mentalnya digempur di rumah mertuanya itu. Kali ini sudah sangat keterlaluan. Kenapa ada saja alasan untuk memojokkan dia di depan suaminya? Apa salah Ayu sebenarnya? Bukankah semua pekerjaan beres tanpa harus bayar orang? Semua dikerjakan oleh Ayu. Tapi apa balasannya?

“Tuh lihat, Ben, istri kamu cuma bisanya nangis. Cengeng banget! Mbak yakin, kamu belum punya anak karena dia yang jelek hormonnya. Saran Mbak, kamu cari wanita lain sebelum terlambat.”

Ayu mendengar itu. Jelas, jelas sekali, karena Mayang sengaja agar adik iparnya itu mendengarnya.

“Mama sih setuju. Untuk apa pernikahan gak enak begini. Makan ati tahu, gak? Mama sebenarnya juga gak mau punya cucu dari si Ayu. Takutnya anaknya nanti bloon gitu. Cuma nyusahin!”

Duarrrrr

Dan itu seperti halilintar yang menyambar Ayu di siang bolong. Digempur sudah semua kesedihan dan kekecewaannya menjadi satu. Belum lagi rasa sakit yang ikut ambruk di sana mendengar perkataan keluarga suaminya. Kok tega sekali?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Yang Kalian Hina Miskin   20 Bukan Menantu Baik-baik

    “Ayu!”Tubuh Ayu yang sedang santai menyantap makanan di meja itu seketika tersentak kaget. Suara pria menyebut nama dengan tangan kasar menarik bahu Ayu.“Ngapain kamu malam-malam di sini, hah? Mama bilang kamu keluar rumah tapi gak ngasih tahu mau ke mana. Lalu kamu malah marah-marah sama mama dan nyelonong begitu saja. Ternyata benar?” Pria itu langsung nyerocos tanpa membiarkan Ayu menjelaskan lebih dulu. Tentu saja itu Beni bukan pria lain manapun.“Mas?” Ayu yang terperanjat pun masih kaget dengan sosok suaminya yang sudah ada di tempat yang sama dengannya. Ayu tidak tahu kapan Beni datang menghampirinya ke sana. Terlihat sepertinya Beni datang seorang diri. Menghampiri meja yang sedang dipesan oleh keluarga Ayu, membuat Beni marah-marah. “Kamu keluar rumah tanpa seizin aku? Dan kamu di sini nemuin orang tua kamu?” Beni menatap wajah ayah dan ibunya Ayu.“Beni, apa kabar?” Ayahnya Ayu menyapa dengan hangat dan penuh kesopanan. “Kabar aku baik, Ayah. Ternyata benar kalian se

  • Yang Kalian Hina Miskin   19 Melepas Pada Orang Yang Salah

    Ayu masih gelisah dengan apa yang dikatakan oleh ibu kandungnya sendiri. Karena tadi katanya akan menyusul. Apa ibunya tahu di mana posisinya? Ayu diam sejenak di depan kafe yang disebut-sebut sering didatangi oleh suaminya. Tidak sampai 10 menit roda empat berwarna hitam mendatanginya. Posisi Ayu yang masih di atas motor pun terheran-heran. Dari dalam mobil bagus itu keluar orang yang tentu sangat Ayu kenali. Ayahnya, dia keluar dari pintu mobil depan di mana tempat duduk pengemudi sana.Disusul sang ibu yang ikut serta mendekat ke arah Ayu yang kini berdiri masih di dekat motornya.“Ayah, ibu?”Ayu teheran-heran dengan kedatangan kedua orang tuanya yang mengetahui posisi dirinya berada. Tapi lepas dari itu rasa rindu Ayu terhadap ayahnya lebih menggebu-gebu. Karena kemarin yang datang menemui hanya ibunya saja.“Nak,” sapa Ayah Ayu.“Ayah!” Dengan jawaban ceria dan manja Ayu merangkul tubuh ayahnya. Pelukan hangat cinta pertamanya dia rasakan setelah sekian lama. Ibunya Ayu terse

  • Yang Kalian Hina Miskin   18 Posisi Suamiku

    Hari ini Beni seperti biasa keluar rumah malam-malam. Yang katanya dia nongkrong sama teman-teman kerja di kafe biasa. Sejak Ayu menemukan struk belanjaan yang kemarin itu, membuatnya benar-benar tidak tidur nyenyak. Apalagi setelah tahu bahwa detail dari merek yang dibeli itu bukan untuk anaknya Mayang. Jadi Ayu yakin dia membelikan itu untuk orang lain. Hari ini sengaja meskipun debat dengan ibu mertua, Ayu tetap keluar rumah dengan alasan untuk pergi ke rumah ibunya yang baru. Padahal Ayu sengaja ingin membuntuti ke mana Beni sebenarnya pergi. “Kamu sekarang berani ya mau keluar jam segini?” Ibu mertua Ayu menatap tajam saat bicara.“Maaf, Ayu ada urusan, Ma. Dan semestinya ini nggak ada masalah. Karena aku selama ini nggak pernah keluar rumah jam segini. Jadi, kali ini Ayu minta izin.”Ayu yang sudah berdandan rapi menjawab pertanyaan Ibu mertuanya tanpa beban ataupun rasa bersalah. “Nah itu dia, kenapa kamu sekarang mau keluar rumah? Biasanya juga diam. Atau jangan-jangan kam

  • Yang Kalian Hina Miskin   17 Ternyata ...

    “Ayu, apa-apaan ini? Kenapa kamu lempar kertas-kertas ke muka aku?” Beni kesal atas kelakuan istrinya. Baru saja masuk, wajah sudah dilempar oleh kertas-kertas yang menurut Beni itu hanya sampah.Wajah Ayu terlihat begitu kesal ke arah suaminya. Sorot mata tajam penuh dengan ribuan pertanyaan itu belum juga reda.Tatapan itu membuat Beni mengerutkan dahinya. Perlahan Beni pun memungut satu persatu apa yang tadi berserakan di wajahnya. Niat marah itu kini berubah jadi risau. Setelah berhasil mengambil salah satunya, Beni pun melihat bahwa itu adalah sebuah struk belanjaan. Bukan hanya satu, tapi banyak. Dan itu membuat sepasang matanya melebar saking kaget.“Kenapa, Mas? Kaget ya? Mentang-mentang selama ini aku cuma diam aja dan gak pernah periksa apa-apa. Bagus tadi aku cek tas kerja kamu yang sudah sekian lama tak pernah aku sentuh. Karena kamu yang tidak memperbolehkan aku ikut campur.” Sinis Ayu mengucapkannya. Seperti perlahan emosinya mulai menyalakan api.Beni yang memasang waj

  • Yang Kalian Hina Miskin   16 Istri Durhaka

    “Iya, Ben. Mungkin otaknya juga udah diracuni sama ibunya. Tadi Ayu bilang nggak mau lagi bantu-bantu Mama di rumah ini. Dia katanya lebih baik kerja.” Cungur Purnamasari mengaung memfitnah.“Bener ngomong gitu kamu?” Beni pun melesatkan pandangannya ke arah Ayu dengan tajam. Pertanyaan itu lebih terlihat seperti sebuah ancaman.“Benar, Mas. Tapi tepatnya Bukan gitu.” Ayu pun kini berani bicara.“Lalu gimana?”Purnamasari sudah sinis saja ke arah menantunya. Seakan sudah mempersiapkan kata-kata yang akan terus menyudutkan Ayu. Kalau sampai nanti memang dia dikatakan aneh-aneh.“Kalimat Mama yang bilang aku bantu-bantu Mama di rumah ini itu bohong. Karena aku bukan membantu, tapi aku mengerjakan semua pekerjaan di rumah ini. Mama sama Mbak Mayang sama sekali nggak pernah nyentuh pekerjaan apapun. Jadi, Mamah nggak tepat kalau sebut aku bantu-bantu di rumah ini!” Ayu dengan penuh penekanan dan hentakkan mengungkapkannya. Emosi itu seperti mengepulkan asap di kepala.“Heh, ngomong apa ka

  • Yang Kalian Hina Miskin   15 Jangan-Jangan Aku Tidak Berharga Di matamu?

    “Ibu kamu udah pulang?”Setelah kembali dari kepentingannya, Beni menanyakan mertuanya. Karena setelah melihat-lihat sekitar tidak dilihat ibunya Ayu ada di dalam rumah. “Tadi juga sudah, Mas. Ibu nggak lama.” Ayu menjawab dengan singkat.“Oh, terus gimana? Kedatangan ibu kamu ke sini sebenarnya mau apa? Apa benar dia mau pindah ke kota ini dan dekat sama kita?” Tiba-tiba saja Beni mempertanyakan hal yang tadi dikatakan oleh ibunya. Yang di mana tadi Purnamasari koar-koar bahwa besannya itu diusir dari kampung dan akan pindah ke kota ini.“Emang benar ibu sekeluarga mau pindah ke sini, Mas.”“Terus?” “Terus apanya?”“Apa mau pinjam uang ke kita?” Pertanyaan itu membuat hati Ayu terbakar. Dugaan Ayu benar, darah Purnamasari memang menetes pada putranya. Cara bicara, cara bertanya, dan cara memandang sesuatu itu tidak jauh berbeda.“Maksudnya kayak ibunya Mas Andi yang pinjem uang ke kamu sama ke Mama?” Ayu malah menyindir. Tapi memang itu disengaja. Karena didengar-dengar pertanyaan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status