LOGINSejak perkataan sadis dari ibu mertua dan juga kakak iparnya tadi pagi, Ayu enggan untuk keluar kamar. Air matanya merebak membasahi pipi seiring dengan nasib yang dia ratap, yang melanda dirinya setelah menikah dengan Beni. Dan itu terjadi nyaris setiap hari. Hanya jika keluarga suaminya liburan, mungkin telinga Ayu hening.
Tangisnya yang tertahan bukan karena takut terdengar. Hanya itu rasanya sangat pedih dan menyesakkan dada. Sehingga suara pun seperti tak ingin keluar dari mulutnya. Andai ada sosok ibunya di sana, dia bisa mencurah limpahkan rasa sakit hati itu. Tapi tidak mungkin kalau harus menelepon, pasti keluarganya di sana akan sangat sedih. “Semoga kamu disayang sama suami dan keluarga suamimu ya, Nak? Kita akan jauh. Jadi, Ibu gak bisa nengok kamu tiap hari. Tapi Ibu yakin, Beni adalah sosok suami yang sangat baik. Seperti ayah kamu. Keluarganya juga pasti baik semua. Meski tinggal satu rumah, kamu pasti akan bahagia.” Setelah menikah dulu dan memutuskan untuk ikut dengan suami karena sebuah keharusan, pesan dan harapan seorang ibu itu masih terngiang begitu jelas di telinga Ayu. Dengan penuh tangis ibu Ayu mendoakan. “Kalau ada apa-apa, kabari kami, Nak. Ayah yakin Beni adalah anak yang baik. Dia pasti melindungi kamu di sana.” Itu pesan ayah Ayu. Sebenarnya berat bagi Ayu. Tapi, status istri yang disandangnya menjadikan sebuah keharusan untuk dia ikut dan patuh pada suaminya. Tiga tahun menjalin rumah tangga, bukannya makin bahagia, malah Ayu semakin menderita. Khayalan dan harapan Ayu dulu, setelah menikah, meski tidak bekerja, dia bisa menyisihkan uang kalau-kalau ingin mengirimi sesuatu untuk orang tua. Tapi nyatanya tidak. Jangankan sesuatu yang mahal, sekadar hal sepele pun sangat sulit. Menemui orang tua hanya hari raya saja. Itupun tidak diperbolehkan menginap oleh ibunya Beni. Bawa buah tangan yang sangat minim, padahal Beni kerja kantoran dengan gaji dua digit. Ayu sangat kesal dengan itu semua. Dia tidak menyangka suaminya kikir seperti. Padahal sebelum menikah, janjinya selangit. Ah … sudahlah. Sekarang hanya tinggal menunggu air yang mengalir ini jalannya akan seperti apa. “Yu, kamu nangis?” Teguran dengan nada pelan itu membangunkan Ayu dari lamunannya. Meski telinganya masih berdengung sebab kepedihannya, dia segera bangkit. “Kamu heran aku nangis, Mas? Seharusnya kamu ngerasain kalau ada di posisi aku. Keluarga kamu ngomong gitu sama aku. Dan sekarang makin keterlaluan.” Sekuat tenaga sekarang Ayu mampu meluapkan emosinya. Meski sebenarnya dia tahu, bisa saja Beni balik marah besar. Pria dengan kulit sawo matang itu memangkas jarak dengan istrinya. Langkahnya mengalun lembut dengan tatapan sayu. “Maaf, aku tahu ibu dan mbak aku keterlaluan. Maafin aku dan mereka, ya?” Ayu memejamkan matanya dengan sangat dalam. Bulir beningnya mentes lagi kali ini. Tapi, hatinya sedikit tenang. Beni nyatanya tidak marah seperti apa yang dia duga sebelumnya. Beni meraih bahu kanan Ayu. Diusapnya lembut berulang kali, lalu dibawanya kepala Ayu masuk ke dalam pelukan Beni. Ayu pun hanya bisa menahan tangis. Keheningan di dalam kamar itu seakan menjadi saksi bisu atas perlakuan keluarga suaminya. “Semoga kamu gak tersinggung ya, Yu. Mama dan mbakku kan gitu orangnya. Jangan diambil hati,” ucap Beni lagi dengan lembut. Sorot matanya layu ke arah jendela sambil memeluk istrinya. “Kamu denger tadi, Mas? Mereka sampai nyuruh Mas nikah lagi. Dan mama bilang gak mau anak dari aku.” Ayu masih menangis dalam pelukan suaminya. “Ya. Tapi aku tidak akan melakukan hal itu. Aku sudah punya istri yang sangat berbakti seperti kamu. Aku juga minta maaf, kalau aku jarang berbagi waktu sama kamu. Aku sibuk kerja. Maaf. Jangan cemaskan kata-kata mama dan mbakku.” Sesak di dada Ayu kini terluapkan. Emosinya sangat diguyur, tapi dia sangat bersyukur. Akhirnya Beni bisa mengerti atas apa yang terjadi. Ayu cemas dan takut, kalau-kalau suaminya malah ikut. Ikut terbawa arus perkataan ibunya yang tidak berperikemanusiaan. Menangis lama di sana. Ayu pun kini perlahan mengangkat kepalanya semakin tegak. Dia s***k air mata untuk mencoba kuat. Karena di hadapannya, nyatanya sosok suami ada di pihaknya. “Aku janji, kita akan segera pindah rumah. Biar gak tinggal terus di rumah mama ini.” “Serius, Mas?” “Ya. Kamu doain aja aku ya? Uangnya sih belum ada. Tapi, semoga aku dipromosikan naik jabatan. Biar gajiku lebih gede, bisa beli rumah buat kita.” “Aamiin, Mas.” Untuk ke sekian kalinya Ayu mencoba sabar. Apalagi sekarang Beni sudah berniat ingin pindah rumah. Tentu saja Ayu sangat bahagia mendengarnya. Tak butuh waktu lama, Beni pun mampu mengembalikan senyum di bibir istrinya. *** “Jadi sekarang Tessa sudah menjanda? Duh, kok bisa sih?” “Gak bersyukur aja suaminya itu. Tessa kan wanita karier. Dia sibuk nyari uang. Eh, suaminya malah selingkuh ke sana kemari. Mungkin Tessa juga udah muak. Katanya dia cerain suaminya pakek uang dia sendiri. Yang urus semua pengacaranya.” Baru keluar dari kamar, telinga Ayu sudah dibuat berisik oleh percakapan ibu mertua dan juga kakak iparnya di ruang tengah. Mayang duduk sambil memegangi handphone tanpa bayi kecilnya. Ayu tidak tahu siapa itu Tessa. Kenapa bisa seriweuh itu mereka menggosip. “Wah wah wah, kenapa gak dari awal aja ya Tessa sama Beni. Mereka padahal cocok. Dulu, kalau mereka menikah, pasti mereka hidup bahagia. Cocok kan mereka, Ma?” Deg Kata-kata itu mengiris perasaan Ayu lagi. Membuat langkahnya yang akan menuju ke arah dapur pun berat. Apa mungkin Tessa itu mantan pacar suaminya dulu? “Yaiyalah, dibanding sama si Ayu, Beni tuh kayak bumi dan langit. Jauuuuh banget. Entah kenapa si Beni pergi jauh-jauh waktu KKN dulu dapat perempuan itu. Ya ampun, ngenes deh Mama.” Ayu terusik dengan kata-kata itu. Ibu mertuanya terang-terangan membandingkan dan menghina dirinya. Tangan Ayu pun kini mengepal erat. Meski begitu, kakinya berat untuk berjalan. “Ehm, Ma!” Mayang menyadari kedatangan adik iparnya. Dia pun memberi kode pada ibunya. Tubuh Ayu sudah bergetar. Ingin saja meremas mulut mereka berdua setelah mendengar semuanya. Apakah setelah melihat kedatangannya semua diam? Tidak, malah lebih parah. Ayu sangat dihina dan diejek. “Eh, ya gak apa-apa. Emang bener kok.” Purnamasari sangat sengaja. Setelah melihat Ayu, dia malah makin blak-blakan. “Em, iya juga sih, Ma.” Ayu pun lewat ke samping mereka. Air matanya terbendung sejak awal. Bisa-bisanya kini perkataan mereka membuat bening itu jatuh ke pipinya. “Apa yang mama katakan itu semua bener, lho. Kata-kata saya terdengar menyakitkan ya, Yu? Tapi emang itu adanya. Saya sebenarnya gak sreg ada kamu di rumah ini jadi mantu saya. Makanya, kalau kamu belum hamil pun, ya saya sih biasa aja. Malah seneng. Punya cucu itu kan musti dari bibit ibunya yang gak bloon kayak kamu. Ups. Maaf, ya?” Sengaja saat Ayu lebih mendekat, Purnamasari meluapkan kekesalannya. Hal itu tentu saja membuat Ayu tak bisa hanya diam. Ayu mengangkat wajahnya dengan cepet. Air mata mulai merebak di pipi. Tatapannya tajam ke arah ibu mertua dan juga kakak iparnya. “Astaghfirullah, Ma, Mbak, cukup. Aku denger kalian sejak tadi. Dan setelah aku datang, bukannya mama sama mbak diam, malah semakin bikin perasaan aku perih begini. Kenapa Mama tega bicara begitu setelah sekian lama aku mengabdi di rumah ini? Kenapa, Ma? Padahal aku yang ngerjain pekerjaan semua di rumah ini?” Ayu berkata dengan sekuat tenaga menabrak rasa hormat pada ibu mertuanya. Kenapa sebenci itu? Kenapa? “Ya, bener. Setelah aku pikir-pikir, kamu udah tiga tahun ada di rumah ini, keknya si Beni kelilipan deh. Makin hari kamu gak ada nilai plusnya. Kerjaan aja berantakan. Malah jadi beban buat si Beni. Uang Beni makin dikit karena harus urus kamu!” Purnamasari memekik dengan kesal. “Beban? Apa suami bawa istrinya, suami nafkahi istrinya itu beban, Ma? Apa Mama dulu tidak dinafkahi oleh almarhum papa mertua?” Saking kesalnya Ayu berani melawan. Tapi sebuah tamparan lah yang mendarat di pipinya. PLAK! “Rasain itu! Berani kamu ngomong gak sopan?” serang Purnamasari dengan sangat arogan. Ayu pun kini hanya bisa mengelusi pipinya yang begitu terasa panas. “Mama, apa-apaan ini?” Pintu tiba-tiba saja membuka. Suara itu datang menghentikan ocehan Purnamasari dan Mayang. Ayu pun menoleh cepat. Dia berharap pria yang datang ini bisa membelanya.Suasana di teras rumah megah itu mendadak senyap begitu derap langkah kaki yang tergesa-gesa memecah keheningan malam. Purnamasari tidak lagi mengetuk, melainkan langsung menerobos melewati gerbang yang kebetulan terbuka karena mobil sedan mewah tadi hendak melintas keluar. Dengan napas memburu dan wajah yang merah padam oleh amarah, dia menunjuk tepat ke arah wajah Ayu yang masih berdiri tenang di samping pria paruh baya itu."Oh, jadi begini kelakuan kamu di belakang Beni, Ayu!" pekik Purnamasari, suaranya melengking membelah malam. "Dasar tidak tahu diri! Jadi pembantu di rumah orang kaya saja gayanya sudah seperti nyonya besar!"Ayu sama sekali tidak bergeming; dia hanya melipat tangan di dada dengan tatapan dingin. Pria paruh baya di sebelahnya—yang tak lain adalah ayah kandung Ayu—serta seorang wanita anggun yang baru keluar dari pintu utama, yang merupakan ibu Ayu, juga hanya terdiam menyaksikan amukan itu. Keheningan mereka justru membuat Purnamasari semakin merasa di atas
“Aduh, Bu Purnamasari, jangan bawa-bawa keluarga saya lagi, deh! Masalah di rumah saya sendiri saja sudah bikin kepala mau pecah!” Suara Bu Dewi di seberang telepon terdengar melengking tinggi, penuh dengan nada frustrasi yang tidak berusaha disembunyikan. “Tapi, Bu Dewi, ini masalah hidup dan mati Beni! Siapa lagi yang bisa saya mintai tolong?” Purnamasari memelas, air matanya menetes bebas merusak sisa bedak di pipinya. “Jujur ya, Bu, hidup saya sekarang ini sudah susah! Jangankan buat bayar pengacara hebat untuk Beni, buat makan sehari-hari saja saya harus putar otak! Ditambah lagi si Andi dan Mayang, utang mereka di mana-mana! Debt collector bolak-balik datang ke rumah sampai saya malu sama tetangga! Jadi tolong, jangan bebani saya dengan urusan Beni!” Klik.Sambungan telepon diputus sepihak. Purnamasari terpaku menatap layar ponselnya yang menggelap. Dadanya kembang kempis menahan rasa sesak yang kian menghimpit. Penolakan mentah-mentah dari besannya itu bagai tamparan
Shintya membusungkan dadanya, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya di depan Ayu. "Heh, Ayu! Kamu jangan berlagak sombong ya! Mas Beni tidak akan membusuk di penjara seperti yang kamu mau! Aku punya banyak kenalan orang penting!"Ayu menaikkan satu alisnya, tampak terhibur. "Oh ya? Coba sebutkan, siapa yang mau menolong seorang penipu investasi bodong dengan kerugian ratusan juta?""Aku punya teman seorang pengacara hebat di kota ini! Aku juga kenal dengan beberapa pejabat yang bisa mengatur masalah ini!" seru Shintya dengan nada menantang, menggenggam ponselnya erat-erat. "Aku akan menghubungi mereka sekarang juga! Mas Beni pasti akan bebas besok pagi, catat kata-kataku!"Mendengar bualan besar itu, Ayu tidak bisa lagi menahan tawa. Suara kekehannya yang renyah menggema di ruangan yang tegang itu, terdengar sangat meremehkan hingga membuat telinga Shintya merah padam."Silakan, Shintya. Hubungi saja semua teman hebatmu itu," ucap Ayu setelah tawanya mereda, menatap Shintya de
Beni merasa dunianya benar-benar runtuh berkeping-keping. Di dekapannya, tubuh Purnamasari terasa begitu berat dan dingin, sementara dua petugas polisi melangkah makin mendekat dengan tatapan tanpa kompromi.Bagaimana dengan adik bungsunya yang sedang kuliah di luar sana? Bagaimana dengan biayanya? Bagaimana kalau dia tahu ini? Semburan keringat dingin membasahi seluruh punggung Beni, membuatnya gemetar hebat."Pak, tolong mengerti! Ibu saya pingsan! Saya harus membawanya ke rumah sakit sekarang!" ratap Beni, suaranya melengking panik, mencoba memohon belas kasihan.Pak RT yang berdiri di belakang polisi menggelengkan kepala dengan raut wajah kecewa. "Beni, urusan medis ibumu akan diurus oleh ambulans yang sudah saya panggilkan lewat warga di luar. Tapi kamu, kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Laporan dari para korban sudah lengkap.""Tapi saya tidak bersalah, Pak RT! Ini pasti salah paham! Seseorang sengaja menjebak saya!" teriak Beni histeris. Dia berusaha berdiri,
Sekelompok orang penagih utang itu satu persatu pergi setelah memberikan ancaman terakhir yang begitu mengerikan. Suara deru mesin motor mereka perlahan menjauh, menyisakan kesunyian yang mencekam di dalam ruang tamu. Di tengah ruangan yang kini terasa begitu lapang sekaligus menghimpit, Beni dan juga ibunya yang jahat tercengang dan syok berat. Bahu mereka merosot, seolah seluruh sendi pertahanan tubuh telah diloloskan paksa. Beni menatap lantai marmer dengan pandangan kosong, napasnya memburu pendek-pendek. Otaknya yang biasa dipenuhi kelicikan kini mendadak buntu, tidak mampu memproses rentetan petaka yang datang beruntun. Dia benar-benar tidak menyangka Mayang punya utang besar, bahkan sampai hati menggadaikan sertifikat rumah pusaka mereka. Pun dengan ibunya. Purnamasari masih terduduk di lantai, jemarinya meraba dada yang terasa seperti dihantam godam besar. Mulutnya menganga tanpa suara, hanya air mata yang terus mengalir deras, membasahi keriput di pipinya yang kini sep
Ketukan keras yang menggema di pintu jati itu tidak hanya menggetarkan kayu, tetapi juga meruntuhkan ketenangan di dalam rumah Purnamasari. Di ambang pintu, berdiri dua orang pria berbadan tegap dengan jaket kulit hitam. Bersama mereka juga datang dua pria berpakaian rapi. Memakai jas warna hitam. Wajah mereka sangar, dihiasi guratan tegas dan tatapan mata yang dingin tanpa keramahan sedikit pun.”Cepat katakan di mana si Mayang?” gertak pria yang wajahnya memiliki bekas sayatan luka.Beni langsung memasang badan, mencoba melindungi ibunya. "Kalian siapa? Ada urusan apa datang ke rumah kami dengan cara tidak sopan?"Pria barusan yang tangannya juga bertato itu terkekeh sinis, sementara temannya yang berkepala plontos mengeluarkan selembar kertas dari balik jaketnya. "Kami tidak ada urusan denganmu, Anak Muda. Kami ke sini untuk mencari Mayang. Dia punya urusan besar yang belum selesai dengan bos kami.""Mayang? Anak saya tidak ada di rumah. Dia sedang menginap di rumah ibu mertu
Ayu mencondongkan badannya ke depan, berbisik tepat di depan wajah suaminya yang sudah pucat pasi. "Itu adalah akta kelahiran dan hasil tes DNA. Bukti bahwa kamu sudah memiliki seorang anak yang berusia 5 bulan dari perempuan itu. Selamat, Beni, kebohonganmu selesai hari ini."Sinar matahari sore y
“Udah ngomongnya, Mas? Apa sekarang aku udah dapat giliran buat bicara?”Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ayu tentu saja Beni dan ibunya sangat kaget bukan main. Sosoknya seperti bukan Ayu yang dulu. Sekarang saat dia bicara terlihat begitu mencekam dan menakutkan. Tapi, Beni tidak akan kal
Dering handphone berbunyi dengan begitu nyaring. Terkejut bukan main Beni saat itu. Dia melihat jam kecil di meja sudah menunjukkan pukul 7.30 pagi. Waktu yang di mana dan seharusnya dia sudah tak ada lagi di atas kasur. “Hah, udah siang? Mana aku ada tugas kantor, pagi ini!” Bergegas Beni beranj
“Ayu!”Tubuh Ayu yang sedang santai menyantap makanan di meja itu seketika tersentak kaget. Suara pria menyebut nama dengan tangan kasar menarik bahu Ayu.“Ngapain kamu malam-malam di sini, hah? Mama bilang kamu keluar rumah tapi gak ngasih tahu mau ke mana. Lalu kamu malah marah-marah sama mama da







