Share

Bab 4

Author: Kom Komala
last update Last Updated: 2026-02-14 11:44:20

Sejak perkataan sadis dari ibu mertua dan juga kakak iparnya tadi pagi, Ayu enggan untuk keluar kamar. Air matanya merebak membasahi pipi seiring dengan nasib yang dia ratap, yang melanda dirinya setelah menikah dengan Beni. Dan itu terjadi nyaris setiap hari. Hanya jika keluarga suaminya liburan, mungkin telinga Ayu hening.

Tangisnya yang tertahan bukan karena takut terdengar. Hanya itu rasanya sangat pedih dan menyesakkan dada. Sehingga suara pun seperti tak ingin keluar dari mulutnya.

Andai ada sosok ibunya di sana, dia bisa mencurah limpahkan rasa sakit hati itu. Tapi tidak mungkin kalau harus menelepon, pasti keluarganya di sana akan sangat sedih.

“Semoga kamu disayang sama suami dan keluarga suamimu ya, Nak? Kita akan jauh. Jadi, Ibu gak bisa nengok kamu tiap hari. Tapi Ibu yakin, Beni adalah sosok suami yang sangat baik. Seperti ayah kamu. Keluarganya juga pasti baik semua. Meski tinggal satu rumah, kamu pasti akan bahagia.”

Setelah menikah dulu dan memutuskan untuk ikut dengan suami karena sebuah keharusan, pesan dan harapan seorang ibu itu masih terngiang begitu jelas di telinga Ayu. Dengan penuh tangis ibu Ayu mendoakan.

“Kalau ada apa-apa, kabari kami, Nak. Ayah yakin Beni adalah anak yang baik. Dia pasti melindungi kamu di sana.” Itu pesan ayah Ayu.

Sebenarnya berat bagi Ayu. Tapi, status istri yang disandangnya menjadikan sebuah keharusan untuk dia ikut dan patuh pada suaminya.

Tiga tahun menjalin rumah tangga, bukannya makin bahagia, malah Ayu semakin menderita. Khayalan dan harapan Ayu dulu, setelah menikah, meski tidak bekerja, dia bisa menyisihkan uang kalau-kalau ingin mengirimi sesuatu untuk orang tua. Tapi nyatanya tidak. Jangankan sesuatu yang mahal, sekadar hal sepele pun sangat sulit.

Menemui orang tua hanya hari raya saja. Itupun tidak diperbolehkan menginap oleh ibunya Beni. Bawa buah tangan yang sangat minim, padahal Beni kerja kantoran dengan gaji dua digit. Ayu sangat kesal dengan itu semua. Dia tidak menyangka suaminya kikir seperti. Padahal sebelum menikah, janjinya selangit. Ah … sudahlah. Sekarang hanya tinggal menunggu air yang mengalir ini jalannya akan seperti apa.

“Yu, kamu nangis?”

Teguran dengan nada pelan itu membangunkan Ayu dari lamunannya. Meski telinganya masih berdengung sebab kepedihannya, dia segera bangkit.

“Kamu heran aku nangis, Mas? Seharusnya kamu ngerasain kalau ada di posisi aku. Keluarga kamu ngomong gitu sama aku. Dan sekarang makin keterlaluan.”

Sekuat tenaga sekarang Ayu mampu meluapkan emosinya. Meski sebenarnya dia tahu, bisa saja Beni balik marah besar.

Pria dengan kulit sawo matang itu memangkas jarak dengan istrinya. Langkahnya mengalun lembut dengan tatapan sayu.

“Maaf, aku tahu ibu dan mbak aku keterlaluan. Maafin aku dan mereka, ya?”

Ayu memejamkan matanya dengan sangat dalam. Bulir beningnya mentes lagi kali ini. Tapi, hatinya sedikit tenang. Beni nyatanya tidak marah seperti apa yang dia duga sebelumnya.

Beni meraih bahu kanan Ayu. Diusapnya lembut berulang kali, lalu dibawanya kepala Ayu masuk ke dalam pelukan Beni. Ayu pun hanya bisa menahan tangis. Keheningan di dalam kamar itu seakan menjadi saksi bisu atas perlakuan keluarga suaminya.

“Semoga kamu gak tersinggung ya, Yu. Mama dan mbakku kan gitu orangnya. Jangan diambil hati,” ucap Beni lagi dengan lembut. Sorot matanya layu ke arah jendela sambil memeluk istrinya.

“Kamu denger tadi, Mas? Mereka sampai nyuruh Mas nikah lagi. Dan mama bilang gak mau anak dari aku.” Ayu masih menangis dalam pelukan suaminya.

“Ya. Tapi aku tidak akan melakukan hal itu. Aku sudah punya istri yang sangat berbakti seperti kamu. Aku juga minta maaf, kalau aku jarang berbagi waktu sama kamu. Aku sibuk kerja. Maaf. Jangan cemaskan kata-kata mama dan mbakku.”

Sesak di dada Ayu kini terluapkan. Emosinya sangat diguyur, tapi dia sangat bersyukur. Akhirnya Beni bisa mengerti atas apa yang terjadi. Ayu cemas dan takut, kalau-kalau suaminya malah ikut. Ikut terbawa arus perkataan ibunya yang tidak berperikemanusiaan.

Menangis lama di sana. Ayu pun kini perlahan mengangkat kepalanya semakin tegak. Dia s***k air mata untuk mencoba kuat. Karena di hadapannya, nyatanya sosok suami ada di pihaknya.

“Aku janji, kita akan segera pindah rumah. Biar gak tinggal terus di rumah mama ini.”

“Serius, Mas?”

“Ya. Kamu doain aja aku ya? Uangnya sih belum ada. Tapi, semoga aku dipromosikan naik jabatan. Biar gajiku lebih gede, bisa beli rumah buat kita.”

“Aamiin, Mas.”

Untuk ke sekian kalinya Ayu mencoba sabar. Apalagi sekarang Beni sudah berniat ingin pindah rumah. Tentu saja Ayu sangat bahagia mendengarnya. Tak butuh waktu lama, Beni pun mampu mengembalikan senyum di bibir istrinya.

***

“Jadi sekarang Tessa sudah menjanda? Duh, kok bisa sih?”

“Gak bersyukur aja suaminya itu. Tessa kan wanita karier. Dia sibuk nyari uang. Eh, suaminya malah selingkuh ke sana kemari. Mungkin Tessa juga udah muak. Katanya dia cerain suaminya pakek uang dia sendiri. Yang urus semua pengacaranya.”

Baru keluar dari kamar, telinga Ayu sudah dibuat berisik oleh percakapan ibu mertua dan juga kakak iparnya di ruang tengah. Mayang duduk sambil memegangi handphone tanpa bayi kecilnya.

Ayu tidak tahu siapa itu Tessa. Kenapa bisa seriweuh itu mereka menggosip.

“Wah wah wah, kenapa gak dari awal aja ya Tessa sama Beni. Mereka padahal cocok. Dulu, kalau mereka menikah, pasti mereka hidup bahagia. Cocok kan mereka, Ma?”

Deg

Kata-kata itu mengiris perasaan Ayu lagi. Membuat langkahnya yang akan menuju ke arah dapur pun berat. Apa mungkin Tessa itu mantan pacar suaminya dulu?

“Yaiyalah, dibanding sama si Ayu, Beni tuh kayak bumi dan langit. Jauuuuh banget. Entah kenapa si Beni pergi jauh-jauh waktu KKN dulu dapat perempuan itu. Ya ampun, ngenes deh Mama.”

Ayu terusik dengan kata-kata itu. Ibu mertuanya terang-terangan membandingkan dan menghina dirinya. Tangan Ayu pun kini mengepal erat. Meski begitu, kakinya berat untuk berjalan.

“Ehm, Ma!”

Mayang menyadari kedatangan adik iparnya. Dia pun memberi kode pada ibunya.

Tubuh Ayu sudah bergetar. Ingin saja meremas mulut mereka berdua setelah mendengar semuanya. Apakah setelah melihat kedatangannya semua diam? Tidak, malah lebih parah. Ayu sangat dihina dan diejek.

“Eh, ya gak apa-apa. Emang bener kok.” Purnamasari sangat sengaja. Setelah melihat Ayu, dia malah makin blak-blakan.

“Em, iya juga sih, Ma.”

Ayu pun lewat ke samping mereka. Air matanya terbendung sejak awal. Bisa-bisanya kini perkataan mereka membuat bening itu jatuh ke pipinya.

“Apa yang mama katakan itu semua bener, lho. Kata-kata saya terdengar menyakitkan ya, Yu? Tapi emang itu adanya. Saya sebenarnya gak sreg ada kamu di rumah ini jadi mantu saya. Makanya, kalau kamu belum hamil pun, ya saya sih biasa aja. Malah seneng. Punya cucu itu kan musti dari bibit ibunya yang gak bloon kayak kamu. Ups. Maaf, ya?”

Sengaja saat Ayu lebih mendekat, Purnamasari meluapkan kekesalannya. Hal itu tentu saja membuat Ayu tak bisa hanya diam.

Ayu mengangkat wajahnya dengan cepet. Air mata mulai merebak di pipi. Tatapannya tajam ke arah ibu mertua dan juga kakak iparnya.

“Astaghfirullah, Ma, Mbak, cukup. Aku denger kalian sejak tadi. Dan setelah aku datang, bukannya mama sama mbak diam, malah semakin bikin perasaan aku perih begini. Kenapa Mama tega bicara begitu setelah sekian lama aku mengabdi di rumah ini? Kenapa, Ma? Padahal aku yang ngerjain pekerjaan semua di rumah ini?” Ayu berkata dengan sekuat tenaga menabrak rasa hormat pada ibu mertuanya. Kenapa sebenci itu? Kenapa?

“Ya, bener. Setelah aku pikir-pikir, kamu udah tiga tahun ada di rumah ini, keknya si Beni kelilipan deh. Makin hari kamu gak ada nilai plusnya. Kerjaan aja berantakan. Malah jadi beban buat si Beni. Uang Beni makin dikit karena harus urus kamu!” Purnamasari memekik dengan kesal.

“Beban? Apa suami bawa istrinya, suami nafkahi istrinya itu beban, Ma? Apa Mama dulu tidak dinafkahi oleh almarhum papa mertua?”

Saking kesalnya Ayu berani melawan. Tapi sebuah tamparan lah yang mendarat di pipinya.

PLAK!

“Rasain itu! Berani kamu ngomong gak sopan?” serang Purnamasari dengan sangat arogan. Ayu pun kini hanya bisa mengelusi pipinya yang begitu terasa panas.

“Mama, apa-apaan ini?”

Pintu tiba-tiba saja membuka.

Suara itu datang menghentikan ocehan Purnamasari dan Mayang. Ayu pun menoleh cepat. Dia berharap pria yang datang ini bisa membelanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Yang Kalian Hina Miskin   Bab 4

    Sejak perkataan sadis dari ibu mertua dan juga kakak iparnya tadi pagi, Ayu enggan untuk keluar kamar. Air matanya merebak membasahi pipi seiring dengan nasib yang dia ratap, yang melanda dirinya setelah menikah dengan Beni. Dan itu terjadi nyaris setiap hari. Hanya jika keluarga suaminya liburan, mungkin telinga Ayu hening.Tangisnya yang tertahan bukan karena takut terdengar. Hanya itu rasanya sangat pedih dan menyesakkan dada. Sehingga suara pun seperti tak ingin keluar dari mulutnya.Andai ada sosok ibunya di sana, dia bisa mencurah limpahkan rasa sakit hati itu. Tapi tidak mungkin kalau harus menelepon, pasti keluarganya di sana akan sangat sedih.“Semoga kamu disayang sama suami dan keluarga suamimu ya, Nak? Kita akan jauh. Jadi, Ibu gak bisa nengok kamu tiap hari. Tapi Ibu yakin, Beni adalah sosok suami yang sangat baik. Seperti ayah kamu. Keluarganya juga pasti baik semua. Meski tinggal satu rumah, kamu pasti akan bahagia.”Setelah menikah dulu dan memutuskan untuk ikut dengan

  • Yang Kalian Hina Miskin   Bab 3

    “Ada apa ya, Ma? Tadi Ayu lagi bikinin susu untuk Gavin. Apa ada perlu sesuatu, Ma?” Tanpa basa-basi Ayu langsung bertanya. Dia sudah hafal kalau soal suruh menyuruh pasti ditujukan padanya. “Ya ampun, jadi kamu nanya? Lihat tuh, lihat! Sup yang kamu hidangkan di meja, lihat! Itu warnanya jadi jelek banget. Dan itu overcook! Mau ada vitaminnya gimana, hah?”Deg!Purnamasari membentak Ayu dengan suara yang sangat keras. Dan benar saja itu perihal sop yang dikhawatirkan Ayu tadi. Memang Ayu juga menyadari dan tahu kalau sop itu kematangan. Tapi dia pikir tidak akan jadi masalah seperti ini.“Maaf, Ma. Tadi kan pas Ayu lagi masak Ayu dipanggil sama Mbak Mayang. Ayu sudah kecilin apinya tapi memang tadi di atas itu terlalu lama. Jadi mungkin kematangan.”Ayu menjelaskan dengan hati-hati. Seperti biasa dia menunduk takut dan gelisah. Sebenarnya ingin melawan dan menjelaskan seperti biasa saja tanpa ada ketakutan. Hanya saja sorot mata Purnamasari sudah membanting mental Ayu lebih dulu.“J

  • Yang Kalian Hina Miskin   Bab 2

    “Ada apa, Mayang? Kok kamu pagi-pagi udah berisik?” Purnamasari terlihat kesal. Wajah yang tak lagi muda itu memperlihatkan kerutan di dahinya.“Ini si Ayu, nih. Susu Gavin habis, aku suruh dia beliin, malah gak mau. Alasan aja.” Enteng sekali Mayang mengucapkannya. Seakan tak ada rasa bersalah bicara pada ibunya tentang Ayu.“Apa? Kok gitu sih, Yu?” Purnamasari mengernyit menatap Ayu.“Bukan itunya, Ma, tapi Mbak Mayang mau pinjam uangnya juga dari Ayu. Ayu mana ada? Mana harus dua kaleng. Katanya sekitar delapan ratus ribuan. Ayu kan gak ada uang, Ma.” Ayu menyelipkan beberapa helai rambutnya ke telinga. Dia pun tak berani menatap ibu mertuanya yang sudah terlihat menyalahkan.“Alesan aja, Ma. Uang dari Beni ke dia kan pasti besar. Gaji Beni di kantor itu gede. Ngeles aja. Pelit banget! Padahal mana pernah aku minta uang atau pinjam ke si Ayu.” Alih-alih meredam, Mayang malah makin membuat suasana panas.“Bukan gitu, Mbak. Aku ….”Belum juga Ayu menjelaskan lagi, Purnamasari sudah n

  • Yang Kalian Hina Miskin   Bab 1

    “Ayu, Ayu!”Suara panggilan itu melengking begitu keras memanggil nama Ayu–menantu di rumah itu. Sumbernya dari lantai dua. Dari suaranya tentu saja seorang wanita. Tapi bukan ibu mertuanya, melainkan pekerjaan setiap pagi untuk Ayu yang bersumber dari kakak iparnya.Sejak pagi buta itu seperti biasa Ayu sudah sibuk dengan pekerjaannya di dapur. Setelah shalat subuh, tangannya tidak berhenti menghadapi setiap pekerjaan di rumah. Kakinya yang ikut lelah pun seringkali terasa pegal. Sesekali membuatnya duduk untuk menenangkan syaraf tubuhnya yang digempur pekerjaan rumah tangga setelah menikah dengan Beni.Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Rasa lapar dalam perutnya sudah lama melanda. Keringat bercucuran tiada henti meski pagi sekali dia sudah mandi. Bagaimana tidak, rumah besar mertuanya itu sangat membuat dia lelah selama tiga tahun ini.Ayu kadang mengeluh dan menghujat dirinya. Kenapa dia meloloskan takdir menikah dibanding harus menerima pekerjaan, dulu itu. Yang n

  • Yang Kalian Hina Miskin   Prolog

    28 tahun silam***“Pikirkan lagi keputusan kamu untuk tinggal dengan suami miskinmu, Yasmin. Kalau kamu terus bersamanya, ayah terpaksa tidak akan memberikan kamu apapun! Ayah harap kamu dipanggil ke sini bisa paham maksud ayah.”Suara itu terdengar tegas dan berwibawa. Sayangnya, isinya adalah sebuah ancaman.Di rumah mewah nan megah seorang pria paruh baya berdiri tegap. Bukan sedang memantau karyawan kesiangan, melainkan menghakimi anak kandungnya sendiri.“Ayah, Mas Hadi orang yang sangat baik. Dia suamiku. Dia berpenghasilan kecil juga halal.”“Diam kamu, Yasmin. Ayah sudah malu dengan orang banyak atas pernikahan sembunyi-sembunyi kalian. Lihat kan? Pada akhirnya ada orang yang membocorkan, hingga di media heboh. Pernikahan anakku dilaksanakan seperti orang miskin. Kamu tahu siapa kita? Jamal Adi Bhaskara itu bukan orang sembarangan!”“Aku sangat bersyukur karena ayah bersedia menjadi wali di pernikahan kami, Ayah. Terima kasih, tapi Yasmin harus ikut suami Yasmin. Apalagi Mas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status