LOGIN“Udah ngomongnya, Mas? Apa sekarang aku udah dapat giliran buat bicara?”Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ayu tentu saja Beni dan ibunya sangat kaget bukan main. Sosoknya seperti bukan Ayu yang dulu. Sekarang saat dia bicara terlihat begitu mencekam dan menakutkan. Tapi, Beni tidak akan kalah. Itu pasti akal-akalan istrinya untuk bisa dibujuk dan dirayu.“Apa maksud kamu hah?” tanya Beni kesal.“Atau kamu masih mau bicara lagi?” Ayu menjawab lagi.Wajah Purnamasari sudah memberengut. Sudah pipi panas, kaki tersiram air panas, dia tidak bisa melancarkan niat untuk menampar Ayu habis-habisan. Semuanya malah gagal total.“Lihatlah, Ben? Istrimu itu udah benar-benar gila. Dia pasti keluar dari rumah dipengaruhi oleh orang-orang gak waras. Jadi baliknya kayak begini. Sok berwibawa gitu. Istri cuma numpang, juga!” pekik ibunya Beni yang terus ingin merendahkan menantunya.“Aku mau tanya sama kamu, kenapa kamu tampar Mama? Dan lihat, kakinya juga melepuh! Apa kamu mau aku laporin ke
Ayu segera mengakhiri panggilan setelah ancaman dari suaminya terdengar begitu menakutkan. Tentu saja Beni dan ibunya yang berada di tempat berbeda pun tersenyum dengan puas penuh kemenangan. Mereka yakin Ayu akan kembali karena tidak akan tahan hidup di luar tanpa bantuan Beni. Di zaman serba mahal ini Mana mungkin Ayu bisa hidup sendiri. Cari pekerjaan sekarang susah, apalagi ekonomi keluarga Ayu juga sangat pas-pasan. Begitulah terus yang ada di pikiran mereka. “ Mama puas banget tahu dia tadi langsung tutup telepon. Pasti dia takut kalau dicariin sama kamu.” Purnamasari terkekeh. “ Hah, aku juga Memang berpikiran begitu. Mana mungkin perempuan itu berani pergi. Kita lihat saja dia pasti akan pulang merengek-rengek minta maaf. Tapi sekarang aku harus ke kantor, ada pekerjaan yang harus ku selesaikan. Kalau dia pulang, mama tangani saja dia. Kita bikin dramanya nanti saat aku pulang kerja.” Beni tersenyum sumringah. Seperti terlihat bukan ada cinta untuk Ayu tapi malah ingin mem
Dering handphone berbunyi dengan begitu nyaring. Terkejut bukan main Beni saat itu. Dia melihat jam kecil di meja sudah menunjukkan pukul 7.30 pagi. Waktu yang di mana dan seharusnya dia sudah tak ada lagi di atas kasur. “Hah, udah siang? Mana aku ada tugas kantor, pagi ini!” Bergegas Beni beranjak dari tempat tidurpp. Secepat kilat pergi ke kamar mandi membasuh muka tanpa membasuh badannya. Beni menyadari bahwa matahari sudah mulai meninggi. Beni langsung menuju lemari, mencari pakaian mana yang harus dia pakai hari ini. Di obrak-abrik sampai bajunya jadi berantakan. Karena biasanya Ayu yang menyiapkan segala rupa. Dan ya, Beni baru teringat. Sejak matanya terbuka dan terburu-buru pagi ini, dia belum melihat wajah istrinya. Dan kenapa pula Ayu tidak membangunkannya untuk pergi ke kantor? Apa marahnya semalam menjadikan wanita itu ingin balas dendam? “Dasar istri tidak tahu di untung. Pasti dia sengaja tidak membangunkanku pagi ini. Dan ini baju juga nggak dia siapkan. Ke mana wa
Pintu rumah keluarga Purnamasari terbuka dengan nada emosi. Dari luar muncul Beni dan juga Ayu yang baru saja kembali. Tentu saja hal itu disambut oleh Purnamasari yang sudah kesal sejak kepergian Ayu tadi. Seperti sengaja duduk menunggu kedatangan mereka.“Kamu sekarang sudah berani kurang ajar. Bahkan kamu tidak memberitahu aku dulu kalau kamu mau ketemu sama orang tua kamu itu.”Masuk ke dalam rumah Beni langsung marah-marah. Dia memaki Ayu yang juga pulang bersamanya secara terpaksa. Setelah kejadian di kafe tadi, Ayu dibawa pergi dari kedua orang tuanya. Tak ada basa-basi dari Beni pada mertua. Yang jelas, Beni ingin segera memarahi istrinya.Purnamasari segera berjalan cepat menyambut keduanya. Seperti sudah tersiapkan kata-kata apa yang harus dia semburkan pada menantunya.“Tuh kan mama bilang apa sama kamu! Istri kamu sekarang itu emang udah berani ngelawan. Dia tadi marah-marah sama Mama mau pergi. Bagus sekarang dia udah kamu bawa pulang!” sambar Purnamasari yang terlihat
“Ayu!”Tubuh Ayu yang sedang santai menyantap makanan di meja itu seketika tersentak kaget. Suara pria menyebut nama dengan tangan kasar menarik bahu Ayu.“Ngapain kamu malam-malam di sini, hah? Mama bilang kamu keluar rumah tapi gak ngasih tahu mau ke mana. Lalu kamu malah marah-marah sama mama dan nyelonong begitu saja. Ternyata benar?” Pria itu langsung nyerocos tanpa membiarkan Ayu menjelaskan lebih dulu. Tentu saja itu Beni bukan pria lain manapun.“Mas?” Ayu yang terperanjat pun masih kaget dengan sosok suaminya yang sudah ada di tempat yang sama dengannya. Ayu tidak tahu kapan Beni datang menghampirinya ke sana. Terlihat sepertinya Beni datang seorang diri. Menghampiri meja yang sedang dipesan oleh keluarga Ayu, membuat Beni marah-marah. “Kamu keluar rumah tanpa seizin aku? Dan kamu di sini nemuin orang tua kamu?” Beni menatap wajah ayah dan ibunya Ayu.“Beni, apa kabar?” Ayahnya Ayu menyapa dengan hangat dan penuh kesopanan. “Kabar aku baik, Ayah. Ternyata benar kalian se
Ayu masih gelisah dengan apa yang dikatakan oleh ibu kandungnya sendiri. Karena tadi katanya akan menyusul. Apa ibunya tahu di mana posisinya? Ayu diam sejenak di depan kafe yang disebut-sebut sering didatangi oleh suaminya. Tidak sampai 10 menit roda empat berwarna hitam mendatanginya. Posisi Ayu yang masih di atas motor pun terheran-heran. Dari dalam mobil bagus itu keluar orang yang tentu sangat Ayu kenali. Ayahnya, dia keluar dari pintu mobil depan di mana tempat duduk pengemudi sana.Disusul sang ibu yang ikut serta mendekat ke arah Ayu yang kini berdiri masih di dekat motornya.“Ayah, ibu?”Ayu teheran-heran dengan kedatangan kedua orang tuanya yang mengetahui posisi dirinya berada. Tapi lepas dari itu rasa rindu Ayu terhadap ayahnya lebih menggebu-gebu. Karena kemarin yang datang menemui hanya ibunya saja.“Nak,” sapa Ayah Ayu.“Ayah!” Dengan jawaban ceria dan manja Ayu merangkul tubuh ayahnya. Pelukan hangat cinta pertamanya dia rasakan setelah sekian lama. Ibunya Ayu terse







