Share

Bab 5

Author: Kom Komala
last update publish date: 2026-03-06 23:00:51

“Mama tampar Ayu lagi?” Pria yang baru hangat nafasnya datang itu adalah Beni. Dia sepertinya sudah kembali dari kantor. Padahal kalau hari-hari seperti biasanya dia belum pulang.

“Ben, istri kamu yang kurang ajar. Mama cuma bilang sama istrimu kalau dia di sini membebani kamu. Tapi dia malah bawa-bawa almarhum papamu, katanya apa dia juga tidak terbebani oleh Mama? Ya beda dong. Mama datang bukan dari keluarga miskin! Mama sakit hati!” pekik Purnamasari dengan sangat kesalnya. Dia tidak ingin kalau sampai Beni lebih membela istrinya. Atau dia ada di posisi bersalah.

Beni melihat istrinya menahan isak tangis sambil memegangi pipi. Sedangkan Mayang hanya acuh tak acuh seakan tak peduli.

Ayu malas membela diri. Dia ingin tahu bagaimana suaminya menyikapi hal ini lagi yang sudah terjadi dua kali.

“Apa kamu bener ngomong gitu, Yu?” 

Bukannya langsung membela Ayu, Beni malah mempertanyakannya.

“Memang benar, Mas. Tapi aku bicara begitu karena mama dan Mbak Mayang sejak tadi terus memojokkan aku, Mas. Aku di sini bikin susah. Padahal di rumah segede ini gak ada pembantu. Aku semua yang mengerjakannya, Mas. Mulai dari masak, nyuci, ngepel, dan semuanya. Bahkan keperluan orang di rumah ini aku yang siapkan. Aku merepotkan di mananya, Mas?” Ayu bertekad untuk berani melawan di hadapan Beni. Sudah cukup diamnya selama beberapa tahun ini. Karena nyatanya penghinaan mereka semakin menjadi-jadi. Bukannya sadar, malah semakin bar-bar. 

Persetan bagi Ayu tentang rasa hormat pada suami dan mertuanya sekarang. Dia juga punya harga diri. 

“Nah, nah, nah. Kamu denger kan, Ben? Sok bisa banget kan istri kamu? Lancang banget dia kan? Ini ibarat kamu kerja di kantor kamu ya, Ben. Kamu itu kasih effort lebih kan ke kantor? Kamu kerja dengan baik, kan? Itu buat apa. Buat rasa terima kasih kamu. Biar kantor puas dengan pekerjaan kamu. Kalau posisi Ayu sebagai istri, yang ngapain lagi kalau bukan buat berbakti. Ini bukan rumah kamu, bukan rumah kalian. Ini rumah Mama. Jadi, sebanding dong kalau Ayu bantu bersih-bersih. Lagian, waktunya cuma sebentar. Apa kamu mau marahin Mama, Beni?” 

Sepasang bola mata Purnamasari melotot tajam ke arah putranya. Seakan menjegal mulut Beni untuk menyalahkan ibunya. Semuanya pun kini hanya terdiam. Sedangkan Ayu berharap suaminya bisa menengahi ini semua.

“Kamu kalau kesel sama Mama, kamu itu gak ada terima kasihnya, Ben. Kamu dikandung Mama, dilahirkan, disekolahin sampai sekarang punya kerjaan bagus. Kalau kamu sampai durhaka, keterlaluan. Mbak aja gak berani nentang Mama. Bahkan Mbak itu ngasih uang bulanan ke mama ya itung-itung kalau kita ngontrak di rumah besar, sekarang butuh biaya berapa ayo? Mikir deh kamu. Kalau kamu ngasih uang ke mama, ya itu karena kamu anak laki-laki. Udah wajib. Nah ditambah istrimu bantu-bantu di rumah. Itu semuanya sebanding, Ben.” 

Mayang panjang lebar berniat mencuci otak adiknya. Ayu pun hanya bisa menggelengkan kepala dengan rasa kesal dan kecewa. Ternyata, begini keadaan setelah menikah dengan suaminya. Keluarga yang sangat beracun, yang bukan ingin menjalin hubungan baik. Melainkan selalu ingin menjatuhkan, hanya tak secara langsung saja menendang Ayu untuk entah dari rumah itu.

Ayu menatap wajah suaminya dengan penuh pengharapan dalam kegelisahan. Entah bagaimana reaksi Beni nanti.

“Mama sakit hati, Ben. Sakit banget. Mama gak nyangka kalau Ayu yang sejak awal mama kira baik dan lugu, kini malah balik ngelawan dan bawa hal yang seharusnya gak dia ucapin. Mama sangat kecewa. Tapi dia istri kamu, ya mau gimana?” 

Purnamasari malah mengeluarkan air mata buayanya. Tulang yang sejak tadi berdiri tegak itu kini seakan lunak dan ambruk di sofa. Beni pun sangat terkejut. Apalagi ada adegan tangan ibunya menekan-nekan bagian dada seperti ada sesak di sana.

“Mama, jangan gini, Ma. Mama kenapa?” Mayang dengan antusias langsung meraih tubuh ibunya. Pun dengan Beni yang langsung cemas dan segera menghalau jarak dengan ibunya.

“Mama, jangan nangis, Ma. Maafin Beni, Ma. Maaf.”

Ayu menggelengkan kepalanya dengan kecewa berat. Bukannya Beni bisa menengahi semuanya, dia seperti kalah oleh sandiwara ibunya. Karena Ayu yakin, itu semua hanya taktik agar dia lagi yang disalahkan.

“Kamu sih, Ben pakek nanya segala. Pakek permasalahin mama tampar Ayu yang udah kurang ajar,” sambung Mayang yang membuat api baru. Beni pun belum bisa bicara banyak. Dia hanya khawatir dengan kondisi ibunya.

“Terserah kamu kalau mau marah sama mama karena udah tampar Ayu, Ben. Padahal Mama kurang baik apa coba? Mama gak pernah semena-mena sama istrimu. Kalau kamu lebih mau membela dia, atau kamu mau bawa dia pergi dari sini, ya sudah. Pergi aja.” Ucapan Purnamasari membuat Beni dan Ayu mengingat pembicaraan mereka di pagi itu. Tentang ada niatan untuk segera pindah rumah agar mereka bisa mandiri. Dan tidak terus ada dalam rumah itu. Perasaan Beni pun gusar.

Padahal, pagi itu …

#flashback on#

Ketika Beni dan Ayu berada di dalam tempat istirahat mereka, Purnamasari sengaja mengintip. Dia ingin tahu isi pembicaraan keduanya. Apakah Ayu menjelekkan dia?

“Kamu denger tadi, Mas? Mereka sampai nyuruh Mas nikah lagi. Dan mama bilang gak mau anak dari aku.” 

“Ya. Tapi aku tidak akan melakukan hal itu. Aku sudah punya istri yang sangat berbakti seperti kamu. Aku juga minta maaf, kalau aku jarang berbagi waktu sama kamu. Aku sibuk kerja. Maaf. Jangan cemaskan kata-kata mama dan mbakku.”

“Aku janji, kita akan segera pindah rumah. Biar gak tinggal terus di rumah mama ini.”

“Serius, Mas?”

“Ya. Kamu doain aja aku ya? Uangnya sih belum ada. Tapi, semoga aku dipromosikan naik jabatan. Biar gajiku lebih gede, bisa beli rumah buat kita.”

“Aamiin, Mas.”

“Enak saja kamu mau pindah dari rumah ini, Ayu. Mana mau aku bayar pembantu. Kalian gak bisa pindah dari rumah ini, meski jabatan Beni naik. Awas. Camkan itu!” pekik Purnamasari dalam hati setelah melihat anak dan menantunya saling mencurahkan keinginan mereka.

#flashback off#

Purnamasari terlihat mengisak tangisnya. Ada air mata buaya yang berjatuhan sambil terus memastikan agar Beni percaya. Bahwa hatinya teraniaya.

“Ma, jangan bicara begitu. Maafin aku. Ayok Mama bangun, jangan lemah begini. Maafin Ayu juga ya, Ma.”

Kata-kata itu sama sekali tak diharapkan oleh Ayu. Kenapa jadi Ayu yang harus dimaafkan? Kenapa Beni jadi berbelok arah? Apa dia tak tahu perasaan istrinya tercabik-cabik? Tersakiti oleh ibu dan juga kakaknya? 

“Sebenarnya kamu ini gimana sih, Mas? Kamu gak punya pendirian,” batin Ayu. Dia masih menyaksikan kelakuan ibu mertuanya untuk meracuni pikiran suaminya.

“Oke, Mama maafin. Mama kurang baik apa coba, Ben.” Purnamasari membuat wajahnya terlihat begitu pasrah. Mayang yang di sampingnya pun mengangguk-angguk kepalanya. Seperti menjadi pelengkap atas sandiwara ibunya.

“Makasih, Ma. Oh iya, aku ada sesuatu hal yang mau diomongin. Tapi, apa kalian siap mendengar ini?”

Suasana yang riuh akan sandiwara dan racun itu kini seakan berbeda. Semuanya jadi heran dan penasaran dengan apa yang ingin dikatakan oleh Beni.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Yang Kalian Hina Miskin   16 Istri Durhaka

    “Iya, Ben. Mungkin otaknya juga udah diracuni sama ibunya. Tadi Ayu bilang nggak mau lagi bantu-bantu Mama di rumah ini. Dia katanya lebih baik kerja.” Cungur Purnamasari mengaung memfitnah.“Bener ngomong gitu kamu?” Beni pun melesatkan pandangannya ke arah Ayu dengan tajam. Pertanyaan itu lebih terlihat seperti sebuah ancaman.“Benar, Mas. Tapi tepatnya Bukan gitu.” Ayu pun kini berani bicara.“Lalu gimana?”Purnamasari sudah sinis saja ke arah menantunya. Seakan sudah mempersiapkan kata-kata yang akan terus menyudutkan Ayu. Kalau sampai nanti memang dia dikatakan aneh-aneh.“Kalimat Mama yang bilang aku bantu-bantu Mama di rumah ini itu bohong. Karena aku bukan membantu, tapi aku mengerjakan semua pekerjaan di rumah ini. Mama sama Mbak Mayang sama sekali nggak pernah nyentuh pekerjaan apapun. Jadi, Mamah nggak tepat kalau sebut aku bantu-bantu di rumah ini!” Ayu dengan penuh penekanan dan hentakkan mengungkapkannya. Emosi itu seperti mengepulkan asap di kepala.“Heh, ngomong apa ka

  • Yang Kalian Hina Miskin   15 Jangan-Jangan Aku Tidak Berharga Di matamu?

    “Ibu kamu udah pulang?”Setelah kembali dari kepentingannya, Beni menanyakan mertuanya. Karena setelah melihat-lihat sekitar tidak dilihat ibunya Ayu ada di dalam rumah. “Tadi juga sudah, Mas. Ibu nggak lama.” Ayu menjawab dengan singkat.“Oh, terus gimana? Kedatangan ibu kamu ke sini sebenarnya mau apa? Apa benar dia mau pindah ke kota ini dan dekat sama kita?” Tiba-tiba saja Beni mempertanyakan hal yang tadi dikatakan oleh ibunya. Yang di mana tadi Purnamasari koar-koar bahwa besannya itu diusir dari kampung dan akan pindah ke kota ini.“Emang benar ibu sekeluarga mau pindah ke sini, Mas.”“Terus?” “Terus apanya?”“Apa mau pinjam uang ke kita?” Pertanyaan itu membuat hati Ayu terbakar. Dugaan Ayu benar, darah Purnamasari memang menetes pada putranya. Cara bicara, cara bertanya, dan cara memandang sesuatu itu tidak jauh berbeda.“Maksudnya kayak ibunya Mas Andi yang pinjem uang ke kamu sama ke Mama?” Ayu malah menyindir. Tapi memang itu disengaja. Karena didengar-dengar pertanyaan

  • Yang Kalian Hina Miskin   14 Melawan Seperti Singa

    “Jaga bicaramu orang miskin yang sok kaya. Lahir dari kampung gak punya pekerjaan dan pengalaman apa-apa. Sok banget kamu bilang kayak barusan? Kamu bilang uang suami kamu gak seberapa?”Purnamasari menantang. Wajah dengan serbuk emosi itu semakin memerah memancarkan dendam. Tak rela putranya dihina, direndahkan, disepelekan.“Maaf, Ma. Ayu di sini berbakti sama Mas Beni. Artinya, berapapun uang yang Mas Beni kasih, harus Ayu cukupkan. Tapi, omongan Mama barusan, benar-benar hanya selalu menyepelekan aku. Seakan aku di sini hanya numpang tidur enak, cuma tumpang kaki dan gak ngapa-ngapain. Sedangkan Mama dan Mbak Mayang pasti sadar. Baju kalian yang nyuci sampai rapi lagi di lemari, apa perlu tukang laundry? Lalu piring dan gelas kotor yang sudah bersih lagi, apa perlu pembantu? Gak kan? Itu semua aku yang kerjain, Ma. Apa pantas aku disebut cuma numpang dan gak kerja? Coba Mama tanya ke tetangga yang punya pembantu. Berapa gaji mereka mengerjakan semua pekerjaan rumah. Coba tanya.”

  • Yang Kalian Hina Miskin   13 Ibuku Bukan Tukang Ganggu Kehidupan Anak

    Makanan yang memang terlihat sangat lezat itu kini sudah beralih lagi ke tangan Ayu. Mulut Mayang dan ibunya pun masih menganga tak percaya. Berani sekali Ayu merebutnya? Padahal selama ini jangankan melawan, balik bicara kasar pun tidak pernah.“Heh, beraninya kamu merebut makanan itu, Ayu? Gak sopan!” pekik Mayang dengan sarkas.“Jalang! Dasar gak tahu sopan santun! Orang miskin!” Purnamasari dengan penuh kekecewaan mengatakannya. Menuduh dan menunjuk batang hidung Atau dengan penuh emosi. Sama sekali tidak melambangkan bahwa dia adalah ibu mertua yang baik.“Lho, kenapa, Ma, Mbak? Bukankah kalian tidak suka dengan makanan ini? Jijik bukan?” Ayu geram. Dia tak rela bekal ibunya disantap tapi juga dihina-hina. Sudah cukup selama ini ditindas. Meski sebenarnya Ayu hanya ingin melihat mereka berubah. Nyatanya? Malah semakin keterlaluan.“Kamu berani bertingkah seperti ini karena ada ibumu kan, Ayu? Benar-benar gak tahu diri. Makanan sampah gitu aja sombong!” hardik ibu mertua. Kelopak

  • Yang Kalian Hina Miskin   12 Sinikan Makanan Itu

    “Bu, ayok kita pergi aja.”“Yu, mending ibu bantu kamu buat kemas makanan. Nanti tinggal kamu bagiin. Ibu sebentar lagi mau pergi soalnya.”“Yah, Ibu. Kok buru-buru?”Saat itu muncul suaminya Ayu. Dia pun ditawari makan oleh ibunya Ayu.“Eh, Nak Beni, ini makan dulu. Katanya belum sarapan?” tawar ibunya Ayu dengan penuh kasih sayang. Tapi sayang, hanya penolakan yang didapatkan.“Nanti saja, Bu. Saya juga mau keluar. Tapi saya juga mau bicara dulu sama Ayu, Bu. Apa bisa kamu ikut dulu ke kamar, Yu?” Beni merubah ekspresi terhadap ibu mertuanya. Meski aneh, tapi ibunya Ayu paham apa yang akan terjadi.“Mas, ibu aku datang ke sini, mau ditinggalin? Kita bisa bicara nanti kan?” protes Ayu. Sengaja, meski hal itu tak pernah dia lakukan sebelumnya.Beni pun hanya terdiam atas jawaban istrinya. Sepertinya mau debat juga masih ada rasa malu.“Kalau gitu aku mau keluar dulu. Ada urusan. Oh iya, aku gak bisa antar ibu kamu, ya? Nanti kasih aja ibu ongkos,” kata Beni sebelum pergi.“Oh gak perl

  • Yang Kalian Hina Miskin   11 Diduga Diusir dari Kampung

    “Kalian diusir dari kampung?” Purnamasari dengan wajah penasaran semakin mendekat. Kini dia was-was, jangan-jangan keluarga besan benar-benar ada maunya.“Lho, kok tiba-tiba bicara diusir sih, Bu Pur? Jadi ibu sudah mendengar percakapan kami tadi? Memang benar, tadi sebenarnya mau saya jelaskan. Kalau saya akan pindah sekeluarga.” Ibunya Ayu segera menjelaskan.“Ke sini? Kota ini? Deket sama kami?” ujar Purnamasari lagi dengan kening yang mengernyit.“Deket gak terlalu. Cuma memang bisa dibilang sekarang gak terlalu jauh kalau saya mau ketemu anak saya.” Ibunya Ayu menjelaskan lagi.“Alasannya? Kenapa mau pindah?” Pertanyaan Purnamasari seperti kereta api. Ibunya Ayu pun menggelengkan kepalanya dengan tenang dipenuhi istighfar.“Emmm … sebenarnya karena sebuah pekerjaan, Bu Purnamasari,” jawab ibunya Ayu.“Ya ampun, ya ampun, ya ampun. Sudah saya duga. Sudah saya duga. Ibu datang ke mari mau minta tolong kan? Makanya sambil nyari kerjaan juga. Bisa-bisanya suami ibu lepas dari tanggu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status