LOGIN“Iya, Ben. Mungkin otaknya juga udah diracuni sama ibunya. Tadi Ayu bilang nggak mau lagi bantu-bantu Mama di rumah ini. Dia katanya lebih baik kerja.” Cungur Purnamasari mengaung memfitnah.“Bener ngomong gitu kamu?” Beni pun melesatkan pandangannya ke arah Ayu dengan tajam. Pertanyaan itu lebih terlihat seperti sebuah ancaman.“Benar, Mas. Tapi tepatnya Bukan gitu.” Ayu pun kini berani bicara.“Lalu gimana?”Purnamasari sudah sinis saja ke arah menantunya. Seakan sudah mempersiapkan kata-kata yang akan terus menyudutkan Ayu. Kalau sampai nanti memang dia dikatakan aneh-aneh.“Kalimat Mama yang bilang aku bantu-bantu Mama di rumah ini itu bohong. Karena aku bukan membantu, tapi aku mengerjakan semua pekerjaan di rumah ini. Mama sama Mbak Mayang sama sekali nggak pernah nyentuh pekerjaan apapun. Jadi, Mamah nggak tepat kalau sebut aku bantu-bantu di rumah ini!” Ayu dengan penuh penekanan dan hentakkan mengungkapkannya. Emosi itu seperti mengepulkan asap di kepala.“Heh, ngomong apa ka
“Ibu kamu udah pulang?”Setelah kembali dari kepentingannya, Beni menanyakan mertuanya. Karena setelah melihat-lihat sekitar tidak dilihat ibunya Ayu ada di dalam rumah. “Tadi juga sudah, Mas. Ibu nggak lama.” Ayu menjawab dengan singkat.“Oh, terus gimana? Kedatangan ibu kamu ke sini sebenarnya mau apa? Apa benar dia mau pindah ke kota ini dan dekat sama kita?” Tiba-tiba saja Beni mempertanyakan hal yang tadi dikatakan oleh ibunya. Yang di mana tadi Purnamasari koar-koar bahwa besannya itu diusir dari kampung dan akan pindah ke kota ini.“Emang benar ibu sekeluarga mau pindah ke sini, Mas.”“Terus?” “Terus apanya?”“Apa mau pinjam uang ke kita?” Pertanyaan itu membuat hati Ayu terbakar. Dugaan Ayu benar, darah Purnamasari memang menetes pada putranya. Cara bicara, cara bertanya, dan cara memandang sesuatu itu tidak jauh berbeda.“Maksudnya kayak ibunya Mas Andi yang pinjem uang ke kamu sama ke Mama?” Ayu malah menyindir. Tapi memang itu disengaja. Karena didengar-dengar pertanyaan
“Jaga bicaramu orang miskin yang sok kaya. Lahir dari kampung gak punya pekerjaan dan pengalaman apa-apa. Sok banget kamu bilang kayak barusan? Kamu bilang uang suami kamu gak seberapa?”Purnamasari menantang. Wajah dengan serbuk emosi itu semakin memerah memancarkan dendam. Tak rela putranya dihina, direndahkan, disepelekan.“Maaf, Ma. Ayu di sini berbakti sama Mas Beni. Artinya, berapapun uang yang Mas Beni kasih, harus Ayu cukupkan. Tapi, omongan Mama barusan, benar-benar hanya selalu menyepelekan aku. Seakan aku di sini hanya numpang tidur enak, cuma tumpang kaki dan gak ngapa-ngapain. Sedangkan Mama dan Mbak Mayang pasti sadar. Baju kalian yang nyuci sampai rapi lagi di lemari, apa perlu tukang laundry? Lalu piring dan gelas kotor yang sudah bersih lagi, apa perlu pembantu? Gak kan? Itu semua aku yang kerjain, Ma. Apa pantas aku disebut cuma numpang dan gak kerja? Coba Mama tanya ke tetangga yang punya pembantu. Berapa gaji mereka mengerjakan semua pekerjaan rumah. Coba tanya.”
Makanan yang memang terlihat sangat lezat itu kini sudah beralih lagi ke tangan Ayu. Mulut Mayang dan ibunya pun masih menganga tak percaya. Berani sekali Ayu merebutnya? Padahal selama ini jangankan melawan, balik bicara kasar pun tidak pernah.“Heh, beraninya kamu merebut makanan itu, Ayu? Gak sopan!” pekik Mayang dengan sarkas.“Jalang! Dasar gak tahu sopan santun! Orang miskin!” Purnamasari dengan penuh kekecewaan mengatakannya. Menuduh dan menunjuk batang hidung Atau dengan penuh emosi. Sama sekali tidak melambangkan bahwa dia adalah ibu mertua yang baik.“Lho, kenapa, Ma, Mbak? Bukankah kalian tidak suka dengan makanan ini? Jijik bukan?” Ayu geram. Dia tak rela bekal ibunya disantap tapi juga dihina-hina. Sudah cukup selama ini ditindas. Meski sebenarnya Ayu hanya ingin melihat mereka berubah. Nyatanya? Malah semakin keterlaluan.“Kamu berani bertingkah seperti ini karena ada ibumu kan, Ayu? Benar-benar gak tahu diri. Makanan sampah gitu aja sombong!” hardik ibu mertua. Kelopak
“Bu, ayok kita pergi aja.”“Yu, mending ibu bantu kamu buat kemas makanan. Nanti tinggal kamu bagiin. Ibu sebentar lagi mau pergi soalnya.”“Yah, Ibu. Kok buru-buru?”Saat itu muncul suaminya Ayu. Dia pun ditawari makan oleh ibunya Ayu.“Eh, Nak Beni, ini makan dulu. Katanya belum sarapan?” tawar ibunya Ayu dengan penuh kasih sayang. Tapi sayang, hanya penolakan yang didapatkan.“Nanti saja, Bu. Saya juga mau keluar. Tapi saya juga mau bicara dulu sama Ayu, Bu. Apa bisa kamu ikut dulu ke kamar, Yu?” Beni merubah ekspresi terhadap ibu mertuanya. Meski aneh, tapi ibunya Ayu paham apa yang akan terjadi.“Mas, ibu aku datang ke sini, mau ditinggalin? Kita bisa bicara nanti kan?” protes Ayu. Sengaja, meski hal itu tak pernah dia lakukan sebelumnya.Beni pun hanya terdiam atas jawaban istrinya. Sepertinya mau debat juga masih ada rasa malu.“Kalau gitu aku mau keluar dulu. Ada urusan. Oh iya, aku gak bisa antar ibu kamu, ya? Nanti kasih aja ibu ongkos,” kata Beni sebelum pergi.“Oh gak perl
“Kalian diusir dari kampung?” Purnamasari dengan wajah penasaran semakin mendekat. Kini dia was-was, jangan-jangan keluarga besan benar-benar ada maunya.“Lho, kok tiba-tiba bicara diusir sih, Bu Pur? Jadi ibu sudah mendengar percakapan kami tadi? Memang benar, tadi sebenarnya mau saya jelaskan. Kalau saya akan pindah sekeluarga.” Ibunya Ayu segera menjelaskan.“Ke sini? Kota ini? Deket sama kami?” ujar Purnamasari lagi dengan kening yang mengernyit.“Deket gak terlalu. Cuma memang bisa dibilang sekarang gak terlalu jauh kalau saya mau ketemu anak saya.” Ibunya Ayu menjelaskan lagi.“Alasannya? Kenapa mau pindah?” Pertanyaan Purnamasari seperti kereta api. Ibunya Ayu pun menggelengkan kepalanya dengan tenang dipenuhi istighfar.“Emmm … sebenarnya karena sebuah pekerjaan, Bu Purnamasari,” jawab ibunya Ayu.“Ya ampun, ya ampun, ya ampun. Sudah saya duga. Sudah saya duga. Ibu datang ke mari mau minta tolong kan? Makanya sambil nyari kerjaan juga. Bisa-bisanya suami ibu lepas dari tanggu







