Teilen

153

last update Veröffentlichungsdatum: 08.06.2026 20:44:38

“Memangnya aku ini siapa bagimu, Lian Wei?”

Pertanyaan itu membuat dadanya terasa sesak.

Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang jarang ditunjukkan Wang Xuemin kepada orang lain. Bukan kemarahan. Bukan kekecewaan.

Melainkan kekhawatiran.

Wang Xuemin menghela napas panjang sebelum melanjutkan.

“Aku mengirim barang ke kediamanmu dan mendapat kabar kau sudah pergi.”

“Saat itu aku berpikir mungkin kau hanya keluar sebentar. Namun satu hari berlalu, lalu dua hari.”

Lian Wei terdiam.

S
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   156

    ”Ah tuan Liu, senang bertemu anda disini, tapi apa yang anda lakukan di tengah hutan ini? Disini adalah daerah rawan perampok,” ucap Yuting seorang pelayan perempuan di Toko Perhiasan Xinxin. “Harusnya aku yang bertanya nona.”“Ah kalau aku sedang dalam perjalanan pulang tuan,” ucapnya seraya melihat kearah lain. “Ah! Maafkan saya Yang Mulia, saya terlambat menyapa anda,” ucapnya pada Xiuhuan dengan sedikit membungkuk. “Hah… apa semua pelayan dari toko Xinxin seperti ini? Sikap mereka mengingatkanku pada Lian'er,” ucapnya asal. ‘Nona?’ batin Yuting bingung.“Sekarang saya akan pergi, tuan-tuan dan Putra Mahkota apakah hendak mampir sejenak? Ku lihat kudanya sangat letih.”“Ah iya kami menempuh perjalanan panjang untuk menjemput Pangeran Liu dan segera kesini,” ucap Jianying.“Kalau begitu mari ikuti saya,” ajak Yuting.Yuting tidak membawa mereka ke markasnya tapi dia membawanya ke sebuah rumah yang berada di tengah hutan.‘Seharusnya, tidak apa-apa bukan? Ini kan markas lama kita

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   155

    “Maksudmu?” “Tidak sesederhana itu, kurasa ada hubungannya dengan masa lalu mereka?” Wang Xuemin masih setia mendengarkan. “Aku baru tahu Kekaisaran Xu yang netral ini pernah hampir membuat peperangan dengan Kekaisaran Shang. Lalu Kekaisaran Song begitu sangat bermusuhan dengan Kekaisaran Shang. Menurutmu bagaimana, bukankah terlalu aneh?” “Jadi apa penyebab yang memungkinkan?” “Mungkin ibuku?” ucapnya tidak terlalu yakin. “Mendiang Permaisuri Li? Apa hubungannya dengan ibumu?” “Iya, ibuku sangat cantik. Mungkin saja mereka saling berebutan.” Wang Xuemin menaikan satu alisnya. “Tiga kaisar agung berebut memetik bunga yang paling indah di bawah langit, sementara dunia menjadi saksi pertarungan cinta yang mengguncang sembilan negeri,” ucap Lian Wei terlihat hiperbola dengan menyatukan kedua telapak tangannya dan di bawa ke samping tubuhnya. Wang Xuemin menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. “Kau terlalu sakit hingga kepalamu rusak.” Wang Xuemin menjentikkan jarinya

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   154

    “Apa kau tahu tentang Kekaisaran Song?” Wang Xuemin hanya diam tidak berkutik, ia memandangi Lian Wei yang juga menatapnya dengan penuh tanya dan harap. “Tentu.” “Bisa kau ceritakan padaku?” “Tentu tapi tidak disini.” “Ah kalau begitu ayo kita kembali saja, agar kau bisa memberitahuku,” seakan mengerti keadaannya, Lian Wei hendak mengajak Wang Xuemin kembali agar dia tahu tentang kekaisaran musuh ini. “Baiklah kita kembali siang nanti. Aku pergi dulu, aku belum menyapa kaisar,” ucap Wang Xuemin dengan mengelus puncak kepala Lian Wei. Wang Xuemin berjalan meninggalkan Lian Wei yang diam membeku, hingga suara pintu tertutup menyadarkan Lian Wei. Blam… “Bagaimana mungkin dia belum menyapa kaisar dan memilih mencariku lebih dulu?” gumam Lian Wei. Wang Xuemin memasuki singgasana Kaisar Xu, ia memberi salam dan berbincang sedikit tak lupa juga ia meminta izin untuk membawa Lian Wei kembali. “Sebaiknya anda pikirkan kembali keponakan Wang, kondisi Lian Wei masih jauh dari ka

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   153

    “Memangnya aku ini siapa bagimu, Lian Wei?” Pertanyaan itu membuat dadanya terasa sesak. Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang jarang ditunjukkan Wang Xuemin kepada orang lain. Bukan kemarahan. Bukan kekecewaan. Melainkan kekhawatiran. Wang Xuemin menghela napas panjang sebelum melanjutkan. “Aku mengirim barang ke kediamanmu dan mendapat kabar kau sudah pergi.” “Saat itu aku berpikir mungkin kau hanya keluar sebentar. Namun satu hari berlalu, lalu dua hari.” Lian Wei terdiam. Suara pria itu semakin rendah. “Aku mengirim orang mencarimu ke berbagai tempat. Setiap laporan yang datang bukan membuatku tenang, justru membuatku semakin gelisah.” Jemarinya menggenggam tangan Lian Wei erat. Wang Xuemin menatapnya lekat, begitupun dengan Lian Wei yang menatap mata Wang Xuemin. “Kau tahu apa yang paling kutakutkan?” Lian Wei menggeleng pelan. “Aku takut sesuatu terjadi padamu saat aku tidak ada di sisimu.” Mata Lian Wei sedikit membesar. “Aku takut kau terluka. Takut kau

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   152

    “Kita harus menghibur ayah Maylen.”“Apa? Hanya menghibur ayah saja?”“Hei, kau meremehkan aku ya?” ucap Lien Hua dengan smirk. “Kau yang terbaik Kakak Kedua,” ucap Mayleen mengerti.Setelahnya mereka pergi untuk menghibur Kaisar Li. “Ayah tidak perlu khawatir, aku percaya Kakak Pertama akan pulang dengan sehat,” ucap Lien Hua dengan menuangkan teh hijau buatannya. “Maylen juga percaya kalau Kak Huan dan Kak Jian, akan membawa pulang Kakak Pertama dengan aman ayah,”“Terimakasih kalian memang yang terbaik,” ucap Jiazhen mengelus puncak kepala kedua putrinya. “Bagaimana dengan persiapan akademi kalian?”“Akademi?”“Kami tidak akan pergi,” ucap Maylen sedih. “Kenapa kalian tidak pergi?”“Bagaimana mungkin kami pergi ke akademi sedangkan Kak Lian masih sakit?”“Benar ayah, kami tidak akan pergi tanpa Kakak Pertama,” imbuh Maylen. ‘Sebenarnya malas banget berurusan sama Lien Hua, tapi aku membutuhkan dia saat ini,’ batin Maylen. “Tidak kalian pergi saja, itu hanya satu tahun sekali

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   151

    Sementara itu di Kekaisaran Shang, Lien Hua yang pulang bersama Zhaoyang Hong. Disambut oleh ibunya, Kaisar Li mengizinkan Selir Cui dibebaskan untuk hari ini karena menghormati Putra Mahkota Quon.“Ibu!”Lien Hua berlari memeluk ibunya.“Putriku, ibu merindukanmu.”“Ibu,” ucap Zhaoyang lembut.“Aduh! Menantuku, ayo masuk. Semua orang sudah menunggu di aula utama.”“Baiklah, ayo.” Mereka semua sudah menunggu di aula utama. “Salam ayah, kakak,” ucap mereka bersamaan.“Lien'er kau sudah datang? Ayo duduk.”Mereka makan siang bersama, tidak lama hadiah dari Zhaoyang datang.“Ayah, ibu, ini hadiah dari Pangeran Zhao untuk kalian,” ucap Lien Hua.“Kalian terlalu repot,” ucap Kaisar Li.“Kakak, bukankah itu perhiasan dari Toko Xinxin yang belum keluar itu?” tanya Mayleen.“Benar, indah bukan? Ini hadiah pernikahan dari Kakak Pertama.”“Lian Wei?” beo ketiga pria itu.“Benar Kakak Pertama yang memberikannya. Entah bagaimana dia bisa membelikan hadiah mahal ini untukku?”“Aku pernah menawar

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status