LOGIN"Kau!"
'Apa sampah ini mengingatnya?' batin Lien Hua itu takut. 'Ah tidak, mereka tahunya aku hilang ingatan. Baiklah mari kita biarkan dia bersenang-senang dahulu' batin Xinxin. Ia merasakan seseorang memeluknya dari samping. 'Orang ini Li Jianying, orang yang selalu ada bagi pemilik tubuh ini dan itu ibu selir yang merawat pemilik tubuh dari kecil,' batin Xinxin melihat ke samping kanannya. "Putri pertama apa kau mengingat kejadian di danau?" selidik Li Xiuhuan, Putra Mahkota Kekaisaran Shang. "Sepertinya aku belum mengingatnya dengan jelas," ucapnya tatapan mata dingin. Bohong... ia mengingatnya dengan jelas, tapi saat ini ia memilih untuk bermain. "Ck... menyusahkan!" 'Sampah tetaplah sampah,' batin Lien Hua. Lien Hua yang melihat kakaknya sedikit perhatian pada Lian Wei segera mencari perhatiannya. "Kakak, lihat," ucapnya manja menunjukkan wajahnya merah karena tamparan Lian Wei. "Siapa yang memukulmu?" panik Xiuhuan "Kakak jangan salahkan Kak Lian ini salahku. Aku hanya ingin mengunjunginya tapi..." ucapnya terjeda, "Kak Lian tidak suka ku kunjungi." "Baiklah sangat baik Lian Wei! Tidak bisakah kau berbaik hati pada Lien'er? Dia datang mengunjungimu karena dia peduli padamu, tapi kau malah menamparnya?" "Apa?" Lian Wei tidak mengerti. "Cepat minta maaf pada Lien'er!" 'Aku meminta maaf padanya? Apa tidak kebalik?' Lian Wei beralih menatap Jianying, tatapannya melembut tidak seperti saat ia menatap Xiuhuan dan yang lainnya. Itu sempat membuat Jiazhen dan Xiuhuan terkejut. "Kak Jian kepala ku sakit, suruh mereka keluar!" ucapnya manja dengan menyandarkan kepalanya dibahu Li Jianying, tangannya sudah merangkul leher Li Jianying. Li Jianying sempat terkejut dengan tindakan adiknya, namun ia semakin khawatir melihatnya yang meremas bahunya kuat. Mungkin adiknya benar-benar kesakitan, keringat meluncur bebas dari dahinya. "Hmm ayah aku mohon pengertian dari ayah, adik sedang tidak sehat, tolong dapat dimengerti kondisinya ayah." "Huh baiklah ayo kita pergi," ucap Li Jiazhen. "Terima kasih atas pengertian mu ayah." "Tapi ayah dia belum meminta maaf atas kelakuannya!" kesal Xiuhuan. "Putra Mahkota! Keluar!" perintah Jiazhen. Dengan malas Xiuhuan membawa Lien Hua keluar dari sana di susul oleh Jiazhen. Li Jianying membawa Li Lian Wei untuk berbaring. Yang tersisa di kamar hanya Mingmei, Li Jianying dan Selir Wu Zhishu, ibu kandung Jianying. "Apa kau merasa lebih baik Lian'er?" tanya Wu Zhishu. Selir Wu memeluk Lian Wei dengan hangat, tubuhnya membeku saat berada dalam pelukan itu. Terlalu hangat, ia belum pernah merasakan ini. 'Pelukan hangat seorang ibu, aku tidak pernah merasakan pelukan ini selama hidupku. Aku sangat menyukai pelukan ini,' Xinxin membalas pelukannya. "Iya i-ibu aku sudah merasa baik," ucapnya gugup. Perlahan Selir Wu melepaskan pelukannya. "Adikku, apa benar kau hilang ingatan?" "Kakak, aku dapat mengingat sedikit." "Lalu apa kau mengingat siapa yang membuat mu jatuh ke danau?" Lian Wei tidak menjawab ia hanya menggeleng pelan. "Sudah tidak usah dipaksakan Lian'er. Jian'er jangan paksa anakmu dia butuh istirahat sekarang." jelas Selir Wu, "Lian'er lebih baik kau istirahat, ibu akan kembali lagi nanti." "Terima kasih ibu." Tanpa terasa air mata jatuh dari pipinya. "Lian'er kenapa kau menangis?" "Tidak ibu, aku hanya... merindukan ibuku." "Oh anakku yang malang, seandainya ibumu masih ada pasti dia akan sangat bangga memiliki anak yang begitu baik hati," ucapnya sambil memeluk Lian Wei kembali. "Dengar Lian'er, aku adalah ibu mu saat ini. Datang padaku kapan saja kau butuh, ya?" ucapnya setelah melepaskan pelukannya. "Kau juga bisa mencari Kakak. Aku akan selalu ada untuk adik cantik ku." "Terima kasih ibu, kakak." Selir Wu tersenyum manis pada Lian Wei, lalu ia kembali ke paviliunnya bersama Jianying. Mingmei masih setia mendampingi Lian Wei. "Kau.... Mingmei?" "Benar putri, apakah putri mengingat hamba?" ucapnya masih sedikit takut melihat tatapan Lian Wei yang berubah menjadi tegas. "Ya aku ingat, kau pelayan setia ku satu-satunya. Mingmei aku lapar bisakah kau mengambilkan makanan untukku?" "Ya putri, hamba akan ambilkan." Lalu Mingmei pergi mengambil makanan, tak lama kemudian ia kembali dengan sepiring sayur pucat tanpa lauk, roti yang sudah keras. "Apakah hanya ini Mingmei?" "Maaf putri biasanya memang segini makanan untuk paviliun ini." Lian Wei mengambil makanan itu dan samar ia mencium bau racun. Meskipun tidak terlalu kuat tapi ia bisa menciumnya. Di kehidupan sebelumnya ia akrab dengan racun. "Jangan dimakan!" Xinxin menghentikan tangan Mingmei lalu menjatuhkan makanan itu ke lantai. Beberapa detik kemudian, semut-semut kecil yang mendekat mati seketika. “Racun,” ucapnya tenang. "Apa putri?! Racun?! Maafkan kesalahan hamba yang tidak tahu ini putri. hamba pantas dihukum!" "Tidak, hei bangun, ayo bangun, aku tidak akan menghukum mu. Sekarang ingat Mingmei, mulai sekarang jangan mengambil makanan dari mana pun. Kita akan membuatnya sendiri." "Iya putri." Tok tok tok... Terdengar suara ketukan pintu, mereka saling pandang sejenak, lalu Mingmei bergegas untuk membukakan pintu. Ternyata yang mengetuk adalah Jianying, ia membawakan makanan dan buah-buahan. Setelah memberikan pada Mingmei ia segera pergi dari sana. "Siapa yang berani meracuni Lian'er," gumam Jianying saat sudah menjauh dari pintu, segera ia pergi untuk mencari tahu kebenarannya. Ia tak sengaja mendengar percakapan Lian Wei dan Mingmei, untung saja ia kembali lagi untuk memberikan makanan yang diberikan ibunya. Jika ia tidak kembali lagi mungkin ia tak akan tahu hal ini. Mingmei masuk kedalam dengan membawa makanan dan buah yang diberikan Jianying. Ia meletakkan makanan itu di meja depan Lian Wei. "Pangeran kedua datang dan memberikan ini putri." "Jianying? Kebetulan sekali. Ayo Mingmei kita makan bersama," ucapnya melihat banyak makanan yang di atas meja. "Tidak putri hamba tidak berani, lebih ba—" belum sempat Mingmei selesai dengan perkataannya, Lian Wei sudah menyuapi makanan ke mulutnya. "Nah lebih baik, ayo makan Mingmei. Aku tidak suka dibantah!" Dengan susah payah Mingmei menelan makanan yang ada di mulutnya. Lalu ia hanya bisa menganggukkan kepalanya. Jadilah mereka makan bersama malam ini. Buah-buahan ini disimpan untuk lain hari. "Mingmei kita punya uang bukan?" "Menjawab putri, kita diberikan 100 keping tael perak setiap bulan." "100 keping? Bangsawan mana yang begitu miskin?" celetuk Lian Wei dan Mingmei hanya memandangi majikannya. "Ya, itu aku." Lian Wei sadar diri. "Mingmei di masa depan kita harus punya banyak uang." "Iya putri." "Bagus!" "Aku ingin mandi." "Oh... hamba akan siapkan air hangatnya." Lalu Mingmei pergi menyiapkan air hangat, setelah siap ia segera memberitahu Lian Wei. "Putri airnya sudah siap." Lian Wei melangkah ke bak mandi diikuti Mingmei. Saat Mingmei ingin membantu melepaskan pakaian Lian Wei segera dicegah olehnya. "Apa yang kau lakukan? Kau tidak perlu membantuku melupakannya," ucapnya sembari menyilangkan tangannya. "Tapi—" belum selesai berbicara, Lian Wei memandang Mingmei tajam "Baik putri," ucap Mingmei lalu ia keluar dari sana menunggu Lian Wei selesai dengan mandi. Setelah melepaskan pakaiannya Lian Wei segera merendam tubuhnya ke dalam air beraroma mawar. Ia memandang tubuhnya, kulitnya terlihat kusam dan jelek. Wajahnya banyak bintik-bintik merah. Dulu kulitnya sangat putih dan mulus, tidak seperti sekarang. Ia meletakan dua jarinya di pergelangan tangannya, merasakan denyut nadinya. Lalu ia tersadar karena hal yang mengganjal. "Racun!"“Kau tidak menggunakan api?” tanya Luoyang.“Tidak untuk tahap ini,” jawab Lian Wei. “Beberapa khasiat herbal akan berkurang jika terkena panas terlalu tinggi. Aku harus mengambil sarinya terlebih dahulu sebelum mencampurkannya dengan bahan lain.”Luoyang mengangguk pelan. Tatapannya berubah sedikit lebih serius.“Sepertinya kau cukup memahami pengobatan.”Lian Wei hanya tersenyum tanpa menjawab.Ia memeras ampas herbal menggunakan kain tipis yang sudah disiapkan. Cairan hasil perasan ditampung ke dalam mangkuk kecil, lalu ia mencampurkannya dengan bubuk herbal yang sebelumnya telah digiling.Aroma obat yang tajam kembali memenuhi ruangan. Lian Wei mengaduk campuran tersebut perlahan hingga teksturnya berubah menjadi pasta kental.“Salep ini dapat membantu menghentikan pendarahan ringan, mengurangi pembengkakan, dan mempercepat pemulihan luka,” jelasnya.Adipati Xinxi mengambil sedikit jarak dari meja, lalu menatap ramuan di hadapannya.“Kalau begitu, kau membuatnya untuk persediaan a
“Kau tahu apa? Cepat suruh orang menyiapkannya, sebentar lagi aku mau kembali.”“Baik nona,” Bao Yu segera pergi dari sana.Sementara Lian Wei masih berdiam diri menatap danau di depannya. Tak lama Tianzhi masuk dan menemui Lian Wei.“Nona,” ucapnya memberi salam.“Ada apa? apa tuan mu menyuruhmu untuk memata-mataiku?”“Tidak nona, saya datang untuk memberikan laporan.”Lian Wei duduk di kursi taman dan menyeduh teh.“Katakan,” ucap Lian Wei.“Tuan mengatakan orang yang mengikuti Tao Mo dan Bao Yu adalah kakak anda.”“Aku sudah tahu kalau itu, apa tidak ada laporan lain?”“Kekaisaran Song sedang mempersiapkan pasukan besar-besaran saat ini. Mereka juga meminta ahli senjata terbaik untuk menyiapkan senjata mereka.”“Ahli senjata?” beo Lian Wei.“Benar, nona.”“Xiu Juan!” panggil Lian Wei.“Ya, nona.”Xiu Juan yang mendengar namanya segera datang menghampirinya.“Cepat pergi ke Kekaisaran Xu untuk menjadi pemasok senjata.”“Nona anda ingin menyabotase senjata?” Tebak Tianzhi pintar.Lia
“Anak ini…” Adipati Xinxi hanya bisa menghembuskan nafas lelah. Kemudian ia membaca resep teh itu dan menganggukkan kepalanya. “Ternyata dia mencampurkan bahan obat kedalam tehnya, pantas saja tubuhku terasa ringan.” Slurp… “Humm..” ia kembali menikmati teh itu. Sementara Lian Wei sudah berjalan menuju gerbang di sana ada dua murid luar yang menjaga gerbang. “Kau mau kemana?” “Kakak senior, guru memintaku mengantarkan surat ini pada Tuan Xinxin,” ucapnya memberikan selembar kertas itu pada kakak seniornya. Kakak senior itu mengambil suratnya dan melihat cap milik Adipati Xinxi. “Ini asli, kembalilah sebelum gelap.” Senior itu mengembalikan surat itu pada Lian Wei. “Terimakasih kak, aku akan kembali sebelum gelap.” Saat Lian Wei akan pergi keluar seseorang memanggil namanya. “Li Xinhua!” Lan Wei berbalik dan mendapat Xu Kai yang membawa kuda. Ia menghampiri Lian Wei dengan senyum merekah. “Kau mau kemana?” “Mengantar surat pada Tuan Xinxin.” “Uhuk… uhuk… apa?” Xu Kai ter
“Tapi setahu ku, Tuan Xinxin sangat sibuk. Mana bisa ia memiliki waktu luang hanya untuk mengajari beberapa jurus saja,” ucap Bei Chen lesu. “Kau tahu ini dari mana?” “Li Xinhua, apa kau bodoh? Dia itu orang yang hebat mana mungkin dia mau meluangkan waktu berharga miliknya. Hanya datang saja sudah cukup.” “Benarkah dia sehebat itu?” Mingmei mencuri dengar hanya bisa menahan tawanya. ‘Bei Chen, sungguh tidak tahu sedang berbicara dengan orang yang dia maksud. Sepertinya nona juga sangat menyukai permainan itu,’ ucap Mingmei dalam hati. “Lihat apa kau?! Kenapa kau tertawa? Awas ku patahkan gigimu,” kesal Bei Chen pada Mingmei. “Tidak ada, aku pergi dulu.” Mingmei berlalu dari sana namun masih menahan tawanya. Lian Wei juga ikut menahan tawanya. “Kenapa kau juga tertawa?” Bei Chen berbalik menatap Lian Wei. “Tidak, Mingmei sangat lucu. Lihat dia lari terbirit-birit karenamu.” “Aku harus menemui guru, ada hal yang perlu ku bahas dengan guru.” “Baiklah. Kalau begitu sampai nan
Yuze masih menatap Lian Wei bingung dengan gerakan aneh yang tidak pernah dilihatnya. ‘Gerakan apa ini? Kenapa begitu cepat dan tidak pernah kulihat sebelumnya?’ batin Yuze. Yuze mencoba mengingat gerakan milik Lian Wei itu, hingga ia terpikirkan satu hal. ‘Ini bukan gerakan dari Kekaisaran Shang, dari mana dia mempelajari hal ini?’ batin Yuze. Bei Chen yang dari tadi mengamati pertarungan itu, mulai mengingat sesuatu. ‘Tidak… ini salah, gerakan ini milik tentara Xinxin,’ batin Bei Chen. “Gerakan yang dikeluarkan oleh Li Xinhua berhasil mengalahkan Senior Yuze. Pasti sekarang senior ada dendam tersendiri padanya,” ucap Bei Chen pelan. Lian Wei berjalan mendekati Yuze lalu ia membungkukkan badan memberi hormat. Ia juga tersenyum dengan smirk. “Aku tahu apa yang senior pikirkan, sepertinya aku kesini untuk mencari musuh baru, bukan mencari ilmu,” sindirnya. “Kau tahu apa?!” kesal Yuze. “Senior mohon jangan mempersulit aku dengan mengungkapkan jati diriku,” ucapnya dingin. “
“Hei, apakah Li Xinhua mengganggu Senior Yuze?” “Kurasa tidak. Sejak dia masuk ke akademi sikapnya begitu tenang.” “Tapi mengapa senior selalu menargetkan Li Xinhua?” “Benar. Kemarin saat latihan pedang dengan Senior Xu, dia juga menargetkannya.” “Mungkinkah mereka sudah saling mengenal?” “Atau mungkinkah karena dia menjadi murid inti terakhir dan identitas aslinya adalah seorang wanita bukan pria?” “Ah benar juga.” Bisikan itu semakin terdengar. Mingmei yang berada di pinggir lapangan langsung menatap mereka dengan waspada. Sementara itu, Lian Wei tetap tenang. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan Yuze. Namun dari tatapan wanita itu, jelas bahwa Yuze tidak sekadar ingin bertanding dengannya. Seolah-olah senior itu sedang menguji sesuatu atau membalas dendam. “Siap?” tanya Yuze. Lian Wei mengambil posisi. “Siap.” “Mulai!” ucap Luoyang. Dalam sekejap, Yuze melesat maju. Gerakannya jauh lebih cepat dibandingkan para murid sebelumnya. Lian Wei menghindar tepat pada
Melihat kepergian dan keacuhan Lian Wei terhadap Xiuhuan, membuat hatinya merasa tidak tenang. Ia tidak seperti ini sebelumnya. Biasanya dia akan acuh terhadap adiknya itu, namun sekarang entah mengapa setiap melihat tatapan dingin di mata adiknya membuat hatinya sakit. Ia hanya mampu melihat keperg
Plak!Suara tamparan keras menggema di dalam ruangan.Kepala Li Lian Wei terhempas ke samping. Rasa panas menjalar di pipinya, disusul denyutan tajam di kepala.“Oh? Kukira kau sudah mati di danau itu.”Suara dingin penuh ejekan terdengar.Gadis yang berdiri angkuh itu adalah Li Lien Hua, putri kedu
Bahkan ia saja mungkin tidak bisa menghentikan laju serangannya, namun gadis di depannya menghentikannya tepat waktu. Semua orang kembali tercengang dengan kejadian itu. Lian Wei menurunkan kakinya, segera Jingmi terjatuh lemas."Kau beruntung aku tidak menendang kepalamu, jika aku benar-benar menen
Satu kata sudah dapat memprediksi secara keseluruhan. Tubuh ini lemah dan jelek, tentu saja itu karena racun. Ia harus mengeluarkan racun ini dalam tubuhnya. Ia mengambil cermin yang terbuat dari perunggu, ia terkejut betapa jeleknya dia saat ini."Ini pasti ulah para rubah itu, aku yakin jika tubuh







