Share

2

Author: Naomiliana
last update publish date: 2026-04-02 08:55:29

"Kau!"

'Apa sampah ini mengingatnya?' batin Lien Hua itu takut.

'Ah tidak, mereka tahunya aku hilang ingatan. Baiklah mari kita biarkan dia bersenang-senang dahulu' batin Xinxin. Ia merasakan seseorang memeluknya dari samping.

'Orang ini Li Jianying, orang yang selalu ada bagi pemilik tubuh ini dan itu ibu selir yang merawat pemilik tubuh dari kecil,' batin Xinxin melihat ke samping kanannya.

"Putri pertama apa kau mengingat kejadian di danau?" selidik Li Xiuhuan, Putra Mahkota Kekaisaran Shang.

"Sepertinya aku belum mengingatnya dengan jelas," ucapnya tatapan mata dingin.

Bohong... ia mengingatnya dengan jelas, tapi saat ini ia memilih untuk bermain.

"Ck... menyusahkan!"

'Sampah tetaplah sampah,' batin Lien Hua.

Lien Hua yang melihat kakaknya sedikit perhatian pada Lian Wei segera mencari perhatiannya.

"Kakak, lihat," ucapnya manja menunjukkan wajahnya merah karena tamparan Lian Wei.

"Siapa yang memukulmu?" panik Xiuhuan

"Kakak jangan salahkan Kak Lian ini salahku. Aku hanya ingin mengunjunginya tapi..." ucapnya terjeda, "Kak Lian tidak suka ku kunjungi."

"Baiklah sangat baik Lian Wei! Tidak bisakah kau berbaik hati pada Lien'er? Dia datang mengunjungimu karena dia peduli padamu, tapi kau malah menamparnya?"

"Apa?" Lian Wei tidak mengerti.

"Cepat minta maaf pada Lien'er!"

'Aku meminta maaf padanya? Apa tidak kebalik?'

Lian Wei beralih menatap Jianying, tatapannya melembut tidak seperti saat ia menatap Xiuhuan dan yang lainnya. Itu sempat membuat Jiazhen dan Xiuhuan terkejut.

"Kak Jian kepala ku sakit, suruh mereka keluar!" ucapnya manja dengan menyandarkan kepalanya dibahu Li Jianying, tangannya sudah merangkul leher Li Jianying.

Li Jianying sempat terkejut dengan tindakan adiknya, namun ia semakin khawatir melihatnya yang meremas bahunya kuat. Mungkin adiknya benar-benar kesakitan, keringat meluncur bebas dari dahinya.

"Hmm ayah aku mohon pengertian dari ayah, adik sedang tidak sehat, tolong dapat dimengerti kondisinya ayah."

"Huh baiklah ayo kita pergi," ucap Li Jiazhen.

"Terima kasih atas pengertian mu ayah."

"Tapi ayah dia belum meminta maaf atas kelakuannya!" kesal Xiuhuan.

"Putra Mahkota! Keluar!" perintah Jiazhen.

Dengan malas Xiuhuan membawa Lien Hua keluar dari sana di susul oleh Jiazhen.

Li Jianying membawa Li Lian Wei untuk berbaring. Yang tersisa di kamar hanya Mingmei, Li Jianying dan Selir Wu Zhishu, ibu kandung Jianying.

"Apa kau merasa lebih baik Lian'er?" tanya Wu Zhishu.

Selir Wu memeluk Lian Wei dengan hangat, tubuhnya membeku saat berada dalam pelukan itu. Terlalu hangat, ia belum pernah merasakan ini.

'Pelukan hangat seorang ibu, aku tidak pernah merasakan pelukan ini selama hidupku. Aku sangat menyukai pelukan ini,' Xinxin membalas pelukannya.

"Iya i-ibu aku sudah merasa baik," ucapnya gugup. Perlahan Selir Wu melepaskan pelukannya.

"Adikku, apa benar kau hilang ingatan?"

"Kakak, aku dapat mengingat sedikit."

"Lalu apa kau mengingat siapa yang membuat mu jatuh ke danau?"

Lian Wei tidak menjawab ia hanya menggeleng pelan.

"Sudah tidak usah dipaksakan Lian'er. Jian'er jangan paksa anakmu dia butuh istirahat sekarang." jelas Selir Wu, "Lian'er lebih baik kau istirahat, ibu akan kembali lagi nanti."

"Terima kasih ibu."

Tanpa terasa air mata jatuh dari pipinya.

"Lian'er kenapa kau menangis?"

"Tidak ibu, aku hanya... merindukan ibuku."

"Oh anakku yang malang, seandainya ibumu masih ada pasti dia akan sangat bangga memiliki anak yang begitu baik hati," ucapnya sambil memeluk Lian Wei kembali.

"Dengar Lian'er, aku adalah ibu mu saat ini. Datang padaku kapan saja kau butuh, ya?" ucapnya setelah melepaskan pelukannya.

"Kau juga bisa mencari Kakak. Aku akan selalu ada untuk adik cantik ku."

"Terima kasih ibu, kakak."

Selir Wu tersenyum manis pada Lian Wei, lalu ia kembali ke paviliunnya bersama Jianying. Mingmei masih setia mendampingi Lian Wei.

"Kau.... Mingmei?"

"Benar putri, apakah putri mengingat hamba?" ucapnya masih sedikit takut melihat tatapan Lian Wei yang berubah menjadi tegas.

"Ya aku ingat, kau pelayan setia ku satu-satunya. Mingmei aku lapar bisakah kau mengambilkan makanan untukku?"

"Ya putri, hamba akan ambilkan."

Lalu Mingmei pergi mengambil makanan, tak lama kemudian ia kembali dengan sepiring sayur pucat tanpa lauk, roti yang sudah keras.

"Apakah hanya ini Mingmei?"

"Maaf putri biasanya memang segini makanan untuk paviliun ini."

Lian Wei mengambil makanan itu dan samar ia mencium bau racun. Meskipun tidak terlalu kuat tapi ia bisa menciumnya. Di kehidupan sebelumnya ia akrab dengan racun.

"Jangan dimakan!"

Xinxin menghentikan tangan Mingmei lalu menjatuhkan makanan itu ke lantai. Beberapa detik kemudian, semut-semut kecil yang mendekat mati seketika.

“Racun,” ucapnya tenang.

"Apa putri?! Racun?! Maafkan kesalahan hamba yang tidak tahu ini putri. hamba pantas dihukum!"

"Tidak, hei bangun, ayo bangun, aku tidak akan menghukum mu. Sekarang ingat Mingmei, mulai sekarang jangan mengambil makanan dari mana pun. Kita akan membuatnya sendiri."

"Iya putri."

Tok tok tok...

Terdengar suara ketukan pintu, mereka saling pandang sejenak, lalu Mingmei bergegas untuk membukakan pintu. Ternyata yang mengetuk adalah Jianying, ia membawakan makanan dan buah-buahan. Setelah memberikan pada Mingmei ia segera pergi dari sana.

"Siapa yang berani meracuni Lian'er," gumam Jianying saat sudah menjauh dari pintu, segera ia pergi untuk mencari tahu kebenarannya.

Ia tak sengaja mendengar percakapan Lian Wei dan Mingmei, untung saja ia kembali lagi untuk memberikan makanan yang diberikan ibunya. Jika ia tidak kembali lagi mungkin ia tak akan tahu hal ini.

Mingmei masuk kedalam dengan membawa makanan dan buah yang diberikan Jianying. Ia meletakkan makanan itu di meja depan Lian Wei.

"Pangeran kedua datang dan memberikan ini putri."

"Jianying? Kebetulan sekali. Ayo Mingmei kita makan bersama," ucapnya melihat banyak makanan yang di atas meja.

"Tidak putri hamba tidak berani, lebih ba—" belum sempat Mingmei selesai dengan perkataannya, Lian Wei sudah menyuapi makanan ke mulutnya.

"Nah lebih baik, ayo makan Mingmei. Aku tidak suka dibantah!"

Dengan susah payah Mingmei menelan makanan yang ada di mulutnya. Lalu ia hanya bisa menganggukkan kepalanya. Jadilah mereka makan bersama malam ini. Buah-buahan ini disimpan untuk lain hari.

"Mingmei kita punya uang bukan?"

"Menjawab putri, kita diberikan 100 keping tael perak setiap bulan."

"100 keping? Bangsawan mana yang begitu miskin?" celetuk Lian Wei dan Mingmei hanya memandangi majikannya.

"Ya, itu aku." Lian Wei sadar diri.

"Mingmei di masa depan kita harus punya banyak uang."

"Iya putri."

"Bagus!"

"Aku ingin mandi."

"Oh... hamba akan siapkan air hangatnya." Lalu Mingmei pergi menyiapkan air hangat, setelah siap ia segera memberitahu Lian Wei.

"Putri airnya sudah siap."

Lian Wei melangkah ke bak mandi diikuti Mingmei. Saat Mingmei ingin membantu melepaskan pakaian Lian Wei segera dicegah olehnya.

"Apa yang kau lakukan? Kau tidak perlu membantuku melupakannya," ucapnya sembari menyilangkan tangannya.

"Tapi—" belum selesai berbicara, Lian Wei memandang Mingmei tajam

"Baik putri," ucap Mingmei lalu ia keluar dari sana menunggu Lian Wei selesai dengan mandi.

Setelah melepaskan pakaiannya Lian Wei segera merendam tubuhnya ke dalam air beraroma mawar. Ia memandang tubuhnya, kulitnya terlihat kusam dan jelek. Wajahnya banyak bintik-bintik merah. Dulu kulitnya sangat putih dan mulus, tidak seperti sekarang.

Ia meletakan dua jarinya di pergelangan tangannya, merasakan denyut nadinya. Lalu ia tersadar karena hal yang mengganjal.

"Racun!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Muhammad 11
sangat menarik dan seru
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   373

    Di tempat lain, Hong Li Hao masih berdiri di depan peta.Ia tidak tahu bahwa sebagian kecil dari rahasia yang selama ini ia lindungi telah berpindah tangan.Ia juga tidak tahu bahwa orang-orang yang ia kira sebagai bagian dari pasukannya kini telah menjadi mata dan telinga Lian Wei.Hong Li Hao menghela nafas lega.“Sepertinya mereka hanya ingin menguji pertahanan kita.”Seorang bawahannya mengangguk.“Benar, tuan. Setelah serangan semalam, mereka bahkan tidak kembali menyerang.”Orang itu adalah Qiu yang menyamar.Hong Li Hao tersenyum.“Kalau begitu, jangan terlalu khawatir,” ucapnya lalu menutup peta.“Biarkan mereka berpikir bahwa kita tidak menyadari rencana mereka.”Tanpa ia sadari, justru dialah yang sedang terjebak dalam permainan Lian Wei.Di luar tenda, seorang prajurit yang sebenarnya adalah orang Lian Wei menundukkan kepala ketika Hong Li Hao melewatinya.Tidak ada yang mencurigakan, tidak ada yang berbeda. Semuanya tampak seperti pagi biasa dan itulah yang diinginkan Lian

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   372

    “Pada orang yang membuatmu terluka.”Lian Wei terdiam.Di kejauhan, suara pasukan kembali terdengar. Namun kali ini, senyum kecil muncul di wajahnya.Rencananya masih berjalan dan tanpa diketahui musuh, orang-orang Lian Wei sudah mulai mengambil alih bagian dalam kemah.Malam itu, pengepungan yang ia rancang bukan sekadar serangan. Itu adalah langkah pertama untuk menghancurkan rencana Hong Li Hao dari dalam.“Ayo kembali dulu.”Wang Xuemin mengajak Lian Wei pergi dari sana. Ia menggendong Lian Wei dan melompat ke atas tembok.Kemudian Wang Xuemin bersiul, tak lama seekor kuda jantan datang menghampirinya.Wang Xuemin turun lebih dulu, lalu ia mengulurkan tangannya pada Lian Wei yang masih di atas tembok.“Melompatlah, aku akan menangkapmu.”Wang Xuemin masih menjulurkan tangannya di udara, tak lama Lian Wei melompat. Dengan sigap Wang Xuemin langsung menangkapnya. Bunga sakura putih berguguran mengikuti arah lompatan Lian Wei.Lian Wei berada dalam pelukan Wang Xuemin, ia juga membaw

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   371

    Malam semakin larut.Di luar perkemahan, angin berhembus melewati hamparan padang yang gelap. Api obor dari kemah musuh terlihat samar dari kejauhan.Lian Wei berdiri di balik sebuah bukit kecil bersama Yelu, Mingmei, dan beberapa orang kepercayaannya.Tatapannya tertuju pada kemah musuh.“Pasukan utama mereka masih berada di bagian tengah,” ucap Lian Wei pelan. “Mereka tidak menyadari bahwa sebagian pasukan kita sudah mengepung sisi timur dan barat.”Yelu mengangguk.“Kalau begitu, kapan kita menyerang, Tuan?”“Sekarang.”Lian Wei mengangkat tangannya.Sesaat kemudian—Whoosh!Anak panah melesat ke udara.“Serang!”Teriakan para prajurit mengguncang malam.Pasukan yang telah bersembunyi di sekitar kemah musuh langsung bergerak. Dari sisi timur, barisan prajurit menyerbu masuk. Dari sisi barat, pasukan lainnya memutus jalur pelarian.Musuh yang sedang beristirahat langsung kacau.“Ada serangan!”“Musuh mengepung kita!”“Lindungi kemah komandan!”Lian Wei menarik pedangnya dan maju pal

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   370

    “Aku tiba-tiba ingin melihat halaman belakang.”Hong Tiong Wai tertawa kecil.“Baiklah. Kalau itu keinginanmu.”Mereka berjalan mengikuti arah Hong Li Hao. Namun, Lian Wei tidak berjalan terlalu dekat.Ia menjaga jarak, sesekali berhenti untuk melihat bunga atau memperhatikan bangunan di sekelilingnya.Hong Tiong Wai tidak menyadari bahwa setiap langkah adiknya telah diperhitungkan.Hong Li Hao berhenti di depan sebuah bangunan kecil. Dua pengawal membuka pintu lalu ia masuk.Lian Wei yang berada cukup jauh segera berhenti di balik pilar.“Adik?” tanya Hong Tiong Wai sambil menatapnya.“Diam sebentar,” Lian Wei mengangkat satu jari di depan bibir.Hong Tiong Wai mengerutkan kening. Namun, ia mengikuti permintaan adiknya. Lian Wei mendekat perlahan, dari balik dinding, terdengar suara Hong Li Hao.“Semua pasukan harus tetap berada di tempat masing-masing.”Lian Wei berhenti.‘Pasukan?’Ia memberi isyarat kepada Hong Tiong Wai agar tetap diam.“Bagaimana jika pasukan dari Shang dan Xu m

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   369

    “Adik, kau jangan terlalu memikirkan hal itu. Xinxin besar di Kekaisaran Xu, ibunya meninggal saat ia masih kecil. Ia berasal dari Kekaisaran Shu hanya peracik obat kecil.”“Benarkah?”“Ya, sangat berbeda dengan identitas Tuan Xinxin yang muncul secara misterius.”“Berarti aku salah paham pada ponakanku,” ucap Hong Li Hao merasa bersalah.“Sudahlah, kita bahas yang lain dulu saja.”“Ya.”Lalu mereka melanjutkan pembicaraan mereka untuk peperangan yang akan datang.Cukup lama mereka berbincang, hingga akhirnya pembicaraan itu selesai. Hong Li Hao keluar lebih dulu, saat berada di pintu masuk seorang pengawal masuk dan membungkuk.“Yang Mulia.”“Ada apa?” Hong Li Hao menoleh.“Orang yang, Yang Mulia tunggu telah tiba.”“Bawa aku ke sana,” ucap Hong Li Hao lalu mengangguk.Malam mulai turun di Kekaisaran Song. Di balik sebuah bangunan tua yang tampak seperti gudang kosong, terdapat ruangan bawah tanah yang dijaga ketat.Hong Li Hao masuk melalui pintu samping.Di dalam, beberapa pria ber

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   368

    “Dan apakah seseorang itu bernama Xinxin? Apa kau dan dia adalah orang yang sama?”Deg!Jantung Lian Wei mendadak berhenti sejenak, ia takut ketahuan. Mingmei yang berdiri di belakang Lian Wei langsung menegang.Hong Li Hao memperhatikan perubahan kecil itu. Namun, sebelum ia sempat berkata apa-apa, Lian Wei menundukkan kepala.“Paman…” suaranya mendadak melemah.Hong Li Hao terdiam.Lian Wei mengangkat wajahnya. Tatapannya terlihat bingung, bahkan sedikit terluka.“Kenapa Paman terus menanyakan tentang Tuan Xinxin kepadaku? Aku tidak mengenalnya dan tidak pernah bertemu dengannya.”“Aku hanya—” Hong Li Hao mengerutkan kening, ia tidak melanjutkan ucapannya.“Apakah karena aku membuat teh yang aromanya mirip dengannya?”Lian Wei menggenggam ujung lengan bajunya.“Kalau begitu, maafkan aku.”“Maaf?”“Aku tidak tahu racikan teh sederhana milikku akan membuat Paman Kedua mengingat seseorang yang begitu penting,” ucapnya dengan suara yang semakin pelan.Mingmei menundukkan kepala, seolah-

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   5

    Bahkan ia saja mungkin tidak bisa menghentikan laju serangannya, namun gadis di depannya menghentikannya tepat waktu. Semua orang kembali tercengang dengan kejadian itu. Lian Wei menurunkan kakinya, segera Jingmi terjatuh lemas."Kau beruntung aku tidak menendang kepalamu, jika aku benar-benar menen

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   3

    Satu kata sudah dapat memprediksi secara keseluruhan. Tubuh ini lemah dan jelek, tentu saja itu karena racun. Ia harus mengeluarkan racun ini dalam tubuhnya. Ia mengambil cermin yang terbuat dari perunggu, ia terkejut betapa jeleknya dia saat ini."Ini pasti ulah para rubah itu, aku yakin jika tubuh

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   4

    Melihat kepergian dan keacuhan Lian Wei terhadap Xiuhuan, membuat hatinya merasa tidak tenang. Ia tidak seperti ini sebelumnya. Biasanya dia akan acuh terhadap adiknya itu, namun sekarang entah mengapa setiap melihat tatapan dingin di mata adiknya membuat hatinya sakit. Ia hanya mampu melihat keperg

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   1

    Plak!Suara tamparan keras menggema di dalam ruangan.Kepala Li Lian Wei terhempas ke samping. Rasa panas menjalar di pipinya, disusul denyutan tajam di kepala.“Oh? Kukira kau sudah mati di danau itu.”Suara dingin penuh ejekan terdengar.Gadis yang berdiri angkuh itu adalah Li Lien Hua, putri kedu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status