로그인“Putri, Kaisar memanggil anda di Paviliun Matahari.”Seorang pelayan datang menghampiri Lian Wei yang sedang menyiram tanaman.“Baiklah.”Lian Wei meletakkan peralatannya lalu segera pergi menemui Kaisar. Sesampainya di Paviliun Matahari ia melihat ayahnya sedang bermain catur sendirian.Tidak ada pejabat. Tidak ada pengawal berlebihan.Hanya dua cangkir teh panas di antara mereka.‘Ini adalah hari yang panjang,’ pikir Lian Wei.”Kalian tunggu disini,” ucapnya pada Mingmei dan Anming.Lian Wei menghampiri ayahnya dan memberi hormat.“Ayah memanggilku?”“Duduk.”Lian Wei duduk di depan Kaisar yang masih berpikir akan diletakkan dimana bidak catur putihnya.Permainan sudah disusun setengah jalan dan hanya sekali lihat ia langsung sadar. Posisi bidak hitam sedang terpojok.“Kau bermain yang hitam,”Kaisar mendorong kotak bidak ke arahnya.Lian Wei terdiam sebentar sebelum mengambil satu bidak.Tak…Satu langkah sederhana, namun mata Kaisar langsung berubah karena langkah itu tidak menye
Xiuhuan membeku dan untuk pertama kalinya ia sadar. Bukan musuh istana yang paling melukai orang-orang disekitarnya, melainkan dirinya sendiri.“Aku…”“Kakak aku tidak tahu kau ada trauma masa lalu apa? Tapi yang inginku katakan adalah kau harus tahu siapa harus menjadi prioritasmu.”Lian Wei membuka selimutnya lalu dibantu oleh Xiuhuan untuk berdiri.“Sekarang, kakak yang ikut aku.”Lian Wei berjalan menuju rak buku dan mengambil kunci yang tergantung. Lalu mereka pergi dari Paviliun Sakura. Tanpa bertanya Xiuhuan mengikuti Lian Wei, bahkan ia melarang pengawal dan pelayan mengikuti mereka.Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan, Xiuhuan yang takut adiknya kenapa-kenapa segera membalutnya dengan jubahnya. Dia juga merangkul pundak Lian Wei.Hingga tibalah mereka di suatu tempat yang sangat dihindari Xiuhuan.Paviliun Mawar.“Ayo masuk,” ajak Lian Wei.Melihat kakaknya hanya berdiam diri, Lian Wei menggandeng tangan kakaknya untuk masuk.Ceklek…Suara kunci gembok terbuka, segera mere
“Aku tidak melakukannya.”“Jelaskan padaku Putri Wang,” Wang Xuemin menekan kata Putri Wang.Lian Wei menarik napas dan menghembuskannya.“Kau tahu aku pernah jatuh ke danau itu sebelumnyakan?”“Ya aku tahu.”“Aku kehilangan beberapa ingatanku.”Wang Xuemin tidak menyela ia hanya terus mendengarkan.“Saat di danau tadi ingatanku tiba-tiba memasuki kepalaku, aku tidak tahan dengan rasa sakitnya. Tanpa sadar aku jatuh ke danau.”“Lalu kenapa kau tidak berusaha berenang kembali ke permukaan? Kau sangat lama di bawah sana.”“Kau tidak tahu rasa menyesakan itu, rasanya seperti aku memilih mati saja daripada terus menahannya.”“Lalu sekarang? Kau masih merasa sakit? Apa ingatanmu sudah kembali?”“Wah… Pangeran Wang, tidak bisakah kau menanyakan satu per satu?”Lian Wei meletakkan cangkir teh di tangannya.“Sekarang sudah tidak sakit lagi, lalu ingatanku sudah kembali.”‘Lebih tepatnya jiwa kami sudah menyatu.’“Syukurlah kalau kau tidak apa-apa.” Wang Xuemin menghela napas lega.“Kudengar
“Kak Yongsheng, aku jalan keluar paviliun dulu sebentar ya, aku bosan disini tidak ada putri.”“Baiklah, jangan terlalu jauh.”“Baik.”Saat Minghao sedang peregangan badan ia melihat Wang Xuemin menggendong Lian Wei, terlihat baju keduanya yang basah, karena air menetes dari bajunya dan membasahi jalan.“Pangeran Wang dan putri? Kenapa bajunya basah?” Minghao berpikir.“Lalu kenapa arah datangnya seperti dari danau?” Minghao masih mencerna.“Ah… Mi-mingmei!” panggil Minghao.Minghao segera berbalik badan dengan panik.“Mingmei!” Minghao berlari kedalam.Karena Mingmei tidak mendengar segera ia masuk ke dalam dan mencarinya.“Ada apa?” tanya Yongsheng yang di hiraukan oleh Minghao.“Mingmei cepat siapkan air hangat untuk pangeran dan putri!”“Ada apa?”“Pangeran dan putri jatuh ke danau, cepat!”“Apa maksudmu?”“Sudah cepat!”Sementara Minghao menyuruh pelayan menyiapkan pakaian ganti untuk Wang Xuemin, ia sendiri pergi ke dapur untuk menyeduh teh.Begitu melihat Wang Xuemin di depan p
Danau yang gelap dan tenang mendadak bergetar. Ia melihat seseorang berenang ke bawah berusaha untuk menyelamatkannya.‘Dia?’Lian Wei mengenali sosok itu, namun bukan berusaha menghampirinya, ia malah sengaja menjatuhkan tubuhnya lebih dalam.Rambut panjang Lian Wei melayang di dalam air dan tubuhnya terus jatuh tenggelam semakin dalam.Dadanya sesak.Namun rasa sakit di kepalanya perlahan berubah menjadi keheningan aneh. Ingatan yang selama ini terasa seperti milik dua orang berbeda, mulai tersusun rapi satu per satu.Bukan lagi Xinxin.Bukan lagi Lian Wei.Melainkan dirinya sendiri.Ia akhirnya memahami kenapa ia selalu merasa asing pada hidupnya sendiri.Kenapa ia memiliki kebiasaan yang bahkan tidak dipelajari Xinxin, namun dipelajari oleh Lian Wei. Kenapa Lian Wei takut pada suara tembakan yang bahkan tidak ada di dunia ini, tapi sangat khas di telinga Xinxin.Kenapa ia terus merasa seolah ada lubang kosong di dalam dirinya. Selama ini ia terus memisahkan dirinya.Menganggap Xin
Seorang pelayan tua yang selalu datang untuk membersihkan gazebo, datang menghampiri Lian Wei. “Putri anda datang? Sudah lama pelayan tua ini tidak melihatmu.”‘Aku ingat bibi tua ini,‘ batin Lian Wei. “Bibi Lu.” Lian Wei membantu pelayan tua itu duduk, segera Bibi Lu membersihkan guqin di depannya. Lian Wei tidak memperhatikannya lagi, ia berjalan menuju ujung gazebo disisi yang lain dekat dengan air danau. “Sebenarnya apa yang dikatakan Putra Mahkota benar, beliau pernah datang kesini dan mendengarkan lagu yang anda buat.” Pelayan tua itu akhirnya membuka suara. Deg… Jantung Lian Wei terasa berhenti sejenak. Pelayan tua itu menundukkan kepala, “Malam itu, hujan begitu deras. Putra Mahkota datang diam-diam setelah Kaisar menghukumnya. Pakaiannya basah dan penampilannya berantakan, beliau datang karena mengingat janjinya dengan anda. Tapi saat akan memasuki taman ini entah mengapa beliau tetap berdiri di luar taman.” Mata Lian Wei membesar perlahan, ingatan samar muncul di be