LOGINAlize sedang duduk di dekat perapian dengan buku terbuka di pangkuannya, baru saja menuliskan tambahan kejadian malam ini, sembari memikirkan penanda halamannya yang bergeser. Pintu kamar terbuka kembali dengan perlahan. Cahaya api memantulkan bayangan tinggi Corentine di lantai marmer. Ia tampak sudah membasuh wajah dan memakai pakaian rumah. Corentine berhenti sesaat ketika melihat Alize ternyata belum tidur. “Kau belum tidur?” tanyanya rendah. “Aku belum mengantuk,” jawab Alize singkat. Corentine mengangguk kecil lalu berjalan masuk. Ia melonggarkan kancing bagian atas kemejanya sebelum akhirnya menatap Alize lebih lama. “Aku mungkin terlalu keras padamu tadi.” Alize agak terkejut. Ia tidak menyangka Corentine akan memulai percakapan dengan ucapan seperti itu. Pria itu jarang meminta maaf. Atau setidaknya… jarang merasa perlu menjelaskan apa pun tentang tindakannya. “Aku hanya—” Corentine menarik napas pendek. “Aku ingin kau tetap aman.” Nada suaranya tetap data
Mirelle menundukkan kepala begitu memasuki kamar. “Duchess, maafkan saya terlambat.” Alize masih duduk di depan meja rias dengan rambut panjangnya yang setengah terurai. Cahaya lilin memantulkan bayangan lembut di cermin besar di depannya. Pelayan yang tadi menyisir rambutnya langsung pergi sejak Mirelle datang. Alize tidak menoleh. “Kau dari mana saja?” tanyanya pelan. Mirelle tampak sedikit terkejut mendengar nada suara itu. Tidak dingin. Tidak marah. Justru terlalu tenang. “Saya membantu para pelayan membereskan kekacauan pesta, Yang Mulia,” jawabnya cepat. “Banyak tamu pulang mendadak dan kandang juga kacau. Kepala pelayan meminta bantuan semua orang.” Alize tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang pantulan Mirelle di cermin. Rambut pelayannya itu sedikit berantakan di dekat tengkuk, seolah baru tertiup angin atau bergerak terlalu banyak. Ujung bawah rok hitamnya tampak kotor oleh lumpur gelap. Dan napasnya masih sedikit tersengal. Padahal kastil sudah mulai
Keheningan menyelimuti area kandang selama beberapa detik setelah ucapan Alize. Udara malam terasa dingin, namun ketegangan di antara para bangsawan jauh lebih menusuk tulang. Cedric tampak sedikit kehabisan kata-kata untuk pertama kalinya malam itu. Dan sebelum ia sempat menjawab, sebuah suara lain terdengar dari belakang kerumunan. “Duchess de Mably benar.” Alize menoleh cepat. Ayahnya―Marquis Deschanel melangkah maju dari antara para tamu pria yang sejak tadi berkumpul di dekat halaman berbatu. Mantel hitam panjangnya bergerak tertiup angin malam, sementara wajah tegasnya tampak serius. “Ayah…” gumam Alize pelan. Marquis Deschanel mengangguk singkat kepada putrinya sebelum memandang Corentine. “Kalau seseorang bisa masuk berkali-kali ke area penting kastil tanpa tertangkap,” katanya tenang, “maka kemungkinan keterlibatan orang dalam memang layak dipertimbangkan.” Beberapa bangsawan mulai saling bertukar pandang. Cedric tampak hendak berbicara lagi, namun Cor
Malam yang semula dipenuhi denting musik dan aroma anggur mahal itu berubah gaduh dalam hitungan menit. Jeritan para pelayan terdengar dari arah belakang kastil, disusul suara derap kaki berlarian dan ringkikan kuda yang begitu keras hingga bahkan musik dansa di aula utama berhenti mendadak. “Apa yang terjadi?” seru seseorang. Beberapa tamu wanita tampak terkejut. Para pria langsung menoleh ke arah pintu aula yang terbuka ketika Lace masuk dengan napas memburu. Matanya mencari-cari dan akhirnya menemukan sang duke. “Yang Mulia,” katanya kepada Corentine sambil membungkuk cepat. “Ada kekacauan di kandang timur.” Corentine sudah bergerak bahkan sebelum pria itu selesai bicara. Troy meletakkan gelas brandy-nya dan langsung berdiri. “Aku ikut.” “Tidak perlu panik,” ujar Corentine berhenti di ambang pintu dan menoleh kepada para tamu yang mulai ribut. “Tetap di aula.” Ia menoleh kepada Alize. “Jangan keluar, Alize.” Lalu, ia bergegas pergi mengikuti Lace. Namun tent
Musik dansa belum sepenuhnya berhenti ketika Alize dan Corentine menyelesaikan putaran terakhir mereka. Gaun merah anggur itu masih berayun pelan mengikuti langkahnya yang melambat, sementara tangan Corentine masih menahan pinggangnya sedikit lebih lama. Mereka berhenti dan membungkuk sopan sesuai etika. Saat Alize mengangkat wajahnya, ia mendapati mata Corentine tertuju padanya. Tanpa kata-kata, hanya sorot mata yang lebih dalam. Lalu ia melepaskan genggamannya di tangan Alize, memberi ruang untuk kembali ke kerumunan. Tepat pada saat itu… “Duke, Duchess…” Cedric Courcy berdiri beberapa langkah dari mereka. Ia membungkuk sopan. “Saya harap saya tidak mengganggu.” “Tentu tidak,” jawab Corentine, datar dan formal. Cedric mengalihkan tatapannya kepada Alize. “Apakah saya boleh meminta satu tarian denganmu, Duchess?” tanyanya dengan suara tenang, seolah itu adalah permintaan paling wajar di dunia. Alize bisa merasakan beberapa pasang mata di sekitar mereka mula
“Bertemu teman lama… selalu menyenangkan.” Kalimat itu seolah mengambang di udara yang beraroma parfum, bedak, dan brandy di aula utama Kastil de Mably. Musik gesek mengalun lembut dari sudut ruangan, bercampur dengan suara percakapan para bangsawan yang memenuhi aula. Para pelayan bergerak cepat membawa baki sampanye, anggur, dan kudapan kecil. Namun bagi Alize, semua itu tiba-tiba terasa jauh ketika melihat Cedric berdiri beberapa langkah di depannya. Corentine membalas dengan anggukan singkat. “Tentu saja, Lord Courcy.” “Aku dengar… kau datang bersama ayahku,” ujar Alize, terlambat beberapa detik untuk bereaksi. Tatapan Cedric masih sama. Tenang. Hangat. Dan sangat mengenal dirinya. Itu membuatnya agak gugup, terutama karena Corentine berdiri di sebelahnya. “Benar, Duchess,” ujarnya. “Kau pasti sudah tahu, aku menginap di Manor Deschanel.” Ia berhenti sebentar, dan masih menatap Alize. “Seperti yang biasa aku lakukan sejak dulu.” Alize terdiam dan semakin merasa tak
Alize menatap wajah Corentine dengan terperangah.“Janji yang itu―?”Corentine mengangguk. “Aku tidak melupakannya, Alize.”Janji Alize untuk membantu Corentine, dan setelah semuanya selesai, mereka akan berpisah secara baik-baik.“Jadi, untuk itu kau pergi selama dua hari?”Corentine mengangguk. “
“Egois?” ulang Alize tak percaya.“Ya,” balas Gwen, kini tak lagi sepenuhnya manis. “Kau ingin semuanya, kan? Seorang Duke yang terhormat untuk menjamin posisimu… dan seorang Viscount yang memujamu untuk menghangatkan hatimu.”“Lady Gwen!” sentak Alize, tercengang mendengar ucapan itu. “Itu kesimpu
Lady Gwen melangkah mundur. Sikapnya di mata Alize cukup mencurigakan. “Aku teringat ada beberapa instruksi yang harus kusampaikan pada pelayan,” ujarnya sembari membungkuk sopan. “Demi kesehatanmu, jangan terlalu lama di bawah matahari, Duchess.”Dan dengan langkah tenang, Lady Gwen berbalik, m
Pagi datang terlalu cepat, lagi-lagi Corentine telah lebih dulu bangun. Seperti biasa, Mirelle muncul di kamarnya, ia membawa gaun berwarna merah bata di tangannya. “Yang Mulia, Lady Gwen telah memilihkan gaun pagi yang ini.”Alize menatap gaun itu sekilas, dahinya mengernyit melihat warnanya. “T







