Share

Demi Menenangkan Raja

Penulis: Anna Frey
last update Tanggal publikasi: 2026-02-28 14:50:37

“Aku mengerti. Kesehatan Duchess harus diutamakan,” jawab Cedric tenang. “Duchess, selamat beristirahat.” Ia membungkuk hormat.

Corentine menggandeng Alize menjauh.

Musik mereda ketika para tamu mulai bergerak menuju ruang supper. Percakapan mengalir, gelas-gelas berdenting pelan, dan aroma daging panggang serta roti hangat memenuhi udara.

“Kau mau makan atau minum sesuatu?” tanya Corentine.

Alize menggeleng. Ia hanya ingin sendirian untuk meredakan perasaannya yang campur aduk karena kehadiran
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Bantuan dari Sir Welton

    Area yang ditempati para pengawal bangsawan berada di sisi barat kompleks Biara Dunholm. Bangunannya sederhana. Tidak semewah wisma tamu tempat para lady menginap, tetapi cukup nyaman bagi para prajurit yang bertugas mengawal rombongan. Beberapa pengawal sedang memeriksa tali kekang kuda. Yang lain mengasah pedang atau memperbaiki perlengkapan perjalanan. Begitu melihat Alize datang bersama Greta, mereka serempak berdiri dan membungkuk hormat. “Yang Mulia.” Alize membalas anggukan mereka. “Apakah Sir Welton ada?” “Saya di sini, Yang Mulia.” Welton baru saja keluar dari salah satu bangunan sambil mengenakan mantel perjalanannya. Begitu melihat Alize, ekspresinya langsung berubah serius. “Apakah terjadi sesuatu?” Alize menoleh kepada Greta. “Bisakah kau menunggu di sana sebentar?” Greta mengangguk dengan patuh. “Tentu, Yang Mulia.” Greta mengerti dari nada suara majikannya bahwa pembicaraan ini tidak ingin didengar banyak orang. Setelah Greta menjauh bebera

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Etiket Tersembunyi

    Fran tampak semakin bingung.“Aku... tidak tahu.”Alize tidak mengalihkan pandangannya.“Setidaknya menurutku, kau pernah hidup di lingkungan bangsawan.”Ia menambahkan dengan suara pelan,“Atau... kau pernah mendapatkan pelatihan untuk melayani seorang bangsawan.”Fran terdiam.Untuk pertama kalinya sejak mereka duduk semeja...ekspresi di wajahnya berubah. Keningnya berkerut pelan, seolah sedang berusaha mencari sesuatu di dalam kepalanya yang kosong.“Aku...” bisiknya lirih. “Aku tidak mengerti apa yang Yang Mulia katakan.”Tatapannya turun ke piring di depannya.“Aku hanya... makan.”Ia mengangkat wajah lagi dengan kebingungan yang begitu tulus.“Aku bahkan tidak tahu apa itu etiket.”Jawaban itu membuat perasaan Alize terasa campur aduk.Ia tidak melihat kebohongan sedikit pun di mata wanita itu.Fran benar-benar tidak tahu. Atau... lebih tepatnya, ia sudah tidak mengingatnya lagi.Keheningan singkat menyelimuti meja mereka.Lalu, tanpa diduga, Fran menoleh ke a

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Dari Mana Kau Belajar?

    Alize mengangkat kepala. “Boleh?” Ia teringat mata sayu wanita itu. Mata yang sama dengan mata Mirelle, sekaligus berbeda. Mungkin jika bisa bercakap-cakap dengan Fran, ia bisa mengorek sesuatu tentang identitasnya. Deirdre mengangguk. “Tentu saja boleh,” sahutnya. “Fran sebenarnya cukup senang diajak mengobrol.” Deirdre tersenyum kecil. “Pada siang hari, dia jauh lebih tenang.. Dia sering gelisah pada malam hari.” Tatapan Deirdre berubah sendu. “Entah mimpi apa yang menghantuinya. Hampir setiap malam setelah terbangun karena igauannya, dia menangis.” “Apa dia pernah menceritakan mimpinya?” tanya Alize. Saudari Deirdre menggeleng. “Tidak,” sahutnya. “Dia sendiri tampaknya tidak mengingatnya ketika bangun.” Saat itulah terdengar dentang lonceng dari kejauhan. Tang... Tang... Tang... Deirdre tersenyum. “Waktunya makan siang.” Ia memandang Alize. “Kalau Yang Mulia berkenan... mengapa tidak makan bersama kami saja?” tawarnya. “Pasien-pasien yang masih

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Kau Membohongiku

    Rahib muda yang berjaga di depan klinik segera membungkuk hormat ketika melihat Alize datang. “Yang Mulia Duchess.” Alize mengangguk pelan. “Aku ingin bertemu dengan Saudari Deirdre.” “Tentu, Yang Mulia. Silakan menunggu sebentar.” Rahib itu segera menghilang ke dalam bangunan batu yang sederhana namun tertata rapi. Dari pintu yang terbuka, Alize mencium aroma khas ramuan obat yang menguar dari dalam. Bau daun-daunan kering, madu, dan tanaman herbal memenuhi udara. Tak lama kemudian, seorang rahib wanita keluar menyambut mereka. Usianya sekitar lima puluh tahun. Kerudung putih menutupi rambutnya dengan rapi, sementara senyum lembut langsung menghiasi wajahnya begitu melihat Alize. “Anda pasti Duchess de Mably.” Alize membalas senyumnya. “Saudari Deirdre?” “Benar.” Rahib wanita itu membungkuk hormat. “Rahib Agung Gregor sudah memberitahu kami bahwa Yang Mulia sedang menjalankan tugas sebagai Wakil Raja.” Alize mengangguk. “Saya berharap kedatangan saya tidak

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Apakah Kau Mirelle?

    Nama itu keluar begitu saja dari bibir Alize. Wanita di hadapannya hanya menatapnya. Tidak ada perubahan berarti pada wajahnya. Tidak ada pengenalan. Bahkan tidak ada keterkejutan seperti yang seharusnya muncul ketika seseorang mendengar namanya sendiri setelah sekian lama menghilang. Yang ada hanya tatapan kosong. Alize merasakan sesuatu yang dingin merambat perlahan di sepanjang punggungnya. “Mirelle?” ulangnya lebih pelan. “Ini kau, bukan?” Wanita itu berkedip. Kemudian kepalanya sedikit miring. “Siapa... Mirelle?” Alize membeku. Greta yang berdiri di belakangnya langsung menahan napas. Tidak. Alize mengamati wanita itu lebih saksama. Sekarang ia bisa melihatnya dengan jelas. Tubuh wanita itu jauh lebih kurus daripada yang Alize ingat. Tulang pipinya menonjol, wajahnya pucat, dan rambut panjangnya jatuh berantakan di sekitar bahu. Bahkan cara berdirinya terasa aneh—sedikit goyah, seolah tubuhnya belum sepenuhnya terbiasa menopang dirinya sendir

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Siapa Kau?

    Greta membeku.Matanya melebar seolah baru saja mendengar sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal.“Mirelle?”Alize mengangguk pelan.“Sepertinya begitu.”Greta mengerutkan kening. Raut wajahnya tampak bingung. “Tapi... tidak mungkin, Yang Mulia.” Ia melangkah sedikit lebih dekat. “Apa yang akan dilakukan Mirelle di tempat seperti ini?”Alize tidak langsung menjawab. Justru pertanyaan itu yang sejak tadi berputar-putar di benaknya.Apa yang dilakukan Mirelle di Dunholm?Namun memang pertanyaan itu yang sejak awal membawanya kemari. Secarik kertas yang ditinggalkan Cedric. Kertas yang hendak dibakar.Dan nama Dunholm yang tersisa di sana.Sejak saat itu, Alize telah memiliki dugaan yang tidak pernah berani ia ucapkan keras-keras.Seseorang menyembunyikan Mirelle di Biara Dunholm. Mungkin karena Mirelle mengetahui sesuatu. Mungkin karena seseorang ingin memastikan ia tidak ditemukan.Atau mungkin karena alasan yang jauh lebih buruk.Alize mengepalkan jemarinya di atas

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Pesta Untuk Duchess Baru

    “Tolong jangan bergerak-gerak dulu, Yang Mulia.” Alize berusaha berdiri diam sementara penjahit istana memutari tubuhnya. Dengan hati-hati si penjahit menusukkan jarum-jarum kecil penanda di gaun setengah jadi yang dipakai Alize. Lututnya goyah karena pegal. “Masih lama?” "Saya harus mengu

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Kau Boleh Bercerai, Tapi...

    Upacara pernikahannya di kapel istana dilakukan dengan sangat sederhana. Hanya beberapa orang dari pihak keluarga masing-masing yang hadir. Ayahnya dan Lord George de Mably berdiri berjauhan, menahan diri untuk tidak saling membentak seperti biasa. Alize masih ingat ketika Corentine dengan cangg

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Pernikahan Dua Musuh Bebuyutan

    “Skandal yang memalukan. Aku benar-benar kecewa.” Suara Raja Aldred, penguasa Montveraine, menggema di ruang audiensi. Tegas dan tajam. Di balik kumis dan janggut peraknya, wajahnya memerah, menahan marah. Putra Mahkota―Pangeran Godwyn berdiri di sebelah singgasananya dengan wajah kaku. “Desc

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Tertangkap Basah

    “Apa maksud kata-katamu barusan, Augustus?” Bentakan itu memecah aula jamuan Putra Mahkota Kerajaan Montveraine yang tadinya dipenuhi denting gelas dan tawa sopan para bangsawan. Lady Alize Marie Deschanel yang duduk di ujung meja langsung menegakkan punggungnya. “Oh, tidak,” gumamnya. “Merek

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status