เข้าสู่ระบบAlize baru saja melangkah menuju pintu utama kastil. Pintu itu tiba-tiba terbuka, dan ketika seorang wanita bergegas keluar dari dalam. “Duchess.” Lady Julia menyambutnya. Tatapannya memindai seluruh tubuh Alize seolah mencari sesuatu yang tampak tak biasa. “Syukurlah kau sudah kembali,” ujarnya kemudian. Alize tersenyum. “Senang bertemu dengan Anda lagi, Lady Julia.” Lady Julia masih belum melepaskan tatapannya kepada Alize, seolah ia belum puas untuk memastikannya semuanya baik-baik saja. “Perjalananmu tidak terlalu melelahkan? Kau tidak sakit?” “Saya baik-baik saja,” sahutnya tenang. “Biara Dunholm sangat nyaman.” “Baguslah.” Lady Julia mengembuskan napas lega. “Rasanya kastil ini baru benar-benar kembali menjadi rumah setelah kau pulang.” Alize sempat menoleh ke sekeliling. Ada sesuatu yang memang terasa berbeda. Lebih sepi. Beberapa wajah pelayan yang biasa menyambutnya tidak kelihatan sejak tadi. Lady Julia rupanya menyadari tatapannya. “Beberapa pe
Corentine tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada Alize, tetapi kali ini tidak ada kehangatan seperti ketika mereka bertemu di halaman istana tadi. Wajahnya perlahan menjadi serius, seolah ia sedang berusaha memahami sesuatu yang menurutnya sama sekali tidak masuk akal. “Aku tidak melihatnya.” Alize mengerutkan kening. “Tidak melihat apa?” “Kesamaan antara Fran dan Mirelle.” Corentine mengembuskan napas pendek. Ia memalingkan wajah sejenak, kemudian kembali menatap Alize dengan sorot mata yang sulit dibaca. “Bahkan jika kau memberitahuku bahwa dia adalah Mirelle, aku tidak akan langsung mempercayainya.” Alize sudah menduga jawaban itu. Namun tetap saja, mendengarnya membuat perasaannya sedikit kecewa. Corentine melanjutkan dengan suara tenang. “Jadi kau membawanya pulang karena mengira dia pelayanmu?” Alize diam. Ia tidak merasa perlu menyangkal. Corentine menatapnya beberapa detik sebelum berkata, “Alize, Mirelle mungkin masih hidup. Mungkin d
Alize terdiam sesaat. Kemudian senyum tipis muncul di bibirnya. Menarik? Kalau Yang Mulia Raja tahu apa saja yang terjadi di Biara Dunholm, mungkin kata menarik adalah cara yang terlalu sederhana untuk menggambarkannya. Alize berjalan beberapa langkah mendekati meja kerja Raja. Ia merapikan ujung sarung tangannya sebelum menjawab dengan sikap tenang. “Pelayan saya sudah menyerahkan map laporan kepada sekretaris Yang Mulia. Saya mencatat semua yang saya temukan selama berada di Dunholm, termasuk persoalan-persoalan kecil dalam urusan logistik.” Ia menundukkan kepala sedikit. “Saya berharap Yang Mulia berkenan membacanya.” Raja mengangguk. “Aku akan membacanya.” Namun ekspresinya menunjukkan bahwa ia belum puas. “Tapi aku ingin mendengar darimu sendiri. Apa inti persoalan di sana?” Alize menarik napas pelan. “Pada awalnya, tidak ada sesuatu yang benar-benar mengkhawatirkan.” Ia melirik sekilas kepada Corentine. “Biara itu berjalan dengan baik. Para
“Siapa?” tanya Corentine. Tatapannya masih tertuju pada sosok wanita muda yang baru saja turun dari kereta. Greta membantu Fran menapakkan kakinya ke tanah. Wanita itu tampak sedikit canggung menghadapi halaman istana yang luas, tetapi tidak menunjukkan rasa takut. Ia justru menatap ke sekeliling dengan rasa ingin tahu yang polos. Alize memperhatikan suaminya. Ia sudah menduga reaksi seperti ini. Tidak mungkin Corentine langsung mengenali Mirelle hanya dari wajah yang telah berubah begitu banyak. Terlebih lagi, selama beberapa minggu, Alize sendiri bahkan membutuhkan begitu banyak petunjuk untuk berani mempercayai ingatannya. “Dia...” Alize menarik napas pelan. “Salah satu pasien di Biara Dunholm.” Alis Corentine terangkat. “Pasien?” Alize mengangguk. “Namanya Fran. Dia ditemukan di depan gerbang biara dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ketika terbangun, dia tidak mengingat siapa dirinya.” Corentine memandang Fran sekali lagi. Lalu tatapan pria itu berpindah kepa
Alize belum juga masuk ke dalam kereta. Setelah memastikan semua orang telah berada di tempat masing-masing, ia berdiri beberapa langkah dari pintu kereta dan menoleh kepada Rahib Agung Gregor serta para saudari yang mengantarnya. Udara pagi di halaman Biara Dunholm terasa dingin. Angin menggerakkan ujung selendang yang melingkari bahunya, sementara lonceng biara terdengar samar dari menara di kejauhan. “Terima kasih,” ujar Alize akhirnya. Ia menundukkan kepala dengan hormat. “Selama berada di sini, saya dan rombongan saya telah menerima begitu banyak kebaikan dari kalian. Saya tidak akan melupakannya.” Gregor tersenyum tipis. “Biara Dunholm selalu terbuka bagi para pelindung kami.” Tatapan lelaki tua itu kemudian beralih kepada Alize. “Jika suatu hari Yang Mulia ingin kembali sebagai seorang peziarah, bukan sebagai wakil Raja, kami akan menyambut Anda dengan senang hati.” Alize tersenyum kecil. “Saya akan mengingat tawaran itu.” Saudari Deirdre yang berdiri di
Alize menatap buku itu beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat wajah. “Buku ini... sebenarnya milik Anda?” Gregor menggeleng pelan. Jemarinya masih menyusuri sampul tua yang telah mulai kusam, seolah sedang memastikan benda itu benar-benar berada di tangannya lagi. “Bukan milik saya sejak awal.” Ia mengembuskan napas. “Buku ini milik Rahib Agung sebelum saya.” Alize mengernyit. “Namun bagaimana bisa sampai ke rumah keluarga Elroy?” “Itulah yang tidak kami ketahui.” Gregor membawa buku itu ke meja dan meletakkannya dengan hati-hati. “Seharusnya buku ini selalu berada di dalam laci meja kerja saya. Hanya Rahib Agung yang boleh mengaksesnya. Tetapi suatu hari ketika saya mencarinya...” Ia berhenti sejenak. “Buku itu sudah tidak ada.” Alize merasakan tengkuknya menegang. “Tidak ada yang tahu siapa yang mengambilnya?” “Kami menduga Jasper Elroy.” Nama itu membuat Alize terdiam. Gregor melanjutkan dengan suara tenang. “Jasper pernah menjadi staf administrasi tamb
Lord Hasting tampak berpikir cukup lama setelah mendengar pertanyaan Alize. “Victor Hale...” ulangnya perlahan. Raut wajahnya terlihat hati-hati. Kemudian ia menggeleng. “Maaf, Yang Mulia. Nama itu tidak terdengar familiar.” Alize menyembunyikan kekecewaannya dengan baik. Ia memang tidak
Alize tidak langsung menjawab ucapan Lady Julia. Karena menolak terlalu cepat justru akan terlihat aneh. Dan sekarang— Ia mulai belajar bahwa di kastil de Mably, terlalu banyak penolakan bisa memancing pertanyaan. “Aku rasa…” Alize meletakkan sendoknya perlahan, “…itu bukan ide buruk.”
Tubuh Hector segera dipindahkan dari barak pengawal. Dua orang pengawal membawa tandu sederhana yang ditutupi kain gelap, sementara dokter kastil dipanggil tergesa dari tempat tinggalnya di sayap belakang. Udara malam terasa semakin dingin. Dan suasana di sekitar barak berubah begitu sunyi hi
“Siapa?” tanya Corentine. Lace menghela napas sebentar. “Hector Lambert. Malam itu dia memaksa salah satu penjaga agar mau digantikan olehnya. Alasannya dia gelisah dan ingin menghirup udara segar.” “Di mana dia sekarang?” tanya Tyron dengan nada geram. Rahangnya tampak menegang keras. Tampak







