Mag-log inCorentine memerintahkan para pengawal mengumpulkan semua benda yang bisa menjadi petunjuk. “Beberapa orang ikuti jejak roda. Segera kembali untuk melapor pada Kapten.” Ia menoleh kepada Alize. “Kita pulang, Duchess. Sudah cukup untukmu hari ini.” Naluri dan kebiasaannya adalah membantah. Namun ketika Alize melihat wajah Corentine yang muram, akhirnya ia mengangguk. “Baiklah,” ujarnya. “Sudah hampir waktu makan siang. Aku berjanji pada Lady Julia untuk makan siang di rumah. Kau juga.” Alize menatap suaminya. “Makan sianglah bersama kami.” Corentine mengangguk. Tak berapa lama kemudian, mereka telah berkuda kembali keluar dari hutan. “Apa yang kalian temukan?” Pertanyaan pertama Lady Julia dilontarkan kepada Alize dan Corentine saat mereka kembali ke kastil. “Mirelle sepertinya disembunyikan seseorang,” jawab Corentine. “Anak buahku masih mencarinya.” “Pelayan itu mungkin hanya berpura-pura diculik.” Lady Julia mendengus. “Bisa saja dia terinspirasi oleh penculikan
“Artinya… memang ada orang lain yang terlibat dalam pelariannya,” ujar Alize. Dahinya berkerut cemas. “Dan belum tentu itu atas kehendak Mirelle sendiri, bukan?” Corentine terdiam sejenak. “Tak ada tanda-tanda pemaksaan dalam jejak yang ditinggalkan,” ujarnya. “Tetapi segala kemungkinan bisa saja terjadi.” “Kalau kau pergi melacak lagi, aku ingin ikut,” ujar Alize. “Aku tidak mau berdiam diri seperti sekarang ini, sementara perasaanku waswas mencemaskan Mirelle… dan kau.” “Aku?” Alis Corentine. “Kenapa kau mencemaskan aku?” Wajah Alize merona sedikit. Sejujurnya dia tidak tahu mengapa dia berkata begitu. “Aku…eh, aku tidak bermaksud membuatmu …” Alize akhirnya terdiam karena tidak menemukan alasannya. Tatapannya bertemu dengan mata Corentine. Ia menunduk. “Bukan berarti aku keberatan,” ujar Corentine akhirnya dengan santai. “Selama ini yang mencemaskanku selalu Bibi Julia, sejujurnya itu cukup membosankan.” Senyum langka itu terbit di bibir suaminya. Jenis senyum
Alize tersengat kekhawatiran saat memikirkan Mirelle dalam pelariannya. Siapa orang yang membawanya pergi? Apakah dia akan membawa Mirelle pergi jauh, atau malah mencelakainya? Ia bergidik. Pengakuan Mirelle atas kesalahannya tidak membuatnya ingin bersikap kejam kepada gadis itu, justru membuatnya semakin cemas hari ke hari. “Kita pulang.” Corentine menyentuh bahunya dengan lembut. “Sudah jelas dia tidak ada lagi di sini.” “Mungkin dia bersembunyi tidak jauh dari sini?” bisik Alize. “Dengan tim pencari sebanyak ini dia pasti segera ketahuan sejak tadi, Alize.” Alize mendesah risau. “Bolehkah aku memanggilnya? Siapa tahu dia memang masih di sini dan mendengarku?” Corentine menatapnya sebentar. “Baiklah,” jawabnya kemudian. Alize melangkah keluar dari gubuk itu. Membalikkan tubuhnya ke arah rerimbunan pohon di kegelapan. Menghela napas panjang, lalu mulai bicara dengan suara keras. “Mirelle! Ini aku. Alize, Duchess de Mably. Dengarkan aku. Kau tidak bisa terus lari dan
“Kami belum tahu, Yang Mulia,” ujar Tyron. “Salah satu kelompok pencari melapor telah menemukan sebuah gubuk tua di tengah hutan sebelah utara. Mereka melihat jejak baru di sekitar sana.” “Dan Mirelle ada di sana?” “Mereka tidak melihat siapa pun, Yang Mulia. Tetapi kami belum tahu, apakah Mirelle memang sudah pergi atau hanya bersembunyi sampai kami pergi.” Alize langsung berdiri. “Aku harus ke sana.” “Tidak.” Suara Corentine muncul nyaris bersamaan dengan kehadirannya. Pria itu baru saja masuk ke ruang duduk dengan mantel yang lembap, sementara hawa dingin dari luar ikut terbawa bersamanya. Wajahnya tampak lebih keras dari biasanya. Alize terperangah. “Baru saja Tyron bilang kau masih di luar.” “Aku menyusul, karena aku tahu kau pasti memaksa untuk ikut mencari.” “Tentu saja,” sahut Alize. “Aku tidak akan membiarkanmu masuk ke tengah hutan lagi malam-malam seperti ini.” “Corentine, mungkin Mirelle masih ada di sana, bersembunyi karena takut.” “Dan mungkin ses
“Apakah itu darah?” bisiknya lirih. Troy segera menariknya ke sisinya dengan sikap protektif. “Belum tentu,” ujarnya, tapi dengan nada tidak yakin. “Tempat ini tidak jauh dari tempat ditemukannya mayat June,” ujar Lady Gwen. “Bukankah di sebelah sana adalah rawa itu? Terus terang aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memikirkan kemungkinan terburuk.” Alize mendongak ke arah Gwen dan melotot. “Jangan bicara yang tidak-tidak, Lady Gwen.” “Maaf, Duchess.” Gwen menunduk seolah menyesal. “Bukan berarti aku tidak khawatir. Namun, situasinya saat ini sangat…” “Kalau tidak tahu apa-apa sebaiknya diam saja,” potong Corentine. “Kau hanya akan membuat Duchess jadi kalut, Lady Gwen.” Wajah Gwen memerah karena ditegur terang-terangan seperti itu. Namun, sebentar kemudian wajahnya kembali tenang. “Maafkan aku, Yang Mulia Duke,” ujarnya dengan sopan kepada Corentine. “Aku lupa sejak dulu kau tidak suka diganggu kalau sedang berpikir.” Alize hampir memutar mata. Lady Gwen bahka
“Kemungkinan besar Mirelle tidak pergi sendirian.” Kalimat Tyron terus terngiang di kepala Alize bahkan setelah pria itu pergi. Tanpa berpikir panjang, Alize mengetuk pintu. Corentine sedang berdiri membelakanginya, menatap nyala api di perapian. Dari belakang, tubuhnya yang tinggi berbahu lebar tampak tegang. Kedua tangannya di pinggang. Ia menoleh ketika Alize berdehem halus. “Alize.” Ia kelihatan senang melihat istrinya setelah hari yang panjang dan melelahkan. “Kalau kau mau bertanya soal makan malam, kurasa aku tidak bisa bergabung malam ini karena laporan-laporan yang harus kuperiksa…” “Aku datang bukan untuk itu,” sahut Alize. “Meskipun tentu saja kau akan membuat Bibi Julia gusar karena sudah dua kali melewatkan makan malam bersama padahal kau ada di rumah.” Corentine tersenyum samar. “Bibi Julia memang begitu.” Ia menatap Alize dengan penasaran. “Kalau begitu ada apa?” “Aku bertemu Tyron di depan tadi,” ujar Alize. “Dia bilang ada petunjuk bahwa Mirelle tidak pe
“Corentine, bolehkan aku menghirup udara segar sebentar?”Corentine menatapnya sejenak lebih lama dari biasanya. Musik masih mengalun lembut di sekitar mereka, pasangan lain terus bergerak dalam pola minuet yang anggun di sekeliling mereka.“Tentu saja,” jawabnya sembari mengurai rengkuhan tanganny
Ketika Alize terbangun lagi, cahaya matahari sudah menembus tirai kamarnya.Ia berkedip beberapa kali, mencoba mengingat bagaimana ia bisa kembali tertidur setelah terbangun dalam pelukan Corentine. Tempat di sampingnya kini kosong. Corentine sudah tidak ada.Alize menarik napas pelan dan mencoba b
BYUR!Tubuhnya menghantam permukaan sungai, udara bagai dirampas dari dadanya. Dingin yang tajam menusuk paru-parunya, membuatnya refleks membuka mulut.Itu adalah keputusan yang salah. Air kecoklatan itu tertelan dan terhirup, menuju paru-parunya. Rasanya pahit, membuat tenggorokannya panas dan p
Surat itu diserahkan ke tangan Alize. Amplopnya berwarna krem dengan segel tanpa lambang. Tangannya gemetar. Ia tidak menyadari Corentine berdiri sedikit di belakangnya sampai bayangannya jatuh melintasi kertas.Alize sudah tahu dari siapa surat itu, dan berharap Corentine tidak ada di situ.“Aku m







