LOGINTroy tidak langsung menjawab.Ia masih menatap papan itu—garis-garis yang bagi orang lain tampak seperti coretan acak, tapi bagi seseorang yang pernah melihatnya tidak sepenuhnya asing.Corentine tidak mendesaknya. Ia menunggu.Waktu terasa berjalan lambat.“Apakah kau bisa membacanya?” akhirnya Corentine bertanya. “Kau ahli waris pamanmu―”“Yang sayangnya bukan orang yang serius belajar,” gumam Troy dengan nada setengah menyesal, matanya masih memandangi coretan itu. “Beri aku waktu sebentar.”Matanya bergerak cepat, mengikuti pola. Mengingat.“Suatu hari Paman Augustus menunjukkan sesuatu seperti ini,” lanjutnya. “Bukan untuk digunakan—hanya sebagai contoh bagaimana keluarga kami dulu berkomunikasi dalam keadaan darurat.” Ia mengangkat wajahnya, napasnya sedikit lebih cepat. “Lalu, ketika ayahku meninggal dan sudah dipastikan aku yang akan mewarisi gelar pamanku, aku wajib mempelajarinya. Masalahnya, aku tidak terlalu menganggapnya serius dan tidak benar-benar berusaha memahaminya.”
Hampir dua jam berlalu, Troy belum kembali.Corentine sudah selesai mempersiapkan timnya untuk menyusul ketika derap kuda tunggal terdengar dari arah hutan. Troy Deschanel akhirnya muncul. Rambutnya kusut oleh terpaan angin, ada patahan ranting di mantelnya. Matanya berkilat-kilat. Ia melompat turun dari kudanya dengan penuh semangat.“Aku menemukan Vorn,” katanya tanpa basa-basi.Corentine menunggu.“Pemukiman kecil. Tersembunyi di lembah seperti yang dikatakan Baron Starling.” Troy melepas sarung tangannya, tangannya bergerak menggambarkan sesuatu di udara. “Dari tepi hutan sulit terlihat—pohon-pohon menutupi tempat itu hampir seluruhnya. Tapi ada rumah-rumah di sana. Asap keluar beberapa cerobong.” Ia berhenti sebentar. “Tempat itu sangat terpencil. Cocok untuk persembunyian.”“Kau melihat pasukan penjaga?”“Tidak ada orang-orang yang terlihat membawa senjata.” Troy mengerutkan keningnya. “Tidak ada pedang, tidak ada yang aku bisa kenali sebagai senjata api dari jarak itu. Tapi—“
Dini hari Alize terbangun.Ia mendengar suara-suara. Perintah-perintah yang diucapkan pelan dan jawaban-jawaban patuh yang sama pelannya. Bisik-bisik singkat penuh perhitungan, detak sepatu berjalan hilir mudik, dengus dan ringkik pelan kuda-kuda. Disusul langkah-langkah yang menjauh.Berlangsung setengah jam, lalu tiba-tiba saja semuanya sunyi.Ia duduk di alas jeraminya. Masih menajamkan telinga.Tiba-tiba pintu gudang terbuka.Reagan masuk sendirian. Ekspresinya tampak waspada.“Ada yang mengamati pemukiman ini dari luar,” katanya tanpa basa-basi. “Dari tepi hutan, arah barat.”Alize menatapnya. Dadanya berdegup kencang, tapi ia menjaga wajahnya tetap datar. “Siapa?” tanyanya.“Belum tahu. Satu orang berkuda, tapi ada kemungkinan ia tidak sendirian dan akan kembali dengan kelompoknya.” Reagan menatapnya. “Kami akan menyingkir sementara sampai mereka pergi lagi. Saya dan semua anak buah saya akan menghilang dari pandangan. Desa akan terlihat normal—hanya penduduk asli yang tinggal
“Kita harus memeriksanya, bukan?” Troy menoleh kepada Corentine, kudanya sudah mulai bergerak. Corentine mengangguk. “Kita ke sana.” Di tepi lembah, di bawah pohon pinus yang besar, seorang pria berdiri dengan busur di punggungnya dan kantong kulit di tangannya. Usianya mungkin lima puluhan dengan wajah yang diukir oleh cuaca dan udara luar. Ia mundur sedikit saat melihat dua puluh pengawal bersenjata—wajahnya tampak waspada bercampur penasaran. Matanya tak berkedip saat melihat Corentine di tengah rombongan, lalu mengangguk sedikit menandakan ia mengenali seseorang yang statusnya lebih tinggi. “Jangan takut, Duke de Mably hanya ingin bertanya,” ujar kepala regu pengawal kepadanya. “Aku bukan orang yang mencari masalah, Yang Mulia,” katanya ketika Corentine mendekat. “Hanya sedang mencari makan.” “Aku hanya ingin mencari tahu tentang sesuatu.” Corentine berhenti di jarak yang cukup untuk berbicara tanpa membuat pria itu merasa dikepung. “Siapa namamu?” “Namaku Elbrus, Yan
Wilayah yang Cedric sebut sebagai “tidak perlu dijelajahi lebih jauh” ternyata dimulai tepat di mana jalur resmi berakhir.Corentine memperhatikan itu sejak mereka meninggalkan jalur utama—bagaimana vegetasi mulai berubah, tanah di bawah kaki kuda menjadi lebih keras dan berbatu, lalu pepohonan yang semakin lama semakin rapat.Cedric benar tentang satu hal: wilayah ini berat.Tapi berat bukan berarti tidak bisa dilalui. Hanya berarti tidak nyaman.“Ini batas terjauh yang dicapai tim Lord Courcy kemarin,” kata Troy dari sebelahnya, menunjuk tanda kecil yang ditinggalkan pengawal sebagai penanda batas penyelidikan. Sepotong tali kulit diikatkan rendah di ranting pohon—hampir tidak terlihat kecuali oleh orang-orang yang tahu harus mencari apa.Corentine menatap tanda itu.“Kita terus masuk,” katanya.Setengah jam kemudian, mereka telah masuk semakin dalam ke wilayah itu, lebih jauh dari batas yang dibuat tim sebelumnya.Corentine memperlambat kudanya.“Troy.” Ia memanggil anak muda itu.
“Laporkan hasil kemarin,” kata Corentine.Mereka sedang melakukan rapat pagi itu. Untuk kesekian kalinya, tanpa mendapatkan petunjuk yang diharapkan.Dua hari setelah bantuan dari ibukota tiba, mereka masih belum menemukan apa-apa. Marquis Augustus Deschanel datang bersama Troy dan Viscount Courcy—bersamaan dengan pasukan pengawal tambahan dari kerajaan, pengawal de Mably, dan pengawal Deschanel yang dikirim dari ibukota begitu utusan Corentine tiba di ibukota dengan kabar buruk itu. Kedatangan mertuanya tidak mudah baginya. Lord Deschanel yang biasanya menyimpan amarahnya di balik wibawanya yang tak bercela langsung menyemprotnya dengan kata-kata pedas.“Aku sudah memperingatkanmu tentang bahaya di wilayah ini. Tapi kau bersikeras membawa putriku ke tempat ini. Seharusnya, sebagai perwira kerajaan kau tidak meremehkan situasi, Duke.”“Paman, sudahlah. Tidak ada gunanya marah-marah sekarang. Lebih baik kita fokus pada pencarian Alize.” Troy yang melerai, meredakan ledakan kemarahan







