تسجيل الدخولAlize tersengat kekhawatiran saat memikirkan Mirelle dalam pelariannya. Siapa orang yang membawanya pergi? Apakah dia akan membawa Mirelle pergi jauh, atau malah mencelakainya? Ia bergidik. Pengakuan Mirelle atas kesalahannya tidak membuatnya ingin bersikap kejam kepada gadis itu, justru membuatnya semakin cemas hari ke hari. “Kita pulang.” Corentine menyentuh bahunya dengan lembut. “Sudah jelas dia tidak ada lagi di sini.” “Mungkin dia bersembunyi tidak jauh dari sini?” bisik Alize. “Dengan tim pencari sebanyak ini dia pasti segera ketahuan sejak tadi, Alize.” Alize mendesah risau. “Bolehkah aku memanggilnya? Siapa tahu dia memang masih di sini dan mendengarku?” Corentine menatapnya sebentar. “Baiklah,” jawabnya kemudian. Alize melangkah keluar dari gubuk itu. Membalikkan tubuhnya ke arah rerimbunan pohon di kegelapan. Menghela napas panjang, lalu mulai bicara dengan suara keras. “Mirelle! Ini aku. Alize, Duchess de Mably. Dengarkan aku. Kau tidak bisa terus lari dan
“Kami belum tahu, Yang Mulia,” ujar Tyron. “Salah satu kelompok pencari melapor telah menemukan sebuah gubuk tua di tengah hutan sebelah utara. Mereka melihat jejak baru di sekitar sana.” “Dan Mirelle ada di sana?” “Mereka tidak melihat siapa pun, Yang Mulia. Tetapi kami belum tahu, apakah Mirelle memang sudah pergi atau hanya bersembunyi sampai kami pergi.” Alize langsung berdiri. “Aku harus ke sana.” “Tidak.” Suara Corentine muncul nyaris bersamaan dengan kehadirannya. Pria itu baru saja masuk ke ruang duduk dengan mantel yang lembap, sementara hawa dingin dari luar ikut terbawa bersamanya. Wajahnya tampak lebih keras dari biasanya. Alize terperangah. “Baru saja Tyron bilang kau masih di luar.” “Aku menyusul, karena aku tahu kau pasti memaksa untuk ikut mencari.” “Tentu saja,” sahut Alize. “Aku tidak akan membiarkanmu masuk ke tengah hutan lagi malam-malam seperti ini.” “Corentine, mungkin Mirelle masih ada di sana, bersembunyi karena takut.” “Dan mungkin ses
“Apakah itu darah?” bisiknya lirih. Troy segera menariknya ke sisinya dengan sikap protektif. “Belum tentu,” ujarnya, tapi dengan nada tidak yakin. “Tempat ini tidak jauh dari tempat ditemukannya mayat June,” ujar Lady Gwen. “Bukankah di sebelah sana adalah rawa itu? Terus terang aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memikirkan kemungkinan terburuk.” Alize mendongak ke arah Gwen dan melotot. “Jangan bicara yang tidak-tidak, Lady Gwen.” “Maaf, Duchess.” Gwen menunduk seolah menyesal. “Bukan berarti aku tidak khawatir. Namun, situasinya saat ini sangat…” “Kalau tidak tahu apa-apa sebaiknya diam saja,” potong Corentine. “Kau hanya akan membuat Duchess jadi kalut, Lady Gwen.” Wajah Gwen memerah karena ditegur terang-terangan seperti itu. Namun, sebentar kemudian wajahnya kembali tenang. “Maafkan aku, Yang Mulia Duke,” ujarnya dengan sopan kepada Corentine. “Aku lupa sejak dulu kau tidak suka diganggu kalau sedang berpikir.” Alize hampir memutar mata. Lady Gwen bahka
“Kemungkinan besar Mirelle tidak pergi sendirian.” Kalimat Tyron terus terngiang di kepala Alize bahkan setelah pria itu pergi. Tanpa berpikir panjang, Alize mengetuk pintu. Corentine sedang berdiri membelakanginya, menatap nyala api di perapian. Dari belakang, tubuhnya yang tinggi berbahu lebar tampak tegang. Kedua tangannya di pinggang. Ia menoleh ketika Alize berdehem halus. “Alize.” Ia kelihatan senang melihat istrinya setelah hari yang panjang dan melelahkan. “Kalau kau mau bertanya soal makan malam, kurasa aku tidak bisa bergabung malam ini karena laporan-laporan yang harus kuperiksa…” “Aku datang bukan untuk itu,” sahut Alize. “Meskipun tentu saja kau akan membuat Bibi Julia gusar karena sudah dua kali melewatkan makan malam bersama padahal kau ada di rumah.” Corentine tersenyum samar. “Bibi Julia memang begitu.” Ia menatap Alize dengan penasaran. “Kalau begitu ada apa?” “Aku bertemu Tyron di depan tadi,” ujar Alize. “Dia bilang ada petunjuk bahwa Mirelle tidak pe
“Huruf M…” Wajah Alize memucat. Sementara wajah Corentine lebih tenang. Ia memperhatikan benda itu, membolak-baliknya di tangan. “Di mana benda ini ditemukan?” tanyanya kepada Tyron. “Di perbatasan hutan dan sungai, Yang Mulia. Tidak terlalu jauh dari jalan setapak di belakang kastil.” Corentine menoleh kepada Alize. “Apakah ini sapu tangan Mirelle?” Alize memperhatikan benda itu sekali lagi, lalu menggeleng. “Aku tidak tahu,” ujarnya lirih. “Aku tidak pernah melihatnya memakai sapu tangan. Tapi…” Ia memperhatikan lagi sapu tangan itu. “Mirelle memang suka menandai barang miliknya dengan inisial namanya sejak dulu. Dan warna biru tua… dia bilang adalah warna keberuntungannya.” Sapu tangan itu diserahkan kembali kepada Tyron. “Simpan sebagai petunjuk,” ujar Corentine. “Lanjutkan pencarian. Temukan dia hidup-hidup. Itu permintaan Duchess.” Tyron mengangguk hormat, matanya menatap Alize sebentar dan mengangguk lagi. “Baik, Yang Mulia.” Alize terhuyung ketika Tyron meningg
Kastil de Mably berubah seperti benteng perang dalam semalam. Alize baru benar-benar menyadarinya keesokan paginya. Koridor bergema oleh langkah cepat para pengawal. Pesan dibawa keluar masuk tanpa henti. Kuda-kuda dikirim ke berbagai arah bahkan sebelum matahari sepenuhnya terbit. Dan di tengah semua itu, Corentine bergerak seperti seseorang yang sudah sangat terbiasa memburu manusia. Itulah bagian yang paling membuat Alize merinding. Karena suaminya tidak tampak panik, tidak emosional, bahkan tidak kehilangan kendali. Justru sebaliknya. Semakin serius situasinya, Corentine malah terlihat semakin tenang. Alize berdiri di balkon lantai dua ketika melihat beberapa pengawal berkuda meninggalkan kastil dengan lambang beruang perak keluarga de Mably berkibar di mantel mereka. Tyron sedang memberi instruksi di halaman utama sementara beberapa prajurit lain membawa peta wilayah. “Mereka menuju gerbang timur,” ujar Lady Gwen yang berdiri di sebelah Alize. Alize mengernyit k
Surat itu tidak panjang.Hanya dua lembar, ditulis dengan tangan yang rapi dan berhati-hati—tangan seseorang yang terbiasa memilih kata dengan presisi. Stempel Lord Chancellor di sudut atasnya masih terlihat jelas meski pinggiran kertasnya sudah menguning dan rapuh di beberapa lipatan.Corentine me
Alize mendengar suara Corentine menguap. Lalu suara paraunya, khas orang yang baru saja bangun tidur.“Selamat pagi, Duchess.”Pagi di Istana Musim Dingin datang dengan cahaya yang berbeda.Bukan hangat seperti di ibukota—lebih putih, lebih tajam, menerobos masuk melalui celah tirai dan jatuh di la
Meja makan siang di Kastil de Mably selalu terasa lebih panjang dari yang seharusnya. Alize sudah terbiasa dengan itu sejak minggu pertama pernikahannya. Bukan karena ukurannya―meja makan di manor Deschanel tidak kalah besar―tapi karena cara Lady Julia duduk di ujungnya. Tegak, tenang, dan seolah
“Corentine!” pekik Alize sedetik kemudian. “Apa yang kau lakukan?”Corentine tidak merasa terganggu dengan reaksi itu, apalagi merasa bersalah. Dengan santai ia berbaring di sisi tempat tidur yang kosong, satu tangan terlipat di bawah kepala, seolah-olah mereka sudah sejak lama tidur sekamar, bukan







