Share

Terlambat

Author: Anna Frey
last update publish date: 2026-05-24 11:11:31

“Kami belum tahu, Yang Mulia,” ujar Tyron. “Salah satu kelompok pencari melapor telah menemukan sebuah gubuk tua di tengah hutan sebelah utara. Mereka melihat jejak baru di sekitar sana.”

“Dan Mirelle ada di sana?”

“Mereka tidak melihat siapa pun, Yang Mulia. Tetapi kami belum tahu, apakah Mirelle memang sudah pergi atau hanya bersembunyi sampai kami pergi.”

Alize langsung berdiri. “Aku harus ke sana.”

“Tidak.”

Suara Corentine muncul nyaris bersamaan dengan kehadirannya.

Pria itu ba
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Seraut Wajah yang Dikenal

    Alize tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak pernah bertemu dengan orang yang seperti Lady Isla. Ia pernah mendengar tentang kaum pengembara berkulit tembaga yang datang dari negeri yang jauh. Mereka berpindah-pindah tempat dengan rombongan karavan. Menurut Troy, mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan aneh. Salah satu di antaranya adalah meramal nasib. Mirip dengan kemampuan Lady Isla. Namun, Lady Isla bukan orang asing dari negeri yang jauh, tentu saja. Kulitnya putih pucat, matanya biru kehijauan. Kecantikan masa mudanya masih tercermin di wajahnya yang sekarang keriput. “Lady Isla,” ujar Alize lembut. “Saya sungguh-sungguh tidak mengerti maksud ucapan Anda. Begini saja... bagaimana kalau kita lanjutkan percakapan kita besok pagi?” Ia tersenyum pada perempuan tua itu. “Hari ini kita semua sangat lelah dan perlu beristirahat. Terutama Anda.” Alize mengulurkan tangannya untuk menggenggam jemari keriput sang lady. “Saya mengkhawatirkan kesehatan Anda.” Lady

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Wanita yang Melihat Bayangan

    Alize mengikuti pelayan Lady Isla menyusuri lorong batu yang sunyi. Di belakangnya, Greta masih mengikuti tanpa suara. Malam telah benar-benar turun. Nyala lentera di dinding memantulkan cahaya keemasan di lantai batu, sementara keheningan biara terasa begitu pekat hingga suara langkah kaki mereka sendiri terdengar jelas. Di depan kamar Lady Isla, mereka berhenti. Si pelayan membuka pintu. “Silakan masuk, Yang Mulia.” Alize mengangguk dan melangkah masuk. Ia menatap berkeliling. Kamar itu serupa dengan kamarnya. Semacam apartemen kecil dengan ruang duduk, kamar tidur, dan kamar ganti. Perabotnya bersahaja, meskipun dibuat dari bahan kayu terbaik. Si pelayan memberinya tanda ke kamar tidur. “Mohon maaf, Yang Mulia. Nyonya saya berada di tempat tidurnya. Ia sudah nyaris tak punya tenaga untuk bangun, tetapi bersikeras untuk bicara dengan Anda.” Alize mengangguk penuh pengertian. “Tidak apa-apa, saya mengerti,” ujarnya. “Saya akan menemuinya.” Pelayan itu membungkuk

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Pelindung Biara

    “Yang Mulia Duchess Alize de Mably.” Sapaan itu membuat Alize berkedip. Ia menatap Rahib Agung Gregor dengan jelas-jelas terkejut. “Tetapi...” ujarnya pelan, “...selama perjalanan saya menggunakan nama Lady Easton.” Rahib Agung Gregor menutup kembali dokumen kerajaan itu dengan hati-hati, lalu meletakkannya di atas meja kayunya. Senyum tipis masih menghiasi wajahnya yang dihiasi kerut merut dalam. “Itu benar. Namun Anda sudah tiba di Dunholm.” Beliau mengangkat pandangannya kepada Alize. “Di tempat ini...setiap orang boleh menjadi dirinya sendiri.” Alize masih belum benar-benar mengerti. “Tetapi bukankah akan lebih aman jika saya tetap menggunakan nama samaran?” Rahib Agung Gregor menggeleng perlahan. “Tidak perlu, Yang Mulia.” Nada suaranya tetap tenang, tetapi penuh keyakinan. “Dinding-dinding biara ini telah menyimpan terlalu banyak rahasia selama ratusan tahun. Karena itulah orang-orang datang ke sini untuk menemukan ketenangan, bukan untuk saling membo

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Akhirnya di Biara

    Perjalanan hari itu berlangsung jauh lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya. Tidak ada jalan yang terhalang. Tidak ada rombongan asing yang meminta pertolongan. Bahkan cuaca seolah berpihak kepada mereka. Langit cerah sejak pagi, sementara angin pegunungan yang sejuk membuat perjalanan terasa lebih nyaman. Menjelang tengah hari, Lady Harwick memerintahkan rombongan berhenti di sebuah padang rumput kecil yang dinaungi beberapa pohon tua. Seperti hari sebelumnya, makan siang dilakukan dengan sederhana. Para pelayan membentangkan kain di atas rerumputan. Roti, keju, buah-buahan kering, serta sebotol anggur dikeluarkan dari keranjang bekal. Para pelayan telah membelinya di penginapan terakhir mereka. Tak ada jamuan mewah. Mereka hanya beristirahat secukupnya sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Selama makan, perhatian para lady beberapa kali tertuju kepada Lady Isla. Wanita tua itu masih tampak pucat, tetapi kondisinya sedikit lebih baik daripada kemarin. I

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Semakin Dekat ke Tujuan

    Keheningan langsung menyelimuti meja para lady. Tak seorang pun berani menoleh ke arah sekat kayu di samping mereka. Lady Harwick tetap duduk tegak, seolah tidak mendengar percakapan itu sama sekali. Dengan gerakan yang sangat tenang, ia kembali mengangkat garpunya dan melanjutkan makan. Isyarat itu dipahami oleh semua orang. Tetap tenang. Jangan menunjukkan bahwa mereka sedang mendengarkan. Alize menarik napas perlahan sebelum kembali menyentuh makanannya. Meski nafsu makannya telah hilang, ia memaksa dirinya tetap tampak wajar. Di balik kegelisahannya, ia mengingat sesuatu. Para pengawal istana. Sir Welton telah membagi mereka ke beberapa meja sejak awal memasuki ruang makan. Mereka berpakaian seperti pengawal bayaran biasa, bercakap-cakap sewajarnya, namun mata mereka sesekali menyapu seluruh ruangan. Mereka pasti juga mendengar percakapan itu. Dan jika keadaan berubah buruk... ...mereka akan menjadi orang pertama yang bergerak. Pikiran itu sedikit menenan

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Percakapan di Balik Sekat

    Alize sempat mengira rombongan mereka akan bermalam di kediaman Marquess Westhaven. Namun dugaan itu ternyata keliru. Setelah melewati gerbang wilayah sang marquess, iring-iringan kereta justru berbelok ke sebuah kota kecil yang tampak tenang. Di pinggir jalan utamanya berdiri sebuah penginapan dua lantai yang dibangun dari batu abu-abu dengan atap batu tulis gelap. Bangunannya tidak mewah. Tidak pula semegah rumah-rumah bangsawan yang biasa dikunjungi Alize. Namun halaman depannya bersih, taman kecil di samping bangunan tertata rapi, dan lentera-lentera yang tergantung di beranda telah dinyalakan meski matahari belum sepenuhnya tenggelam. Lady Harwick turun lebih dahulu. “Inilah tempat kita bermalam.” Alize ikut turun sambil memperhatikan bangunan itu. “Ini milik Marquess Westhaven?” tanyanya. Lady Harwick menggeleng. “Bukan.” “Beliau membangunnya, tetapi membiarkan pengelolanya menjalankan usaha ini sendiri.” Lady Cabot menambahkan sambil tersenyum. “Konon

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Lima Puluh Pucuk Senjata

    Keheningan menyelimuti ruang kerja. Alize merasa seolah udara di dalam ruangan mendadak menjadi lebih berat. “Senjata api?” ulang Corentine perlahan. Kedua pengawal itu mengangguk. “Ya, Yang Mulia.” Wajah Tyron juga tampak tertegun. Ia menoleh pada anak buahnya. Corentine berdiri tegak di

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Yang Akhirnya Pergi

    Alize menghela napas pelan. Ia sudah mengira reaksi Lady Julia akan seperti ini. “Lady Gwen ingin lebih banyak berada di rumah untuk merawat ibunya,” jawab Alize, mengulang alasan yang disampaikan Gwen. Ekspresi Lady Julia langsung berubah. “Oh.”Nada suaranya melunak. “Lady Cleremont memang sed

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Izin Untuk Berhenti

    “Aku ingin mengundurkan diri sebagai pendampingmu, Duchess,” ujar Lady Gwen pelan. Untuk beberapa detik, Alize hanya menatap Lady Gwen. Ia mengira dirinya salah dengar. “Apa?” Alize mengerutkan kening. “Kau bercanda terlalu pagi, Lady Gwen.” Lady Gwen tersenyum kecil. “Saya tahu ini mendada

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Permintaan yang Tak Terduga

    Alize terdiam dan mengerutkan kening. “Aku tidak mengerti,” ujar Alize. “Bukankah kita harus menelusuri semua yang terlihat masuk akal sebagai petunjuk?” Cedric menghela napas pelan. “Tidak. Itu tidak masuk akal.” Jawaban itu justru membuat Alize kesal. “Menurutmu seorang gadis muda yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status