Share

Penemuan di Rawa

Author: Anna Frey
last update publish date: 2026-05-16 08:22:02

“Pengawal patroli menemukan sesuatu di dekat aliran sungai tua sebelah timur.”

Kalimat Tyron langsung menghapus sisa ketenangan Alize. Ia berdiri dari sofa. “Apa?”

“Salah satu pengawal menemukan jejak di area rawa dangkal.” Tatapannya sempat bergerak pada Alize. “Setelah diikuti… jejak itu mengarah pada sesosok tubuh wanita.”

“Tidak,” desis Alize. Firasatnya muncul seperti hentakan keras di dadanya. “Jangan bilang kalau itu….”

Ia tidak berani meneruskan kalimatnya, tetapi menguatkan dir
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Bagaimana Jika....

    Alize terdiam sesaat. Kemudian senyum tipis muncul di bibirnya. Menarik? Kalau Yang Mulia Raja tahu apa saja yang terjadi di Biara Dunholm, mungkin kata menarik adalah cara yang terlalu sederhana untuk menggambarkannya. Alize berjalan beberapa langkah mendekati meja kerja Raja. Ia merapikan ujung sarung tangannya sebelum menjawab dengan sikap tenang. “Pelayan saya sudah menyerahkan map laporan kepada sekretaris Yang Mulia. Saya mencatat semua yang saya temukan selama berada di Dunholm, termasuk persoalan-persoalan kecil dalam urusan logistik.” Ia menundukkan kepala sedikit. “Saya berharap Yang Mulia berkenan membacanya.” Raja mengangguk. “Aku akan membacanya.” Namun ekspresinya menunjukkan bahwa ia belum puas. “Tapi aku ingin mendengar darimu sendiri. Apa inti persoalan di sana?” Alize menarik napas pelan. “Pada awalnya, tidak ada sesuatu yang benar-benar mengkhawatirkan.” Ia melirik sekilas kepada Corentine. “Biara itu berjalan dengan baik. Para

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Melapor Kepada Raja

    “Siapa?” tanya Corentine. Tatapannya masih tertuju pada sosok wanita muda yang baru saja turun dari kereta. Greta membantu Fran menapakkan kakinya ke tanah. Wanita itu tampak sedikit canggung menghadapi halaman istana yang luas, tetapi tidak menunjukkan rasa takut. Ia justru menatap ke sekeliling dengan rasa ingin tahu yang polos. Alize memperhatikan suaminya. Ia sudah menduga reaksi seperti ini. Tidak mungkin Corentine langsung mengenali Mirelle hanya dari wajah yang telah berubah begitu banyak. Terlebih lagi, selama beberapa minggu, Alize sendiri bahkan membutuhkan begitu banyak petunjuk untuk berani mempercayai ingatannya. “Dia...” Alize menarik napas pelan. “Salah satu pasien di Biara Dunholm.” Alis Corentine terangkat. “Pasien?” Alize mengangguk. “Namanya Fran. Dia ditemukan di depan gerbang biara dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ketika terbangun, dia tidak mengingat siapa dirinya.” Corentine memandang Fran sekali lagi. Lalu tatapan pria itu berpindah kepa

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Kembali Ke Pelukan

    Alize belum juga masuk ke dalam kereta. Setelah memastikan semua orang telah berada di tempat masing-masing, ia berdiri beberapa langkah dari pintu kereta dan menoleh kepada Rahib Agung Gregor serta para saudari yang mengantarnya. Udara pagi di halaman Biara Dunholm terasa dingin. Angin menggerakkan ujung selendang yang melingkari bahunya, sementara lonceng biara terdengar samar dari menara di kejauhan. “Terima kasih,” ujar Alize akhirnya. Ia menundukkan kepala dengan hormat. “Selama berada di sini, saya dan rombongan saya telah menerima begitu banyak kebaikan dari kalian. Saya tidak akan melupakannya.” Gregor tersenyum tipis. “Biara Dunholm selalu terbuka bagi para pelindung kami.” Tatapan lelaki tua itu kemudian beralih kepada Alize. “Jika suatu hari Yang Mulia ingin kembali sebagai seorang peziarah, bukan sebagai wakil Raja, kami akan menyambut Anda dengan senang hati.” Alize tersenyum kecil. “Saya akan mengingat tawaran itu.” Saudari Deirdre yang berdiri di

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Di Hari Keberangkatan

    Alize menatap buku itu beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat wajah. “Buku ini... sebenarnya milik Anda?” Gregor menggeleng pelan. Jemarinya masih menyusuri sampul tua yang telah mulai kusam, seolah sedang memastikan benda itu benar-benar berada di tangannya lagi. “Bukan milik saya sejak awal.” Ia mengembuskan napas. “Buku ini milik Rahib Agung sebelum saya.” Alize mengernyit. “Namun bagaimana bisa sampai ke rumah keluarga Elroy?” “Itulah yang tidak kami ketahui.” Gregor membawa buku itu ke meja dan meletakkannya dengan hati-hati. “Seharusnya buku ini selalu berada di dalam laci meja kerja saya. Hanya Rahib Agung yang boleh mengaksesnya. Tetapi suatu hari ketika saya mencarinya...” Ia berhenti sejenak. “Buku itu sudah tidak ada.” Alize merasakan tengkuknya menegang. “Tidak ada yang tahu siapa yang mengambilnya?” “Kami menduga Jasper Elroy.” Nama itu membuat Alize terdiam. Gregor melanjutkan dengan suara tenang. “Jasper pernah menjadi staf administrasi tamb

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Kita Bisa Pulang

    Alize menggeleng. “Tidak.” Ia tersenyum di balik air matanya. “Tidak, Fran.” Tangannya perlahan terulur ke atas meja, tetapi berhenti beberapa inci dari tangan wanita itu. Ia masih belum berani menyentuhnya. Belum. “Justru...”.Suaranya pecah. “...kau baru saja mengingat sesuatu yang sangat penting.” Dan untuk pertama kalinya sejak menemukan Fran di Biara Dunholm, Alize tidak lagi sekadar berharap. Di dalam hatinya, ia sudah tahu. Wanita yang duduk di hadapannya itu adalah Mirelle. Setelah makan siang selesai, Fran kembali ke Klinik Perawatan bersama Saudari Deirdre. Alize berdiri di depan pintu kamar dan memperhatikan wanita itu berjalan menjauh di sepanjang lorong. Untuk pertama kalinya sejak tiba di Biara Dunholm, langkah Fran tidak lagi terlihat seperti langkah seseorang yang sepenuhnya asing baginya. Ada sesuatu yang berubah. Bukan pada wajahnya. Bukan pula pada cara berjalannya. Melainkan pada keyakinan Alize sendiri. Ia sudah tidak lagi bertanya-tanya apaka

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Duchess Sudah Yakin

    “Aku menemukannya di lorong bawah tanah.” Jawaban Alize terdengar lebih tenang daripada perasaannya sendiri. Ia menatap jepit rambut yang masih berada di tangan Fran. “Lorong yang pernah kita masuki beberapa hari lalu.” Fran mengangkat wajah. “Lorong di bawah tanah?” Alize mengangguk. “Ya. Aku kembali ke sana bersama Sir Welton kemarin. Kami menyusuri lorong itu lebih jauh daripada sebelumnya.” Ia berhenti sejenak. “Kami menemukan sebuah ruangan.” Jari Fran perlahan mengusap permukaan jepit rambut tersebut. “Di sana aku menemukan benda itu.” Alize menelan ludah. Ia sekarang menatap Fran, lalu dengan hati-hati bertanya, “Fran... apakah kau mengenali jepit rambut itu?” Wanita itu terdiam. Matanya mengamati benda di tangannya tanpa emosi sedikit pun. “Apakah jepit rambut itu milikmu?” tanya Alize. Fran menunduk lagi. Beberapa saat berlalu sebelum akhirnya ia menggeleng pelan. “Saya tidak tahu, Yang Mulia.” Harapan yang sempat membunca

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Lima Puluh Pucuk Senjata

    Keheningan menyelimuti ruang kerja. Alize merasa seolah udara di dalam ruangan mendadak menjadi lebih berat. “Senjata api?” ulang Corentine perlahan. Kedua pengawal itu mengangguk. “Ya, Yang Mulia.” Wajah Tyron juga tampak tertegun. Ia menoleh pada anak buahnya. Corentine berdiri tegak di

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Yang Akhirnya Pergi

    Alize menghela napas pelan. Ia sudah mengira reaksi Lady Julia akan seperti ini. “Lady Gwen ingin lebih banyak berada di rumah untuk merawat ibunya,” jawab Alize, mengulang alasan yang disampaikan Gwen. Ekspresi Lady Julia langsung berubah. “Oh.”Nada suaranya melunak. “Lady Cleremont memang sed

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Izin Untuk Berhenti

    “Aku ingin mengundurkan diri sebagai pendampingmu, Duchess,” ujar Lady Gwen pelan. Untuk beberapa detik, Alize hanya menatap Lady Gwen. Ia mengira dirinya salah dengar. “Apa?” Alize mengerutkan kening. “Kau bercanda terlalu pagi, Lady Gwen.” Lady Gwen tersenyum kecil. “Saya tahu ini mendada

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Permintaan yang Tak Terduga

    Alize terdiam dan mengerutkan kening. “Aku tidak mengerti,” ujar Alize. “Bukankah kita harus menelusuri semua yang terlihat masuk akal sebagai petunjuk?” Cedric menghela napas pelan. “Tidak. Itu tidak masuk akal.” Jawaban itu justru membuat Alize kesal. “Menurutmu seorang gadis muda yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status