เข้าสู่ระบบAlize belum juga masuk ke dalam kereta. Setelah memastikan semua orang telah berada di tempat masing-masing, ia berdiri beberapa langkah dari pintu kereta dan menoleh kepada Rahib Agung Gregor serta para saudari yang mengantarnya. Udara pagi di halaman Biara Dunholm terasa dingin. Angin menggerakkan ujung selendang yang melingkari bahunya, sementara lonceng biara terdengar samar dari menara di kejauhan. “Terima kasih,” ujar Alize akhirnya. Ia menundukkan kepala dengan hormat. “Selama berada di sini, saya dan rombongan saya telah menerima begitu banyak kebaikan dari kalian. Saya tidak akan melupakannya.” Gregor tersenyum tipis. “Biara Dunholm selalu terbuka bagi para pelindung kami.” Tatapan lelaki tua itu kemudian beralih kepada Alize. “Jika suatu hari Yang Mulia ingin kembali sebagai seorang peziarah, bukan sebagai wakil Raja, kami akan menyambut Anda dengan senang hati.” Alize tersenyum kecil. “Saya akan mengingat tawaran itu.” Saudari Deirdre yang berdiri di
Alize menatap buku itu beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat wajah. “Buku ini... sebenarnya milik Anda?” Gregor menggeleng pelan. Jemarinya masih menyusuri sampul tua yang telah mulai kusam, seolah sedang memastikan benda itu benar-benar berada di tangannya lagi. “Bukan milik saya sejak awal.” Ia mengembuskan napas. “Buku ini milik Rahib Agung sebelum saya.” Alize mengernyit. “Namun bagaimana bisa sampai ke rumah keluarga Elroy?” “Itulah yang tidak kami ketahui.” Gregor membawa buku itu ke meja dan meletakkannya dengan hati-hati. “Seharusnya buku ini selalu berada di dalam laci meja kerja saya. Hanya Rahib Agung yang boleh mengaksesnya. Tetapi suatu hari ketika saya mencarinya...” Ia berhenti sejenak. “Buku itu sudah tidak ada.” Alize merasakan tengkuknya menegang. “Tidak ada yang tahu siapa yang mengambilnya?” “Kami menduga Jasper Elroy.” Nama itu membuat Alize terdiam. Gregor melanjutkan dengan suara tenang. “Jasper pernah menjadi staf administrasi tamb
Alize menggeleng. “Tidak.” Ia tersenyum di balik air matanya. “Tidak, Fran.” Tangannya perlahan terulur ke atas meja, tetapi berhenti beberapa inci dari tangan wanita itu. Ia masih belum berani menyentuhnya. Belum. “Justru...”.Suaranya pecah. “...kau baru saja mengingat sesuatu yang sangat penting.” Dan untuk pertama kalinya sejak menemukan Fran di Biara Dunholm, Alize tidak lagi sekadar berharap. Di dalam hatinya, ia sudah tahu. Wanita yang duduk di hadapannya itu adalah Mirelle. Setelah makan siang selesai, Fran kembali ke Klinik Perawatan bersama Saudari Deirdre. Alize berdiri di depan pintu kamar dan memperhatikan wanita itu berjalan menjauh di sepanjang lorong. Untuk pertama kalinya sejak tiba di Biara Dunholm, langkah Fran tidak lagi terlihat seperti langkah seseorang yang sepenuhnya asing baginya. Ada sesuatu yang berubah. Bukan pada wajahnya. Bukan pula pada cara berjalannya. Melainkan pada keyakinan Alize sendiri. Ia sudah tidak lagi bertanya-tanya apaka
“Aku menemukannya di lorong bawah tanah.” Jawaban Alize terdengar lebih tenang daripada perasaannya sendiri. Ia menatap jepit rambut yang masih berada di tangan Fran. “Lorong yang pernah kita masuki beberapa hari lalu.” Fran mengangkat wajah. “Lorong di bawah tanah?” Alize mengangguk. “Ya. Aku kembali ke sana bersama Sir Welton kemarin. Kami menyusuri lorong itu lebih jauh daripada sebelumnya.” Ia berhenti sejenak. “Kami menemukan sebuah ruangan.” Jari Fran perlahan mengusap permukaan jepit rambut tersebut. “Di sana aku menemukan benda itu.” Alize menelan ludah. Ia sekarang menatap Fran, lalu dengan hati-hati bertanya, “Fran... apakah kau mengenali jepit rambut itu?” Wanita itu terdiam. Matanya mengamati benda di tangannya tanpa emosi sedikit pun. “Apakah jepit rambut itu milikmu?” tanya Alize. Fran menunduk lagi. Beberapa saat berlalu sebelum akhirnya ia menggeleng pelan. “Saya tidak tahu, Yang Mulia.” Harapan yang sempat membunca
Welton mengerutkan kening. Alize mengangkat wajah kepadanya. “Aku tahu karena aku sendiri yang memberikannya.” Sebuah senyum kecil yang nyaris menyakitkan muncul di bibirnya. “Aku memberinya sepasang.” Air mata akhirnya jatuh. “Tyron menemukan yang satunya.” Welton terdiam. “Jadi...” gumamnya. Tatapannya turun kepada jepit rambut di tangan Alize. “Ini pasangannya?” Alize mengangguk pelan. Untuk beberapa saat, ia hanya menatap benda kecil itu. Selama berbulan-bulan ia mencari Mirelle. Mencari jejak. Mencari saksi. Mencari satu petunjuk kecil yang bisa membuktikan bahwa pelayannya masih hidup. Dan sekarang sebuah benda kecil yang nyaris tidak berarti bagi orang lain telah muncul dari kegelapan lorong bawah tanah. Tepat di tempat seseorang mungkin pernah membawa seorang wanita muda. Alize menggenggamnya erat. “Apakah Anda semakin yakin bahwa wanita bernama Fran itu memang Mirelle?” Pertanyaan Welton membuat Alize terdiam. Ia ingin mengatakan ya. Sangat
Alize menatapnya semakin tajam. “Dan apakah itu?” Sir Welton terdiam sesaat, seolah sedang memilih kata-kata yang tepat. “Sebuah ruangan.” Kening Alize berkerut. “Ruangan?” “Ya, Yang Mulia. Kami menemukan sebuah ruangan kecil di salah satu sisi lorong. Bukan bagian dari jalur utama.” Welton menarik napas. “Awalnya kami mengira ruangan itu mungkin gudang untuk menyimpan persediaan selama perang. Tetapi ada sesuatu yang membuat kami mengubah dugaan.” Alize perlahan bangkit dari kursinya. “Apa?” “Ruangan itu pernah digunakan baru-baru ini.” Jantung Alize serasa jatuh. “Seberapa baru?” “Kami belum bisa memastikannya. Namun di dalamnya masih ada sisa lilin yang belum terlalu lama terbakar. Ada bekas jerami di lantai.” Welton berhenti sejenak. “Dan kami menemukan bekas tali pada salah satu tiang kayu.” Alize membeku. Gambaran Fran tiba-tiba muncul dalam benaknya. Sebuah kamar besar. Ranjang-ranjang susun. Tubuh yang sakit. Rasa takut. Jemarinya mencengker
Keheningan menyelimuti ruang kerja. Alize merasa seolah udara di dalam ruangan mendadak menjadi lebih berat. “Senjata api?” ulang Corentine perlahan. Kedua pengawal itu mengangguk. “Ya, Yang Mulia.” Wajah Tyron juga tampak tertegun. Ia menoleh pada anak buahnya. Corentine berdiri tegak di
Alize menghela napas pelan. Ia sudah mengira reaksi Lady Julia akan seperti ini. “Lady Gwen ingin lebih banyak berada di rumah untuk merawat ibunya,” jawab Alize, mengulang alasan yang disampaikan Gwen. Ekspresi Lady Julia langsung berubah. “Oh.”Nada suaranya melunak. “Lady Cleremont memang sed
“Aku ingin mengundurkan diri sebagai pendampingmu, Duchess,” ujar Lady Gwen pelan. Untuk beberapa detik, Alize hanya menatap Lady Gwen. Ia mengira dirinya salah dengar. “Apa?” Alize mengerutkan kening. “Kau bercanda terlalu pagi, Lady Gwen.” Lady Gwen tersenyum kecil. “Saya tahu ini mendada
Alize terdiam dan mengerutkan kening. “Aku tidak mengerti,” ujar Alize. “Bukankah kita harus menelusuri semua yang terlihat masuk akal sebagai petunjuk?” Cedric menghela napas pelan. “Tidak. Itu tidak masuk akal.” Jawaban itu justru membuat Alize kesal. “Menurutmu seorang gadis muda yang







