Se connecter“Aku ingin mengundurkan diri sebagai pendampingmu, Duchess,” ujar Lady Gwen pelan. Untuk beberapa detik, Alize hanya menatap Lady Gwen. Ia mengira dirinya salah dengar. “Apa?” Alize mengerutkan kening. “Kau bercanda terlalu pagi, Lady Gwen.” Lady Gwen tersenyum kecil. “Saya tahu ini mendadak,” ujarnya. “Maaf membuatmu terkejut, Yang Mulia.” “Terkejut?” Alize mengulang. “Lady Gwen, kau bukan cuma mengejutkan aku. Lady Julia tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja.” Lady Gwen mengangguk. “Saya tahu. Saya juga harus bicara dengannya. Semoga beliau mengerti.” Alize menatapnya. “Apa ada yang membuatmu merasa terganggu di kastil ini? Kau takut pada teror-teror yang terjadi?” Ia melihat wanita itu menggeleng. “Aku sebenarnya sudah memikirkannya cukup lama.” Alize benar-benar tidak menyangka. Di antara semua kemungkinan yang terlintas di kepalanya pagi ini, pengunduran diri Lady Gwen bukan salah satunya. “Kenapa?” tanyanya akhirnya. “Apa alasanmu, Lady Gwen?” Lady Gwen
Alize terdiam dan mengerutkan kening. “Aku tidak mengerti,” ujar Alize. “Bukankah kita harus menelusuri semua yang terlihat masuk akal sebagai petunjuk?” Cedric menghela napas pelan. “Tidak. Itu tidak masuk akal.” Jawaban itu justru membuat Alize kesal. “Menurutmu seorang gadis muda yang ditemukan pingsan lalu menghilang begitu saja adalah hal yang masuk akal?” Cedric dengan tenang menatapnya. “Menurutku seorang gadis muda ditemukan pingsan lalu menghilang bukan hal yang langka,” jawab Cedric tenang. Alize memelototinya. Namun Cedric tampaknya tidak terpengaruh sama sekali. “Ibu kota ini tidak kecil, Alize. Ada pelayan yang kabur dari majikannya. Ada gadis yang meninggalkan rumah. Ada orang-orang yang berpindah pekerjaan tanpa memberi kabar kepada siapa pun.” “Dan ada orang yang hilang tanpa jejak,” balas Alize. Cedric menatapnya beberapa saat. “Aku tidak mengatakan jangan menyelidikinya.” “Tidak. Kau memang tidak bilang begitu.” Pria itu tampak tidak peduli
“Kurasa tidak perlu, Yang Mulia,” jawab Alize sambil menahan senyum. “Kenapa?” Louis mengangkat alis. “Itu akan sangat menarik.” Alize menggeleng. Sebenarnya agak sedikit khawatir dengan semangat Putra Mahkota. “Karena jika Lord Ogilvy ikut campur, aku khawatir keadaan justru menjadi lebih kacau.” Putra Mahkota tampak berpikir sejenak. “Sayang sekali,” gumamnya. “Tapi kurasa kau benar.” Alize tersenyum. Sementara itu beberapa pria lain sudah bergerak mendekati Lord Ingham. Tampak jelas bahwa mereka adalah teman-teman sang bangsawan muda. “Sudahlah, Ingham.” “Kau terlalu banyak minum.” “Ayo duduk dulu.” Lord Ingham berusaha memberontak. “Hei. Aku tidak mabuk!” Jawaban itu justru membuat beberapa tamu tertawa pelan. Lord Ingham terlihat semakin tersinggung. Namun jumlah orang yang membujuknya terlalu banyak. Di saat yang sama, Dom muncul dengan ketenangan khas kepala pelayan yang sudah bertahun-tahun menghadapi bangsawan-bangsawan bermasalah. “Tuan-tuan,” uja
Alize menoleh kepada Corentine. Tatapannya agak tercengang. “Kau bercanda.” Corentine menggeleng. “Aku tidak bercanda.” Nada suara sang duke terlalu datar untuk dianggap gurauan. Alize memandang kembali ke arah Putra Mahkota yang sedang berbicara dengan sekelompok bangsawan di ujung aula. Pria itu tampak santai. Senyumnya lebar. Sesekali ia tertawa mendengar sesuatu yang dikatakan lawan bicaranya. Tidak ada satu pun orang yang akan menduga bahwa pria tersebut baru saja membantu memimpin penangkapan sekelompok pemberontak dan sedang menyelidiki kemungkinan konspirasi yang melibatkan bangsawan-bangsawan kerajaan. “Aku tidak terkejut,” gumam Alize akhirnya. Corentine mengangkat alis. “Kenapa?” Alize nyaris menyeringai geli. “Beliau terlihat sangat menikmati penyamarannya.” Corentine mengikuti arah pandangannya. “Ya.” Untuk beberapa saat mereka berdua hanya memperhatikan Putra Mahkota. Kemudian Corentine berkata dengan nada datar, “Menurutku Louis menikmati menjadi
Lord Hasting tampak berpikir cukup lama setelah mendengar pertanyaan Alize. “Victor Hale...” ulangnya perlahan. Raut wajahnya terlihat hati-hati. Kemudian ia menggeleng. “Maaf, Yang Mulia. Nama itu tidak terdengar familiar.” Alize menyembunyikan kekecewaannya dengan baik. Ia memang tidak benar-benar berharap menemukan jawaban malam ini. Namun tetap saja, sebagian dirinya berharap Lord Hasting pernah mendengar sesuatu. “Saya mengerti.” Alize tersenyum. “Tetapi saya harus bilang bahwa mengobrol dengan Anda berdua sangat menyenangkan.” Lady Hasting balas tersenyum. “Kami juga merasa terhormat bisa mengobrol dengan Anda, Yang Mulia,” ujarnya. “Bersediakah Anda datang jika kapan-kapan kami mengundang Anda untuk sekedar minum teh?” Itu adalah tawaran yang menarik. “Dengan senang hati, Lady Hasting.” “Oh. Bagus sekali.” Wanita yang sebaya dengan Lady Julia itu tampak senang. Beberapa bangsawan lain menyapa Alize. Dan Greta datang mendekat untuk berbisik bahwa Duke de Mabl
Sang baron mengangguk. “Ya. Saya punya.”Alize menunggu pria itu melanjutkan. Sementara di sekitar mereka, musik masih mengalun lembut. Para tamu terus berbincang dan tertawa. Namun entah kenapa, percakapan kecil di sudut aula itu terasa jauh lebih menarik daripada seluruh jamuan makan malam.“Itu terjadi sekitar delapan tahun lalu,” ujar Lord Hasting akhirnya. “Putra sulung saya saat itu baru mulai mengelola sebagian usaha keluarga.”Lady Hasting mendesah pelan. Seolah ia enggan untuk mendengar kisah itu diceritakan kembali.“Edward masih sangat muda waktu itu,” gumam wanita itu.“Dan sangat percaya diri,” sahut suaminya.Nada suaranya tidak terdengar marah. Lebih seperti seseorang yang sedang membuka kembali kenangan lama yang belumlah benar-benar ia pahami.“Dia ingin memperluas usaha pengiriman hasil panen kami ke wilayah pesisir,” sambungannya.Alize mengangguk. Mendengarkan baik-baik.“Lord Courcy membantu?” tanyanya.Bangsawan tua itu mengangguk. “Ya.” Jawaban itu







