Share

Retak Lagi

Author: Anna Frey
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-27 19:56:56

“Kau mengenali benda ini?” Corentine rupanya memperhatikan perubahan di wajah Alize.

“Ini memang milik Mirelle,” ujarnya. “Aku memberikannya sebagai hadiah ulang tahunnya setahun yang lalu.”

Corentine menimang-nimang benda itu.

“Semua benda yang kita temujan hampir semuanya milik pelayanmu,” gumamnya. “Sapu tangan, robekan gaun, sarung tangan, pita, dan sekarang jepit rambut.”

Ia menatap perapian, keningnya berkerut.

“Tyron, apakah kau punya pikiran yang sama denganku?”

Tyron
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Jangan Pergi Dulu

    Corentine menatap Alize beberapa saat. Kemudian ia mengembuskan napas pelan. “Baru saja kau kembali ke kastil.” Alize mengangkat alis. “Aku tahu.” “Aku belum ingin kau pergi lagi.” Nada suaranya tetap tenang. Namun Alize bisa menangkap kesungguhan di balik kalimat sederhana tersebut. Ia tersenyum. “Bukankah tadi kau yang mengatakan pekerjaanmu sangat banyak?” “Pekerjaanku memang banyak.” Corentine memasukkan satu tangan ke saku celananya. “Tetapi itu bukan berarti aku harus membiarkan istriku pergi menyusuri arsip-arsip tua selama berhari-hari lagi.” Alize terkekeh. “Aku tidak akan menyusuri arsip. Aku hanya ingin melihat rumah ayahku.” “Belum.” “Kenapa?” “Karena kau baru kembali.” Alize menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya tertawa kecil. “Baiklah, Yang Mulia Duke. Aku akan tinggal.” Corentine mengangguk puas. “Baguslah kalau begitu.” Namun sebelum ia benar-benar pergi, pria itu menambahkan, “Lagipula, surat-suratmu sudah menumpuk di rua

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Upah Untukmu

    Dengan santai dan tampak puas, Corentine menjawab, “Dari berbagai tempat.” Alize menoleh. Corentine berdiri beberapa langkah di belakangnya. “Berbagai tempat?” tanyanya. “Tapi kukira kau sibuk dengan pekerjaan rutinmu lagi setelah berhasil mengusir para pemberontak itu dari wilayah ini.” Senyum tipis muncul di bibir suaminya. “Aku tidak perlu turun langsung Alize,” ujarnya. “Ada pedagang. Utusan kerajaan. Kapal dagang.” Itu adalah jawaban khas Corentine yang singkat, padat dan agak menyebalkan karena tanpa penjelasan, tetapi anehnya selalu membuatnya rindu. Alize kembali menatap tanaman-tanaman di sekelilingnya. Dadanya terasa hangat. Ia teringat rumah kaca pertamanya. Tempat yang dulu langsung dibangun Corentine untuknya setelah pernikahan mereka. Tempat yang perlahan menjadi salah satu bagian favoritnya di kastil. Tetapi pria itu ternyata membuat yang kedua. Juga khusus untuknya. “Kapan kau menyiapkannya?” tanyanya. “Aku tidak melihat tanda-tandanya

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Kejutan dari Duke

    Alize menatap wanita di hadapannya selama beberapa detik. Setelah semua yang terjadi selama beberapa bulan terakhir, ia sama sekali tidak menyangka Gwen akan muncul di Kastil de Mably seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Namun Alize segera menyingkirkan pikirannya. Ia memberikan senyum sopan. “Tentu, Lady Gwen. Mari kita bicara di ruang kerja saya.” Gwen mengangguk. “Terima kasih, Yang Mulia.” Alize berbalik dan mulai berjalan. Greta segera mengikuti dari belakang, sementara pelayan yang mengantar Gwen menjaga jarak beberapa langkah. Begitu mereka tiba di ruang kerja, Alize mempersilakan Gwen duduk. “Greta, tolong bawakan teh untuk kami.” Greta yang selalu berdiri siaga bergerak. “Baik, Yang Mulia.” Si pelayan membungkuk lalu meninggalkan ruangan. Alize mengambil tempat di seberang Gwen. “Jadi, bagaimana kabarmu, Lady Gwen?” “Baik, Yang Mulia.” Jawaban itu terdengar terlalu singkat. Alize mengangkat alis sedikit. Gwen justru tersenyum tipis. “Saya m

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Yang Datang Tanpa Izin

    Fran menggeleng. “Tidak ada yang jelas, Yang Mulia.” Alize mengerutkan kening. “Tidak sama sekali?” “Tidak.” Fran memainkan ujung celemeknya. “Kadang-kadang saya melihat sesuatu. Tempat, orang, atau benda. Tetapi semuanya seperti potongan mimpi. Saya tidak tahu mana yang benar-benar pernah terjadi dan mana yang hanya ada di kepala saya.” Alize terdiam sejenak. Ia ingin mengatakan bahwa tidak apa-apa. Bahwa ia tidak perlu terburu-buru. Namun jauh di dalam hati, Alize sangat berharap Fran segera mengingat semuanya. Bukan hanya karena ia ingin memastikan identitas wanita itu. Tetapi karena semakin lama Fran berada di sisinya, semakin sulit bagi Alize menganggapnya sebagai orang asing. “Ada satu hal yang ingin kutanyakan.” Fran mengangkat wajah. “Silakan, Yang Mulia.” “Apakah kau pernah melihat keluargamu dalam ingatanmu?” Fran mengerutkan kening. “Tidak.” Alize masih mencoba. Nadanya hati-hati, karena ia tidak ingin terkesan mendesak. “Bahkan wajah ses

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Hari Yang Diminta

    Alize menghela napas pelan. Ucapan Greta memang lancang. Bahkan terlalu lancang untuk seorang pelayan kepada majikannya. Namun Alize tahu perempuan itu tidak bermaksud mencampuri urusan rumah tangganya. Greta hanya mengatakan apa yang selama ini mungkin juga dipikirkan banyak orang di kastil. Ia menatap bayangannya sendiri di cermin. Dua hari. Hanya dua hari yang ia minta kepada Corentine. Dan ia bahkan belum tahu apa yang akan dilakukannya dengan waktu sebanyak itu. “Sudahlah,” ujar Alize akhirnya. “Bantu aku bersiap, Greta.” Pelayannya segera mengangguk. “Baik, Yang Mulia.” Alize memilih gaun pagi yang sederhana. Rambutnya disanggul rapi, lalu ia meminta sarapan diantarkan ke kamar. Tidak lama kemudian, beberapa pelayan membawa nampan berisi roti hangat, buah, telur, dan teh. Setelah pintu kembali tertutup, Alize duduk seorang diri di meja kecil dekat jendela. Ia mengambil garpu. Namun pikirannya masih tertinggal di tempat tidur semalam. Pada percakapannya de

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Terlalu Menahan Diri

    “Lord Courcy?” Nama itu terdengar begitu asing di telinga Alize hingga ia membutuhkan beberapa detik untuk menyadari siapa yang sedang dibicarakan. Lord Courcy. Cedric. Ia bahkan sudah berminggu-minggu tidak memikirkan pria itu. Alize menurunkan pandangan. Jemarinya bergerak pelan di atas permukaan buku yang tergeletak di pangkuannya, seolah sentuhan kecil itu bisa membantunya menyusun pikirannya. Ia tidak tahu kapan tepatnya kepercayaan kepada Cedric mulai menghilang. Mungkin sedikit demi sedikit. Setiap sikap mencurigakan. Setiap jawaban yang tidak masuk akal. Setiap kali ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan darinya. Namun rasa percaya itu benar-benar padam pada hari Cedric mengikatnya dan menyekapnya di dalam lemari. Sejak saat itu, tidak ada lagi bagian dari dirinya yang menunggu pria itu kembali. Tidak ada kerinduan. Tidak ada harapan. Hanya pertanyaan tentang mengapa semua itu terjadi. “Bukan karena dia.” Alize akhirnya mengangkat wajah. Corentine

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Garis yang Tidak Terlihat

    “Kurasa mereka tidak akan berani.” Suara Corentine tenang sekali. Seolah apa pun yang baru saja terjadi di luar sana hanyalah gangguan kecil yang tidak layak mengusik ketenangan malam. Alize masih duduk di tepi tempat tidur, menatapnya. Ia menganggap Corentine terlalu menyepelekan keadaan.

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Bayangan yang Mengikuti

    Perjalanan pulang dari istana berlangsung tenang. Kereta kuda bergerak menyusuri jalan utama ibukota yang mulai lengang, lampu-lampu jalan berpendar redup di antara bayangan bangunan batu. Suara roda yang berderak terasa lebih pelan dari biasanya—atau mungkin itu hanya perasaan Alize saja. An

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Arus yang Diatur

    Musik berganti. Nada-nada yang lebih pelan, lebih halus, mengalun di seluruh ballroom. Langkah para penari ikut melambat, berputar dalam ritme yang lebih terkontrol. Lord Alastor Cleremont menghentikan langkahnya. “Senang bisa berdansa dengan Anda, Duchess,” ujarnya sambil membungkuk sopan. A

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Ditemukan

    “Mirelle hilang.” Kalimat itu menggantung di udara beberapa detik. Corentine tidak langsung menjawab. Tatapannya yang tadinya santai berubah. Ia menutup pintu di belakangnya, lalu melangkah masuk. “Sejak kapan?” tanyanya singkat. “Aku tidak tahu pasti.” Alize menggeleng. “Setelah makan sia

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status