Share

Bab 164

Penulis: Salwa Maulidya
last update Tanggal publikasi: 2026-08-08 12:51:24

Langkah taktis Marco membawa Gia keluar dari gedung mendadak terhenti ketika kaki salah satu pengawal yang sekarat secara tidak sengaja menyenggol kabel sensor tekanan di lorong belakang.

Suara benturan kecil itu disusul oleh denting kabel tembaga yang terputus dari soket utamanya di sudut pilar beton.

BIIIP! BIIIP! BIIIP!

Sirine alarm darurat membahana keras menggema di seluruh penjuru bangunan, memecah keheningan malam dengan raungan melengking yang memekakkan telinga.

Lampu indikator merah d
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Yes! Please, Daddy   Bab 165

    Setelah memastikan Gia bergerak menjauh ke area aman, Marco keluar dari balik perlindungan dan melepaskan tembakan presisi dari Glock miliknya, menembaki satu per satu manusia yang mencoba mengejar arah lari istrinya.Laras senjatanya memuntahkan timah panas tanpa jeda.Dua prajurit unit The Sword yang baru saja melintasi ambang lorong langsung roboh dengan tembakan tepat di dada dan dahi sebelum mereka sempat mengarahkan senapan ke arah jalur pelarian Gia.Perkelahian jarak dekat dan adu peluru berlangsung sangat sengit di tengah gaung sirine yang makin membingitkan telinga.Dentuman senjata otomatis memantul keras pada dinding-dinding beton yang bergetar.Rio berada beberapa meter di sisi kanan Marco, melepaskan tembakan beruntun menggunakan senapan mesin ringannya untuk memotong pergerakan tiga pengawal tersisa yang berusaha memutari pilar utama.Sebuah peluru musuh meluncur menyambar bahu kiri Marco; meski hanya goresan melesat, tembakan itu tetap menimbulkan luka robek yang mengu

  • Yes! Please, Daddy   Bab 164

    Langkah taktis Marco membawa Gia keluar dari gedung mendadak terhenti ketika kaki salah satu pengawal yang sekarat secara tidak sengaja menyenggol kabel sensor tekanan di lorong belakang.Suara benturan kecil itu disusul oleh denting kabel tembaga yang terputus dari soket utamanya di sudut pilar beton.BIIIP! BIIIP! BIIIP!Sirine alarm darurat membahana keras menggema di seluruh penjuru bangunan, memecah keheningan malam dengan raungan melengking yang memekakkan telinga.Lampu indikator merah di sepanjang koridor berkedip-kedip liar.Di saat yang sama, modul digital pada peledak C-4 yang terpampang di dinding lorong menyala terang, menampilkan angka digital yang bergerak turun; bom tersebut dikonfirmasi akan meledak dalam waktu lima menit lagi.Atmosphere berubah menjadi kepanikan murni, namun Marco tetap berusaha menjaga ketenangan dirinya demi keselamatan Gia.Otaknya menghitung setiap fraksi detik secara presisi.Cengkeraman tangannya pada tubuh Gia makin erat sewaktu dia menarik i

  • Yes! Please, Daddy   Bab 163

    Di luar pengetahuan Albert yang terus berjalan mengitari area depan gedung, Rio dan tim pemukul senyapnya bergerak cepat melumpuhkan beberapa pengawal outer perimeter satu per satu tanpa suara menggunakan pisau taktis dan peredam suara.Gerakan empat prajurit terlatih itu teramat presisi di balik kegelapan malam.Setiap bilah pisau menembus titik vital leher musuh sebelum mereka sempat menarik pelatuk atau menekan tombol alarm, menjatuhkan tubuh para penjaga ke atas tanah tanpa menimbulkan kegaduhan sedikit pun.Rio membungkuk di balik pilar penyangga luar, matanya menangkap untaian kabel tipis yang terhubung pada modul detonator elektronik di pangkal dinding.Pria tua itu memicingkan mata secara taktis, menganalisis alur jaringan kabel yang merambat ke seluruh sudut fondasi interior."Tuan Marco," bisik Rio segera memberikan laporan rahasia via earpiece kepada Marco bahwa seluruh area interior bangunan ternyata telah dipasangi ja

  • Yes! Please, Daddy   Bab 162

    Di dalam gedung kosong yang pengap, waktu yang terus berjalan membuat Albert semakin tertekan dan tantrum hebat karena Marco terkesan mengabaikan ancamannya dan tidak kunjung menampakkan diri di area terbuka.Albert berjalan bolak-balik sembari memaki-maki nama Rossi, sementara rasa frustrasinya mencapai puncak akibat taktik penundaan ini.Sepatu botnya menghantam lantai beton berdebu dengan kasar, menciptakan gema kaku yang memenuhi ruangan luas tersebut."Keparat kau, Marco Rossi! Berani-beraninya kau mengabaikanku!" teriak Albert histeris.Dia lalu mencengkeram rambutnya sendiri, memutar tubuhnya menghadap pintu kayu rapuh yang tetap tertutup rapat.Jarum jam tangan taktisnya sudah menunjukkan angka yang mendekati batas akhir, namun tidak ada tanda-tanda kehadiran konvoi militer klan Rossi di perimeter luar.Gia, yang masih terikat di kursi besi, memanfaatkan ketidakstabilan emosi musuhnya dengan melontarkan senyuman miring penuh ejekan.Sudut bibirnya terangkat tipis, menatap luru

  • Yes! Please, Daddy   Bab 161

    "Kau sangat pintar bersandiwara, Gia. Tapi, aku bukan pria yang semudah itu dibodohi olehmu!" gertak Albert dengan deru napas yang masih berat.Dia berusaha keras mengendalikan keraguan yang sempat membedah pertahanan pikirannya, lalu menyimpan kembali pistolnya ke dalam holster dan berbalik meninggalkan ruangan kosong itu dengan langkah menghentak kaku.Sementara itu, di menara Rossi, kepanikan dan amarah membakar atmosfer menara Rossi begitu Marco menemukan dapur dalam keadaan berantakan, berbau asap kimia, dan Gia telah lenyap tanpa jejak.Panci makaroni yang setengah matang masih berada di atas kompor, tetapi istrinya sudah tidak ada di sana.Hanya ada jejak gesekan sepatu boots dan sisa partikel gas bius yang mengendap di udara.Marco mengamuk luar biasa, membanting barang-barang di ruang kendali taktis saat menyadari sistem keamanan internal telah dibobol dan rekaman suara ancaman dari Albert masuk ke ponselnya.Sebuah monitor berukuran besar hancur berantakan dihantam cangkir b

  • Yes! Please, Daddy   Bab 160

    Gia tetap tenang seraya menatap Albert yang tampak tidak sabar ingin melihat Marco segera tiba di sana.Ketegangan di dalam ruangan itu merayap naik, namun Gia menolak memberikan kepuasan emosional pada penculiknya.Pikirannya tetap bekerja dingin di balik raut wajahnya yang tidak menampakkan ketakutan, menakar setiap reaksi psikologis dari pria tua di hadapannya.Albert mendengus kasar, lalu merogoh saku jasnya untuk mengambil ponsel taktis berenkripsi miliknya.Jemarinya menekan tombol perekam dengan sentakan penuh amarah. Albert kembali mengirim pesan suara pada Marco yang memberitahu bahwa waktunya sudah hampir habis."Tiga jam telah berlalu, Rossi! Dan istrimu yang sedang mengandung ini berada di ujung laras senjataku. Jika kau tidak menampakkan batang hidungmu di koordinat yang sudah kukirimkan dalam waktu sembilan jam ke depan, aku akan memastikan kau menerima mayatnya dalam potongan-potongan kecil!" teriak Albert ke arah mikrofon ponselnya sebelum memutus rekaman secara sepiha

  • Yes! Please, Daddy   Bab 3: Aturan sang Penguasa

    “Ini kamarmu. Juga kamarku,” ucap Marco datar sambil meletakkan kunci mobil di atas meja rias.Mereka sudah tiba di sebuah mansion milik Marco yang begitu luas dan megah, dengan penjagaan yang ketat. Semua anak buahnya menggenggam senapan di tangan masing-masing.Gia menatap sekeliling dengan napas

  • Yes! Please, Daddy   Bab 2: Penjara Mematikan

    “A-apa ini? Apakah kita akan langsung menikah malam ini juga?” tanya Gia saat mereka tiba di sebuah kapel tua yang hanya ada pendeta dan saksi saja.“Ya!” jawab Marco singkat.Gia sontak terdiam. Dia tidak pernah membayangkan pernikahan akan terasa sesak seperti ini. Tidak ada kain satin putih, tid

  • Yes! Please, Daddy   Bab 1: Dua Pilihan yang Menyakitkan

    “Siapa pun, tolong selamatkan aku.”Bau amis darah meresap ke dalam serat karpet Persia di ruang kerja itu, bercampur dengan aroma tajam mesiu yang menyengat paru-paru.Gia Valerine, wanita cantik berusia dua puluh empat tahun itu kini tengah meringkuk di bawah meja jati besar milik ayahnya sambil

  • Yes! Please, Daddy   Bab 7: Permainan Marco yang Mematikan

    Gia berjalan perlahan, sembari tangannya mencoba menutupi bagian depan tubuhnya secara insting. “Kenapa kau menyuruhku memakai ini? Ini memuakkan.”Marco menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang tampak predatoris. “Kau terlihat cantik dengan warna merah. Warna darah klanmu sangat cocok dengan kulitm

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status