LOGIN“A-apa ini? Apakah kita akan langsung menikah malam ini juga?” tanya Gia saat mereka tiba di sebuah kapel tua yang hanya ada pendeta dan saksi saja.
“Ya!” jawab Marco singkat.
Gia sontak terdiam. Dia tidak pernah membayangkan pernikahan akan terasa sesak seperti ini. Tidak ada kain satin putih, tidak ada bunga lili, dan tidak ada senyum bahagia. Yang ada hanyalah aroma lilin yang terbakar habis dan bau apak dari kapel tua milik keluarga Rossi.
Lantai marmer kapel itu terasa dingin saat kaki Gia diseret paksa oleh dua pria berjas hitam. Marco Rossi berjalan di depannya dengan langkah tegap, tidak sekali pun menoleh ke belakang untuk melihat bagaimana kondisi istrinya yang malang.
“Jalan yang benar,” sentak salah satu pengawal saat Gia tersandung.
Gia mendongak, lalu matanya yang sembab menatap punggung lebar Marco. “Aku tidak mau melakukan ini. Ini tidak sah secara hukum!”
Marco berhenti di depan altar, lalu berbalik perlahan. Matanya yang abu-abu menatap Gia dengan sorot yang bisa membekukan darah siapa pun. “Di kota ini, akulah hukumnya. Sekarang, berdiri di sampingku.”
Gia menggeleng dan mundur satu langkah. “Lepaskan aku, Marco. Kau sudah mengambil segalanya. Apa lagi yang kau mau?”
“Aku mau kau diam dan patuh,” jawab Marco datar lalu memberi isyarat pada anak buahnya.
Klik.
Dua moncong senjata api kini menempel tepat di pelipis Gia. Gia tersentak, dengan napas tertahan di tenggorokan. Dia lalu melihat seorang pendeta tua berdiri di balik altar dengan tangan yang gemetar hebat, sambil memegang kitab suci seolah itu adalah satu-satunya pelindung nyawanya.
“Mulai, Pendeta,” perintah Marco dingin.
“T-tapi, Tuan ... Nona ini terlihat tidak—”
“Aku tidak butuh pendapatmu. Mulai sekarang juga atau darahmu akan menodai lantai kapel ini sebelum doa selesai,” potong Marco tanpa ekspresi.
Pendeta itu langsung mengangguk patuh dan memulai pembacaan sumpah. Gia berdiri kaku di samping Marco. Meski dia sedang berada di kapel, namun dia merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang.
“Marco Rossi, apakah kau bersedia menerima Gia Valerius sebagai istrimu, untuk memilikinya dan menjaganya dalam hidup dan mati?”
“Ya,” jawab Marco singkat, tanpa ragu sedikit pun.
Pendeta itu beralih ke arah Gia, matanya menyiratkan permohonan maaf. “Gia Valerine, apakah kau bersedia menerima Marco Rossi sebagai suamimu, untuk mematuhi dan menghormatinya?”
Gia tampak bungkam. Bibirnya terkunci rapat sebab tidak sudi mengucapkan kata-kata itu kepada pria yang menghancurkan keluarganya.
Marco tiba-tiba mencengkeram rahang Gia, memaksanya menoleh. Cengkeramannya begitu kuat hingga Gia merasa tulang rahangnya akan retak.
“Apa kau mendadak bisu, hm?” tanya Marco dingin.
“Tidak,” bisik Gia dengan sisa keberaniannya.
Marco mendekatkan wajahnya dan menatap lekat wajah Gia dengan tatapan tajamnya.
“Dengar, Little Bird. Jika kau tidak mengucapkannya dalam tiga detik, aku akan memerintahkan orang-orangku untuk memburu sisa pelayan setia ayahmu dan membantai mereka satu per satu. Kau ingin menjadi penyebab kematian mereka juga?”
Air mata Gia jatuh perlahan. Pria ini benar-benar tidak punya hati karena memperlakukan nyawa manusia seperti angka di atas kertas. “Aku bersedia,” ucap Gia akhirnya, meski suaranya nyaris hilang.
“Lebih keras,” tuntut Marco.
“Aku bersedia!” teriak Gia dalam tangisnya.
Marco melepaskan cengkeramannya dengan kasar, lalu mengeluarkan sebuah cincin emas polos dari sakunya.
Dia lalu menarik tangan kanan Gia dan memaksa cincin itu masuk ke jari manis Gia yang mungil. Ukurannya sangat pas, seolah Marco sudah merencanakan penjara kecil ini sejak lama.
“Pasangkan padaku,” perintah Marco sambil menyodorkan cincin lain ke telapak tangan Gia.
Gia memegang cincin itu dengan tangan gemetar. Ia merasa seperti sedang menandatangani surat kematiannya sendiri. Saat cincin itu melingkar di jari Marco, Gia tahu tidak ada jalan kembali. Ia resmi menjadi milik iblis paling ditakuti di dunia bawah.
“Dengan ini, saya nyatakan kalian sebagai suami istri,” ucap pendeta itu dengan terburu-buru, lalu segera menutup kitabnya.
Marco berbalik menghadap Gia. Suasana kapel yang remang-remang membuat bayangan pria itu tampak semakin besar dan mengancam. Tidak ada tatapan penuh kasih yang biasanya ada dalam sebuah pernikahan. Yang ada hanyalah tatapan predator yang telah berhasil menangkap mangsanya.
“Sekarang, berikan ciumanmu,” gumam Marco.
Gia mencoba memalingkan wajah, namun tangan Marco sudah lebih dulu mencengkeram tengkuknya, dan menjambak pelan rambutnya hingga Gia terpaksa mendongak.
Marco menunduk dan mencium bibir Gia dengan kasar. Tidak ada kelembutan di sana. Ciuman itu adalah klaim, sebuah segel bahwa kepemilikan telah berpindah tangan.
Gia mencoba mendorong dada Marco, namun tubuh pria itu sekeras batu. Marco baru melepaskan tautan bibir mereka saat Gia mulai kehabisan napas dan bibirnya terasa perih.
Marco menatap Gia yang terengah-engah dengan tatapan gelap. Lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Gia, dan membisikkan kata-kata yang akan menghantui setiap malam gadis itu mulai sekarang.
“Jangan pernah bermimpi tentang pintu keluar, Gia,” bisik Marco dengan nada rendah yang mematikan.
“Sekarang, duniamu hanya seluas jangkauan tanganku. Kau tidak akan pergi ke mana pun tanpa izin dariku. Mengerti?!”
“Ya. Aku baik-baik saja.”Marco menganggukkan kepalanya dengan pelan sambil mencoba menghalau rasa pening sekaligus rasa nyeri yang mendadak menyerang perut kirinya.Seringai miring sempat mencoba kembali ke sudut bibirnya, seolah ingin meyakinkan wanita di hadapannya bahwa luka ini bukan masalah besar bagi seorang Rossi.Namun, Gia tidak memberikan pria itu kesempatan untuk bersandiwara. Gia langsung memarahinya karena tidak nurut padanya sejak awal.Dengan gerakan taktis yang cepat, Gia bangkit sedikit dan menekan bahu kokoh Marco agar kembali bersandar sepenuhnya pada tumpukan bantal hospital."Sudah kubilang diam, Marco! Kau benar-benar keras kepala!" amuk Gia dengan suara tertahan, sepasang matanya menyala penuh amarah domestik yang bercampur aduk dengan kepanikan.Dia kemudian memeriksa tepian perban kasa di perut suaminya, memastikan tidak ada rembesan darah baru yang lebih parah akibat aksi nekat mereka tadi."Sekarang, aku meminta agar kau tidur! Jangan lagi meracau apalagi s
Gia langsung menatap Marco dengan tatapan kesalnya, membalikkan tubuhnya dengan sentakan taktis hingga mereka kini berhadapan langsung di bawah kungkungan selimut yang sama.Jarak di antara wajah mereka begitu kikis, menyisakan ruang tipis yang dipenuhi oleh deru napas yang memburu. Gia mengangkat satu tangannya, menahan dada bidang Marco agar pria itu tidak merangsek lebih dekat."Berhentilah mengoceh, Rossi. Aku meminta agar kau diam dan sebaiknya tidur saja! Luka perutmu itu bukan dekorasi, itu bisa merembes lagi jika kau terus menguras energimu untuk bicara omong kosong!" sergah Gia dengan nada rendah yang ketus, mencoba menegakkan kembali benteng pertahanannya yang mulai goyah akibat dekapan posesif dari suaminya.Marco menggeleng perlahan di atas bantalnya. Manik mata abu-abunya mengunci wajah Gia dengan tatapan yang begitu pekat dan intim, memancarkan aura dominasi yang melunak namun tetap tak terbantahkan. "Aku tidak bisa tidur, Gia. Dan aku bilang kalau aku belum menciummu ma
Malam hari tiba, suasana kamar rawat menjadi sangat sunyi. Kegelapan pekat di luar jendela berpadu dengan remang lampu nakas yang temaram, menciptakan atmosfer yang mampat dan sarat akan ketegangan domestik yang tertahan.Setelah seharian penuh dengan drama yang dibuat oleh Marco, energi Gia telah terkuras habis. Tubuhnya yang lelah mendambakan istirahat, namun matanya tetap waspada menjaga perimeter sekeliling mereka.Gia bersiap tidur di sofa kecil yang terletak di sudut ruangan, menggelar selimut tipis dengan gerakan taktis yang efisien. Namun, pergerakannya terhenti seketika oleh suara bariton yang berat dari arah ranjang."Ke mana kau akan pergi, Gia?" tanya Marco dengan sepasang mata abu-abunya berkilat tajam di balik keremangan, memperhatikan setiap jengkal pergerakan istrinya. "Kemari. Tidur di sini."Gia lantas menoleh dan menatap suaminya dengan dahi berkerut. "Sofa ini cukup nyaman untukku, Marco. Lagipula, kau butuh ruang untuk memulihkan tubuhmu."Namun Marco menolak dan
Matahari pagi kembali merayap naik, membasahi kaca jendela kamar rawat VIP setelah badai semalam mereda. Di pagi harinya setelah bangun tidur, Gia yang baru keluar dari toilet langsung menghampiri dokter yang kebetulan baru saja membuka pintu kayu kamar untuk memeriksa kondisi Marco.Namun, kali ini bukan dokter bedah senior yang masuk, melainkan seorang dokter muda pengganti bernama Dr. Adrian. Dengan jubah putih bersih dan stetoskop yang mengalung rapi, dokter itu melangkah masuk membawa map laporan medis."Selamat pagi, Tuan Rossi, Nyonya Rossi," sapa dokter muda itu, dengan nada suara yang terdengar lembut, mengabaikan atmosfer mampat yang selalu membungkus sepasang penguasa dunia bawah tersebut.Dr. Adrian melangkah mendekati ranjang untuk memeriksa kondisi penglihatan dan refleks Marco. Dia mengeluarkan sebuah penlight kecil, mengarahkannya ke manik mata abu-abu Marco, lalu mengetuk lutut pria itu dengan palu refleks medis.Sepanjang proses pemeriksaan, Marco hanya diam membeku.
Hujan deras mengguyur luar rumah sakit, menciptakan atmosfer yang melankolis. Bulir-bulir air menghantam kaca jendela besar kamar rawat VIP dengan ritme yang konstan dan berat, mengaburkan pendar lampu-lampu kota di luar sana menjadi bayangan abu-abu yang redup.Di dalam ruangan, deru pendingin udara dan bunyi detak monitor jantung berbaur dengan suara gemercik hujan, menciptakan keheningan taktis yang mendalam pasca-insiden medis kecil beberapa saat lalu.Dokter jaga telah pergi setelah memberikan suntikan pereda nyeri tambahan pada selang infus Marco. Untungnya, jahitan operasi di perut kiri pria itu tidak sampai robek sepenuhnya, meski noda darah baru sempat merembes di tepian perban kasa yang baru diganti.Setelah insiden ciuman yang panas tadi yang berujung pada erangan kesakitan, Marco menjadi lebih tenang. Efek obat penenang ringan dari dokter mulai bekerja, menurunkan lonjakan adrenalin maskulinnya, namun tidak menidurkan kesadarannya.Pria itu menyandarkan punggung tegapnya p
Gia menelan ludahnya seraya menatap wajah Marco yang sedang menuntut jawaban darinya. Jarak yang teramat kikis ini membuat Gia bisa merasakan embusan napas hangat Marco yang berbau maskulin alami, mengusik seluruh pertahanan taktis yang selama ini dia bangun.Tatapan abu-abu suaminya begitu tajam, menembus langsung ke ulu hatinya, menguliti setiap jengkal gengsi Valerius yang tersisa.Gia membuang muka dengan sentakan kecil pada lehernya dan bilang kalau Marco terlalu berlebihan. "Kau terlalu percaya diri, Rossi. Berada di bawah pengaruh obat bius sepertinya membuat otak taktismu bergeser menjadi penuh fantasi."Marco terkekeh pelan. Suara tawa rendah itu bergetar di dalam dadanya, menciptakan sensasi menggelitik yang aneh di permukaan kulit dada Gia yang bersentuhan langsung dengannya."Kebohongan yang buruk, Mia Luna," bisik Marco, sebelum akhirnya membiarkan Gia menahan beban tubuhnya saat pria itu mencoba menegakkan punggung dengan ringisan samar.Dengan susah payah dan sisa tenag
Kata-kata Marco setengah jam yang lalu yang sarat akan intimidasi berbalut gairah itu terus terngiang dalam benak Gia, hingga akhirnya terputus seketika oleh bunyi ketukan tiga kali di daun pintu.Suasana tegang di kamar utama berarsitektur gotik itu mendadak pecah ketika ketukan pelan di pintu men
Gia mencoba menahan diri agar tidak memberontak dari rangkulan posesif Marco di depan gerbang mansion besar itu. Sentuhan tangan suaminya terasa seperti belenggu besi, namun dia tahu setiap pasang mata di tempat asing ini sedang menguliti mereka.Sambil terus berjalan beriringan memasuki aula utama
Kebisingan baling-baling helikopter perlahan mereda, menyisakan kesunyian mencekam yang merayap dari rimbunnya pepohonan di sekitar area pendaratan.Setelah menempuh penerbangan lintas batas yang melelahkan dan menegangkan, helikopter mereka akhirnya mendarat di sebuah wilayah luar negeri yang teri
Gia menatap Marco dengan binar mata yang dipenuhi ketidakpercayaan yang amat sangat. Cengkeramannya pada selimut sutra semakin mengerat hingga buku-buku jarinya memutih, mencoba mencari pegangan di tengah kenyataan yang mendadak jungkir balik.Dia menggelengkan kepala perlahan, menolak runtuh begit







