Home / Romansa / Yes! Please, Daddy / Bab 2: Penjara Mematikan

Share

Bab 2: Penjara Mematikan

last update publish date: 2026-04-23 12:52:26

“A-apa ini? Apakah kita akan langsung menikah malam ini juga?” tanya Gia saat mereka tiba di sebuah kapel tua yang hanya ada pendeta dan saksi saja.

“Ya!” jawab Marco singkat.

Gia sontak terdiam. Dia tidak pernah membayangkan pernikahan akan terasa sesak seperti ini. Tidak ada kain satin putih, tidak ada bunga lili, dan tidak ada senyum bahagia. Yang ada hanyalah aroma lilin yang terbakar habis dan bau apak dari kapel tua milik keluarga Rossi.

Lantai marmer kapel itu terasa dingin saat kaki Gia diseret paksa oleh dua pria berjas hitam. Marco Rossi berjalan di depannya dengan langkah tegap, tidak sekali pun menoleh ke belakang untuk melihat bagaimana kondisi istrinya yang malang.

“Jalan yang benar,” sentak salah satu pengawal saat Gia tersandung.

Gia mendongak, lalu matanya yang sembab menatap punggung lebar Marco. “Aku tidak mau melakukan ini. Ini tidak sah secara hukum!”

Marco berhenti di depan altar, lalu berbalik perlahan. Matanya yang abu-abu menatap Gia dengan sorot yang bisa membekukan darah siapa pun. “Di kota ini, akulah hukumnya. Sekarang, berdiri di sampingku.”

Gia menggeleng dan mundur satu langkah. “Lepaskan aku, Marco. Kau sudah mengambil segalanya. Apa lagi yang kau mau?”

“Aku mau kau diam dan patuh,” jawab Marco datar lalu memberi isyarat pada anak buahnya.

Klik.

Dua moncong senjata api kini menempel tepat di pelipis Gia. Gia tersentak, dengan napas tertahan di tenggorokan. Dia lalu melihat seorang pendeta tua berdiri di balik altar dengan tangan yang gemetar hebat, sambil memegang kitab suci seolah itu adalah satu-satunya pelindung nyawanya.

“Mulai, Pendeta,” perintah Marco dingin.

“T-tapi, Tuan ... Nona ini terlihat tidak—”

“Aku tidak butuh pendapatmu. Mulai sekarang juga atau darahmu akan menodai lantai kapel ini sebelum doa selesai,” potong Marco tanpa ekspresi.

Pendeta itu langsung mengangguk patuh dan memulai pembacaan sumpah. Gia berdiri kaku di samping Marco. Meski dia sedang berada di kapel, namun dia merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang.

“Marco Rossi, apakah kau bersedia menerima Gia Valerius sebagai istrimu, untuk memilikinya dan menjaganya dalam hidup dan mati?”

“Ya,” jawab Marco singkat, tanpa ragu sedikit pun.

Pendeta itu beralih ke arah Gia, matanya menyiratkan permohonan maaf. “Gia Valerine, apakah kau bersedia menerima Marco Rossi sebagai suamimu, untuk mematuhi dan menghormatinya?”

Gia tampak bungkam. Bibirnya terkunci rapat sebab tidak sudi mengucapkan kata-kata itu kepada pria yang menghancurkan keluarganya.

Marco tiba-tiba mencengkeram rahang Gia, memaksanya menoleh. Cengkeramannya begitu kuat hingga Gia merasa tulang rahangnya akan retak.

“Apa kau mendadak bisu, hm?” tanya Marco dingin.

“Tidak,” bisik Gia dengan sisa keberaniannya.

Marco mendekatkan wajahnya dan menatap lekat wajah Gia dengan tatapan tajamnya.

“Dengar, Little Bird. Jika kau tidak mengucapkannya dalam tiga detik, aku akan memerintahkan orang-orangku untuk memburu sisa pelayan setia ayahmu dan membantai mereka satu per satu. Kau ingin menjadi penyebab kematian mereka juga?”

Air mata Gia jatuh perlahan. Pria ini benar-benar tidak punya hati karena memperlakukan nyawa manusia seperti angka di atas kertas. “Aku bersedia,” ucap Gia akhirnya, meski suaranya nyaris hilang.

“Lebih keras,” tuntut Marco.

“Aku bersedia!” teriak Gia dalam tangisnya.

Marco melepaskan cengkeramannya dengan kasar, lalu mengeluarkan sebuah cincin emas polos dari sakunya.

Dia lalu menarik tangan kanan Gia dan memaksa cincin itu masuk ke jari manis Gia yang mungil. Ukurannya sangat pas, seolah Marco sudah merencanakan penjara kecil ini sejak lama.

“Pasangkan padaku,” perintah Marco sambil menyodorkan cincin lain ke telapak tangan Gia.

Gia memegang cincin itu dengan tangan gemetar. Ia merasa seperti sedang menandatangani surat kematiannya sendiri. Saat cincin itu melingkar di jari Marco, Gia tahu tidak ada jalan kembali. Ia resmi menjadi milik iblis paling ditakuti di dunia bawah.

“Dengan ini, saya nyatakan kalian sebagai suami istri,” ucap pendeta itu dengan terburu-buru, lalu segera menutup kitabnya.

Marco berbalik menghadap Gia. Suasana kapel yang remang-remang membuat bayangan pria itu tampak semakin besar dan mengancam. Tidak ada tatapan penuh kasih yang biasanya ada dalam sebuah pernikahan. Yang ada hanyalah tatapan predator yang telah berhasil menangkap mangsanya.

“Sekarang, berikan ciumanmu,” gumam Marco.

Gia mencoba memalingkan wajah, namun tangan Marco sudah lebih dulu mencengkeram tengkuknya, dan menjambak pelan rambutnya hingga Gia terpaksa mendongak.

Marco menunduk dan mencium bibir Gia dengan kasar. Tidak ada kelembutan di sana. Ciuman itu adalah klaim, sebuah segel bahwa kepemilikan telah berpindah tangan.

Gia mencoba mendorong dada Marco, namun tubuh pria itu sekeras batu. Marco baru melepaskan tautan bibir mereka saat Gia mulai kehabisan napas dan bibirnya terasa perih.

Marco menatap Gia yang terengah-engah dengan tatapan gelap. Lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Gia, dan membisikkan kata-kata yang akan menghantui setiap malam gadis itu mulai sekarang.

“Jangan pernah bermimpi tentang pintu keluar, Gia,” bisik Marco dengan nada rendah yang mematikan.

“Sekarang, duniamu hanya seluas jangkauan tanganku. Kau tidak akan pergi ke mana pun tanpa izin dariku. Mengerti?!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Yes! Please, Daddy   Bab 167

    "Nyonya Gia! Jangan terlalu dekat dengan tepi jembatan!" teriak Rio panik sembari berlari kencang mendekati posisi wanita itu."Lepaskan aku, Rio! Marco ada di bawah sana!" jerit Gia histeris membuang tangan pengawal yang mencoba menahannya."Struktur jembatan ini rapuh, Nyonya! Sangat berbahaya!" peringat Rio tegas sembari menjaga jarak aman di belakangnya.Setelah Albert roboh tak bernyawa di atas aspal, Gia tidak memedulikan kondisi fisiknya yang masih lemah dan langsung berlari menuju ujung jembatan yang pembatasnya telah hancur.Langkah kakinya yang gemetar tersandung sisa pecahan kaca dan puing beton, namun dia terus memaksa tubuhnya maju hingga ke bibir tebing."Marco! Jawab aku, Marco!" teriak Gia dengan suara serak menembus kegelapan malam yang pekat.Dari tepi tebing yang curam, Gia menatap lurus ke dasar sungai di mana mobil yang digunakan Marco sudah tenggelam sepenuhnya ke dalam gulungan air yang pekat dan deras.Hanya ada pusaran air kemerahan bercampur oli dan gelembung

  • Yes! Please, Daddy   Bab 166

    Pelarian Marco menggunakan mobil taktis kedua dari lokasi ledakan tidak berjalan mulus karena Albert rupanya berhasil lolos dari reruntuhan utama gedung bersama sisa pengawal intinya.Konvoi mobil musuh langsung meluncur kencang mengejar kendaraan Marco, mengikis jarak di sepanjang rute tebing yang sempit dan minim pencahayaan."Sialan! Albert masih hidup, Tuan!" teriak Rio dari balik kemudi sambil menatap cermin tengah yang memantulkan sorot lampu kendaraan musuh."Injak gasnya, Rio! Jangan biarkan mereka memotong rute depan!" balas Marco tegas sembari menekan luka di bahu kirinya yang terus mengucurkan darah.Albert yang disulut kegilaan murni berdiri dari sunroof kendaraannya, terus-menerus memaki dan mengumpat nama Marco dengan nada histeris yang membelah keheningan malam."Mati kau, Rossi! Aku akan mengirimmu ke neraka malam ini juga!" jerit Albert parau di tengah deru angin tebing yang kencang.Dari balik jendela, Albert tanpa henti mengirim tembakan gencar menggunakan senapan o

  • Yes! Please, Daddy   Bab 165

    Setelah memastikan Gia bergerak menjauh ke area aman, Marco keluar dari balik perlindungan dan melepaskan tembakan presisi dari Glock miliknya, menembaki satu per satu manusia yang mencoba mengejar arah lari istrinya.Laras senjatanya memuntahkan timah panas tanpa jeda.Dua prajurit unit The Sword yang baru saja melintasi ambang lorong langsung roboh dengan tembakan tepat di dada dan dahi sebelum mereka sempat mengarahkan senapan ke arah jalur pelarian Gia.Perkelahian jarak dekat dan adu peluru berlangsung sangat sengit di tengah gaung sirine yang makin membingitkan telinga.Dentuman senjata otomatis memantul keras pada dinding-dinding beton yang bergetar.Rio berada beberapa meter di sisi kanan Marco, melepaskan tembakan beruntun menggunakan senapan mesin ringannya untuk memotong pergerakan tiga pengawal tersisa yang berusaha memutari pilar utama.Sebuah peluru musuh meluncur menyambar bahu kiri Marco; meski hanya goresan melesat, tembakan itu tetap menimbulkan luka robek yang mengu

  • Yes! Please, Daddy   Bab 164

    Langkah taktis Marco membawa Gia keluar dari gedung mendadak terhenti ketika kaki salah satu pengawal yang sekarat secara tidak sengaja menyenggol kabel sensor tekanan di lorong belakang.Suara benturan kecil itu disusul oleh denting kabel tembaga yang terputus dari soket utamanya di sudut pilar beton.BIIIP! BIIIP! BIIIP!Sirine alarm darurat membahana keras menggema di seluruh penjuru bangunan, memecah keheningan malam dengan raungan melengking yang memekakkan telinga.Lampu indikator merah di sepanjang koridor berkedip-kedip liar.Di saat yang sama, modul digital pada peledak C-4 yang terpampang di dinding lorong menyala terang, menampilkan angka digital yang bergerak turun; bom tersebut dikonfirmasi akan meledak dalam waktu lima menit lagi.Atmosphere berubah menjadi kepanikan murni, namun Marco tetap berusaha menjaga ketenangan dirinya demi keselamatan Gia.Otaknya menghitung setiap fraksi detik secara presisi.Cengkeraman tangannya pada tubuh Gia makin erat sewaktu dia menarik i

  • Yes! Please, Daddy   Bab 163

    Di luar pengetahuan Albert yang terus berjalan mengitari area depan gedung, Rio dan tim pemukul senyapnya bergerak cepat melumpuhkan beberapa pengawal outer perimeter satu per satu tanpa suara menggunakan pisau taktis dan peredam suara.Gerakan empat prajurit terlatih itu teramat presisi di balik kegelapan malam.Setiap bilah pisau menembus titik vital leher musuh sebelum mereka sempat menarik pelatuk atau menekan tombol alarm, menjatuhkan tubuh para penjaga ke atas tanah tanpa menimbulkan kegaduhan sedikit pun.Rio membungkuk di balik pilar penyangga luar, matanya menangkap untaian kabel tipis yang terhubung pada modul detonator elektronik di pangkal dinding.Pria tua itu memicingkan mata secara taktis, menganalisis alur jaringan kabel yang merambat ke seluruh sudut fondasi interior."Tuan Marco," bisik Rio segera memberikan laporan rahasia via earpiece kepada Marco bahwa seluruh area interior bangunan ternyata telah dipasangi ja

  • Yes! Please, Daddy   Bab 162

    Di dalam gedung kosong yang pengap, waktu yang terus berjalan membuat Albert semakin tertekan dan tantrum hebat karena Marco terkesan mengabaikan ancamannya dan tidak kunjung menampakkan diri di area terbuka.Albert berjalan bolak-balik sembari memaki-maki nama Rossi, sementara rasa frustrasinya mencapai puncak akibat taktik penundaan ini.Sepatu botnya menghantam lantai beton berdebu dengan kasar, menciptakan gema kaku yang memenuhi ruangan luas tersebut."Keparat kau, Marco Rossi! Berani-beraninya kau mengabaikanku!" teriak Albert histeris.Dia lalu mencengkeram rambutnya sendiri, memutar tubuhnya menghadap pintu kayu rapuh yang tetap tertutup rapat.Jarum jam tangan taktisnya sudah menunjukkan angka yang mendekati batas akhir, namun tidak ada tanda-tanda kehadiran konvoi militer klan Rossi di perimeter luar.Gia, yang masih terikat di kursi besi, memanfaatkan ketidakstabilan emosi musuhnya dengan melontarkan senyuman miring penuh ejekan.Sudut bibirnya terangkat tipis, menatap luru

  • Yes! Please, Daddy   Bab 7: Permainan Marco yang Mematikan

    Gia berjalan perlahan, sembari tangannya mencoba menutupi bagian depan tubuhnya secara insting. “Kenapa kau menyuruhku memakai ini? Ini memuakkan.”Marco menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang tampak predatoris. “Kau terlihat cantik dengan warna merah. Warna darah klanmu sangat cocok dengan kulitm

  • Yes! Please, Daddy   Bab 6: Perintah Mutlak sang Penguasa

    Tok tok!Di malam berikutnya, dengan kaki yang masih berdenyut nyeri akibat luka kemarin malam, Gia dipaksa untuk membuka pintu kamar yang sejak tadi terketuk dari depan.Pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok pria berjas rapi yang Gia kenali sebagai ajudan kepercayaan Marco.“Selamat malam, Non

  • Yes! Please, Daddy   Bab 5: Ancaman untuk si Kecil yang Pembangkang

    Marco membanting pintu kamar utama hingga berdentum, lalu melemparkan Gia ke atas sofa kulit panjang di sudut ruangan.“Duduk di sana. Jangan bergerak sesentimeter pun,” perintah Marco dingin.Gia lantas meringkuk sambil memegang pergelangan kakinya yang basah oleh darah merah pekat. “Sakit, Marco.

  • Yes! Please, Daddy   Bab 4: Eksekusi di Depan Mata Gia

    “Kau ingin mati, hah?” pekik Marco memarahi anak buahnya yang sudah menggedor pintu kamarnya itu.“Ma-maafkan saya, Tuan. Tapi, ada masalah darurat yang harus Anda tahu! Ada pengkhianat yang membocorkan rahasia penyusupan barang malam ini, sehingga kapal kita tidak bisa jalan!”“Keparat!” Marco lan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status