Share

Bab 169

last update publish date: 2026-08-12 16:17:28

"Nyonya Gia, Anda harus tetap bertahan! Pikirkan calon penerus klan Rossi di dalam kandungan Anda!" seru Rio tegas.

"Bagaimana aku bisa bertahan, Rio?! Suamiku ada di dasar sungai itu!" balaskan Gia dengan suara serak dan air mata yang terus mengalir.

"Tuan Marco bukan pria yang mudah mati oleh arus air, Nyonya! Percayalah pada suamimu!" pangkas Rio mencengkeram bahu Gia untuk memberi kekuatan.

Di tengah kegelapan malam yang kian larut dan keputusasaan yang mulai menguasai Gia, Rio berdiri koko
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Yes! Please, Daddy   Bab 169

    "Nyonya Gia, Anda harus tetap bertahan! Pikirkan calon penerus klan Rossi di dalam kandungan Anda!" seru Rio tegas."Bagaimana aku bisa bertahan, Rio?! Suamiku ada di dasar sungai itu!" balaskan Gia dengan suara serak dan air mata yang terus mengalir."Tuan Marco bukan pria yang mudah mati oleh arus air, Nyonya! Percayalah pada suamimu!" pangkas Rio mencengkeram bahu Gia untuk memberi kekuatan.Di tengah kegelapan malam yang kian larut dan keputusasaan yang mulai menguasai Gia, Rio berdiri kokoh di samping istri tuannya untuk memberikan dukungan moral di tengah situasi yang kritis.Rintik gerimis mulai membasahi permukaan jembatan beton yang hancur, namun Rio tidak bergeming sedikit pun dari posisinya melindung Gia."Saya kenal Tuan Marco sejak dia masih kecil, Nyonya Gia. Dia sudah melewatinya berkali-kali!" bisik Rio dengan nada suara berat nan mantap."Tapi malam ini berbeda, Rio! Mobilnya tenggelam dan kabinnya kosong!" potong Gia dengan napas yang memburu sesak."Justru karena ka

  • Yes! Please, Daddy   Bab 168

    "Nyonya Gia, angin malam di tepi jembatan ini semakin dingin dan buruk untuk kondisi Anda!" panggil Rio dengan nada cemas sembari mendekatkan mantel tebal ke bahu Gia."Bawa jauh-jauh mantel itu, Rio! Aku tidak butuh kain hangat!" tebas Gia tanpa menoleh sedikit pun dari tepi tebing."Tolong pikirkan kesehatan Anda dan calon anak Tuan Marco, Nyonya!" bentak Rio pelan dengan mata berkaca-kaca menatap ketegaran istrinya tuannya.Waktu terus bergulir hingga malam semakin pekat dan gelap, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Marco dari dasar sungai yang terus disisir oleh lampu sorot tim penyelamat.Cahaya putih dari helikopter SAR membelah kegelapan air, tetapi yang terlihat hanyalah pusaran arus yang mengerikan tanpa ada puing mobil yang muncul."Pusaran di sektor tengah terlalu kuat! Kami belum bisa menurunkan penyelam ke dasar sungai!" teriak komandan tim SAR melalui megaphone dari seberang tebing."Cari sampai ketemu! Gunakan semua jangkar dan jala taktis yang kalian miliki!" perin

  • Yes! Please, Daddy   Bab 167

    "Nyonya Gia! Jangan terlalu dekat dengan tepi jembatan!" teriak Rio panik sembari berlari kencang mendekati posisi wanita itu."Lepaskan aku, Rio! Marco ada di bawah sana!" jerit Gia histeris membuang tangan pengawal yang mencoba menahannya."Struktur jembatan ini rapuh, Nyonya! Sangat berbahaya!" peringat Rio tegas sembari menjaga jarak aman di belakangnya.Setelah Albert roboh tak bernyawa di atas aspal, Gia tidak memedulikan kondisi fisiknya yang masih lemah dan langsung berlari menuju ujung jembatan yang pembatasnya telah hancur.Langkah kakinya yang gemetar tersandung sisa pecahan kaca dan puing beton, namun dia terus memaksa tubuhnya maju hingga ke bibir tebing."Marco! Jawab aku, Marco!" teriak Gia dengan suara serak menembus kegelapan malam yang pekat.Dari tepi tebing yang curam, Gia menatap lurus ke dasar sungai di mana mobil yang digunakan Marco sudah tenggelam sepenuhnya ke dalam gulungan air yang pekat dan deras.Hanya ada pusaran air kemerahan bercampur oli dan gelembung

  • Yes! Please, Daddy   Bab 166

    Pelarian Marco menggunakan mobil taktis kedua dari lokasi ledakan tidak berjalan mulus karena Albert rupanya berhasil lolos dari reruntuhan utama gedung bersama sisa pengawal intinya.Konvoi mobil musuh langsung meluncur kencang mengejar kendaraan Marco, mengikis jarak di sepanjang rute tebing yang sempit dan minim pencahayaan."Sialan! Albert masih hidup, Tuan!" teriak Rio dari balik kemudi sambil menatap cermin tengah yang memantulkan sorot lampu kendaraan musuh."Injak gasnya, Rio! Jangan biarkan mereka memotong rute depan!" balas Marco tegas sembari menekan luka di bahu kirinya yang terus mengucurkan darah.Albert yang disulut kegilaan murni berdiri dari sunroof kendaraannya, terus-menerus memaki dan mengumpat nama Marco dengan nada histeris yang membelah keheningan malam."Mati kau, Rossi! Aku akan mengirimmu ke neraka malam ini juga!" jerit Albert parau di tengah deru angin tebing yang kencang.Dari balik jendela, Albert tanpa henti mengirim tembakan gencar menggunakan senapan o

  • Yes! Please, Daddy   Bab 165

    Setelah memastikan Gia bergerak menjauh ke area aman, Marco keluar dari balik perlindungan dan melepaskan tembakan presisi dari Glock miliknya, menembaki satu per satu manusia yang mencoba mengejar arah lari istrinya.Laras senjatanya memuntahkan timah panas tanpa jeda.Dua prajurit unit The Sword yang baru saja melintasi ambang lorong langsung roboh dengan tembakan tepat di dada dan dahi sebelum mereka sempat mengarahkan senapan ke arah jalur pelarian Gia.Perkelahian jarak dekat dan adu peluru berlangsung sangat sengit di tengah gaung sirine yang makin membingitkan telinga.Dentuman senjata otomatis memantul keras pada dinding-dinding beton yang bergetar.Rio berada beberapa meter di sisi kanan Marco, melepaskan tembakan beruntun menggunakan senapan mesin ringannya untuk memotong pergerakan tiga pengawal tersisa yang berusaha memutari pilar utama.Sebuah peluru musuh meluncur menyambar bahu kiri Marco; meski hanya goresan melesat, tembakan itu tetap menimbulkan luka robek yang mengu

  • Yes! Please, Daddy   Bab 164

    Langkah taktis Marco membawa Gia keluar dari gedung mendadak terhenti ketika kaki salah satu pengawal yang sekarat secara tidak sengaja menyenggol kabel sensor tekanan di lorong belakang.Suara benturan kecil itu disusul oleh denting kabel tembaga yang terputus dari soket utamanya di sudut pilar beton.BIIIP! BIIIP! BIIIP!Sirine alarm darurat membahana keras menggema di seluruh penjuru bangunan, memecah keheningan malam dengan raungan melengking yang memekakkan telinga.Lampu indikator merah di sepanjang koridor berkedip-kedip liar.Di saat yang sama, modul digital pada peledak C-4 yang terpampang di dinding lorong menyala terang, menampilkan angka digital yang bergerak turun; bom tersebut dikonfirmasi akan meledak dalam waktu lima menit lagi.Atmosphere berubah menjadi kepanikan murni, namun Marco tetap berusaha menjaga ketenangan dirinya demi keselamatan Gia.Otaknya menghitung setiap fraksi detik secara presisi.Cengkeraman tangannya pada tubuh Gia makin erat sewaktu dia menarik i

  • Yes! Please, Daddy   Bab 7: Permainan Marco yang Mematikan

    Gia berjalan perlahan, sembari tangannya mencoba menutupi bagian depan tubuhnya secara insting. “Kenapa kau menyuruhku memakai ini? Ini memuakkan.”Marco menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang tampak predatoris. “Kau terlihat cantik dengan warna merah. Warna darah klanmu sangat cocok dengan kulitm

  • Yes! Please, Daddy   Bab 3: Aturan sang Penguasa

    “Ini kamarmu. Juga kamarku,” ucap Marco datar sambil meletakkan kunci mobil di atas meja rias.Mereka sudah tiba di sebuah mansion milik Marco yang begitu luas dan megah, dengan penjagaan yang ketat. Semua anak buahnya menggenggam senapan di tangan masing-masing.Gia menatap sekeliling dengan napas

  • Yes! Please, Daddy   Bab 2: Penjara Mematikan

    “A-apa ini? Apakah kita akan langsung menikah malam ini juga?” tanya Gia saat mereka tiba di sebuah kapel tua yang hanya ada pendeta dan saksi saja.“Ya!” jawab Marco singkat.Gia sontak terdiam. Dia tidak pernah membayangkan pernikahan akan terasa sesak seperti ini. Tidak ada kain satin putih, tid

  • Yes! Please, Daddy   Bab 1: Dua Pilihan yang Menyakitkan

    “Siapa pun, tolong selamatkan aku.”Bau amis darah meresap ke dalam serat karpet Persia di ruang kerja itu, bercampur dengan aroma tajam mesiu yang menyengat paru-paru.Gia Valerine, wanita cantik berusia dua puluh empat tahun itu kini tengah meringkuk di bawah meja jati besar milik ayahnya sambil

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status