FAZER LOGINGia mencoba menahan diri agar tidak memberontak dari rangkulan posesif Marco di depan gerbang mansion besar itu. Sentuhan tangan suaminya terasa seperti belenggu besi, namun dia tahu setiap pasang mata di tempat asing ini sedang menguliti mereka.Sambil terus berjalan beriringan memasuki aula utama yang megah, Marco memperdalam bisikannya dengan nada suara yang sangat tenang namun mengandung otoritas mutlak yang tidak bisa dibantah."Jangan pernah meremehkan tatapan orang-orang di ruangan ini nanti, Gia," bisik Marco, bibirnya hampir menyentuh daun telinga wanita itu. "Satu kedipan mata yang salah dari dirimu bisa menghancurkan skenario yang sudah kubangun."Gia melirik pilar-pilar marmer tinggi yang menopang atap aula, tempat beberapa pengawal tak dikenal berjaga dengan setelan formal. "Kau pikir aku seamatir itu? Aku tahu cara bersandiwara di depan para pembunuh.""Bagus. Karena nanti malam, saat pesta antar klan dimulai dan seluruh topeng kemewahan dipamerkan, kau harus melakukan t
Kebisingan baling-baling helikopter perlahan mereda, menyisakan kesunyian mencekam yang merayap dari rimbunnya pepohonan di sekitar area pendaratan.Setelah menempuh penerbangan lintas batas yang melelahkan dan menegangkan, helikopter mereka akhirnya mendarat di sebuah wilayah luar negeri yang terisolasi. Hawa dingin khas Eropa langsung menusuk kulit begitu pintu kabin terbuka, membawa aroma tanah basah dan lumut tua.Gia melangkah turun dengan memegangi gaunnya, menatap nanar pada pemandangan di hadapannya. Mereka tiba di sebuah mansion kuno berarsitektur gotik yang sangat besar, berdiri kokoh di tengah-tengah hutan kota yang lebat dan terletak jauh dari keramaian mana pun.Dinding batunya yang menghitam dimakan usia dipenuhi sulur-sulur tanaman kering, menciptakan kesan angker sekaligus megah. Tempat itu tampak seperti benteng pertahanan yang indah namun mematikan, dengan pengawal bersenjata klan Rossi yang sudah menyebar di antara pepohonan, berdiri kaku dengan senapan laras panjan
Gia menelan ludah, membiarkan kalimat Rio mengendap di kepalanya yang mulai berdenyut ngilu. Angin kencang dari baling-baling helikopter yang berputar semakin liar di atas helipad membuat percakapan mereka terdengar terputus-putus, namun setiap instruksi dari pria tua itu tertanam kuat di benaknya.Rio melanjutkan penjelasannya di bawah deru angin helipad yang kencang, memaparkan peran yang harus dimainkan Gia dalam misi berbahaya ini dengan raut wajah yang amat serius.Dia memosisikan tubuhnya di antara Gia dan para pengawal lain agar pergerakan bibirnya tidak terbaca oleh siapa pun."Tujuan kita adalah daratan Eropa, Nona. Kita akan mendarat di sana untuk menghadiri sebuah pesta besar antar klan mafia kelas atas," kata Rio, dan matanya terus menyisir sekeliling dengan tingkat kewaspadaan tertinggi."Pesta itu formal, megah, dan dijaga ketat oleh ratusan tentara bayaran dari berbagai kubu. Di dalam sana, Anda tidak boleh terlihat seperti istri seorang penguasa Rossi yang terhormat."
Deru angin yang dihasilkan oleh putaran baling-baling helikopter raksasa itu mengempaskan ujung gaun bepergian milik Gia, memaksa dia untuk memegangi kainnya agar tidak terbang tak terkendali.Suara bising mesin turbine memekakkan telinga, menciptakan atmosfer yang semakin memicu kepanikan di dalam dadanya. Beberapa meter di depannya, Marco berdiri tegak memunggungi angin, tampak sangat sibuk berkoordinasi dengan para petinggi klannya melalui telepon satelit hitam yang menempel di telinga kirinya.Ekspresi wajah suaminya begitu tegang, dengan rahang yang mengeras saat sesekali meneriakkan instruksi taktis ke seberang panggilan.Gia ditinggalkan berdiri termenung seorang diri, dikelilingi oleh belasan pengawal Rossi yang bersenjata laras panjang. Pikirannya carut-marut, terus berspekulasi mengenai ke mana helikopter besar di hadapannya ini akan membawa mereka pergi.Di tengah kebingungan Gia yang kian memuncak karena ketidakpastian tersebut, sebuah bayangan tinggi melangkah mendekat da
"Orang itu ingin kau membaca rekaman palsu tersebut, mengamuk, lalu melarikan diri dari mansion ini," ujar Marco sambil bangkit dari posisi miringnya, kini duduk bersandar pada kepala ranjang yang megah. "Dan saat kau berada di luar perlindunganku, dia akan langsung melenyapkanmu untuk selamanya."Gia menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan gemuruh di dadanya yang kian menyesakkan. "Jadi, benda itu hanyalah pemicu agar aku keluar dari sangkar emasmu?""Tepat sekali. Karena itulah aku ingin kau bekerja sama denganku untuk menjebak orang yang berada di balik konspirasi berdarah ini," kata Marco, matanya mengunci pandangan Gia dengan keseriusan yang mutlak. "Kita tidak bisa lagi hanya bertahan di dalam rumah ini sementara musuh terus menyusun bidak mereka di luar sana."Gia yang masih diliputi kebingungan menatap suaminya dengan penuh keraguan. Dia mengusap wajahnya yang terasa lelah akibat badai emosi yang bertubi-tubi sejak tengah malam tadi."Bagaimana caranya kita bisa menjebak
Gia menatap Marco dengan binar mata yang dipenuhi ketidakpercayaan yang amat sangat. Cengkeramannya pada selimut sutra semakin mengerat hingga buku-buku jarinya memutih, mencoba mencari pegangan di tengah kenyataan yang mendadak jungkir balik.Dia menggelengkan kepala perlahan, menolak runtuh begitu saja oleh untaian kalimat suaminya.“Kau berbohong,” bisik Gia dengan suara bergetar hebat, air matanya kini benar-benar mengambang di pelupis mata.“Jika kau bukan pembunuhnya, lalu mengapa kau diam saja selama ini? Mengapa kau membiarkan aku menuduhmu, mengutukmu, dan membencimu sebagai pembunuh Dimitri setiap detik dalam hidupku?!”Marco mengubah posisinya menjadi miring, menumpu kepalanya dengan satu tangan sambil menatap Gia tanpa riak emosi yang berlebihan.“Karena kebencianmu adalah perisai terbaikmu, Gia. Selama dunia luar mengira kau membenciku dan aku mengurungmu sebagai tawanan, musuh yang sebenarnya tidak akan menyentuhmu.”“Melindungiku?” Gia tertawa getir, suara tawa yang ter







