Home / Romansa / Yes! Please, Daddy / Bab 22: Rahasia Sang Predator

Share

Bab 22: Rahasia Sang Predator

last update publish date: 2026-05-06 12:11:08

“Jangan bercanda denganku, Martha. Kau ingin bilang Marco Rossi adalah pria suci yang menjauhi wanita?” tanya Gia dengan nada mengejek.

“Pria sepertinya? Dia memiliki segalanya. Uang, kuasa, dan wajah yang bisa menipu siapa saja. Tidak mungkin dia hidup seperti rahib di tengah kemewahan ini.”

Martha tetap pada posisinya, dengan raut wajah yang tenang tidak menunjukkan tanda-tanda kebohongan.

“Saya sudah melayani di rumah ini sejak Tuan Marco masih remaja, Nona. Saya melihat banyak wanita dari
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Yes! Please, Daddy   Bab 23: Terapi Belanja yang Membabi Buta

    Gia meletakkan cangkir teh yang sudah mendingin itu dengan gerakan kasar ke atas meja. Dia tidak butuh simpati dari Martha, apalagi teori-teori tentang betapa setianya Marco pada kehampaan hidupnya sendiri.Jika Marco ingin menjadikannya satu-satunya pengecualian, maka dia akan memastikan pengecualian itu menjadi beban yang paling menguras kantong pria itu.“Martha, siapkan pengawal dan mobil,” perintah Gia sambil berdiri, wajahnya kini menunjukkan tekad yang dingin. “Jika Marco bilang aku harus menikmati hartanya, maka aku akan melakukannya sampai dia menyesal telah memberikan kartu hitamnya padaku.”Martha tampak sedikit terkejut, namun dia segera membungkuk patuh. “Anda ingin pergi ke mana, Nona?”“Ke tempat di mana uang tidak memiliki arti. Distrik perbelanjaan Grand Galleria. Aku ingin melihat seberapa dalam lubang di rekening bank tuanmu itu,” jawab Gia sambil melangkah menuju kamarnya untuk berganti pakaian.Satu jam kemudian, Gia melangkah keluar dari sedan mewah berlapis baja

  • Yes! Please, Daddy   Bab 22: Rahasia Sang Predator

    “Jangan bercanda denganku, Martha. Kau ingin bilang Marco Rossi adalah pria suci yang menjauhi wanita?” tanya Gia dengan nada mengejek. “Pria sepertinya? Dia memiliki segalanya. Uang, kuasa, dan wajah yang bisa menipu siapa saja. Tidak mungkin dia hidup seperti rahib di tengah kemewahan ini.”Martha tetap pada posisinya, dengan raut wajah yang tenang tidak menunjukkan tanda-tanda kebohongan. “Saya sudah melayani di rumah ini sejak Tuan Marco masih remaja, Nona. Saya melihat banyak wanita dari berbagai klan mencoba mendekatinya, menawarkan tubuh dan aliansi mereka. Tidak ada satu pun yang berhasil melewati ambang pintu lantai atas. Bahkan Katty yang Anda lihat di pesta itu, dia hanyalah rekan bisnis yang haus perhatian. Tuan Marco tidak pernah memberinya lebih dari sekadar izin untuk bicara.”“Tapi kenapa?” Gia lalu bangkit dari sofa dan berjalan mondar-mandir dengan gelisah. “Seorang ketua mafia biasanya memiliki selir di setiap kota. Itu adalah simbol kejantanan bagi mereka. Jika

  • Yes! Please, Daddy   Bab 21: Dari Sudut Pandang Pelayan Senior

    Gia kini sedang meringkuk di sofa beludru ruang tengah yang luas, menatap kosong ke arah perapian yang padam. Langit-langit mansion yang tinggi seolah-olah siap meruntuhinya kapan saja.Di rumah semegah ini, dia merasa tidak lebih dari sekadar bayangan yang tersesat di lorong-lorong gelap. Tanpa Marco, rumah ini terasa hampa, namun kehampaan itu justru membawa jenis teror yang berbeda, sebuah kesunyian yang mencekik.“Sialan kau, Marco Rossi,” bisik Gia parau. “Kau mengurungku di sini seperti binatang peliharaan, sementara kau pergi ke luar kota tanpa penjelasan. Apa kau pikir aku bodoh? Aku tahu apa yang dilakukan pria sepertimu saat jauh dari jangkauan.”Dia memukul bantal sofa dengan kepalan tangan, meluapkan rasa frustrasi yang sudah di ujung kepala.“Pria menjijikkan. Di sini dia berpura-pura menjadi penguasa yang disiplin, tapi di luar sana? Aku berani bertaruh dia sedang dikelilingi wanita-wanita murahan yang rela melakukan apa saja demi uangnya. Mungkin sekarang dia sedang t

  • Yes! Please, Daddy   Bab 20: Siasat Sang Predator

    Gia menyeret langkahnya menuju gerbang utama dengan amarah yang mendidih di bawah permukaan kulit. Persetan dengan perintah untuk tetap di kamar.Dia tidak bisa lagi berdiam diri sementara nyawa orang-orang yang tersisa dipertaruhkan dalam permainan gelap suaminya.Di depan pintu besi yang dijaga ketat, dia menemukan kepala penjaga, pria bernama Viktor yang memiliki bekas luka memanjang di rahangnya.“Buka gerbangnya. Aku ingin bertemu dengan pengawal ayahku sekarang juga,” tuntut Gia dengan suara bergetar.Viktor tidak bergeming. Dia tetap berdiri tegak dengan tangan tertaut di belakang punggung, seraya menatap Gia seolah dia hanyalah gangguan kecil di pagi hari.“Anda tidak diizinkan meninggalkan area lobi, Nona. Kembali ke kamar adalah pilihan terbaik untuk keselamatan Anda.”“Aku tidak butuh nasihatmu! Di mana Rio? Di mana sisa pengawal klan Valerius?” Gia maju satu langkah, menatap mata dingin pria itu. “Penjaga di dalam bilang mereka ada di dermaga, tapi aku tahu kalian semua pa

  • Yes! Please, Daddy   Bab 19: Pencarian yang Sia-sia

    Gia melangkah cepat menyusuri lorong panjang mansion yang terasa semakin menyesakkan. Sepatu hak tingginya sengaja dia tanggalkan agar langkahnya tidak mengundang perhatian berlebih.Setiap kali berpapasan dengan penjaga berseragam hitam, dia hanya melemparkan tatapan datar, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang membakar dadanya. Tujuannya hanya satu: barak pengawal di sayap kiri bangunan.Begitu sampai di depan pintu kayu besar barak, Gia mendorongnya kuat-kuat. Kosong. Hanya ada barisan tempat tidur yang tertata rapi tanpa satu pun penghuni.Bau keringat dan tembakau yang biasanya memenuhi ruangan itu pun sudah hilang, digantikan aroma pembersih kimia yang tajam.“Sialan kau, Marco,” desis Gia sambil mengepalkan tangan.Dia berbalik dengan cepat, namun langkahnya terhenti oleh sosok penjaga bertubuh kekar yang berdiri tepat di ambang pintu. Pria itu tidak memakai lencana Valerius; dia adalah anak buah asli Rossi.“Nona, Anda dilarang berada di area ini. Tuan Marco memerintahkan A

  • Yes! Please, Daddy   Bab 18: Pengakuan Keputusasaan

    Gia mendengus kasar, lalu membuang muka dari tatapan tajam Marco. Rasa lelah yang teramat sangat menghimpit dadanya, bukan hanya karena kelelahan fisik, tetapi karena kenyataan pahit yang baru saja ia telan.“Kau menang, Marco. Puas?” tanya Gia dengan nada datar. “Aku sudah lelah memikirkan cara untuk kabur. Untuk apa? Kau sudah mengambil segalanya. Bahkan orang-orang yang kupercayai sekarang sudah memakai seragammu dan makan dari tanganmu.”Marco tidak segera menjawab. Ia menatap Gia selama beberapa detik, mengamati setiap inci wajah istrinya yang tampak layu. Sebuah kepuasan dingin terpancar dari sorot mata abu-abunya.Dia lalu melangkah maju, memangkas jarak hingga Gia bisa mencium aroma maskulin yang bercampur dengan bau wiski tipis dari tubuh pria itu.“Bagus. Akhirnya kau mulai menggunakan otakmu,” ucap Marco. Ia mengulurkan tangan, mengusap pipi Gia dengan ibu jarinya. Gerakannya terlihat lembut, namun tekanan yang ia berikan terasa posesif, seolah sedang menandai kulit yang me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status