ANMELDEN"Nyonya Gia! Jangan terlalu dekat dengan tepi jembatan!" teriak Rio panik sembari berlari kencang mendekati posisi wanita itu."Lepaskan aku, Rio! Marco ada di bawah sana!" jerit Gia histeris membuang tangan pengawal yang mencoba menahannya."Struktur jembatan ini rapuh, Nyonya! Sangat berbahaya!" peringat Rio tegas sembari menjaga jarak aman di belakangnya.Setelah Albert roboh tak bernyawa di atas aspal, Gia tidak memedulikan kondisi fisiknya yang masih lemah dan langsung berlari menuju ujung jembatan yang pembatasnya telah hancur.Langkah kakinya yang gemetar tersandung sisa pecahan kaca dan puing beton, namun dia terus memaksa tubuhnya maju hingga ke bibir tebing."Marco! Jawab aku, Marco!" teriak Gia dengan suara serak menembus kegelapan malam yang pekat.Dari tepi tebing yang curam, Gia menatap lurus ke dasar sungai di mana mobil yang digunakan Marco sudah tenggelam sepenuhnya ke dalam gulungan air yang pekat dan deras.Hanya ada pusaran air kemerahan bercampur oli dan gelembung
Pelarian Marco menggunakan mobil taktis kedua dari lokasi ledakan tidak berjalan mulus karena Albert rupanya berhasil lolos dari reruntuhan utama gedung bersama sisa pengawal intinya.Konvoi mobil musuh langsung meluncur kencang mengejar kendaraan Marco, mengikis jarak di sepanjang rute tebing yang sempit dan minim pencahayaan."Sialan! Albert masih hidup, Tuan!" teriak Rio dari balik kemudi sambil menatap cermin tengah yang memantulkan sorot lampu kendaraan musuh."Injak gasnya, Rio! Jangan biarkan mereka memotong rute depan!" balas Marco tegas sembari menekan luka di bahu kirinya yang terus mengucurkan darah.Albert yang disulut kegilaan murni berdiri dari sunroof kendaraannya, terus-menerus memaki dan mengumpat nama Marco dengan nada histeris yang membelah keheningan malam."Mati kau, Rossi! Aku akan mengirimmu ke neraka malam ini juga!" jerit Albert parau di tengah deru angin tebing yang kencang.Dari balik jendela, Albert tanpa henti mengirim tembakan gencar menggunakan senapan o
Setelah memastikan Gia bergerak menjauh ke area aman, Marco keluar dari balik perlindungan dan melepaskan tembakan presisi dari Glock miliknya, menembaki satu per satu manusia yang mencoba mengejar arah lari istrinya.Laras senjatanya memuntahkan timah panas tanpa jeda.Dua prajurit unit The Sword yang baru saja melintasi ambang lorong langsung roboh dengan tembakan tepat di dada dan dahi sebelum mereka sempat mengarahkan senapan ke arah jalur pelarian Gia.Perkelahian jarak dekat dan adu peluru berlangsung sangat sengit di tengah gaung sirine yang makin membingitkan telinga.Dentuman senjata otomatis memantul keras pada dinding-dinding beton yang bergetar.Rio berada beberapa meter di sisi kanan Marco, melepaskan tembakan beruntun menggunakan senapan mesin ringannya untuk memotong pergerakan tiga pengawal tersisa yang berusaha memutari pilar utama.Sebuah peluru musuh meluncur menyambar bahu kiri Marco; meski hanya goresan melesat, tembakan itu tetap menimbulkan luka robek yang mengu
Langkah taktis Marco membawa Gia keluar dari gedung mendadak terhenti ketika kaki salah satu pengawal yang sekarat secara tidak sengaja menyenggol kabel sensor tekanan di lorong belakang.Suara benturan kecil itu disusul oleh denting kabel tembaga yang terputus dari soket utamanya di sudut pilar beton.BIIIP! BIIIP! BIIIP!Sirine alarm darurat membahana keras menggema di seluruh penjuru bangunan, memecah keheningan malam dengan raungan melengking yang memekakkan telinga.Lampu indikator merah di sepanjang koridor berkedip-kedip liar.Di saat yang sama, modul digital pada peledak C-4 yang terpampang di dinding lorong menyala terang, menampilkan angka digital yang bergerak turun; bom tersebut dikonfirmasi akan meledak dalam waktu lima menit lagi.Atmosphere berubah menjadi kepanikan murni, namun Marco tetap berusaha menjaga ketenangan dirinya demi keselamatan Gia.Otaknya menghitung setiap fraksi detik secara presisi.Cengkeraman tangannya pada tubuh Gia makin erat sewaktu dia menarik i
Di luar pengetahuan Albert yang terus berjalan mengitari area depan gedung, Rio dan tim pemukul senyapnya bergerak cepat melumpuhkan beberapa pengawal outer perimeter satu per satu tanpa suara menggunakan pisau taktis dan peredam suara.Gerakan empat prajurit terlatih itu teramat presisi di balik kegelapan malam.Setiap bilah pisau menembus titik vital leher musuh sebelum mereka sempat menarik pelatuk atau menekan tombol alarm, menjatuhkan tubuh para penjaga ke atas tanah tanpa menimbulkan kegaduhan sedikit pun.Rio membungkuk di balik pilar penyangga luar, matanya menangkap untaian kabel tipis yang terhubung pada modul detonator elektronik di pangkal dinding.Pria tua itu memicingkan mata secara taktis, menganalisis alur jaringan kabel yang merambat ke seluruh sudut fondasi interior."Tuan Marco," bisik Rio segera memberikan laporan rahasia via earpiece kepada Marco bahwa seluruh area interior bangunan ternyata telah dipasangi ja
Di dalam gedung kosong yang pengap, waktu yang terus berjalan membuat Albert semakin tertekan dan tantrum hebat karena Marco terkesan mengabaikan ancamannya dan tidak kunjung menampakkan diri di area terbuka.Albert berjalan bolak-balik sembari memaki-maki nama Rossi, sementara rasa frustrasinya mencapai puncak akibat taktik penundaan ini.Sepatu botnya menghantam lantai beton berdebu dengan kasar, menciptakan gema kaku yang memenuhi ruangan luas tersebut."Keparat kau, Marco Rossi! Berani-beraninya kau mengabaikanku!" teriak Albert histeris.Dia lalu mencengkeram rambutnya sendiri, memutar tubuhnya menghadap pintu kayu rapuh yang tetap tertutup rapat.Jarum jam tangan taktisnya sudah menunjukkan angka yang mendekati batas akhir, namun tidak ada tanda-tanda kehadiran konvoi militer klan Rossi di perimeter luar.Gia, yang masih terikat di kursi besi, memanfaatkan ketidakstabilan emosi musuhnya dengan melontarkan senyuman miring penuh ejekan.Sudut bibirnya terangkat tipis, menatap luru
Gia berjalan perlahan, sembari tangannya mencoba menutupi bagian depan tubuhnya secara insting. “Kenapa kau menyuruhku memakai ini? Ini memuakkan.”Marco menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang tampak predatoris. “Kau terlihat cantik dengan warna merah. Warna darah klanmu sangat cocok dengan kulitm
Tok tok!Di malam berikutnya, dengan kaki yang masih berdenyut nyeri akibat luka kemarin malam, Gia dipaksa untuk membuka pintu kamar yang sejak tadi terketuk dari depan.Pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok pria berjas rapi yang Gia kenali sebagai ajudan kepercayaan Marco.“Selamat malam, Non
Marco membanting pintu kamar utama hingga berdentum, lalu melemparkan Gia ke atas sofa kulit panjang di sudut ruangan.“Duduk di sana. Jangan bergerak sesentimeter pun,” perintah Marco dingin.Gia lantas meringkuk sambil memegang pergelangan kakinya yang basah oleh darah merah pekat. “Sakit, Marco.
“Kau ingin mati, hah?” pekik Marco memarahi anak buahnya yang sudah menggedor pintu kamarnya itu.“Ma-maafkan saya, Tuan. Tapi, ada masalah darurat yang harus Anda tahu! Ada pengkhianat yang membocorkan rahasia penyusupan barang malam ini, sehingga kapal kita tidak bisa jalan!”“Keparat!” Marco lan







