Compartir

Bab 3 - Long Wei Kecil

Autor: VonnyV
last update Fecha de publicación: 2026-03-03 14:45:11

Suara gemuruh seperti guntur berkepanjangan menggetarkan tanah di bawah kaki mereka. Pepohonan di ujung hutan bergoyang liar, dan langit malam seolah menahan napas, gelap tanpa bintang.

Bai Shou segera berpaling. Tatapannya tajam menyapu kerumunan warga yang mulai panik.

“Aku harus bantu mereka kabur!” serunya cepat, lalu berlari ke arah kerumunan, mengatur arah pelarian dan memandu anak-anak serta orang tua keluar dari alun-alun desa.

Zhang Lei masih berdiri terpaku di tempatnya. Tatapannya tidak bergeming dari makhluk kecil yang kini meringkuk di tanah, tubuhnya gemetar, matanya memancarkan ketakutan yang nyata.

Dalam hiruk-pikuk warga desa, dalam gemuruh langkah berat yang semakin mendekat dari kejauhan… Zhang Lei justru teringat sesuatu.

Makhluk kecil yang disanderanya tiga hari lalu, demi menyelamatkan diri dari ribuan makhluk buas.

Seekor makhluk seukuran telapak tangannya, yang tubuhnya sedikit terbakar oleh korek gas milik Zhang Lei.

Saat itu, makhluk kecil itu menjerit pelan, tubuh logamnya mengeluarkan bau hangus dan luka gosong di bagian sayapnya.

Namun dalam kekacauan pelarian, Zhang Lei tak sempat membawa makhluk itu bersamanya. Ia melemparnya ke pasir, tak tahu apakah ia akan hidup atau mati.

Dan sekarang…

Makhluk yang ada di depannya itu—dengan luka bakar kecil di sayap kiri, tampak familiar.

Zhang Lei melangkah perlahan, mendekatinya. Sinar pelita dari rumah-rumah desa menyorotkan cahaya samar, cukup untuk melihat bekas luka terbakar di tubuhnya.

Luka itu… sama.

“Tak mungkin,” bisik Zhang Lei. “Itu kamu…?”

Tapi tak masuk akal. Saat ia meninggalkan makhluk itu, tubuhnya hanya seukuran telapak tangan. Bagaimana bisa dalam hitungan hari makhluk itu tumbuh secepat ini, jadi seukuran seekor anjing?

Makhluk itu hanya menatap Zhang Lei. Ia tak menggertak, tak menyerang. Bahkan seperti mengenali wajah Zhang Lei.

Zhang Lei menatap balik, hatinya diliputi dilema.

Teriakan para penjaga desa memecah lamunannya.

“Mereka datang! Makhluk raksasa itu datang!”

Bai Shou berteriak dari kejauhan. “Zhang Lei! Pergi sekarang!”

Tapi Zhang Lei tidak bergeming. Ia justru berbalik ke arah Bai Shou dan berseru:

“Tunggu! Kita bisa pakai makhluk ini lagi. Kita jadikan dia sandera—seperti yang kulakukan dulu!”

Bai Shou terdiam sejenak, menatap Zhang Lei dengan sorot mata penuh tekanan. “Tidak semudah itu, anak muda.”

“Tapi itu satu-satunya pilihan saat ini?” ucap Zhang lei tegas.

Bai Shou mendekat beberapa langkah, wajahnya pucat karena tegang. “Sudah ku katakan padamu kalau mereka tidak bisa dilukai oleh manusia biasa. Kami sudah perna mencoba dengan berbagai senjata bahkan dengan api. “

Zhang Lei membeku. “Tapi aku berhasil membakar sayapnya.”

“Apa?” Bai Shou menatap lurus ke mata Zhang Lei. “Maksudmu, kau berhasil membakar yang satu ini?”

Zhang Lei mengangguk perlahan.

“Ya. Sayapnya terbakar… sampai sekarang masih ada bekasnya.”

Bai Shou menarik napas dalam, menatap makhluk kecil itu sekali lagi.

“Ini… tidak mungkin. Kau bisa melukainya? Itu berarti… kau bukan manusia biasa.”

Zhang Lei mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”

Tapi sebelum Bai Shou bisa menjawab, tanah berguncang lebih keras. Dari balik hutan, terdengar raungan panjang—dalam, berat, dan menyayat.

Sosok besar mulai muncul di antara pohon-pohon… dan mereka tidak datang sendirian.

Zhang Lei mencengkeram telapak tangannya. Tubuhnya gemetar, bukan karena takut—tapi karena sesuatu yang mulai tumbuh dalam pikirannya.

Tanah retak oleh tekanan langkah makhluk-makhluk raksasa yang kini mulai menampakkan wujud mereka di balik pepohonan. Empat, lima… tujuh sosok besar dengan tubuh menyerupai singa logam, masing-masing setinggi seekor gajah dewasa, mata mereka menyala merah menyilaukan dalam kegelapan malam.

Desa itu nyaris berhenti bernapas.

Bai Shou menegang. “Mereka datang…”

Zhang Lei berdiri tegak di depan makhluk kecil yang masih meringkuk ketakutan. Para penjaga desa bersiap dengan tombak dan panah bambu, namun semua tahu… senjata itu takkan banyak berguna.

Salah satu makhluk raksasa mengaum. Suaranya mengguncang udara, membangkitkan ketakutan purba dalam hati semua manusia yang mendengarnya. Tapi anehnya, mereka tak langsung menyerang.

Mereka berhenti.

Mata mereka menyapu desa, lalu… tertuju pada makhluk kecil di dekat Zhang Lei.

Suasana menjadi sunyi seketika.

Makhluk-makhluk itu saling bertukar raungan pendek—bukan seperti ancaman, lebih mirip komunikasi. Perlahan, mereka bergerak maju, tapi tidak menyerbu. Mereka mendekat… hati-hati

Makhluk kecil itu mengeluarkan suara serak, nyaris seperti ratapan. Sayap-sayap tipis di punggungnya berkibar pelan, memancarkan cahaya kebiruan yang temaram. Sekujur tubuhnya ditutupi sisik-sisik halus berkilauan, seperti kristal yang membentuk pola-pola kuno.

Zhang Lei menatapnya lekat-lekat, lalu mengangkat pandangannya ke arah barisan makhluk raksasa yang kini berdiri diam, berjaga di tepi desa. Mata mereka bersinar lembut, dan angin malam membawa bisikan aneh—seperti suara nyanyian purba yang tertahan.

“Makhluk-makhluk ini… bukan binatang biasa,” gumam Zhang Lei pelan. “Mereka bukan dari dunia manusia…”

Bai Shou berdiri tak jauh darinya, wajahnya pucat namun tegas. “Kau tidak tahu apa yang sedang kau hadapi, anak muda. Mereka bukan hanya legenda. Mereka adalah penjaga dari dunia sebelum dunia kita—makhluk purba yang hidup dalam keseimbangan antara langit dan bumi.”

Zhang Lei menoleh cepat. “Penjaga?”

“Ya. Dulu, mereka disebut sebagai Long Wei—roh naga bersayap yang menjaga gerbang antara dunia manusia dan dunia roh. Tapi gerbang itu telah lama tertutup setelah peperangan ribuan tahun yang lalu.”

Zhang Lei menatap makhluk kecil itu dan terdiam.

Makhluk kecil itu merayap mendekatinya, lalu tanpa peringatan, menyentuhkan dahinya ke tangan Zhang Lei. Dalam sekejap, kepala Zhang Lei terasa panas, lalu sebuah aliran ingatan asing menyusup ke dalam benaknya—gambar-gambar kuno, suara-suara dari masa lampau, dan satu nama yang terus terulang:

“Qi Shen…”

Zhang Lei mengerutkan alis. “Qi Shen…?”

Bai Shou menoleh tajam. “Apa yang kau katakan barusan?”

“Qi Shen… Aku tak tahu. Itu suara di dalam kepalaku.”

Tiba-tiba angin berubah menjadi lebih dingin dan sedikit kencang. Long wei yang menjadi ancaman di malam Itu meraung seperti merasakan sesuatu.

Bai Shou terdiam, wajahnya tampak seperti baru mendengar kabar kematian. “Jangan sebut nama itu dengan sembarangan. Itu adalah nama sang Ratu. Ratu para Long Wei. Tapi… itu juga nama dari pemanggil terakhir mereka. Sang Pendobrak Gerbang… yang pernah menghancurkan separuh benua, seribu tahun yang lalu.”

Zhang Lei menatapnya dengan wajah kosong. “Kau bercanda, kan…?”

Bai Shou melanjutkan, suaranya kini lebih pelan, seakan menceritakan rahasia yang tak seharusnya didengar siapa pun. “Konon, ketika hadirnya long Wei baru, itu berarti ada perubahan besar yang akan terjadi.”

“Perubahan besar?” Zhang lei terbelalak.

“Ya, sebuah perang… atau mungkin kelahiran harapan baru. Anak itu—makhluk kecil yang kita sebut Long Wei—bukan sekadar anak. Ia adalah simbol kebangkitan. Dan kalau takdir memang bergerak lagi… maka dunia ini akan kembali terguncang.”

Zhang Lei menggenggam tangannya perlahan. “Apakah ini sebabnya… aku dibawa ke sini?”

Bai shou menghela nafas panjang, beliau tidak menjawab, tapi hanya menggeleng tidak pasti.

Namun dalam hati, Zhang Lei tahu—ini bukan lelucon. Dan entah bagaimana, darah dari masa lampau kini hidup kembali dalam dirinya.

Tapi siapa sebenarnya dirinya? Dan mengapa ia bisa melukai Long Wei?

Bersambung…

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Zhang Lei Dan Perang Tiga Alam   Bab 142 - Perpisahan Dengan Ao Bai

    Tujuh hari kemudian. Langit kota akhirnya kembali cerah. Meski jejak kekacauan masih terasa di mana-mana. Berita tentang kerusuhan massal memenuhi seluruh media. Namun tidak ada satu pun manusia yang benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Mereka hanya menganggap semuanya sebagai bencana misterius. Sementara itu— di sebuah pemakaman yang sunyi— Zhang Lei berdiri diam di depan batu nisan Wang Yan. Jin Yuan dan Yunxi berdiri di sampingnya. Angin pagi bertiup pelan melewati deretan pohon. Foto Wang Yan di batu nisan tampak tersenyum tipis. Berbeda jauh dengan hidupnya dulu. Tidak ada yang bicara cukup lama. Sampai akhirnya Zhang Lei perlahan meletakkan bunga putih di depan makam itu. “Terima kasih…” Suaranya sangat pel

  • Zhang Lei Dan Perang Tiga Alam   Bab 141 - Perpisahan Dengan Meihua

    Dan saat Yunxi sampai—ia langsung membelalakkan mata.Benda yang bercahaya dari saku Wang Yan itu adalah botol jiwa Meihua yang sebelumnya di bawa pergi oleh Wang Yan.Botol itu bergetar kuat.Cahaya putih lembut keluar dari dalamnya.Dan di tengah kekacauan itu—suara Meihua terdengar sangat jelas.“Yunxi…”Tubuh Yunxi langsung gemetar.“Meihua…?”Cahaya di dalam botol bergerak pelan.“Aku harus kembali ke tubuhku.”Yunxi langsung menggeleng cepat.“Tidak!”Air matanya langsung jatuh.“Kalau kau kembali… Baizuran akan menggunakanmu lagi!”Suara Meihua terdengar lembut.“Karena itu kau harus melemparkanku ke arahnya.”Yunxi membeku.Matanya melebar penuh keterkejutan.“Apa…?”“Jiwaku dan jasadku masih terhubung.”“Kalau aku kembali… walaupun hanya sesaat… aku bisa menghentikannya.”

  • Zhang Lei Dan Perang Tiga Alam   Bab 140 - Pengantin dari Kegelapan

    Kabut hitam perlahan menyebar di atas gedung tinggi itu. Angin malam bertiup dingin. Dan di tengah aura iblis yang menyesakkan— sosok itu berjalan keluar perlahan. Gaun pengantin merah kuno bergerak lembut tertiup angin. Rambut panjang hitamnya terurai indah. Kulitnya pucat halus. Dan wajah itu… wajah yang sangat dikenal Zhang Lei. Meihua. Tubuh Zhang Lei langsung membeku. Matanya melebar tidak percaya. “Mei…hua…” Suara Zhang Lei bahkan terdengar bergetar. Sosok gadis itu terlihat begitu hidup. Begitu nyata. Tidak ada luka. Tidak ada darah. Ia tampak sehat. Cantik. Sama seperti terakhir kali Zhang Lei melihatnya di dunia kuno— di hari kematiannya. Meihua berj

  • Zhang Lei Dan Perang Tiga Alam   Bab 139 - Portal Kegelapan

    “Aku tahu di mana Meihua.” Suara Zhang Lei terdengar tegas dan dingin. Semua langsung menoleh padanya. “Aura Baizuran… sekarang sangat jelas.” Tatapannya berubah tajam. “Dia berada di pusat kota.” “Dan dia sedang membuka portal itu.” Ao Bai langsung menyadari sesuatu. Wajahnya berubah serius. “Kalau portal dunia kuno benar-benar terbuka…” “…maka semuanya selesai.” Tanpa membuang waktu lagi, mereka segera berangkat. Mobil melaju membelah kota yang sudah berubah kacau. Langit malam kini sepenuhnya hitam. Kabut iblis menyelimuti gedung-gedung tinggi. Suara jeritan dan kekacauan terdengar di mana-mana. Manusia saling menyerang. Mobil terbakar di jalan. Dan di langit— retakan besar berbentuk lingkaran mulai

  • Zhang Lei Dan Perang Tiga Alam   Bab 138 - Kembalinya Zhang Lei Yang Lebih Kuat

    Ao Bai tetap melanjutkan proses pemindahan energi iblis itu.Meski Jin Yuan masih menatapnya penuh amarah.Aura hitam terus mengalir dari tubuh Raja Siluman Kelabang Batu menuju tubuh Zhang Lei.Semakin banyak energi masuk—semakin kuat getaran gelap memenuhi ruangan bawah tanah itu.“Sudah cukup!” bentak Jin Yuan.Ia langsung menarik Ao Bai menjauh.“Apa kau benar-benar ingin mengubahnya menjadi monster?!”Ao Bai menepis tangan Jin Yuan kasar.“Kalau kita berhenti sekarang, dia pasti mati!”“Dan kalau lanjut?!” balas Jin Yuan marah. “Kita bahkan tidak tahu apakah Zhang Lei masih bisa kembali!”Untuk sesaat—suasana menjadi kacau.Aura putih Jin Yuan mulai muncul.Sedangkan energi naga putih Ao Bai ikut bergetar.Yunxi yang melihat mereka akhirnya berteriak,“Hentikan!!”Ruangan langsung sunyi.Yunxi menatap Jin Yuan dengan

  • Zhang Lei Dan Perang Tiga Alam   Bab 137 - Kesalapahaman Antara Ao Bai Dan Jin Yuan

    Malam itu— umpan akhirnya dilepaskan. Ao Bai, yang masih menggunakan wujud Zhang Lei, berdiri sendirian di tengah kawasan industri tua yang telah lama kosong. Kabut hitam memenuhi udara. Hujan turun perlahan membasahi tanah retak di sekelilingnya. Sedangkan Jin Yuan bersembunyi di atas bangunan tua tak jauh dari sana. Tangannya menggenggam gagang pedang naga hijau yang tersisa sebagian sisi tajamnya. Aura putih samar mengalir di tubuhnya. Matanya terus mengawasi sekitar. Sunyi. Terlalu sunyi. Sampai akhirnya— angin tiba-tiba berhenti. Kabut hitam mulai bergerak pelan. Lalu suara seretan berat terdengar dari kejauhan. KREEKKK… KREEKKK… Tanah mulai retak sedikit demi sedikit. Ao Bai langsung menyipitkan mata. “Dia datang…” Dan beberapa detik kemudian— dua mata merah besar muncul

  • Zhang Lei Dan Perang Tiga Alam   Bab 93 - Portal Menuju Dataran Perang

    Setelah kepergian Zhang Lei, kobaran api semakin menjilat langit, memakan reruntuhan yang tersisa. Meihua terduduk di tanah yang berdebu dan penuh darah, tubuhnya berguncang oleh tangis yang tak terbendung. Air mata jatuh membasahi wajahnya, namun ia sama sekali tidak berusaha menghapusnya.

  • Zhang Lei Dan Perang Tiga Alam   Bab 91 - Pertarungan Melawan Jenderal Iblis

    Matahari siang menancapkan sinarnya tepat di atas langit, namun cahaya itu tak mampu mengusir kegelapan yang menyelimuti hati mereka. Debu beterbangan, terguncang oleh dentuman langkah dan benturan senjata. Udara panas bercampur bau darah dan besi, membuat setiap helaan napas terasa berat dan men

  • Zhang Lei Dan Perang Tiga Alam   Bab 89 - Hari Pernikahannya

    Udara pagi mulai menghangat. Cahaya matahari menembus kisi-kisi jendela kamar sederhana itu, mengenai wajah Zhang Lei yang terkantuk di kursi kayu. Sejak subuh ia tidak tidur, hanya duduk menunggu Jin Yuan yang terus mengobati pria misterius yang diselamatkannya.Bau ramuan herbal memenu

  • Zhang Lei Dan Perang Tiga Alam   Bab 75 - Penyerahan Tahta Klan Naga

    Pertanyaan itu menggantung di udara, menembus diamnya langit yang kelam pasca pertempuran. Nafas semua orang tertahan. “Zhang Lei… kakek ingin bertanya padamu… apa kau mau meneruskan tahta ini…?” Ao Bai menoleh dengan mata membelalak, seolah waktu berhenti sesaat di sekitarnya. Hatinya berdesir

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status