로그인หลังจากที่ผมประกาศถอนตัวออกจากวงการบันเทิง ทุกคนต่างก็ปรบมือว่าดี มีเพียงฉินอวิ๋น ดาวดวงใหม่ผู้มีพรสวรรค์ด้านการประพันธ์เพลง และเป็นแฟนหนุ่มในข่าวลือของแฟนสาวผมเท่านั้นที่กล่าวคัดค้าน เขาเสแสร้งตีหน้าซื่อต่อหน้านักข่าวมากมาย “ต่างก็เป็นเรื่องเข้าใจผิดกันทั้งนั้นครับ รุ่นพี่ฉือหย่วนเป็นอัจฉริยะที่วงการดนตรีนี้ไม่อาจขาดเขาไปได้ ผมหวังมากๆ เลยครับว่าเขาจะกลับเข้ามาในวงการแห่งเสียงเพลงนี้อีกครั้ง” ผมปิดโทรศัพท์ลง เมินเฉยต่อคำพูดของเขา ในชาติก่อน ผลงานของผมเหมือนกับเพลงที่เขาประพันธ์เองทุกกระเบียดนิ้ว ชาวเน็ตต่างเรียกผมว่าไอ้สุนัขขี้ก๊อบ สมควรตายไปให้หมดทั้งบ้าน ผมไม่พอใจและไม่อยากยอมรับ จึงเผยทุกขั้นตอนในกระบวนการการประพันธ์เพลงออกมา แต่ไม่ว่ายังไงก็ไม่อาจชนะเวลาที่ปล่อยผลงานออกมาได้ เพลงใหม่ของเขาปล่อยออกมาก่อนผมเพียงสิบนาที เป็นเพราะเวลาเพียงสิบนาทีนี้ ทำให้ชาวเน็ตต่างส่งพวงหรีดและแต่งรูปถ่ายตั้งหน้างานศพให้ผม ที่หนักไปยิ่งกว่านั้นคือบางคนถึงกับมาสาดสีใส่บ้านของผม แม้เป็นเวลาเพียงแค่ไม่กี่ปี แต่ความรุนแรงทางออนไลน์ที่กระทำมาอย่างต่อเนื่องทำให้ผมป่วยเป็นโรคซึมเศร้า พ่อแม่ของผมใช้เงินและทรัพย์สมบัติทั้งหมดเพื่อพิสูจน์ความจริงแทนผม แต่กลับโดนแฟนเพลงที่บ้าคลั่งวางเพลิงจนเสียชีวิต สุดท้าย ในวันที่ผลงานเพลงประพันธ์ของเขาได้รับรางวัล ก็เป็นวันที่ผมกระโดดลงมาจากตึกสูง แต่กลับไม่คาดคิดเลยว่า เมื่อผมลืมตาขึ้นอีกครั้ง ผมจะได้เกิดใหม่ในวันที่เพลงใหม่ประกาศพอดิบพอดี
더 보기“Sayang … lebih cepat. Ah!”
Suara manja penuh desahan, terdengar jelas dari balik pintu ruang tunggu mempelai pria. Setiap kata yang menembus telinga Sherin Scarlet seperti anak panah beracun yang membuatnya terdiam kaku di luar pintu ruangan tersebut.
Gaun pengantin putih gading yang semula begitu ia banggakan kini terasa seperti jerat yang melilit tubuhnya. Sesak dan .... menyakitkan.
Tetes demi tetes air mata jatuh tanpa ampun dari mata hijau zamrud Sherin. Ia menahan napas, menahan tangis yang mendesak keluar, menahan amarah yang mendidih di dadanya, bahkan saat jantungnya nyaris remuk oleh kenyataan yang tersaji di depan matanya.
Melalui celah pintu yang tidak tertutup rapat, Sherin bisa melihat bayangan dua tubuh yang berpadu dalam hasrat.
Salah satunya adalah adik tirinya─Paula Scarlet. Gadis itu setengah duduk di meja rias dengan menyingkap tinggi gaun bridesmaid-nya, memperlihatkan pahanya yang terbuka lebar.
Sementara sosok yang lainnya adalah seorang pria muda yang tengah asyik menghunjam tubuh adik tirinya itu dengan brutal dan tanpa dosa. Pria itu bukanlah orang asing, melainkan adalah Marco Langdon─pria yang, dalam hitungan menit, seharusnya berdiri di pelaminan bersama Sherin.
Menyaksikan pengkhianatan tersebut, dunia Sherin runtuh dalam sekejap. Seluruh rencana bahagia yang telah ia siapkan dengan penuh harapan dan cinta sudah tidak lagi berarti.
Desahan Paula menggema dari balik ruangan—seperti pisau yang mengiris hati Sherin berkali-kali. Ingin rasanya ia mendobrak pintu itu dan melabrak keduanya. Namun langkahnya tertahan ketika suara Paula terdengar di sela kenikmatan, “Marco, siapa yang lebih kamu cintai? Aku atau Kak Sherin?”
Sherin terdiam, napasnya tertahan. Meski ia tahu jawabannya, bagian dalam dirinya masih menggantungkan harapan kecil bahwa Marco mungkin menyadari kesalahannya. Sayangnya, harapan itu langsung musnah begitu jawaban Marco terdengar.
“Tentu saja kamu, Sayang. Kamu tahu kan, aku cuma terpaksa menikahinya. Sherin terlalu membosankan.”
Diiringi tawa kecil, pria itu melanjutkan, “Gadis sok suci itu ... siapa yang mau? Aku rasa dia bahkan tidak tahu bagaimana caranya memuaskan pria.”
Sherin membeku. Kata-kata itu menyakitinya lebih dalam daripada adegan tak senonoh yang baru saja disaksikannya.
‘Terpaksa menikahiku? Bukankah kamu sendiri yang mengejar dan bersimpuh menyatakan cinta lebih dulu?!’
Sherin tertawa getir dalam hati. Betapa pintarnya Marco memutarbalikkan kenyataan.
Siapa yang mengatakan Sherin tidak tahu cara memuaskan pria? Apa salahnya menjaga kehormatan hingga pernikahan?
Lagipula Marco selalu berkata bahwa ia siap untuk menunggu hingga malam pertama mereka. Tapi, sekarang …?
Sherin pun menyadari kebodohannya yang percaya dengan ucapan manis dan perhatian palsu pria itu selama ini.
“Kalau begitu, kenapa kamu masih mau menikahinya?” Suara manja yang sarat dengan kecemburuan dari Paula kembali terdengar.
“Karena dia masih berguna untukku, Sayang,” jawab Marco dengan santai.
Sherin mengerutkan keningnya. Namun, sebelum ia sempat memahami maksud ucapan tersebut, suara Marco kembali terdengar.
“Tenang saja. Begitu aku dapat hak pengelolaan penuh atas Clover, aku akan menceraikannya.”
Sherin terhenyak. ‘Ternyata dia ….’
Clover adalah galeri seni milik keluarga Scarlet. Lebih tepatnya, merupakan warisan peninggalan satu-satunya dari ibu kandung Sherin.
Berdasarkan surat wasiat dari mendiang sang ibu, Sherin baru mendapatkan hak penuh atas galeri jika ia sudah menikah. Tidak pernah terbesit sedikit pun di dalam benaknya jika Marco menginginkan harta berharganya itu.
‘Kamu ingin mengambil Clover dariku?’
Kemarahan menyala pada sepasang mata Sherin yang basah. Gadis itu mengepalkan kedua tangannya dengan erat, lalu kembali bergumam di dalam hati, ‘Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi, Marco!’
Sherin menghapus air mata dengan satu gerakan kasar, mendongakkan kepala dengan dagu terangkat, lalu berjalan meninggalkan tempat itu dengan tekad penuh untuk membalas pengkhianatan yang didapatkannya!
***
Detik-detik mengikrarkan janji suci pun tiba. Gaun putih Sherin menyapu lantai aula, diiringi alunan musik lembut yang terdengar sumbang di telinganya. Tamu-tamu berdiri dan memandang kagum saat ia melangkah anggun menuju ke pelaminan.
Marco menunggu dengan penuh senyuman seakan-akan tidak ada dosa yang telah dilakukannya. Ia menyambut Sherin dengan uluran tangan, tapi Sherin hanya melewatinya tanpa menyentuhnya.
Marco terheran-heran. Namun, demi menjaga citra baiknya, ia tetap menebar senyum palsu dan berlagak tenang. Ia mengira Sherin hanya gugup atau kelelahan saja.
Sang pemuka agama mulai membacakan janji suci pernikahan. Suasana di dalam aula menjadi hening dan khidmat.
Marco menjawab dengan lantang atas kesediaannya menerima Sherin sebagai istrinya. Suara tepuk tangan yang meriah pun menggema di dalam ruangan.
Namun, tepat giliran Sherin menjawab kesediaannya, gadis itu hanya diam. Kebingungan dan kegelisahan pun menyebar di seluruh aula.
Marco pun melirik calon istrinya itu dan berbisik, “Sayang, jangan bercanda. Semua orang sedang menunggumu.”
Sherin menoleh dan tersenyum sinis. Satu detik kemudian, suaranya menggema di seluruh aula. “Saya … TIDAK bersedia!”
Seisi aula bergemuruh hebat atas kejutan yang mereka dengar. Sementara, Marco terpaku selama beberapa detik, tetapi kemudian ia mencoba memastikan keadaan gadis itu dengan penuh perhatian. “Sayang, kamu kenapa? Apa kamu sakit atau─?”
“Cukup, Marco Langdon. Hentikan sandiwaramu.” Sherin menyela dengan dingin dan tajam.
Marco terperangah. Sebelum ia sempat merespon, Sherin melanjutkan, “Aku sudah tahu semua kepalsuanmu dan hal ‘baik’ apa yang sudah kamu lakukan dengan Paula di belakangku.”
Gema suara Sherin memantul di seluruh ruangan. Para tamu saling berpandangan dan berbisik. Beberapa bahkan sudah mulai merekam dengan ponsel mereka, tak ingin melewatkan momen tersebut.
Marco tersenyum kikuk. “Sayang─”
“Kalian berdua adalah pasangan paling hina dan menjijikkan,” Sherin kembali menyela, tidak memberikan kesempatan bagi pria itu untuk membela diri.
Wajah Marco memucat. Begitu juga dengan Paula yang berdiri tidak jauh dari pelaminan.
Namun, Paula tiba-tiba terisak dan berkata, “Kak Sherin, aku tahu selama ini kamu selalu marah kalau Kak Marco berbicara denganku. Padahal Kak Marco hanya ingin tahu segalanya tentangmu dariku. Tidak seharusnya kamu berpikiran buruk dan memfitnah kami seperti ini hanya karena rasa cemburumu.”
Ibu Paula─Penelope Smith ikut memperkeruh suasana dan menyudutkan Sherin. “Kenapa kamu selalu seperti ini, Sherin? Apa belum cukup kamu menindas Paula selama ini?”
Sherin tertawa getir. “Lucu. Selama ini siapa yang menindas siapa?”
Padahal Sherin-lah yang selalu mengalami penindasan dari Penelope dan putrinya. Semenjak ibu kandungnya tiada, tidak ada satu hari pun di mana Sherin menerima perlakuan yang pantas sebagai putri sulung keluarga Scarlet. Keduanya selalu memfitnahnya dan membuat dirinya dianggap sebagai gadis pemberontak yang sulit diatur.
“Sherin, cukup! Apa kamu ingin menghancurkan wajah keluarga kita baru kamu puas?” David Scarlet, ayah kandung Sherin membentak putri sulungnya itu dengan keras.
“Minta maaf pada Paula dan Marco,” lanjut David dengan wajah menahan malu atas kekacauan yang terjadi.
Sherin menatap ayahnya tak percaya. “Meminta maaf?” ulangnya, tersenyum pahit.
“Lihatlah siapa yang seharusnya meminta maaf di sini, Papa!” seru Sherin seraya menunjuk ke arah layar yang ada di belakangnya.
Rekaman adegan ‘mesra’ Paula dan Marco yang terjadi di ruang tunggu sebelumnya ditampilkan pada layar tersebut.
Tubuh David limbung dan terduduk syok di kursinya. Paula menangis histeris, sedangkan Penelope berusaha menghalangi adegan yang dipertontonkan, “Matikan layarnya!” jeritnya, panik.
Suasana menjadi sangat gaduh. Umpatan kasar dan komentar buruk pun meluncur dari bibir para tamu dan kedua keluarga besar.
Sherin pun tersenyum lebar dengan penuh kemenangan. Tanpa mempedulikan kekacauan yang diciptakannya, ia berjalan turun dari pelaminan.
Namun, Marco bergegas menarik lengannya. “Sherin, kita harus bicara!”
“Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Bajingan!” tukas Sherin seraya melempar buket bunga yang remuk di tangannya ke wajah Marco.
Pria itu pun melepaskan cekalannya karena buket bunga tersebut mengenai matanya. Tanpa membuang waktu, Sherin pun berlari, melemparkan wedding veil dan sepatu yang menghambat langkahnya.
‘Semua sudah berakhir,’ batin Sherin. Dadanya terasa lega sekaligus perih. Air mata pun berlinang deras di pipinya, tetapi ia tidak menyesali keputusan yang telah diambilnya.
Akan tetapi, Marco ternyata tidak membiarkannya pergi begitu saja. “Hentikan dia!” teriak pria itu, mengerahkan seluruh pengawalnya untuk membawanya kembali.
พ่อผมมาถึงประเทศไทยก่อนหน้านี้แล้ว เขาตั้งใจส่งคนมารับพวกเราที่สนามบินโดยเฉพาะ“ครั้งนี้ฉือหย่วนโดนคนหลอกเข้าจริง ๆ แล้ว พ่อไปสอบถามทุกวัดที่มีในประเทศเรา แต่ไม่เคยมีใครเคยได้ยินไสยเวทย์ชนิดนี้มาก่อน”“เป็นนักธุรกิจชาวเอเชียตะวันออกเฉียงใต้ที่มาคุยกับพ่อว่าเขารู้จักท่านอาจารย์ชาวไทยที่รู้เรื่องจำพวกนี้”“แต่รายละเอียดต่าง ๆ ต้องรอพบเขาในวันพรุ่งนี้ก่อนถึงจะรู้ได้”ผมพยักหน้าเงียบ ๆ และคิดในใจว่าถึงคราวนี้แล้วก็ไม่จำเป็นต้องเร่งรีบอะไรอีกเมื่อเรามาถึงโรงแรม ก็เป็นเวลาที่เหลืออีกไม่กี่ชั่วโมงก็จะรุ่งสางผมหยิบโทรศัพท์ขึ้นมาไถดูคลิปวิดีโอสั้นเป็นจังหวะพอดีกับที่บล็อกเกอร์ด้านงานเพลงที่ผมติดตามอยู่ได้โพสต์คลิปสั้นลง เมื่อผมกดเข้าไปดู ก็พบว่าเป็นคลิปเปิดโปงฉินอวิ๋นบล็อกเกอร์คนนั้นกล่าวว่า แท้จริงแล้วฉินอวิ๋นไม่ใช่นักศึกษาที่จบจากมหาวิทยาลัยด้านการดนตรีที่มีชื่อเสียง มหาวิทยาลัยที่เขาเรียนเป็นมหาวิทยาลัยไก่ป่า[1] ที่แค่จ่ายเงินก็เข้าได้แล้ว“ผมสังเกตดูพวกโซเชียลมีเดียที่เขาใช้ตอนอยู่ต่างประเทศโดยละเอียดแล้ว เขาไม่เคยโพสต์หัวข้อเกี่ยวกับดนตรีเลย บล็อกเกอร์ที่เขาติดตามล้วนแต่เป็นพว
เมื่อเกิดเหตุการณ์เช่นนี้ขึ้น พี่อู่ก็ไม่พูดถึงเรื่องเปลี่ยนไปทำงานเบื้องหลังกับผมอีกผมเองก็ยอมแพ้ตัดใจ และทำงานอดทนต่อความยากลำบากและเสียงพร่ำวิพากษ์วิจารณ์เพื่อช่วยพ่อผมจัดการงานของบริษัทในช่วงเวลาไม่กี่เดือนมานี้ ฉินอวิ๋นปล่อยเพลงมาทั้งหมดสามเพลง จะเป็นเพลงไหนล้วนติดชาร์ตทั้งหมด ไม่ว่าจะเป็นละครหรือแพลตฟอร์มคลิปวิดีโอสั้นก็มักจะใช้เพลงของเขาเป็นเพลงประกอบเบื้องหลังฉินอวิ๋นใช้โอกาสในการประกาศการกลับมาอย่างยิ่งใหญ่ ฟางเหยียนเองก็ประกาศตัวบนทวิตเตอร์ว่าเธอและฉินอวิ๋นกำลังคบหาดูใจกัน“ราชินีภาพยนตร์กับอัจฉริยะด้านการประพันธ์ช่างเหมาะสมกันราวกับกิ่งทองใบหยก!”“สนับสนุนมากๆ! พี่อวิ๋นของพวกเราสมควรได้รับความรักครั้งนี้!”“นี่มันอะไรกัน หนุ่มมากความสามารถและสาวงามระดับแนวหน้า ฉันจะโบกธงแห่งความรักให้คู่รักเหยียนอวิ๋น!”หน้าจอแอลอีดีขนาดใหญ่ในย่านธุรกิจกำลังเล่นเอ็มวีเพลงของฉินอวิ๋น ผมรวบกระชับเสื้อโค้ทที่คลุมอยู่ ก่อนจะเดินผ่านมันไปอย่างเฉยเมยในขณะที่ผมเปิดประตูเข้าไป แม่ก็กำลังนั่งดูโทรทัศน์อยู่ในห้องนั่งเล่นที่กำลังฉายอยู่เป็นรายการวาไรตี้โชว์แข่งขันทางดนตรีที่ฉินอวิ๋นเคยเ
“พี่ครับ พี่ก็เห็นอยู่แล้วว่าพ่อผมโอดครวญอยากจะเกษียณ ตอนนี้ผมยุ่งมากจนหัวถึงหมอนก็แทบจะหลับเป็นตาย จะยังให้ผมไปเขียนเพลงอีก ผมแบ่งแรงแบ่งความคิดออกไปไม่ได้จริง ๆ ครับ”สีหน้าของพี่อู่ดูหดหู่ลงเมื่อได้ยินสิ่งที่ผมพูด ผมจึงลองถามไปด้วยความระมัดระวัง “พี่อู่ พี่บอกกับผมมาตรง ๆ เถอะ ที่พี่มาครั้งนี้เพราะมีภารกิจอื่นใช่หรือเปล่า?”เขามองเหล่าพนักงานที่กำลังยุ่งวุ่นวายผ่านกระจกพลางเดาะลิ้น “เอาเถอะ ฉันจะอธิบายให้นายฟัง”“ราชินีเสียงเพลงสวี่กำลังจะหมดสัญญากับผู้จัดการคนเก่าของเธอ เธอกล่าวเอาไว้ว่าเธอจะร้องเพลงที่นายเขียนขึ้นเท่านั้น ใครก็ตามที่สามารถเอาต้นฉบับเพลงของนายมาได้ เธอก็จะเซ็นสัญญากับบริษัทนั้น”“เรื่องดีมากขนาดนี้ ผู้บริหารระดับสูงของบริษัทจะไม่ใจสั่นได้ยังไง พวกเขาเลยตั้งใจส่งฉันมาเป็นพิเศษ”คำพูดนี้ของพี่เขา ทำให้ในที่สุดความคิดที่กระจัดกระจายของผมก็พลันกระจ่างขึ้นราชินีเสียงเพลงสวี่กับฟางเหยียนเป็นพี่น้องที่มีความสัมพันธ์อันดีราวกับพี่น้องแท้ๆ!เธอมักจะรู้สึกอยู่ตลอดว่าผมไม่คู่ควรกับราชินีภาพยนตร์อย่างฟางเหยียน แล้วทำไมเธอถึงส่งคำเชิญขอเพลงมาให้ผมล่ะ ในส่วนนี้มันต้องมีอ
สามวันต่อมา พวกเราสองแม่ลูกก็ออกเดินทางท่องเที่ยวไปด้วยกันพวกเราเริ่มจากการไปที่ประเทศอียิปต์เพื่อดูพีระมิดและสฟิงซ์ จากนั้นก็ไปที่ประเทศโมร็อกโกเพื่อดูคาซาบลังกาสีขาวนวลตาในฤดูหนาว พวกเรายังไปที่ยุโรปเหนือเพื่อไล่ล่าแสงเหนือด้วยกันภายใต้ท้องฟ้าที่เต็มไปด้วยหมู่ดาว แสงเงาสีฟ้าชมพูขยับเคลื่อนพลิ้วไหว แรงบันดาลใจของผมพวยพุ่งแต่ก็ยังไม่กล้าเขียนประพันธ์บทเพลงอีกแม่เห็นว่าอารมณ์ของผมแปลกไป จึงตบไหล่ผมเบา ๆ “ชีวิตคนเรามีมากกว่าสิ่งที่อยู่ข้างหน้าเรานะลูก บางครั้งก็ต้องลองมองย้อนกลับไปบ้าง ลูกรัก ลูกต้องจำไว้นะว่าพ่อกับแม่จะเป็นผู้สนับสนุนอยู่เบื้องหลังที่แข็งแกร่งที่สุดของลูกเสมอ”เมื่อการเดินทางท่องเที่ยวตลอดสี่เดือนสิ้นสุดลง ผมเองก็ปรับอามรณ์ลงได้และเข้าไปทำงานในบริษัทของพ่อผมยุ่งมากเสียจนเท้าแทบไม่แตะพื้น แต่รอยยิ้มของพ่อกลับเบ่งบานมากขึ้นในทุกวันคืนหนึ่งในวันที่พ่อพาผมไปร่วมงานเลี้ยงพบปะของเหล่าผู้จัดจำหน่ายสินค้า ฟางเหยียนก็โทรมาหาผม“หลินฉือหย่วน ถ้าคุณสร้างความวุ่นวายจนพอใจแล้วก็รีบกลับมาสักที ถ้าคุณทำให้ฉันไม่พอใจไปมากกว่านี้ ฉันจะให้คนในวงการแบนคุณ แบบนั้นถึงคุณอยากจะ
หลังจากกลับไป ผมก็ตรงไปหาพี่อู่เมื่อได้ยินว่าผมจะออกจากวงการ เขาก็กระวนกระวายใจอย่างหนัก“บริษัทไม่ยอมปล่อยให้นายออกไปง่าย ๆ แน่ สัญญาของนายยังเหลืออีกสามปีกว่าจะหมดสัญญา ฉือหย่วน นายคิดดีแล้วจริง ๆ ใช่ไหม?”ผมพยักหน้าด้วยความเงียบงัน พี่อู่ถอนหายใจออกมาเบา ๆ “เอาล่ะ ฟ้าสูงแล้วแต่นกจะบิน[1] ฉันเ





