LOGINหม่อมหลวงกฤติเดช ธิติวรารักษ์ หนุ่มอารมณ์ดี จิตใจดี มาพักผ่อนเพื่อหลบเลี่ยงจากปัญหาครอบครัวในโรงแรมแห่งนึงโดยมีลูกพี่ลูกน้องตามมาช่วยคอยดูแลทั้ง 2 คนได้เจอกับเจ้าของโรงแรมหญิงและผู้ช่วยสาวที่ดูห้าวและหวงเจ้านายมาก จึงทำให้กฤติเดชอยากต่อปากต่อคำด้วยตลอดเวลา ส่วนเขตต์ธาดาก็รู้สึกดีกับสุฑัตตาที่เป็นเจ้าของโรงแรม แต่ด้วยเหตุผลบางอย่างทำให้เขตต์ธาดาต้องเก็บงำความรู้สึกเอาไว้ เรื่องราวจะเป๋นอย่างไรต่อไป ทั้ง 4 คนจะลงเอ่ยกันแบบไหนโปรดติดตามได้ในนิยายเรื่องนี้ได้เลย
View More‘Wanita lemah dan penyakitan sepertimu tidak pantas menjadi nyonya keluarga Mahendra!’
Kalimat menyakitkan itu masih tertancap di benaknya.
Beberapa detik yang lalu, dunia seakan terhenti. Kalimat tersebut muncul melalui pesan anonim—disertai foto suaminya yang tengah menggenggam tangan anak mereka di gerbang sekolah.
“Jannah… kamu mau aku antar menyusul mereka?”
Suara Naila belum membuat Jannah sadar dari lamunannya.
Matanya masih menatap ke arah langit-langit ruangan tempatnya dirawat. Tangan kirinya masih menempel bekas plester infus, dan pipinya pucat tanpa riasan.
Harusnya, mereka bertiga merayakan peringatan Hari Ibu, bersama-sama di sekolah. Menonton bagaimana anak-anak mengirim bunga dan ucapan terima kasih pada masing-masing ibu mereka.
Namun, suaminya itu justru hadir di sekolah tanpa menjemputnya, seakan-akan menunjukkan jika sosoknya tak dibutuhkan.
“Jannah…”
“Sudah berapa hari aku di sini, Naila?”
Suara Jannah yang parau membuat Naila membeku sesaat, “D–dua hari…”.
Tubuh Jannah telah digerogoti lelah dan obat yang tak kunjung habis, hingga kepalanya terasa hampa.
Sudah terlalu sering Jannah menjadi pasien di rumah sakit ini. Opname bukan kabar yang luar biasa lagi baginya. Bahkan suami Jannah sudah menganggap itu seperti rutinitas yang wajar untuknya sehingga tidak mengunjungi sama sekali.
Deon Mahendra adalah seorang pemilik perusahaan yang sukses menguasai hampir seluruh bisnis di kota Alzeera dan pria itu adalah suami yang menikah dengannya tujuh tahun yang lalu.
Menjadi Presiden Direktur sekaligus pemegang saham, membuat seorang Deon Mahendra sangat sibuk setiap hari.
Pria itu bahkan tidak lepas dari laptopnya setiap malam, sehingga dari hari ke hari, komunikasi di antara mereka menjadi lebih sedikit.
Jannah malah yakin, pria itu pasti lupa kapan terakhir mereka makan di luar bersama dalam satu keluarga utuh.
“Aku hanya ingin melihat Alfie,” bisik Jannah. Matanya menatap Naila seperti mencari jawaban yang ia tahu tak akan ia dapatkan.
Naila adalah sahabatnya yang bersuara paling keras saat menentang pernikahan mereka tujuh tahun yang lalu.
“Kalau aku muncul di sekolah… kira-kira anakku akan malu nggak ya, Nai?”
Tatapan Naila melembut. Ia menyentuh punggung tangan Jannah, mengelusnya perlahan.
“Kamu ini Ibunya. Meski dia sedikit ketus, dia tetap darah dagingmu. Setidaknya, tunjukkan ke dia bahwa Ibunya tidak melupakan Hari Ibu.”
Jannah tak bereaksi. Ia hanya mengelus wajahnya yang tirus dan pucat. Entah berapa lama, sejak dirinya sudah kehilangan kecantikan dan berat badan.
Naila menarik napas panjang, menahan emosi yang menggelitik dada. Ia tahu betapa kerasnya perjuangan sahabatnya ini.
Sejak menikah karena perjodohan yang tak pernah ia minta, hingga menderita penyakit saat dikaruniai anak, secara perlahan malah semakin memperburuk kondisi kesehatannya dari hari ke hari.
"Aku akan mengantarmu ke sana, sekalian pulang. Bagaimana?" kata Naila sambil berdiri.
Sejenak, Jannah terdiam. Lalu ia menarik napas dalam-dalam dan mengangguk pelan. "Baiklah."
Naila membantu membereskan barang-barang Jannah, lalu memanggil perawat untuk mengurus administrasi.
"Jaga kesehatan Nyonya, jangan kembali lagi dalam waktu singkat," gurau sang perawat saat mengantar kedua orang itu.
Jannah tersenyum tipis. "Mudah-mudahan."
Di luar, hujan tipis mulai turun, seolah langit tahu isi hati Jannah yang berat. Pagi itu terasa sejuk dan Naila menambahkan syal untuk leher Jannah. "Jangan masuk angin lagi, kamu tahu betapa lemahnya dirimu."
Saat mobil Naila melaju keluar dari pelataran rumah sakit, Jannah duduk diam di kursi penumpang, memandangi butiran kecil air hujan di kaca jendela. Tangannya gemetar saat menggenggam ponsel.
"Aku nggak tahu harus bilang apa nanti ke Alfie," ucapnya lirih.
"Bilang aja, 'Ibu datang karena Ibu sayang kamu,’” jawab Naila sambil terus menyetir. "Dan tolong jangan pingsan. Aku nggak kuat ngangkat kamu lagi," guyonnya seraya tertawa kecil.
Jannah ikut tertawa kecil, lalu mengusap matanya yang mulai berkaca-kaca.
Mobil melaju menembus gerimis, menuju sekolah tempat di mana Alfie.
Saat sampai di sekolah, langit di atas sekolah dasar itu tetap abu-abu, seolah ikut memantulkan warna hati Jannah yang sedang porak-poranda.
Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena baru saja keluar dari opname, tapi karena apa yang ia lihat sekarang… menyayat lebih dalam dari luka fisik mana pun.
Ia menarik napas pendek, tergesa membuka resleting tas, lalu mengeluarkan botol kecil berisi pil. Tangan kirinya gemetar saat mencoba memutar tutup botol itu. Dua pil jatuh ke telapaknya yang dingin.
Tanpa pikir panjang, ia telan begitu saja, berharap rasa sakit di dadanya berkurang, walau yang paling menyakitkan justru bukan berasal dari tubuhnya.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Naila mulai panik.
Jannah menggeleng pelan. Ia mencoba menyandarkan tubuh ke tembok, menopang dengan tangan yang masih bergetar.
Kakinya lemas. Lututnya seperti mau runtuh. Dan saat itu, pandangannya tertuju pada kerumunan kecil di depan kelas 1B.
Alfie Mahendra.
Putranya. Bocah mungil nan tampan, berusia enam tahun, yang ia kandung sembilan bulan, lahir dengan tangis pertama yang disambut air mata haru... kini berdiri di sana, tertawa. Terlihat sangat gembira.
Tapi bukan itu yang pertama menyayatnya. Bukan senyum ceria Alfie. Bukan tawa polosnya. Bukan pula keberadaan suaminya yang datang tanpa dirinya.
Melainkan keberadaan seorang wanita yang sudah menggantikan tempat di mana seharusnya dia berdiri.


![พิศวาสรักลูกหนี้ (NC20+) [ซีรีส์ พิศวาสรัก 1/4]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)








