Short
ลูกชายต้องตายเพราะสามีไปเดทกับสุดที่รักของเขา

ลูกชายต้องตายเพราะสามีไปเดทกับสุดที่รักของเขา

By:  เหมียวสิบสองCompleted
Language: Thai
goodnovel4goodnovel
9Chapters
2.5Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

สามีจงใจพาลูกชายของฉันไปช่วยตบตาเพื่อกินฉันวกับรักแรก ระหว่างทางยังใช้เขาที่อายุแค่หกขวบไปซื้อยาทาร้อนลวก แต่เจอโรคจิต ลูกชายถูกแทงตายทันที หัวใจของฉันเจ็บปวดเหมือนถูกบีบรัด มองดูยาทาร้อนลวกในมือของลูกชาย ฉันร้องไห้ไม่หยุด สามีของฉันโทรมาถามฉันว่า "สวี่เจี๋ย เธอนี่สอนลูกได้ดีเหลือเกินนะ! ทำน้ำร้อนลวกเวยเวยยังไม่ขอโทษอีก ให้เขากลับมาเดี๋ยวนี้”

View More

Chapter 1

บทที่ 1

BAB 1

Tiba-Tiba Manis

              “Fi, Ibu dengar, kalian sudah pembagian warisan, ya? Jadi, kamu dapet berapa, Fi?”

              Pagi-pagi sekali ibu mertuaku mengejutkan. Sosoknya sudah berdiri di belakangku. Aku syok, sebab tumben sekali dia mau menimbrung di dapur ketika aku tengah sibuk menyiapkan sarapan.

              “Eh, Ibu.” Aku sedikit gugup.

              Senyum Ibu mengembang. Beliau tiba-tiba menyambar sutil yang kupegang. Aku terkesiap penuh tanya akan sikapnya yang aneh tersebut.

              “Kamu masak nasi goreng, Fi? Ya ampun, wanginya enak banget, lho. Ibu bantu, ya?”

              Wanita 49 tahun yang mengenakan daster batik warna cokelat itu mengembangkan senyum. Tangannya kini lihai bermain sutil di atas wajan. Sekali lagi, aku heran.

              “Tumben udah bangun, Bu?” tanyaku pelan.

              Kupandangi mertuaku yang biasanya tidak banyak bicara itu. Setengah tahun jadi menantunya, baru sekarang dia mau ikut terjun ke dapur. Sikapnya jadi berubah drastis semenjak aku datang kemarin sore dari kampung halamanku.

              “Iya, Fi. Ibu pengen bantuin kamu. Kasihan kalau kamu capek-capek sendirian,” sahutnya.

              Senyum Ibu semringah. Perempuan yang tubuhnya lebih pendek dariku itu menoleh sekilas. Aku makin kaget, karena biasanya, Ibu cuek dan jarang mengembangkan senyuman untukku.

              “Nggak kok, Bu. Aku nggak capek sama sekali. Biasa aja.”

              Aku yang jadi tidak enak sendiri. Maklum. Dari awal menikah, aku dan Mas Rian masih menumpang di rumah kedua orangtuanya.

              Perekonomian kami juga masih pas-pasan. Aku seorang ibu rumah tangga yang belum memiliki momongan. Sedangkan suamiku, Mas Rian, bekerja sebagai kurir di sebuah perusahaan ekspedisi barang.

              Penghasilan Mas Rian memang sedikit di atas UMR. Sebenarnya lumayan kalau sekadar untuk menanggung hidup kami berdua. Tetapi sayangnya, Mas Rian harus membantu kuliah adik bungsunya yang baru semester tiga tersebut.

              Mertua juga tidak membolehkan kami pisah rumah. Alasannya supaya hemat. Namun, semua itu harus kubayar dengan seabrek pekerjaan rumah tangga yang secara tidak langsung dilimpahkan kepadaku.

              Aku sih, tidak mengeluh. Sikap Ibu yang jarang mengajakku mengobrol juga tidak kumasalahkan. Hanya saja, hari ini anehnya sikap Ibu begitu manis dan sangat mencolok hatiku.

              “Kamu pasti capek, Fika. Perjalanan kemarin jauh, kan? Makanya, pas kamu datang sore kemarin itu, Ibu sudah siapkan semua makanan,” jawab Ibu seraya masih menggoreng nasi di dalam wajan.

              “Ibu juga nggak izinin kamu sentuh-sentuh cucian dulu. Yang kerjain tadi malam semuanya Bapak. Nah, pagi ini, Ibu juga mau bantuin kamu bikin sarapan supaya kamu habis ini bisa istirahat.”

              Kerlingan mata Ibu yang sangat lembut membuat aku tersentuh. Ibu mertuaku, sejak awal kami menikah, memang jarang bercengkerama denganku. Beliau lebih sering menghabiskan waktunya di kamar atau kumpul-kumpul dengan teman arisan maupun kawan pengajiannya.

              Hubungan kami tidak romantis. Tidak juga dilematis seperti menantu-mertua kebanyakan yang banyak dramanya. Terkesan datar sekaligus dingin.

              Apakah semua karena ayahku yang telah meninggal dunia hampir dua minggu yang lalu? Selama dua minggu itu, aku pulang ke kampung halaman untuk mengurusi segala tetek bengek acara tahlilan almarhum Ayah. Maklum, aku anak tunggal. Jika bukan aku yang mengurus, lantas siapa lagi?

              Ayah adalah satu-satunya orangtua yang kumiliki. Ibuku sendiri sudah wafat saat aku kelas tiga SD. Ayah tidak menikah lagi, hingga di akhir hayatnya.

              “Makasih ya, Bu,” ucapku pada Ibu sambil mengulaskan senyuman lebar.

              Ibu mertuaku sudah selesai memasak nasi goreng. Beliau gegas menyalin nasi tersebut ke dalam wadah yang sudah kusiapkan. Saat aku ingin membawanya ke meja makan, beliau malah menyuruhku duduk manis saja di kursi makan.

              “Kamu nggak usah capek-capek, Fi! Kamu duduk aja pokoknya! Sana, gih!”

              Aku senang sekali melihat perubahan sikap Ibu. Di tengah perasaan duka lara yang masih melanda hati karena kehilangan sosok Ayah, kini perlahan suasana hatiku pun membaik sebab sikap manis Ibu. Ternyata dugaanku salah kepada Ibu, beliau akhirnya tampak menyayangiku seperti doa-doaku selama ini di setiap sujud.

              Aku pun duduk di kursi makan. Tak lama, Mas Rian keluar kamar. Suamiku sudah rapi dengan kaus berkerah warna merah dengan logo perusahaan di bagian dada kanannya.

              “Fika, pagi ini masak apa?” tanya Mas Rian seraya duduk di sebelahku.

              “Nasi goreng, Mas. Ibu yang masakin tapi,” ucapku penuh senang.

              Alis tebal Mas Rian langsung bertaut. Ekspresi wajahnya entah mengapa malah berubah tegang. Pria itu kini memperhatikanku serius.

              “Lho, kok, Ibu?” desisnya bernada kurang senang.

              “Lho, memangnya kenapa sih, Yan? Apa salahnya kalau ibumu sekali-kali masak buat kalian!” celetut Ibu sambil mendatangi kami ke meja makan.

              Beliau langsung meletakkan wadah mangkuk yang cukup besar ke tengah-tengah meja kayu bertaplak batik warna hijau. Senyuman di wajah ayu milik Ibu terus mengembang. Wanita yang biasanya selalu bangun siang itu, tak kusangka sudi juga menyiapkan anak dan mantunya sarapan.

              “Aduh, ini kan, tugasnya Fika, Bu. Fika nggak ada kerjaan di rumah, masa masak sarapan harus dikerjain sama Ibu juga?”

              Kalimat Mas Rian seperti sangat tak menerima keputusan Ibu. Aku terdiam. Merasa bersalah juga, sebab apa yang Mas Rian katakan itu ada betulnya juga.

              “Maafkan aku, Mas,” gumamku sambil menunduk lesu.

              “Lain kali jangan begitu ya, Fi,” tegus Mas Rian lembut sambil merangkul tubuhku.

              Aku mengangguk pelan. Kutatap wajah suamiku yang kukenal saat kami sama-sama bekerja di perusahaan ekspedisi yang sama. Dia sebagai kurir, sedang aku sebagai admin yang bertugas mencatat setiap barang yang masuk dan keluar ke warehouse.

              Bukan mauku tak bekerja lagi seperti ini. Namun, keadaanlah yang memaksa. Kami tak diizinkan untuk bekerja di satu tempat  yang sama karena kebijakan perusahaan yang melarang.

              Sudah cari-cari pekerjaan di luaran sana, tapi sayangnya banyak yang tidak menerima perempuan yang sudah menikah. Sungguh menyesakkan hati. Itulah mengapa, aku tidak apa-apa ketika disuruh bantu-bantu di rumah mertuaku, karena sadar diri kami masih menumpang.

              “Udah, Yan! Nggak usah dipermasalahkan. Nah, kamu tadi belum jawab pertanyaannya Ibu lho, Fi!”

              Mertuaku duduk di depan kami. Beliau menatap dengan wajah yang tegang dan menelisik. Aku pun jadi bertanya-tanya, ada apa gerangan.

              “Pertanyaan apa ya, Bu?”

              “Masalah warisan. Kamu udah dapat bagian kan, Fi? Kamu kan, anak tunggal. Otomatis, semua peninggalan ayahmu jatuh ke tangan kamu, kan?”

              Ibu menopang dagungnya dengan kedua tangan. Dia memperhatikanku tanpa sedikit pun senyum. Mendengar pertanyaan Ibu, entah kenapa hatiku tiba-tiba saja tak nyaman.

              “W-warisan?” gagapku.

              “Iya, warisan. Rumah kalian di kampung itu kan, tanahnya Ibu lihat cukup luas, lho. Kamu udah pegang sertifikatnya?” Ibu terus mencecarku dengan banyak pertanyaan.

              Aku terdiam. Mertuaku belum tahu jika rumah dan tanah yang ditempati oleh Ayah, adalah harta warisan milik mendiang nenekku yang masih belum dibagi oleh adik beradiknya Ayah. Ayahku bukan anak tunggal, melainkan anak pertama dari empat bersaudara.

              Tiga saudara Ayah yang lainnya memang telah memiliki tempat tinggal masing-masing, kecuali ayahku sendiri. Saat Ayah meninggal, rumah itu rencananya akan dijual dan hasil penjualannya bakal dibagi-bagikan untuk ketiga saudara Ayah yang masih hidup. Aku juga akan mendapatkan bagian dari haknya Ayah, tetapi rumah itu sampai sekarang belum juga ada yang menawarnya.

              “Kalau menurut Ibu, mending rumah dan tanah itu buru-buru dijual. Atau digadai sertifikatnya, Fi. Ibu soalnya lagi butuh banget biaya buat renovasi rumah kita!” Ibu mencerocos lagi, tanpa mau mendengarkan jawabanku yang masih tersimpan di tenggorokan.

              “Ya, sisa renovasi itu kalau cukup sih, buat kita DP mobil. Hehehe.”

              Dadaku mencelos. Apa? Renovasi dan DP mobil?

              Ibu bercanda sepertinya. Dari ucapan beliau, terkesan bahwa mertuaku sangat ingin menguasai harta tersebut. Astaghfirullah, apakah ini alasan dari sikap manisnya?

              “Bu, maaf. Itu bukan rumah Ayah, tapi itu rumah milik bersama yang harus dibagi-bagikan. Jadi, aku tidak ada kuasa penuh untuk menjual atau menggadainya.”

              Mata Ibu membeliak besar. Suamiku yang tengah menyendok makanan pun langsung terbatuk-batuk. Tak kuduga, raut wajah ibu mertuaku pun langsung berubah masam.

              “Apa? Bukan punya ayahmu? Jadi, selama ini kamu menipu kami, Fi?!”

              Menipu? Ibu bilang aku menipu? Ya Allah, ada apa dengan mertuaku?

              Apa jangan-jangan … suami dan mertuaku hanya ingin memanfaatkanku saja?

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters
No Comments
9 Chapters
บทที่ 1
ตอนที่เสี่ยวอันสิ้นใจในอ้อมแขนของฉัน ในมือยังถือกล่องยาอยู่ ฉันร้องไห้จนพูดไม่ออก เขาอาเจียนเป็นเลือดและพูดไม่ออกเช่นกันในขณะนั้นฉันคุกเข่าลงบนพื้นและอธิษฐานต่อสิ่งศักดิ์สิทธิ์ขอแลกชีวิตของฉันกับลูกชายของฉันน่าเสียดายที่สิ่งศักดิ์สิทธิ์ไม่ฟังและพาเสี่ยวอันไป ฉันเป็นลมด้วยความสิ้นหวังพอฉันตื่นมา ฉันงกายกลับไม่มีใครสักคนเลย หลีจิ่นเฉิงโทรหาฉัน ฉันถึงได้รู้ว่า เขายังไม่รู้เรื่องเสี่ยวอันเลย“ที่รัก เสี่ยวอันเขา.”ฉันยังพูดไม่ทันจบ หลีจิ่นเฉิงก็ขัดจังหวะฉันแล้ว "สวี่เจี๋ย เธอนี่สอนลูกได้ดีเหลือเกินนะ! ทำน้ำร้อนลวกเวยเวยยังไม่ขอโทษอีก ให้เขากลับมาเดี๋ยวนี้”หัวใจของฉันจมลงทันที ที่แท้ก็เป็นพวกเขานี่เอง“หลีจิ่นเฉิง! เสี่ยวอันเพิ่งหกขวบเองนะ คุณให้เขาไปซื้อยาทาร้อนลวกเหรอ?”"ไม่ควรหรือไง? เขาจงใจคว่ำน้ำร้อนลวกเวยเวย ฉันแค่ให้เขาไปร้านขายยาใกล้ๆ แต่เขากลับหนีไป”"ซูเจี๋ย นี่คือลูกชายตัวดีที่เธอสอนออกมา ให้เขากลับมาขอโทษเวยเวยเดี๋ยวนี้!”ตอนนี้ในโทรศัพท์มีเสียงของเฉินเวยดังมา “จิ่นเฉิง ช่างเถอะค่ะ ฉันรู้ว่าเสี่ยวอันไม่ชอบฉัน เขายังเด็ก ไม่รู้ประสีประสา ฉันแค่น้อยใจนิดหน่อย ไม่เป็นไ
Read more
บทที่ 2
เขาก้าวไปข้างหน้าและจับผมของฉัน "ฉันจะให้โอกาสเธอครั้งสุดท้าย รีบขอโทษและเรียกเสี่ยวอันกลับมา ไม่อย่างนั้นล่ะก็”ฉันเงยหน้าขึ้นมองเขาและหยุดหัวเราะทันที "ไม่งั้นคุณจะทํายังไง หย่ากับฉัน แล้วแต่งงานกับผู้หญิงคนนี้ใช่ไหม? คุณกล้าไหม? ถ้าคุณกล้า ฉันจะหลีกทางให้ทันที เป็นไงล่ะ?“หลีจิ่นเฉิง คุณพูดสิ! กล้าหรือไม่กล้า!”ฉันคํารามใส่เขา หลีจิ่นเฉิงนิ่งอึ้งไป ปล่อยฉันแล้วถอยหลังไปสองก้าว ผ่านไปครู่ใหญ่ถึงพูดประโยคหนึ่งออกมา “เธอมันบ้าไปแล้ว!”"ฉันมันบ้า แต่คุณดีกว่าฉันตรงไหน? หลี่จิ่นเฉิง ถ้าวันนี้ คุณไม่เลือกฉันจะดูถูกคุณ! คุณมันไอ้ขี้แพ้ ไอ้โง่!”ฉันสบถคําหยาบทั้งหมดที่ฉันรู้และบอดี้การ์ดก็ถูกฉันเตะหลายครั้งฉันไม่สนใจแล้ว เสี่ยวอันไม่อยู่แล้ว ใครก็ห้ามฉันบ้าไม่ได้ในที่สุดหลี่จิ่นเฉิงก็ตระหนักว่าฉันมีปัญหาจริงๆ "เกิดอะไรขึ้นกับเธอกันแน่? ซวี่เจี๋ย เธอมีสติหน่อยสิ!”“หลีจิ่นเฉิง ชั่วชีวิตนี้คุณจะไม่มีลูกของตัวเองแน่นอน!”“เธอพูดว่าอะไรนะ?”ส่วนเฉินเวยพูดอยู่ข้างๆ ว่า “เธอคงถูกบางอย่างกระตุ้นอะไรน่ะ แต่เสี่ยวอันไม่น่าจะมีปัญหาอะไรหรอก จิ่นเฉิงพวกเราไปก่อนเถอะ ฉันรู้สึกไม่ค่อยสบาย”
Read more
บทที่ 3
น่าขําจริงๆ อันอันก็ไม่อยู่แล้ว แต่ถ้าเขาใส่ใจก็จะพบว่าใบมรณะบัตรอยู่ในลิ้นชักโต๊ะน้ำชาเขาสามารถมองเห็นได้ทันทีที่เขาดึงมันออก แต่น่าเสียดายที่เขาไม่ได้ทําฉันมองเขาด้วยสายตาเยาะเย้ย "คุณยังมีลูกชายอยู่ในใจหรือ?"“คุณพูดแบบนี้หมายความว่ายังไง ถ้าไม่ใช่เพราะเขา เวยเวยคงไม่โดนน้ำร้อนลวกหรอก!”“คุณเลิกใส่ร้ายลูกชายของฉันสักที ฉันไม่อยากฟังคุณพูดอะไรอีกแล้ว และก็ไม่อยากมีปฏิสัมพันธ์อะไรกับคุณด้วย เราหย่ากัน!”พูดจบฉันก็หยิบใบหย่าออกมาหลีจิ่นเฉิงโกรธทันที “เธอจะให้ฉันพูดกี่รอบกันแน่ ฉันกับเขาไม่มีอะไรเกี่ยวข้องกัน เราเป็นแค่เพื่อนธรรมดา!”"เพื่อนธรรมดาเหรอ? เขาทําร้ายเสี่ยวอัน เป็นศัตรูของฉัน!”“ไร้เหตุผลสิ้นดี!” หลีจิ่นเฉิงหยิบโทรศัพท์ออกมาชี้หน้าฉัน “เธอดูเอง เสี่ยวอันเป็นคนที่ทำน้ำร้อนลวกต่างหาก!”ในกล้องวงจรปิด เสี่ยวอันประคองน้ำร้อนแก้วใหญ่อย่างระมัดระวัง ลวกจนนิ้วแดงไปหมด เขาเปลี่ยนมือซ้ายขวา เดินมาตรงหน้าของเฉินเวยอย่างสั่นๆเพิ่งวางลงบนโต๊ะ เฉินเวยรีบลุกขึ้น “เสี่ยวอันเก่งจัง ให้ฉันดูหน่อยนะ!”แต่เธอกลับแกล้งทําเป็นบังเอิญชนเสี่ยวอัน เสี่ยวอันถอยหลังไปสองก้าว หดตัวเล็กน
Read more
บทที่ 4
หลีจิ่นเฉิงไม่ได้ตอบกลับ ฉันก็ไม่รีบร้อน ตอนนี้เขาน่าจะกําลังเกี้ยวพาราสีกับผู้หญิงคนนั้นอยู่ รอให้จบก่อนเขาจะได้เห็นเองฉันยิ้มเยาะ มองรูปของเสี่ยวอันในโทรศัพท์แล้วใจก็จมดิ่งสู่ก้นบึ้งเสี่ยวอัน ลูกเห็นหรือยัง แม่จะช่วยลูกแก้แค้นแน่นอน คนที่ทําให้ลูกตายจะไม่มีจุดจบที่ดีหรอกแม่จะไม่ปล่อยให้ลูกต้องนอนอยู่ใต้ดินอย่างโดดเดี่ยวแบบนี้แน่นอน ฉันก็กลัวว่าตัวเองจะทนไม่ไหว จึงฝืนส่งต่อคลิปให้ทนายทนายความรู้สึกตื่นเต้นขึ้นมาทันที "ด้วยหลักฐานเหล่านี้สามารถยืนยันได้ว่าเขานอกใจ ถึงตอนนั้นเราจะได้ 70% หรือ 90%"ฉันยิ้มแล้วก็นอนลงบนเตียงอย่างหลับสบายตั้งแต่เสี่ยวอันเสียชีวิตไปฉันก็ไม่ได้นอนเลย หวังว่าเสี่ยวอันจะมาหาฉันในความฝันนี้และให้ฉันดูเขาหน่อยเช้าวันรุ่งขึ้น ประตูใหญ่ของบ้านถูกทุบดังปังๆ ฉันลืมไป ฉันเปลี่ยนล็อคประตูแล้ว หลีจิ่นเฉิงเข้ามาไม่ได้ฉันเปิดประตู เห็นดวงตาแดงก่ำของเขา ก็เลิกคิ้วขึ้น “เกิดอะไรขึ้น” ร้อนใจขนาดนี้!”เขาถือโทรศัพท์มาหาฉัน "ไม่จริงใช่ไหม? ไม่จริง!”ฉันรู้สึกประชดประชัน “หลีจิ่นเฉิง ลูกน้องคุณตั้งเยอะตั้งแยะ จริงหรือเปล่าที่คุณส่งคนไปดูก็รู้แล้ว!”นอกจากนี้ย
Read more
บทที่ 5
“ฉันจะไม่หย่าหรอก คุณตายใจเถอะ เสี่ยวอันอยู่บนสวรรค์ ก็ไม่อยากเห็นผมหย่ากับคุณหรอก ส่วนลูก เราจะมีกันอีก”ฉันตบหน้าไปทีหนึ่ง "คุณมันไม่ใช่คน ไสหัวไปซะ!"ฉันทั้งเตะทั้งตีไล่เขาออกไป อดไม่ได้ที่จะรู้สึกอัดอั้นตันใจกลับมาเกิดใหม่ ไอ้สัตว์เดรัจฉานตัวนี้กลับสามารถพูดแบบนี้ออกมาได้ฉันก็ไม่เกรงใจ ให้ทนายฟ้องหย่าโดยตรง ฉันจะไม่ปล่อยให้เขามีชีวิตที่ดีแน่นอนหลีจิ่นเฉิงเพิ่งก้าวเท้าออกไป เฉินเวยก็นัดฉันไปพบแล้ว ตอนที่เห็นเขาในร้านกาแฟ เธอลูบท้องตัวเอง ใบหน้าเต็มไปด้วยรอยยิ้ม“ฉันขอแนะนําให้เธอเลิกยุ่งได้แล้ว ฉันได้เห็นข้อความทั้งหมดที่เธอส่งให้เขาเมื่อคืนแล้ว ซูเจี๋ย ไม่คิดว่าชีวิตของเธอจะลําบากขนาดนี้ ลูกชายก็ไม่อยู่แล้ว ถ้าฉันเป็นเธอฉันก็จะไม่อยู่แล้วเหมือนกัน”“เธอก็ไม่สาวแล้วนะ จากไปเองเถอะ มีหน้ามีตาหน่อย ฉันกับจิ่นเฉิงยังมีลูกกันได้อีก”ฉันยิ้ม ยกมือขึ้นสาดกาแฟร้อนใส่หน้าเธอ เธอกรีดร้องทันที “เธอทําอะไรน่ะ!”ทุกคนรอบๆ มองเธอและฉันทันที ฉันเริ่มตะโกนเสียงดัง "นังสารเลวไร้ยางอาย อ่อยผัวฉันแล้วยังทําร้ายลูกของฉันอัก! ยังมีหน้ามาแข่งกับฉัน ฉันขอตบหน่อยเถอะ! ถ้าแน่จริงก็โทรแจ้งตํารวจสิ
Read more
บทที่ 6
ชาวเน็ตด่ากันสนั่น จนยอดคอมเมนต์นับหมื่นกลายเป็นคอมเมนต์ติดเทรนด์พอเห็นสิ่งเหล่านี้ฉันก็โกรธจนตัวสั่นทันทีที่แท้ก็เป็นแบบนี้นี่เอง ตอนนั้นเสี่ยวอันของฉันเจ็บมากขนาดไหน เขาวิ่งไปสองครั้งถึงจะซื้อได้ จากนั้นก็เจอคนไข้คนนั้นหลี่จิ่นเฉิง คุณสมควรตายจริงๆ !เห็นแบบนี้แล้วตาฉันแดงเลยให้ทนายฟ้องโดยตรงและโพสต์ข้อความยาวลงโซเชียลอย่างเปิดเผยหลีจิ่นเฉิงกับเฉินเวยคบกันยังไงถึงทําให้ลูกชายฉันตายตั้งแต่ต้นจนจบ และยังมีเรื่องเขานอกใจในการแต่งงานอีก ทันใดนั้น หลีจิ่นเฉิงก็เป็นที่รู้จักของทุกคนฉันทิ้งเขาไว้ในรายการค้นหายอดนิยมตลอดทั้งวัน ชาวเน็ตนับไม่ถ้วนโทรไปด่าเขา บางคนถึงกับพบที่อยู่บริษัทปัจจุบันของเขาและส่งพวงหรีดไปยังมีคนส่งดอกไม้ให้เสี่ยวอันด้วย ฉันคิดไม่ถึงจริงๆว่าหลังจากเสี่ยวอันของฉันตายแล้ว ยังมีคนแปลกหน้ากลุ่มหนึ่งมาสงสารเขาผลกระทบของเรื่องนี้เลวร้ายมาก ในที่สุดหลีจิ่นเฉิงก็รู้จักกลัวแล้ว เขารีบโทรหาฉัน“ซูเจี๋ย ผมขอโทษ ผมขอโทษ วันนี้ผมยุ่งมากเลย !”ฉันวางสายโทรศัพท์และบล็อกเขาโดยตรงและถือโอกาสให้ทนายความบอกเขาว่าไม่มีทางออกอื่นนอกเหนือจากการหย่าร้างเขากังวลขึ้นมาทันที อ
Read more
บทที่ 7
หลังจากถูกฉันแบ่งทรัพย์สินส่วนใหญ่ ลูกค้าเก่าของเขาทั้งหมดได้รับข้อความในชั่วข้ามคืนทุกคนบอกว่าเขาเป็นคนที่โหดเหี้ยมและไร้ความปราณี แม้แต่ลูกชายของเขาก็ยังทําร้ายเขา ดังนั้นเขาต้องระมัดระวังในการร่วมมือในอนาคตหลีจิ่นเฉิงก็ไม่คิดว่าเรื่องนี้จะมีผลกระทบมากขนาดนี้ ในวงการนี้ การเลี้ยงผู้หญิงไม่ใช่เรื่องใหญ่อะไร ทุกคนมีงานเลี้ยงข้างนอกบ้าง ก็จะพาคนสนิทของตัวเองไปด้วยทําไมพอมาถึงฝั่งเขา ก็กลายเป็นคนที่ชั่วร้ายไปแล้วล่ะ?เขาไม่เข้าใจและไม่เข้าใจ แต่ฉันกลับหัวเราะขึ้นมา ใช่ ทุกคนต่างก็เล่นละครตบตา แต่คนอย่างเขา ที่ฆ่าลูกชายตัวเองเพื่ออยู่กับรักแรก กลับมีไม่กี่คนจริงๆ ความโหดร้ายและไร้ความปราณีแบบนี้โดยไม่คํานึงถึงสิ่งใดๆ ก็เป็นข้อห้ามที่ยิ่งใหญ่ในที่ทํางานและยิ่งเป็นที่รังเกียจในโลกธุรกิจคนเหล่านั้นสร้างเนื้อสร้างตัวด้วยมือเปล่าค่อนข้างเยอะ เมียหลวงนั่งอยู่ที่บ้าน ไม่ว่าข้างนอกจะเป็นยังไง พวกเขาก็ไม่เคยสั่นคลอนฐานะของทายาทในครอบครัวเลยคนที่โง่เหมือนหลีจิ่นเฉิง ยังเป็นคนแรกเลยนะเมื่อเห็นฉากนี้หลีจิ่นเฉิงก็ตกอยู่ในสถานการณ์ที่ยากลําบาก หุ้นส่วนของบริษัทตระกูลหลี่พากันถอนตัวออกไ
Read more
บทที่ 8
ฉันสะบัดเขาออก "คุณมีเวลาว่างก็ดูแลผู้หญิงของคุณเองก่อนเถอะ ฉันได้ยินมาว่าช่วงนี้เขาไม่อยู่เฉยเลยนะ ได้กลับมาคบกับแฟนที่ต่างประเทศแล้ว คุณไม่สงสัยบ้างเหรอ?”“หลังจากเขากลับมาอยู่กับคุณไม่นานก็ท้องแล้ว คุณอย่าลืมสิ รายงานการตรวจร่างกายของคุณยังไม่ได้รับ ฉันขอเตือนคุณว่าตอนนี้มีเวอร์ชั่นอิเล็กทรอนิกส์แล้ว”“เธอหมายความว่ายังไง เธอแช่งฉันเหรอ?”“ซะที่ไหนล่ะ ฉันแค่อยากให้คุณดู จะได้ดูแลสุขภาพด้วย”ฉันออกไปทันที นั่งอยู่ในรถ พอนึกถึงหลีจิ่นเฉิงเห็นรายงานการตรวจร่างกายฉันก็อยากจะหัวเราะเมื่อเสี่ยวอันอายุสามขวบ เขาออกไปทํางานนอกสถานที่และถูกลักพาตัวครั้งหนึ่ง โจรลักพาตัวทรมานเขาเป็นเวลาสามวัน หลังจากครั้งนั้นเขามีเงามืดทางจิตใจอย่างรุนแรง ร่างกายก็ได้รับบาดเจ็บ ทำให้เขาไม่สามารถมีลูกได้อีกต่อไปดังนั้นเด็กในท้องของเฉินเวยเป็นลูกของใครกันแน่ ฉันไม่รู้ แต่ไม่มีทางเป็นลูกของหลีจิ่นเฉิงแน่นอนเมื่อฉันกลับถึงบ้าน หลังจากฉันเก็บรางวัลของวันนี้เสร็จ ก็เปิดทีวีและเห็นข่าวข่าวหนึ่งสถานีโทรทัศน์ช่องนี้รายงานว่า ชายคนหนึ่งแทงแฟนสาวที่อยู่ด้วยกันที่บ้าน ตอนนี้ถูกตํารวจจับแล้วกล้องแวบผ่าน ฉันมอ
Read more
บทที่ 9
เพิ่งออกมาฉันก็เห็นเฉินเวย เห็นฉันปรากฏตัวต่อหน้าเธออย่างสดใส เฉินเวยทําหน้าไม่เชื่อ แล้วพุ่งมาตรงหน้าฉัน “เธอมาอยู่ที่นี่ได้ยังไง? เธอ เธอมาประกันตัวเขาหรือ?”เธอเอามือกุมท้องตัวเอง หน้าซีด เพราะได้รับบาดเจ็บ เธอจึงนั่งรถเข็นมาท่าทางแบบนี้ทําให้ฉันอดตกใจไม่ได้ นี่เพิ่งผ่านไปไม่นานเอง ดอกไม้งามที่เคยคลอเคลียอยู่ในอ้อมอกของหลีจิ่นเฉิงอย่างอ่อนโยน ตอนนี้กลายเป็นสภาพแบบนี้ซะแล้ว ฉันคาดไม่ถึงเลยจริงๆแต่พอมาคิดดูอีกที คนอย่างเธอจะมีชีวิตที่ดีได้ยังไงกัน ยิ่งเธอแย่ฉันก็ยิ่งมีความสุขฉันยิ้มตาหยีมองเธอ “ขอโทษจริงๆ เธอใช้ความพยายามอย่างมากในการปีนขึ้นไปที่ตําแหน่งนี้ ไม่คิดว่าทุกอย่างจะหายไปหมดแล้ว”“หลีจิ่นเฉิงเขาแทงฉัน ฉันจะให้เขาชดใช้เงิน!”ฉันส่ายหน้า “ขาดทุนเป็นไปไม่ได้หรอก ตอนนี้บริษัทเป็นของฉันแล้ว หลีจิ่นเฉิงเขามีแต่ชีวิตแย่ๆ ชีวิตนี้ก็ต้องอยู่ในคุกเท่านั้น”“ส่วนเธอ” ฉันชี้ไปที่เธอ “ในช่วงที่ความสัมพันธ์การแต่งงานระหว่างฉันกับหลีจิ่นเฉิงยังคงอยู่ ทางที่ดีคือเขาไม่ใช้เงินเพื่อเธอนะ ไม่อย่างนั้นฉันจะทวงทั้งหมดกลับมา”วันหลังทําตัวดีๆนะฉันตบหน้าเธอแล้วเดินจากไป เธอโกรธจนด่ากร
Read more
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status