LOGINรับบริการเฉพาะหนุ่มหล่อที่ตรงไทป์ โสดและนิสัยรวย เท่านั้นค่ะ!!!!
View More"Jika sampai akhir bulan ini kamu belum bisa setor tulisan untuk project game kami, dengan terpaksa kami akan menghentikan kontrak kerja," begitulah peringatan ultimatum dari atasannya saat rapat tim internal di kantor sore hari sebelum Riana pulang ke rumah.
Sebuah peringatan yang membuat hatinya goyah dan terluka. Sejauh ini, semenjak lulus kuliah, satu-satunya ladang penghasilannya adalah dari tulisan. Semua tulisannya selalu menjadi satu-satunya mata pencahariannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya pengobatan ibunya di rumah sakit.
"Kalau aku dipecat, aku cuma bisa dapat penghasilan dari editing dan web novel. Aaah, pusing!" Riana membentur-benturkan kepalanya ke meja saat dia memutuskan tetap mengerjakan pekerjaan kantornya di rumah hingga larut malam.
Riana memandangi laptopnya lagi. Hari ini dia harus menyelesaikan deadline tulisannya. Berulang kali dia menghembuskan napas panjang.
"Nggak ada yang bener," keluh Riana gundah. Pikirannya sangat frustasi memikirkan SP dari leader timnya di kantor tadi.
Krek!
"Hmm?" gadis berambut panjang bergelombang itu berhenti membenturkan kepala. Terdengar suara beberapa orang laki-laki di dalam rumahnya.
"Perasaan tadi udah kukunci semua pintunya," gumamnya," Apa maling?"
Bulu kuduk belakang leher Riana berdiri. Hawa merinding dan takut mulai menyerangnya. Jika benar itu maling, dirinya dalam bahaya. Hanya ada dia saja di rumah tua peninggalan keluarga ibunya itu.
Dia segera mengambil raket nyamuk. Dipegangnya erat-erat raket nyamuk itu sambil keluar kamar. Dia berharap apa yang didengarnya hanyalah imajinasinya belaka.
Pelan… pelan… dan perlahan dia berjalan menyusuri lorong rumah menuju ruang tamu. Semua lampu ruangan masih mati. Sama seperti sebelumnya. Tak ada tanda-tanda keberadaan orang lain selain dirinya.
"Huft… kayaknya cuma pikiranku aja," Riana menceklekan saklar lampu agar lampu ruang tamu menyala.
Sesaat setelah lampu menyala, seseorang memegang pundak Riana. Membuat Riana tercekat kaget dan mengayunkan raket nyamuk yang sudah ditekan tombol on-nya ke arah belakang. Teriakan Riana berpadu dengan suara teriakan kesakitan orang di belakangnya. Ditambah suara petir sebagai backsound peristiwa.
Pandangan Riana menangkap tiga orang pria berada di belakangnya. Salah satunya sedang kesakitan karena raket nyamuknya.
"Kau…!" pandangan tajam dengan aura membunuh dilayangkan tepat pada Riana. Menghujam tajam membuat Riana sangat ketakutan.
"Ma-maaf…. Aku…. Aku….," belum sempat Riana menyelesaikan perkataannya, laki-laki itu sudah menghampiri Riana dan menjambak rambut panjangnya. Membuat Riana semakin ketakutan dan juga kesakitan.
"Maafkan aku…," pinta Riana di tengah rasa kesakitannya. Matanya sudah berkaca-kaca menahan rasa takut.
"Maaf katamu?" laki-laki itu masih memandangi Riana dengan tatapan tajam. Beberapa saat kemudian, tatapan itu berubah menjadi tatapan penuh kekagetan.
"Kamu…?" Laki-laki itu menatap Riana seolah pernah mengenal dirinya.
Riana ikut menatap wajah laki-laki muda itu. Wajahnya memang terlihat galak. Ditambah dengan tatapannya yang tajam seperti sebilah pedang samurai. Hanya saja hal itu tak mengingatkan apapun pada diri Riana tentang seseorang yang dikenalnya.
Laki-laki itu menghempaskan Riana hingga jatuh ke lantai. Senyum seringai terpampang jelas di wajahnya. Dia duduk di kursi ruang tamu diikuti dua orang lainnya yang menurut dugaan Riana adakah anak buahnya.
"Kamu anaknya Dibyo bukan?" tanya laki-laki berwajah tampan itu. Riana masih ketakutan sehingga tak bisa bersuara. Dia hanya bisa menganggukkan kepala menjawab pertanyaan itu.
"Ayahmu punya hutang ratusan juta padaku. Sekarang sudah jatuh temponya. Aku mau menagih," jelas laki-laki itu.
Kedua mata Riana membelalak lebar. Tak percaya dengan yang didengarnya barusan.
"Aku akan mengambil rumah dan tanah ini sebagai jaminan. Meski tempat ini tetap tidak bisa menutup hutangnya," laki-laki itu berdiri lalu mendekati Riana lagi," Tapi aku bisa menjualmu."
Rasa takut Riana semakin memuncak. Jual katanya? Riana tak bisa membayangkan dirinya dijual karena hutang ayahnya.
"Tapi… tapi aku udah nggak tinggal lama dengan ayahku!" tolak Riana. Sejak, lulus kuliah, ayahnya pergi menghilang entah kemana. Tak ada yang tahu rimbanya. Karenanya dia harus hidup mandiri untuk menghidupi dirinya dan ibunya yang sakit-sakitan.
"Siapa yang peduli. Itu urusanmu. Urusanku hanya menagih hutang ayahmu," laki-laki itu merenggut kedua pipi Riana dengan kasar," Dengar baik-baik, aku hanya ingin semua hutang ayahmu lunas. Selain itu, aku tidak mau tahu."
Riana mencoba berpikir cepat. Dia tak ingin dijual oleh laki-laki itu. Otaknya tak bisa membayangkan reaksi ibunya jika tahu dirinya menjadi seorang wanita penghibur.
"Iya! Iya! Akan kubayar! Tapi jangan jual aku! Aku mohon!" teriak Riana. Kedua matanya terpejam menahan rasa takut dan putus asa.
"Hmm… kau bisa apa?"
"Hah?" Riana tak mengerti maksud laki-laki itu.
"Kau bisa apa untuk membayar sisa hutang ayahmu?"
Riana terdiam. Satu-satunya keahliannya hanyalah menulis. Tak ada yang lain. Hanya menulis dan mengerjakan pekerjaan rumah.
"Aku… aku nggak punya banyak keahlian. Aku hanya seorang penulis. Gajiku nggak banyak. Tapi aku bisa bersih-bersih rumah," tutur Riana," Apa aku bisa jadi pembantumu saja? Aku akan membersihkan seluruh rumahmu tiap harinya secara gratis sambil tetap bekerja sebagai penulis. Bagaimana?"
Riana sudah tak tahu lagi harus bernegosiasi seperti apa. Hanya itu saja yang terlintas di otaknya. Dirinya tak sekompeten itu untuk membayar banyak hutang. Yang tersisa hanyalah semangatnya untuk tetap bertahan hidup dengan cara yang layak. Yang penting jangan sampai aku dijadikan wanita malam! tekad Riana.
"Hah? Pembantu katamu?" laki-laki itu mengulangi lagi ucapan Riana.
Gadis berkacamata itu menganggukkan kepala sekuat tenaga. Berharap laki-laki itu mempercayainya.
"Aku akan menjadi pembantumu sampai hutangnya lunas. Kamu bisa pegang ucapanku! Aku nggak bakal bohong! Nggak bakal lapor polisi juga," Riana masih berusaha meyakinkan laki-laki itu.
"Hmm," laki-laki itu memandangi wajah Riana lagi. Pandangan yang dalam seperti sebelumnya.
"Aku mohon! Jangan jual aku! Ibuku dirawat di rumah sakit. Aku harus menjenguknya tiap hari," Riana menangis putus asa.
Laki-laki itu melepaskan tangannya dari wajah Riana lalu berkata," Bawa dia ke mobil."
Kedua pria berotot dan berbadan besar mengangguk patuh. Mereka mendekati Riana. Bersiap menjalankan perintah laki-laki itu.
Riana ingin lari tapi kakinya terlalu lemas. Dia merangkak menjauh. Tangannya melemparkan barang-barang yang ada dalam jangkauannya ke arah dua pria besar besar itu.
Meski begitu, sekuat apapun Riana berusaha, kedua pria itu tetap berhasil menangkapnya. Riana masih meronta dan memukul sekuat tenaga agar bisa terlepas. Namun, kedua pria itu berhasil menekuk dirinya. Mereka mengikat tangan dan kaki Riana. Tak lupa memplester mulut Riana agar tak lagi mengeluarkan suara berisik.
Setelahnya, salah satu di antara dua pria itu membopong Riana masuk ke dalam mobil hitam yang sudah terparkir rapi di halaman rumahnya. Dengan kencang, Riana dilemparkan ke kursi penumpang. Tubuh Riana rasanya remuk. Dalam hitungan menit, tubuhnya terhempas berulang kali dan kesakitan. Dia masih berusaha menggeliat agar bisa kabur. Namun, semuanya sia-sia. Yang ada hanyalah tubuhnya yang kelelahan dan akhirnya tak sadarkan diri sesaat setelah mesin mobil dihidupkan.
ตอนพิเศษ 2"พี่อย่าตีลูกเลยนะ""ถ้าไม่ตี ไอ้เสือก็ไม่จำหรอก" ท็อปเอ่ยบอกเมียของเขา ก่อนจะหันไปบอกลูกชายคนโต "ลีโอไปเอาไม้เรียวมาให้ป๊า""ครับป๊า" ลีโอเดินไปเอาไม้เรียวเล็ก ๆ มายื่นให้คุณพ่อของเขา"เสือเดินมาหาป๊า""ครับ" ไทเกอร์เดินหงอยไปหาพ่อของเขา แล้วยกมือกอดอก หันหลังให้พ่อของเขา เพียะ !"โอ๊ยยยย..." ไทเกอร์เอามือลูบก้นน้ำตาเล็ด เมื่อโดนฟาดก้นหนึ่งที"จะทำอีกไหม""ไม่ทำแล้วครับป๊า" ไทเกอร์พูดเสียงอ่อน แล้วเดินไปกอดพ่อ ไทเกอร์ไม่ได้โกรธ เพราะเขาดื้อเอง"เจ็บหรือเปล่า" ท็อปเอามือลูบก้นลูกชาย"เจ็บดิครับป๊า ถามได้""ดูปากมันดิป๊า มันน่าโดนฟาดอีกสักที ปากเสียไม่เลิก" ลีโอพูดออกมาอย่างหงุดหงิด ก่อนจะเดินออกจากห้องฟิตเนตไป"ขี้ฟ้องนะเฮียน่ะ ทายาให้ผมด้วยเลย" ไทเกอร์ผละตัวออกจากคุณพ่อของเขา แล้ววิ่งเข้าไปกอดแขนพี่ชายทันที"ไปเอายามาดิ""ฉลาม ปลาวาฬ ไปเอายามาทาตูดให้เฮียหน่อย" ไทเกอร์สั่งน้องๆ ของเขาต่อ"ครับผม" ฉลามตอบรับแล้ววิ่งไปเอายาทันที"ชอบใช้น้อง ๆ มากเลยเฮียเสืออะ" ปลาวาฬบ่นกับคุณแม่ ก่อนที่จะวิ่งดุ๊กดิ๊กตามพี่ ๆ ของเขาออกไป"เอามือมาค่ะ" พอลูกชายออกไปกันหมดแล้ว แนนนี่ก็สั่งสามี
ตอนพิเศษ 17 ปีต่อมา... หญิงสาวอวบอัดในวัย 26 ปี กำลังนอนคว่ำทำท่าแพลงก์ด้วยแขนสั่นเกร็ง แต่จู่ ๆ เด็กชายวัยสี่ขวบเปิดประตูวิ่งเข้ามาในห้องฟิตเนสด้วยชุดนักเรียนอินเตอร์ แล้วก้าวขาขึ้นคร่อมนั่งทับบนหลัง ทำเอาหญิงสาวแทบทรุดไปนอนแนบกับพื้น "หม่ามี้คร้าบบบบ ผมกลับมาแล้ว" "ครับผม ฮึบ !" แนนนี่กัดฟันสู้ เพื่อทำแพลงก์ต่อโดยที่ไม่ยอมทรุดตัวไปกับพื้นก่อนเวลาที่ตั้งไว้"หม้ามี้สู้ ๆ งับ" เสียงเจื้อยแจ้วของเด็กชายฉลามวัยสามขวบและเด็กชายปลาวาฬวัยสองขวบ วิ่งมานั่งข้าง ๆ คุณแม่ของพวกเขา แล้วปรบมือส่งกำลังใจให้คุณแม่เหมือนเชียร์กีฬาก็ไม่ปาน"ลุกออกจากหลังหม่ามี้เดี๋ยวนี้เลยนะไอ้เสือ" เด็กชายลีโอวัยสี่ขวบไม่พูดเปล่า แต่เขาจับไทเกอร์ดึงออกจากหลังคุณแม่ของเขา แล้วโยนไทเกอร์ไปที่เบาะนุ่ม"ไอ้สิงห์กูเจ็บนะ" ไทเกอร์ลุกขึ้นตะคอกใส่ลีโอด้วยน้ำเสียงไม่พอใจ"มึงเรียกกูว่าไอ้เหรอ ? !" ลีโอตะโกนถามพร้อมทั้งยกเท้าถีบที่หน้าท้องไทเกอร์อย่างแรงตุ้บ !"โอ๊ย..." ไทเกอร์กระเด็นไปที่เบาะนุ่มอีกครั้ง ทั้งที่พึ่งลุกขึ้น"ว้ายยยย ลีโอ ไม่เอาลูก ไม่ทำน้อง" แนนนี่หยุดทำแพลงก์ทันที แล้วรีบกระโจนเข้าไปกอดลีโอเอาไว้"มัน
The End@จุดกางเต็นท์ชมดาว19.30 น.ในขณะที่แนนนี่นั่งซุกตัวอยู่ตรงหว่างขาแฟนหนุ่มตรงหน้าเต็นท์ของตัวเอง แนนนี่ก็ยกแขนเรียวชูขึ้นสูดดมอากาศเย็น ๆ ยามค่ำคืนเข้าเต็มปอด“โอ้...ตอนกลางคืนอากาศดีมาก” “บรรยากาศดี ดาวสวย เมียสวย มองไปทางไหนก็สบายตาไปหมด” เขาจับแขนเรียวลดมือลง ก่อนที่จะโอบกอดแฟนสาวเอาไว้ แล้วเอาปลายคางเกยไว้ที่ไหล่มน“เหลืออีกอย่างหนึ่งที่พี่ยังพูดไม่หมด”“อะไร หื่ม”“เมียสวยก็ต้องคู่กับผัวหล่อ ๆ อย่างพี่ไงคะ” แนนนี่หันไปยื่นปากหอมแก้มสากด้วยความรัก“ปากหวานแบบนี้อยากได้รางวัลเหรอ”“ตอนนี้หนูขอรับรางวัลเป็นเงินโอนนะคะ ถ้าพี่จะให้รางวัลเป็นอย่างอื่น หนูขอไปรับที่คอนโด เพราะหนูร้องดัง เวลาได้รางวัลจากพี่”“หนูรู้เลยเหรอว่าพี่จะให้รางวัลอะไร” เขาเอาปากงับไหล่มนหันหน้าซุกไซ้สูดดมซอกคอขาว“แค่พี่พูดถึงรางวัล หนูก็คิดไปถึงพี่ถอดกางเกงแทงหนูแล้วค่ะ”“หึหึ...รู้ทันพี่ไปซะหมด แล้วแบบนี้พี่จะเล่นมุกอะไร”“พี่ก็ไม่ต้องเล่นมุกไงคะ เก็บแค่แรงเอาไว้เล่นจ้ำจี้กับหนูที่คอนโด”“หนูพูดแล้วนะ”“หนูไม่ใช่แค่พูด แต่หนูกำลังนัดปี้กับพี่ต่างหาก” แนนนี่มองหน้าแฟนหนุ่มด้วยแววตาหวานเยิ้ม แล้วฉกจูบปา
Chapter 49@เขาใหญ่เมื่อเดินทางมาถึงจุดกางเต็นท์ที่จองไว้แบบไพรเวท หลังลงจากรถหรู ท็อปก็บ่นขึ้นทันที "โห...อากาศร้อนมาก""ช่วงกลางวันก็ร้อนแบบนี้แหละค่ะ แต่บรรยากาศตอนกลางคืนเวรี่กู้ดสุด ๆ" แนนนี่เข้าไปกอดแขนแฟนหนุ่มพร้อมทำตาระยิบระยับเป็นประกายวิบวับ เมื่อนึกถึงบรรยากาศตอนกลางคืน"งั้นตอนนี้เราไปผลิตเจ้าลีโอก่อนไหม""แหม...จะผลิตเจ้าลีโออะไรกัน หนูยังเรียนอยู่ปีสองอยู่เลย""พูดผิด ๆ เราไปเoากันที่รีสอร์ตกันเถอะ ตอนเย็น ๆ ค่อยออกมากางเกงเต็นท์" "เที่ยวกับพี่ นี่เสียวสุด ๆ ไปเลย" แนนนี่พูดประชดแฟนหนุ่ม"พี่รู้ว่าหนูชอบ ไปเoากันไว้ก่อน ตอนกลางคืนนอนเต็นท์เอากันไม่สะดวกหรอก หนูร้องครางดัง""พี่ท็อป หยุด ฮ่า ๆ ๆ ๆ" แนนนี่หลุดขำออกมากับคำพูดของเขา"ไปเช็กอินดีกว่าปะ" ว่าจบ ท็อปก็เอาแขนโอบกอดคอแฟนสาวไว้หลวม ๆ ก่อนที่จะพาแนนนี่เดินเข้ารีสอร์ตหลังจากพากันเช็กอินเรียบร้อย ท็อปก็รีบพาแนนนี่เข้าห้องทันที ราวกับอยากทำเรื่องอย่างว่าเต็มทนและเมื่อประตูห้องปิดสนิทลง ท็อปก็ดึงแนนนี่ไปนอนบนเตียงทันที โดยที่เธอยังไม่ได้เปิดม่านดูทิวทัศน์ด้านนอกเลยด้านซ้ำ แต่ทว่าตอนนี้กลับโดนเขาถอดเสื้อผ้าออกจากตัว
Chapter 3"พี่ขา~ แนนนี่เสียว ซี้ด !""พี่ก็เสียว แนนนี่เอาโคตรมันเลย" ท็อปแหงนหน้าซี้ดปากครางลั่น แล้วสะบัดเอวสอบใส่ร่องรูเล็กตามอารมณ์ความใคร่ที่เขากักเก็บไว้มาเป็นอาทิตย์พอความเงี่XXมันสะสมมานาน เขาก็เลยกระแทกกระทั้นแก่นกายใส่ร่องรูเล็กอย่างบ้าระห่ำ เพื่อปลดปล่อยความเงี่XXให้สมใจอยากแต่ยังตอกร
Chapter 17"แนนนี่" ท็อปฉุดดึงมือเล็กเอาไว้แน่น เมื่อเห็นแนนนี่ดูห่วงใยคริสเหลือเกิน จนพานทำให้ใจของเขากระตุกชาวูบอย่างไม่เคยเป็นมาก่อน"ปล่อยนะพี่ท็อป แนนนี่จะไปหาพี่คริส" แนนนี่สลัดมือท็อปออก แต่ทว่าท็อปกลับยิ่งจับมือเล็กเอาไว้แน่นกว่าเดิม"แนนนี่ห่วงไอ้คริสมากเลยเหรอ""อืม" แนนนี่ตอบรับสั้น ๆ ก่
Chapter 4"ซี้ด !" เสียงซู้ดปากดังคำรามขึ้นด้วยความเสียดเสียว เมื่อโดนมือเล็กจับแก่นกายชักรูดขึ้นลงถี่ ๆ จนแท่งร้อนขยายใหญ่เต็มตัวท็อปที่โดนปลุกเร้าอารมณ์อย่างหนัก เขาไม่สามารถนอนนิ่งเฉยให้แนนนี่เป็นฝ่ายคุมเกมคนเดียวได้ ชายหนุ่มจึงหยัดตัวลุกขึ้นนั่งบนเตียง แล้วเอามือสากจับกุมมือเล็กเอาไว้"แนนนี่ไ
Chapter 2"พี่ขอแตกสี่น้ำ น้ำสุดท้ายเดี๋ยวพี่ให้พิเศษแสนหนึ่ง""แสนห้า" แนนนี่ต่อรองด้วยรอยยิ้มยั่วยวน"ตามนั้น""โอเค ดีลค่ะพี่ท็อปสุดหล่อของแนนนี่" ถ้าเงินมากพอ กฎของแนนนี่ก็ยกเว้นให้ได้"สี่น้ำจะเอาให้ขาถ่างเลย" ท็อปเผยรอยยิ้มร้าย ยกมือบีบขยำหน้าอกใหญ่อย่างแรง จากนั้นเขาปลดกระดุมเสื้อนักศึกษารัด