로그인'ฉันมันก็แค่ผู้หญิง ที่เขาใช้เงินซื้อมาบำเรอความสุขของตัวเอง' ตรับ ตรับ ตรับ~ "อ๊า อ๊า อ๊าง บะ เบาหน่อย อื้อ" ฉันร้องท้วงเพราะเขากระเเทกท่อนเอ็นเข้ามาในรูเสียวของฉันรุนแรงเกินไปแล้ว " อ๊า ยะ อย่า ห้ามผม เพราะผมทำให้คุณไม่ได้ซี๊ด ~" เพี๊ยะ เพี๊ยะ เขาตีก้นฉันอย่างแรงสองที จากนั้นก็เอามือมาดึงผมฉันให้เงยหน้าขึ้น แล้วเขาก็กระเอกเอวเข้ามาหนักหนวงกว่าเดิม ฉันไม่ควรไปหลงรักผู้ชายที่ ทั้งดิบ ทั้งเถื่อน แล้วก็แสนจะเย็นชาแบบเขาเลย ไม่ควรเลยจริงๆ
더 보기"Rafli, mulai malam ini, kamu temani tiga anak gadisku, ya!"
Belum sempat aku menjawab "Inggih" atau sekadar mengangguk patuh, suara ketus dari arah tangga langsung memotong pembicaraan kami.
Itu Nona Shella, anak sulung Nyonya Alika yang cantiknya luar biasa, tapi galaknya melebihi induk macan yang sedang menyusui. Wanita muda itu mengenakan kemeja kerja yang dua kancing atasnya sengaja dibuka, memperlihatkan leher jenjang dan tulang selangkanya yang begitu menggoda.
"Mama emang ga mikir dua kali, ya? Ngapain masukin orang kampung ini ke dalam rumah utama? Dia itu cuma sopir, Ma, badannya dekil, item, mana bau lagi! Udah bener dia jadi sopir aja, malah dijadiin pelayan, terus disuruh tinggal pula!"
Aku hanya bisa menunduk semakin dalam sambil meremas topi kumalku, merasakan panas menjalar di telinga bukan karena marah, tapi karena malu menyadari betapa jauhnya perbedaan kasta di antara kami.
Memang benar kata Nona Shella, aku ini cuma pemuda desa yang merantau demi biaya berobat Emak.
Aku pun diam saja karena tidak enak dengan Nyonya Alika, mengingat dia berjanji membiayai terapi Emakku di desa, asal aku mau menjadi pelayan di rumahnya.
Tapi jujur saja, saat Nona Shella marah-marah begitu, dadanya yang naik-turun dengan cepat justru membuat mataku salah fokus, membayangkan betapa sesaknya kancing kemeja itu menahan bola-bola padat di baliknya.
"Shella, jaga bicara kamu! Rafli ini rajin, dia juga kuat angkat-angkat barang berat, kita butuh laki-laki di rumah ini untuk jaga-jaga. Lagipula, paviliun belakang itu kosong dan Rafli bisa sekalian jadi pelayan kalau sopir lagi enggak dibutuhkan."
"Terserah Mama deh, awas aja kalau dia berani macem-macem atau nyolong barang!" Nona Shella mendengus kasar, kemudian pergi ke dapur sambil bermain ponsel.
"Jangan dimasukkan hati ya, Rafli, dia memang begitu kalau lagi capek kerja," ucap Nyonya Alika sambil menepuk bahuku pelan, sentuhan tangannya yang halus terasa hangat menembus kain baju seragamku yang tipis.
"Ba-baik, Nyonya, terima kasih banyak sudah boleh tinggal di sini," jawabku gugup.
Nyonya Alika kemudian terlihat menghampiri kamar Nona Sora, si bungsu yang paling manja, kemudian mengingatkan gadis itu untuk tidur karena besok ada kuliah pagi, sebelum akhirnya Nyonya Alika sendiri masuk ke kamar utamanya.
Satu jam kemudian, suasana rumah besar itu mendadak sepi, hanya terdengar suara gemuruh hujan dan petir yang menyambar sesekali.
Aku baru saja meletakkan tas bututku di kamar pelayan yang sempit, ketika teringat kalau mobil kesayangan Nyonya Alika belum kucuci sehabis dipakai menerobos banjir tadi sore. Lampu garasi sengaja tidak kunyalakan semua demi menghemat listrik majikan, hanya lampu temaram dari teras samping yang menerangi area itu.
Namun, langkahku terhenti mendadak saat melihat ada seseorang duduk di kursi rotan pojok garasi.
Itu Nona Sora.
Si bungsu yang seharusnya sudah tidur sejak Nyonya Alika menyuruhnya satu jam lalu. Dia adalah mahasiswi baru dan sekarang sedang duduk santai sambil menonton film di tabletnya, kakinya diselonjorkan ke kursi lain.
Napasku tercekat di tenggorokan saat melihat apa yang dia kenakan.
Nona Sora hanya memakai kaus oblong putih kebesaran yang tipis dan celana gemes super pendek yang bahkan nyaris tak bisa menutupi pangkal pahanya. Paha putih mulus yang padat berisi itu terpampang nyata di depan mataku, bersinar remang-remang tertimpa cahaya lampu teras, terlihat begitu lembut dan kenyal seperti tahu sutra yang baru matang.
"Waduh, cobaan macam apa lagi ini, Gusti. Mulus banget, sumpah. Gadis desa banyak, sih, yang mulus, tapi ga semulus itu. Putihnya udah kayak tembok aja!”
Nguk!
Ngiek!
“Oiiii, asem lah, jangan bangun oii, Gatot!" Aku menepuk-nepuk si Gatot agar dia tidak semakin menegak.
Tapi…
Nona Sora sepertinya tidak menyadari kehadiranku karena dia memakai headphone besar di telinganya, sesekali dia terkikik geli sambil mengubah posisi duduknya, membuat kaus itu tersingkap sedikit lebih tinggi dan memperlihatkan pangkal pahanya yang menggoda.
Aku buru-buru memalingkan wajah ke arah mobil, takut kalau terus-terusan melihat nanti mataku bintitan atau malah si Gatot bangun dan memberontak minta jatah. Dengan langkah pelan agar tidak mengganggu Nona Sora, aku berjalan menuju mobil sedan mewah milik Nona Shella yang terparkir di sebelah mobil reborn klasik keluaran terbaru berwarna hitam.
Anehnya, meskipun mesin mobil itu mati, aku mendengar suara-suara aneh dari arah sana, seperti suara orang sedang berbisik-bisik atau menahan sakit.
Plak!
Plak!
Plak!
Semakin dekat aku melangkah, semakin jelas suara itu terdengar di sela-sela suara hujan.
Dan… sialan!
Itu suara desahan napas yang memburu dan suara dua sejoli beradu "plak, plak, plak", dan iramanya teratur.
Karena penasaran dan takut ada maling yang bersembunyi di dalam mobil majikanku, aku memberanikan diri untuk mengintip dari kaca samping yang tidak terlalu gelap. Mataku melotot nyaris keluar dari kelopaknya saat melihat pemandangan di dalam sana melalui celah embun yang sedikit bersih.
Di jok depan yang sudah direbahkan itu, Nona Shella sedang berada dalam posisi yang sangat tidak senonoh, duduk di pangkuan seorang pria asing sambil bergerak naik-turun dengan tempo cepat. Kemeja kerjanya sudah terbuka lebar, memperlihatkan dua bukit kembarnya yang berguncang hebat mengikuti irama gerakan tubuhnya, sementara kepalanya mendongak ke atas dengan mulut terbuka lebar mendesahkan nikmat.
"Oh, yes, ahh… iya, iya, di situ, terus, Sayang, percepat lagi!"
"Aku bentar lagi sampai puncak!"
Jadi, pacar Nona Shella yang katanya anak pejabat itu diam-diam menyelinap masuk ke garasi saat hujan deras begini?
Pantas saja tadi Nona Shella marah-marah saat aku masuk, ternyata dia takut aksi kuda-kudaan rahasianya ketahuan orang rumah.
Keringat dingin mulai mengucur di pelipisku, pemandangan tubuh indah Nona Shella yang biasanya tertutup rapat pakaian kantor yang rapi.
Kemeja putihnya sudah terbuka lebar hingga ke perut, menampilkan dua dada montok nan putih mulus yang basah oleh keringat, berguncang hebat ke atas dan ke bawah, mengikuti tempo pinggulnya yang menghantam pangkuan pria itu.
Setiap kali tubuhnya terhempas turun, gundukan kenyal itu terguncang liar seolah ingin tumpah keluar, menciptakan hipnotis yang membuat akal sehatku hilang seketika.
Darahku mendidih, mengalir deras ke satu titik hingga si Gatot terbangun paksa dan menegang sakit di balik celana kainku yang sempit, berkedut-kedut ingin ikut serta dalam pesta di dalam sana.
Seharusnya aku lari, tapi kaki sialan ini malah terpaku, menikmati bagaimana paha mulus Nona Shella yang terbuka lebar itu menjepit pinggang pacarnya dengan erat.
Si Gatot di bawah sana justru berdenyut antusias merespons pemandangan live show gratis yang baru saja kusaksikan. Tanpa sadar, kakiku mundur selangkah dan menginjak ranting kering yang terbawa angin ke lantai garasi.
KRAK!
Suara patahan ranting itu terdengar cukup keras di tengah kesunyian garasi, membuat gerakan liar di dalam mobil itu terhenti seketika. Dua pasang mata dari dalam mobil menoleh panik ke arahku yang berdiri mematung dengan ember di tangan dan wajah bodoh yang tak berdosa.
"Mampus aku, kayaknya aku ketahuan sama Nona Shella!"
1ปีผ่านไป🎉ตอนนี้ลูกแฝดตัวน้อยของฉันกับพี่ดินอายุได้1ขวบกับอีก1เดือนแล้ว กำลังหัดเดินเลย ตอนนี้ลูกพูดคำว่าพ่อแม่ได้แล้ว คำว่าปู่ ย่า ก็พูดได้แล้ว เพราะคุณพ่อของพี่ดินมาพูดคำว่าปู่กรอกหูหลานทุกวัน555 วันนี้ฉันกับพี่ดินจะไปฮันนีมูนกัน เพราะตั้งแต่แต่งงานเราไม่ได้ไปฮันนีมูนกันเลย เราไม่ค่อยมีเวลาแต่ตอนนี้ลูกโตแล้ว คุณพ่อเป็นคนเสนอให้เรารีบไป เพราะเดี๋ยวลูกโตไปว่านี้จะไม่มีเวลา เพราะจะวุ่นวายหลายอย่าง ไหนจะงานที่บริษัทของพี่ดินด้วยหลังจากที่เอาลูกไปส่งไว้กับคุณพ่อของพี่ดินแล้ว ฉันกับพี่ดินก็ขับรถมุ่งหน้าไปที่ทะเล ที่ภูเก็ตกัน @ภูเกต....ทะเล~เรามาถึงที่นี่ก็ประมาณบ่าย3 แล้ว ฉันนั่งรอพี่ดินเอากระเป๋าเข้าไปเก็บในห้องพัก เราพักกันที่รีสอร์ทซึ่งห่างจากทะเลไม่มากนัก มองไปข้างหน้าก็เห็นน้ำทะเลสีฟ้าครามกับเม็ดทรายละเอียดสีขาวเฮ้อ...คิดถึงเจ้าสองแฝดจัง พอมาอยู่โดยไม่ได้ยินเสียงร้องของลูกมันทำให้ฉันคิดถึงลูกขึ้นมาจับใจ อยากจะกลับบ้านแล้วล่ะสิฉัน "นั่งเหม่ออะไรอยู่ หื้ม" พี่ดินสวมกอดฉันจากด้านหลัง "เรากลับบ้านกันดีมั้ยคะพี่ดิน" พอจบคำพูดของฉัน พี่ดินก็ปล่อยกอดออกแล้วมานั่งข้างๆฉัน พร้อมก
หลังจากกลับมาตากบ้านของคุณพ่อ พี่ดินก็พาฉันแวะซื้อของบำรุง พี่ดินซื้อเยอะมาก พวกนม อะไรต่างๆ เยอะมากจริงๆ จนฉันต้องร้องท้วงให้เขาหยุดซื้อ "คุณมีเจ้าตัวเล็กในท้องตั้งสองคนนะกอบัว คุณต้องบำรุงเยอะๆ" พี่ดินพูดพรางหยิบนมใส่ตะกร้าเพิ่ม"พี่ดิน พอได้แล้วแค่นี้ก็กินได้เกินสองเดือนแล้วนะคะ" "แต่ผมว่าเอาเพิ่มอีกหน่อยดีกว่า" ฉันถอนหายใจออกมาเบาๆ ให้กับความบอกไม่ฟังของพี่ดิน "เดี๋ยวของมันจะหมดอายุก่อนที่จะกินหมดเอานะคะพี่ดิน" พี่ดินที่กำลังหยิบของใส่ตะกร้าหยุดชะงัก แล้วก็เอาของวางลงที่เดิม "อื้ม งั้นเอาแค่นี้ก่อนก็ได้" พูดจบพี่ดินก็พาฉันเดินไปคิดเงิน ไม่รู้ว่าทำไมผู้หญิงแถวนี้ถึงเอาแต่จ้องมองพี่ดินตาเป็นมันส์เลย ฉันไม่ชอบเอาซะเลยที่พวกเธอมองสามีของฉันแบบนี้ "กอบัว คุณเป็นอะไร ?" พี่ดินถามฉันหลังจากที่เราขึ้นมาบนรถกันแล้ว "เปล่าค่ะ" "คุณโกหก เวลาคุณงอนคุณชอบทำหน้าเหมือนหมู" "พี่ดิน !!" ฉันหันขวับไปมองพี่ดินตาขวาง เมื่อเขาบอกว่าฉันเหมือนหมู "นั่นไง ยิ่งเหมือนหมูกว่าเดิมอีก" พี่ดินเอานิ้วมาเขี่ยๆ ปลายจมูกของฉัน "ขับรถไปเลยนะคะ ถ้ายังจะพูดว่าบัวเหมือนหมูอีกบัวจะลงจากรถจริงๆด้วย" "คร๊าบ
เวลาล่วงเลยมาจนถึงวันสำคัญ....คือวันแต่งงานของฉันกับพี่ดินนั้นเอง ฉันกำลังอยู่ในชุดเจ้าสาว กำลังรอพี่ดินมารับตัวออกไป มือฉันเปียกชุ่มไปด้วยเหงื่อหมดแล้วตอนนี้ "กอบัว ผมรักคุณ" "กอบัว ผมรักคุณ" "กอบัวผมรักคุณ" เสียงพี่ดินตะโกนอยู่หน้าห้อง มันยิ่งทำให้ใจฉันเต้นรัวกว่าเดิมอีกตอนนี้ แต่ก็แอบขำๆพี่ดินอยู่นะ คงจะโดนเพื่อนเขาที่ดักอยู่หน้าประตูแกล้งล่ะสิตอนนี้ฉันตื่นเต้นมากจริงๆ ก็เพราะว่ามันเป็นครั้งในชีวิตของฉัน แกร่ก! ประตูห้องเปิดออก เผยให้เห็นใบหน้าของพี่ดิน ที่กำลังยืนมองฉัน ใบหน้าเขาเต็มเปี่ยมไปด้วยรอยยิ้มแห่งความสุข ฉันก็ไม่ต่างกัน พี่ดินเดินถือดอกกุหลาบสีขาวช่อโตตรงมาหาฉัน ก่อนจะยื่นช่อกุหลาบให้ฉัน ฉันรับช่อกุหลาบมา จากนั้นพี่ดินก็ประคองใบหน้าฉันแล้วก้มหน้าลงมาประทับจูบบนริมฝีปากของฉัน เสียงผู้คนในงานต่างพากันร้องโห่แซวกันใหญ่ จนฉันต้องรีบดันพี่ดินออกเพราะความอาย "ไปข้างนอกกันเถอะ'' พี่ดินยกแขนขึ้นมาให้ฉันเอามือคล้อง จากนั้นเราทั้งคู่ก็เดินออกไปในงาน ตลอดทางเดินจะมีคนโปรยดอกไม้ตลอดทาง "ตื่นเต้นหรอ สั่นเชียว" พี่ดินหันหน้ามาถามฉัน ในระหว่างที่เรากำลังเดินกันอยู่ "ตื่นเ
พี่ดินเดินมานั่งตรงปลายเตียงจากนั้นเขาก็ดึงฉันลงไปนั่งบนตัก "คุณยอมเขามาเยอะแล้วกอบัว คุณต้องหัดใจแข็งบ้าง""....""เข้าใจที่ผมพูดใช่มััย" "ค่ะ บัวเข้าใจ" "ดีมาก" พรึ่บ! จู่ๆพี่ดินก็ดันฉันให้นอนราบไปกับที่นอน เรียวนิ้วของพี่ดินลากไล้ไปมาบนเเก้มของฉัน "ผมขอนะ" "พี่ดิน บัวหิวข้าว" ฉันพูดพรางทำหน้าตาออดอ้อนพี่ดินพี่ดินพ่นลมหายใจออกมาแรงๆ ก่อนจะลุกออกจากตัวฉัน "กินข้าวเสร็จคุณไม่รอดแน่" ฉันเม้มปากแน่น นี่ขนาดฉันท้องพี่ดินยังไม่คิดจะพักเรื่องอย่างว่าเลยรึไง "พี่ดินทำไมถึงหื่นจัง บัวไม่อยากนอนกับพี่ดินแล้วนะคะ" ฉันพูดออกไปอย่างเหลืออด "อะไรของคุณกอบัว ผมเป็นผัวคุณ ผัวเมียกันก็ต้องนอนด้วยกัน" พี่ดินพูดเสียงแข็งพร้อมกับจ้องหน้าฉันตาเขม่ง "ไม่รู้แหละถ้าพี่ดินยังหื่นอยู่แบบนี้บัวจะไม่นอนกับพี่ดินแล้วจริงๆ" "คุณคิดว่าผมจะยอมรึไง" "ต้องยอมสิคะ !!" "กอบัว นี้คุณกำลังสั่งผมอยู่...""ทำไมล่ะ บัวสั่งพี่ดินไม่ได้รึไง อย่านะพี่ดินนั่นแหละอย่ามาขัดใจบัว" "กอบัว..." "กลับบ้านไปเราต้องแยกห้องกันนอน""ไม่ !!" พี่ดินพูดเสียงแข็ง "ไม่รู้แหล่ะ ยังไงบัวก็ไม่ให้พี่ดินนอนกับบัวแล้ว บัวไม่อยาก





